
"Naura jaga diri ya. Bunda akan selalu mendoakan Naura" Tangisan pun tak dapat Yuni hindari.
"Naura! Kemarilah!" Panggil Hilman dengan nada lembut.
"Ayah?" Naura berjalan perlahan menghampiri Hilman.
"Maafkan Ayah. Ayah tidak bisa mendidikmu sepenuhnya. Maka Ayah terpaksa mengirimmu ke pesantren"
"Jujur saja. Ayah tidak ingin melepasmu. Demi masa depanmu, Ayah akan lakukan"
"Ayah berharap putri gadis Ayah menjadi wanita muslimah dan dapat mengabdi pada tuhan dan juga sesamamu, Nak"
"Maafkan Ayah, Nak. Jangan pernah membenci Ayah. Ayah sangat sayang padamu"
Hilman tak kuasa menahan kesedihannya. Ia langsung mendekap putri gadisnya yang akan ia tinggal.
Walaupun sempat ada rasa kecewa dan marah pada sang ayah, namun kesedihan akan berpisah tak dapat terpungkiri. Sebagai seorang anak, Naura menyayangi sang ayah, Hilman. Dan Hilman adalah pemilik cinta pertama dalam hidupnya.
...
Naura melambaikan tangannya kearah mobil sang ayah yang telah melaju di depannya. Sebagai ungkapan selamat tinggal, semoga berjumpa kembali.
"Naura" Fatimah mengelus pundaknya.
"Jangan terlalu bersedih. Kakak tahu, bagaimana rasanya berpisah dengan orang yang kita sayang. Apalagi berpisah dengan orang tua"
"Kakak pun pernah merasakan berpisah dengan orang yang kita sayang. Berpisah untuk selamanya"
"Dulu, Umi Fahwat pernah mengalami penyakit asma selama dua tahun berobat. Dan suatu hari penyakit itu kambuh tiba-tiba. Umi langsung dibawa ke rumah sakit. Namun ajal telah menjemputnya sejak kami masih di tengah perjalanan. Dan di saat itu, Kakak tak bisa apa-apa. Selain berdoa dan menangisinya. Dan di hari itu pula, Kakak merasakan perpisahan dan kerinduan yang sangat menyakiti hati Kakak sendiri" Fatimah menghapus pipinya yang sempat dibasahi air mata.
"Maafkan aku, Kak. Karena aku, Kakak bersedih" Naura mencoba memeluknya seperti seorang adik kepada kakaknya.
"Dan pada akhirnya, Abi menikah dengan Umi Marwah. Dan Kakak bersyukur, Umi Marwah memiliki kasih sayang yang sama seperti Umi Fahwat"
"Dan Kakak ingin mengatakan sesuatu padamu, Naura. Walau terkadang kita terpaksa merasakan sakit, jika rasa sakit itu akan membuat kita bahagia kelak, maka jalanilah. Dan percayalah, memberikan kebahagiaan untuk orang yang kita sayang, harus dengan perjuangan. Begitupun denganmu, Ayahmu dan Bundamu. Sama-sama berjuang menahan kerinduan atas perpisahan ini"
"Dan jangan kamu sia-siakan pengorbanan kedua orang tuamu, Naura"
"Balaslah kasih sayang orang tuamu dengan perubahanmu"
__ADS_1
"Kau mengerti?"
Naura hanya terdiam, memikirkan apa yang dikatakan Fatimah.
Tiba-tiba rasa nyeri di perutnya mulai kambuh. Ia meringis sakit. Baron yang tak jauh dari mereka, segera membopong sang adik untuk beristirahat. Naura pun sempat merasakan mual kembali. Jika di perhatikan, kulit dan matanya seperti menguning. Apa yang sebenarnya terjadi?
**
"Apa? Papah yang benar saja! Aku dijodohkan seperti ini?"
Mirsha tengah mengobrol dengan kedua orang tuanya di ruang tamu. Sempat terdengar pertengkaran diantara mereka.
"Aku tidak ingin dijodohkan! Biarkan aku yang memilih pendamping hidupku sendiri!" Mirsha membantah kedua orang tuanya dengan kesal.
"Apa kamu mau orang tua kamu ini mati dibunuh?"
"Tapi tidak dengan cara ini, Pah! Kalian menjodohkanku dengan pria mafia? Aku tidak habis pikir pada kalian!"
"Justru itu, Mirsha! Dia seorang mafia yang akan membunuh Mamah dan Papahmu jika tidak menuruti keinginannya!" Tutur Dona, sang ibu.
"Jika karena hutang, kita bisa melunasinya!"
"Tapi dia tak menginginkan uang! Dia menginginkanmu, sayang! Hanya kamu!"
