Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
15. kembali menatap


__ADS_3

Seperti biasa, Maura bersarapan bersama Yuni dan Hilman. Namun ia nampak melamun. Merindukan Naura yang kini jauh darinya.


"Maura kenapa melamun?" Yuni membuatnya sadar kembali. Dan Maura hanya menggeleng kemudian melanjutkan sarapannya.


Setelah beberapa menit sarapan. Maura berangkat ke sekolah. Dan sesampainya di depan gerbang sekolah, ia tak sengaja berpapasan dengan Imran yang juga baru tiba. Mata mereka kini saling bertemu. Maura tak sadar jika ia menatapnya. Begitu juga dengan Imran. Mereka saling terdiam.


Setelah beberapa detik, Maura tersadarkan dan langsung menundukan kepalanya kembali. Maura beristighfar dalam hati.


"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja" Ujarnya pelan kemudian berlalu.


Imran yang sejak tadi membatu, hanya terdiam dan tak menjawab. Ia pun mengusap dadanya perlahan. Dadanya seperti ada sesuatu yang melompat. Namun ia segera melupakannya. Ia berpikir itu hanya kekagetannya yang hampir menabrak Maura.


Di jam kelas..


Seorang guru tengah mengajar pada para muridnya. Namun, di tengah jam pelajaran, terdengar ketukan pintu dan ucapan salam. Guru itu menyilahkannya masuk.


Pintu itu terbuka. Dan terlihat tiga siswa yang berjalan dari arah pintu. Kemudian berhenti di hadapan semuanya. Berdiri tepat di depan Maura duduk.


Maura kembali menundukan wajahnya saat tahu siapa yang berada di depannya. Yaitu Imran dan kedua temannya. Mereka berkunjung, karena ingin meminta sumbangan untuk anak yatim.


Sebenarnya, Imran tak ingin lewat jalur kursi Maura. Namun kedua temannya sudah mendahului jalur kursi yang lainnya. Terpaksa ia harus ke jalur kursi yang Maura duduki.


Saat Imran menyodorkan kotak sumbangan dengan ragu, Maura mengisi cepat kotak itu dengan sejumlah uangnya. Imran sempat melihat tangan Maura yang memar kemerahan. Ia berpikir itu adalah ulah dari dua anak ba*ingan kemarin.


"Lama banget, Kak. Ayo sini, kita juga mau nyumbang kali" terdengar di telinga Imran yang dirasanya tertuju padanya. Dan itu terdengar seperti godaan.


Untungnya, Imran bukan tipe orang yang begitu saja terbawa perasaan. Imran tidak memedulikannya.


Setelah urusan Imran dan kedua temannya selesai, mereka dengan sopan keluar kelas.


**

__ADS_1


"Kita akan kemana?"


"Memasak, mencuci pakaian dan--"


"Apa?!" Potong Naura terbelalak.


"Kau kenapa?" Shela heran.


"Itu akan sangat melelahkan,"


"Lalu? Siapa yang akan mengerjakannya, jika bukan kita?". "Ayolah!"


Naura mendengus keluh kesah. Kemudian mengikuti langkah Shela.


Kini mereka tiba di dapur. Shela langsung memberikan pisau, talenan dan satu wadah besar berisi bawang.


"Apa ini?" Naura terkejut melihat bawang sebanyak itu.


"Maksudku, apakah sebanyak ini?"


"Tentu"


"Aku akan membersihkan halaman belakang bersama Lela. Dan kau disini, selesaikan pekerjaanmu ya?"


"Ku beritahu, jangan kau masuk kesana! Jangan siapapun! Karena itu adalah ruangan rumah Abi dan keluarganya. Kau mengerti?" Shela menunjuk kearah pintu besar.


"Hm" Naura hanya menjawabnya dengan deheman.


Shela berlalu meninggalkan Naura.


Naura memaksa tangannya untuk mencoba mengiris bawang itu. Ia mulai dengan perlahan. Karena tak terbiasa memasak, jarinya menjadi korban irisan. Ia meringis dan tentu merasa kesal. Ia langsung mencuci tangannya di bawah keran.

__ADS_1


"Mengapa darahnya terus keluar?" Kesalnya.


"Mungkin kau harus memakai ini!" Seseorang telah menjawabnya dari belakang. Naura menoleh. Ternyata itu adalah Ramdan. Ia membawakan seutai perban dan obat luka.


"Pakailah! Semoga lekas sembuh" kemudian Ramdan berjalan menuju pintu besar. Namun segera dihentikan oleh Naura.


"Tunggu!"


"Kau akan kemana?"


"Masuk," Ramdan menoleh. Menjawab sekenanya.


"Kau tahu, itu adalah pintu khusus yang tidak sembarang orang dapat memasukinya!"


"Lalu?"


"Lalu? Apa kau bilang? Apa kau tidak mengerti juga?"


"Memangnya kau siapa? Kau tidak berhak memasukinya. Hanya Kak Fatim dan keluarganya saja yang berhak memasukinya!" Naura terbawa kesal.


Ramdan dibuat terkekeh kecil oleh penuturannya.


"Apa kau baru disini?!"


Ramdan hanya diam dan bingung harus berkata apa. Namun Naura justru menggap 'iya' dari diamnya.


"Pantas saja! Keluarlah! Cari pintu yang lebih kecil dari ini! Lagi pula, pintu ini sangat kebesaran untuk tubuhmu yang sekecil lidi," Ketus Naura kesal.


"Apa?" tentu saja Ramdan tersinggung.


"Sudahlah! Kau cepat keluar! Aku ingin bekerja dengan tenang disini"

__ADS_1


"B-baiklah" Ramdan mendengus sabar. Kemudian berlalu keluar.


__ADS_2