
"Berarti lo sama Kak Imran itu emang lagi beneran deket?" Lanjut Siska. Kali ini dengan suara yang lebih dikecilkan. Terdengar setengah berbisik.
"Bukan, Sis. Aku sama Kak Imran gak deket. Dia cuma pernah pinjem buku punyaku aja. Emang itu deket ya?" Balas Maura dengan suara setengah berbisik.
"Iya juga sih. Tapi menurut aku, Kak Imran itu kayaknya suka deh sama kamu. Masa kamu gak ngerasa sih?" Balas Siska sembari menduga-duga.
Maura mengernyitkan dahinya kemudian berkata, "kamu ada-ada aja deh." Ucap Maura berusaha tak menghiraukan perkataan Siska. Itu tidak masuk akal baginya, meski sebenarnya bisa jadi masuk akal, Maura akan tetap menyangkal dan lebih mempercayai bahwa hal itu tidak masuk akal. Ya, ia berharap demikian.
Sementara Siska hanya menghela napasnya berat dan kembali menatap papan tulis kala seorang guru sudah kembali masuk ke dalam kelas. Sedangkan Maura justru memikirkan sesuatu dalam kepalanya, meski matanya saat ini menatap dengan fokus ke arah papan tulis.
Apakah dirinya harus mengambil buku miliknya pada Imran? Tapi apakah ia berani? Ah, tapi kapan? Ya, sepertinya sore ini adalah waktu yang luang baginya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Ramdan bersama anggota keluarganya yaitu Bilal, Marwah, dan Fatimah kembali mengunjungi rumah sakit yang di mana Naura dirawat. Dalam kesempatan ini, Ramdan dan keluarganya membawa niat yang mungkin akan membuat semuanya terkejut. Itu sudah pasti.
Kini Ramdan tengah menguatkan tekadnya selama dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tingkahnya yang terlihat gugup disadari oleh sang kakak, Fatimah yang kemudian Fatimah tertawa kecil setelahnya. Ramdan yang mendengar tawa itu meski terdengar kecil, tetapi masih dapat ia dengar. Ramdan menoleh dan menatap bingung ke arah sang kakak. Dua detik kemudian Ramdan menyadarinya, lalu ia mendesah pelan dan menggelengkan kepalanya secara pelan beberapa kali.
"Kakak ini, seharusnya membantu adiknya untuk tidak merasa gugup. Mengapa justru ditertawakan?" Ucap Ramdan.
"Kau itu memang lucu, Ram. Lihatlah wajahmu ketika kau sedang gugup. Kakak jadi tidak yakin kalau wajahmu mendominasi Naura nantinya," balas Fatimah meledek.
Ramdan hanya mendengus pelan kemudian menatap ke luar jendela.
"Sudahlah, kakak hanya bercanda. Adik kakak memang sangat tampan. Naura pasti akan menyukaimu." Ujar Fatimah menyentuh pundak Ramdan.
Ramdan menoleh dan dibuat tersenyum kepada Fatimah. Ramdan membayangkan bagaimana reaksi Naura saat mendapatkan suatu kabar dari nya.
Flashback on.
Tok! Tok!
__ADS_1
Ketukan pintu terdengar saat waktu fajar. Tepatnya setelah Ramdan baru saja menyelesaikan shalat subuh berjamaah bersama keluarganya, dan kini dirinya telah menunaikan ibadah mengaji Al-Quran. Saat mendengar ketukan pintu kamarnya, Ramdan segera menyimpan Kitab Suci itu dan langsung berjalan untuk membuka pintu. Memperlihatkan sosok Fatimah yang masih menggunakan mukenah putih di depan pintu.
"Ada apa Kak?" Tanya Ramdan.
"Kau dipanggil Abi di ruang keluarga." Jawab Fatimah memberi tahu.
"Mengapa pagi-pagi sekali? Apakah Abi akan membicarakan ..." perkataan Ramdan tak ia lanjutkan karena tatapannya saja sudah dapat dimengerti oleh Fatimah.
"Sepertinya begitu," balas Fatimah. Ramdan tertunduk sejenak dan berpikir.
"Baiklah." Ujar Ramdan yang kemudian berjalan keluar dan menutup pintu kamarnya. Ia berjalan dengan disusul oleh langkah Fatimah dari belakang. Mereka berjalan menuju ruang keluarga.
Sesampainya di sana, Ramdan langsung mendapat perintah dari Bilal untuk duduk menghadapnya dan duduk di atas sofa. Sedangkan Fatimah duduk di samping Marwah yang duduk di atas sofa bersama keluarganya.