"Tidak semudah itu untuk menjebloskan seorang mafia ke penjara. Dan setahu Papah, pria mafia itu mempunyai puluhan anak buah dari kalangan mafia bersenjata. Jadi, mustahil untuk menangkapnya" Lirih Coral, sang ayah.
"Lalu, apakah ada cara lain selain harus menikah dengannya?"
"Tidak ada. Kamu harus menikahinya, sayang. Mamah mohon.." Dona terisak.
"Besok dia akan kembali kesini untuk melamarmu. Jadi kamu harus bisa memutuskan, sayang.. Besok kamu harus memilih antara iya dan tidak. Jika kamu memilih tidak, maka kamu tidak akan bisa melihat Mommy dan Daddy lagi untuk selamanya"
Mirsha merasa terpojokkan. Tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali karena tak menyangka akan semua ini.
Ia berlari memasuki kamarnya. Mengunci pintunya dan bersandar di pintu. Menangisi dan meratapi nasib yang di milikinya.
Kedua orang tuaku rela mengorbankan putrinya demi nyawa mereka sendiri?
Apa mereka tak memedulikan perasaan putrinya?
__ADS_1
Mereka tak mengerti perasaanku?
(SORRY, GUYS.. CERITA PERJODOHAN MIRSHA KITA SKIP DULU YA.., KALO AUTHORNYA DIKASIH KESEMPATAN UNTUK NULIS LAGI, PASTI AUTHOR BAKAL BIKIN CERITA LANJUTAN INI DI SEASOND 2)
Next yuk..
**
Di pagi ini, adalah hari pertama Naura menghirup udara di pesantren. Ia membuka matanya karena seperti ada yang mengguncang. Ia berpikir bumi mengalami gempa. Namun ternyata ia salah.
Saat ia membuka matanya, ia melihat seorang anak perempuan ya tengah menggoyangkan tubuh Naura dengan tangannya. Ia pun tersentak. Saat ia bangun dan duduk, badannya terasa pegal dan nyeri.
"Eh, bocil! Berani-beraninya bikin badan gue sakit?" Naura terlihat kesal.
Kemudian mata Naura mencari Handphonenya yang sempat ia taruh di dekatnya.
"Maaf, Kak. Namaku Hana. Tapi Kakak harus memanggilku dengan sebutan Cimut, yang artinya cantik dan imut. Dan umurku baru tujih tahun" Anak ini bertingkah riang. Namun hal itu membuat Naura meriang.
"Tadi aku mencoba untuk membangunkanmu. Seharusnya Kakak meminta maaf padaku. Karena aku rela berjuang selama tiga puluh menit demi bangunnya Kakak! Bukan justru memarahiku dengan sebutan 'bocil'! Aku tidak suka" Bibirnya cemberut. Dan itu memang membuat wajah anak itu sangat imut. Naura mengumpat geli dan ingin sekali mencubit hidungnya. Saat Naura mencubit kecil hidungnya, anak itu meringis kesal.
"Apa yang Kakak lakukan?"
"Apa rasanya sangat sakit?"
"Tentu saja. Kakak tahu, hidungku ini sangat kecil jadi jika Kakak cubit, maka hidungku terasa dicabut olehmu!" Naura dibuat terkekeh.
"Ya, sudahlah. Aku akan pergi, karena tugasku sudah selesai. Sekarang Kakak harus bersiap untuk menunaikan shalat subuh!"
"Memangnya sekarang jam berapa? Dan di mana Handphone ku?"
"Sekarang jam 04.30. Aku tidak tahu di mana Handphone Kakak berada, tapi Kakak bisa tanyakan pada Kak Fatim. Dan jika Kakak ingin bertanya 'di mana Kakak-kakak yang lainnya?' maka akan aku jawab sekarang juga. Kakak-kakak yang lainnya sedang berwudhu dan bersiap. Jadi, sekarang Kakak harus menyusul mereka"
"Dan sekali lagi, maafkan aku. Aku telah membuat badanmu sakit. Tapi aku tidak menyesal. Anggap saja, itu adalah hukuman untuk Kakak yang cukup galak!" Naura dibuat sedikit kesal di kalimat terakhirnya.
"Asslamu 'alaikum"
Anak itu berlari dengan tubuh kecilnya. Naura tiba-tiba teringat sang adik, Maura. Anak itu mirip sekali dengan tingkah Maura saat kecil. Kini rasa rindu menyelimutinya kembali.
Sekarang Kakak harus bersiap untuk menunaikan shalat subuh!
__ADS_1
Balaslah kasih sayang orang tuamu dengan perubahanmu
Naura menarik napas lalu menghelanya. Kemudian ia mulai beranjak dari ranjang susunnya. Dan berjalan menuju tempat wudhu yang tak cukup jauh dari kamarnya.