"A-abi ada apa memanggil Ramdan?" Tanya Ramdan sedikit ragu.
Bilal tampak mengembuskan napas panjang. "Abi ingin menagih pilihanmu yang telah Abi berikan. Abi rasa Kau sudah menemukannya." Ujar Bilal menatap sang putra.
"Ram, mengapa kau melamun? Jangan pikirkan mengapa Abi mengetahuinya." Ujar Bilal dan Ramdan langsung menganggukinya kecil.
"Jadi, apa yang kau pilih?" Tanya Bilal kembali.
"Aku memilih ..." perkataan Ramdan bergantung sembari menatap Bilal, Marwah, dan Fatimah. Ramdan mencoba menghirup napasnya dan menghelanya pelan, berusaha memberanikan diri dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan yang diambil adalah tepat. Sementara Fatimah dan Marwah dibuat menunggu Ramdan melanjutkan kata-katanya. Mereka masih menunggu.
"Aku mencintai Naura, dan aku ingin menikahinya, Bi." Ujar Ramdan kemudian. Membuat Fatimah langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, berusaha tidak ada suara yang dikeluarkannya karena rasa terkejut.
"Tetapi apakah kau lupa, Ram? Wanita seperti apa Naura saat sebelum dia tinggal di pesantren?" Tanya Bilal merasa ragu dengan pilihan putranya.
Ramdan terdiam sesaat. "Ramdan tahu, Abi. Tetapi Ramdan akan berusaha membimbing Naura ke arah yang benar sesuai ajaran yang Abi berikan pada Ramdan. Ramdan hanya membutuhkan restu saja dari Abi," balas Ramdan setengah menunduk.
Bilal tersenyum kecil setelahnya, "baiklah, Abi merestuimu." Ujar Bilal kemudian. Membuat Fatimah tak dapat lagi mengatakan suaranya. Ia berteriak kegirangan mendengar dua pernyataan tadi dari adiknya dan ayahnya.
__ADS_1
Fatimah merasa senang saat Ramdan akhirnya berani mengambil keputusan yang sudah diharapkannya, dan saat Bilal memberikan restu setelah dirinya sendiri memberikan restu.
"Fatim, suaramu begitu nyaring, Putriku." Ujar Marwah seraya menutup telinganya.
"Kak, ada apa denganmu?" Tanya Ramdan.
"Putriku, apa kau sangat senang karena melihat adikmu akan segera menikah?" Tanya Bilal.
"Iya Abi. Aku sangat senang. Dan kau tahu Ram? Kau telah mendapatkan restu ketiga!" Ujar Fatimah berpindah tempat duduk ke samping Ramdan, lalu mengguncang tubuh adiknya itu.
"Restu kedua?" Tanya Marwah.
"Iya, Umi. Restu ketiga dari Abi. Restu kedua dari kakaknya. Dan restu yang pertama adalah dari Allah. Eh, ups," jawab Fatimah membuat Bilal dan Marwah saling bertukar pandang kemudian tersenyum.
"Kak, mengapa kau mengatakannya?" Tanya Ramdan setengah berbisik, merasa malu dan berusaha menyembunyikan pandangannya.
"Dan restu keempat dari Umi." Ujar Marwah kemudian. Membuat Fatimah kembali membungkam mulutnya karena terkejut sekaligus senang. Fatimah kemudian mengguncang kembali pundak dan tubuh adiknya. Ramdan hanya membalasnya dengan senyum tipis.
...****ccc***ccc****...
^^^Halo teman-teman semua.. Jangan lupa follow aku milik penulis yaa. Dan jangan lupa mampir selalu dan berikan jejak kaliaaaannn.^^^
^^^Mampir ke karya lain dari penulis yuk! Ada cerpen yang mungkin akan kalian suka! jangan lupa like and coment ya. Aku tunggu kalian lho!^^^
^^^Sorry ya sebelumnya kalo cerita yang penulis buat ini agak sedikit mengganggu mata kalian karena typo dan sebagai nya. Tapi aku berharap kalian suka si.. aku akan lebih belajar lagi. Thanks udah mampir ke sini! Moga sehat selalu ders! ^^^
^^^****************^^^
^^^Mampir ke karya lain dari penulis yuk! Ada cerpen yang mungkin akan kalian suka! jangan lupa like and coment ya. Aku tunggu kalian lho!^^^
^^^Sorry ya sebelumnya kalo cerita yang penulis buat ini agak sedikit mengganggu mata kalian karena typo dan sebagai nya. Tapi aku berharap kalian suka si.. aku akan lebih belajar lagi. Thanks udah mampir ke sini! Moga sehat selalu ders! ^^^
__ADS_1