
Setelah menyelesaikan kegiatan di dapur, semuanya pergi untuk mengaji. Berbeda dengan Naura yang justru berdiam diri di atas kursi kayu, memandang setiap gelombang air danau di depannya dengan tatapan kosong. Tak terasa air matanya menetes dari pelupuk lara. Dadanya terasa sesak. Pikirannya kacau dan wajahnya tampak menunjukkan rasa kecewa yang teramat dalam. Hatinya begitu terluka saat mengingat penghianatan yang diciptakan oleh sahabatnya dan kekasihnya sendiri. Kenyataan yang begitu buruk bagi Naura.
Naura melempar batu ke arah sembarang, berharap rasa kecewanya akan ikut terlempar bersama batu yang ia lempar. Namun semua sia-sia. Rasa kecewa, rasa sakit, dan rasa cinta, ketiganya memang begitu sulit untuk dihilangkan. Naura meyakini hal itu.
Ketiga rasa itu saling bercampur dan berkecamuk dalam hatinya. Membuat bathinnya tersiksa. Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain menangis untuk mengobati kesesakan di dalam hatinya. Tak dapat lagi membohongi diri sendiri, bahwa dirinya masih sangat mencintai Very.
Naura mengibas hijabnya yang menutupi dadanya. Naura memejamkan matanya seraya menggenggam liontin merah yang diberikan Mirsha sebagai tanda kebersamaan mereka yang masih terjalin walaupun berjarak. Dan Naura merasakan kehadiran Mirsha yang sedang menenangkannya dengan penuh sayang, meskipun tak ada siapa-siapa selain dirinya sendiri di halaman itu. Namun air mata masih mengalir dan membanjiri pipinya. Tangisannya begitu terdengar kacau. Dirinya butuh waktu untuk menenangkan semua kesedihannya.
"Gunakan tasbih ini untuk menenangkanmu dari segala perasaan kalut yang ada dalam hatimu." seseorang menyodorkan seikat butiran tasbih ke arah Naura yang tak tahu sudah sejak kapan seseorang itu berdiri di sampingnya kanan Naura.
Naura membuka matanya dan menyeka air matanya, kemudian menengadah ke atas. Itu adalah Ramdan.
Kemudian matanya memandang sekilas tasbih yang ada pada tangan Ramdan.
"Aku hanya butuh alkohol." ucap Naura memandang danau di depannya.
Ramdan menghela napasnya, "Islam melarang umatnya meminum minuman keras seperti alkohol. Bahkan menegaskannya dengan hukum yang haram. Karena alkohol adalah minuman yang memabukkan. Selain itu, kesehatan jiwa dan raganya akan terancam." papar Ramdan.
Naura hanya terdiam.
"Cobalah gunakan tasbih ini. Aku yakin, Allah akan memberikan ketenangan pada setiap butirnya."
"Orang tuaku sering memberikan benda semacam itu padaku. Tetapi tidak kupakai." ucap Naura datar.
"Maka ini saatnya."
Naura menoleh, memandang Ramdan yang masih berdiri di sampingnya dan kembali menyodorkan tasbih di tangannya. Ramdan tersenyum tipis.
##
Malam ini, Naura melangkah dengan berberat hati mengikuti Fatimah dan yang lainnya. Dengan gamis biru muda, tapi warnanya tidak begitu cerah. Balutan hijab panjang yang senada dengan warna gamisnya. Bros kecil yang dipakainya membuat kesan dirinya semakin terlihat anggun.
__ADS_1
Dari dulu, Naura sangat tidak nyaman memakai pakaian gamis dan hijab karena ukurannya besar dan tebal membuatnya gerah dan berkeringat. Jelas, Naura tidak ingin memakainya, tetapi hanya baju semacam itulah yang Naura bawa dari rumahnya, karena sudah dipersiapkan oleh orang tuanya, dan membuatnya tak bisa membawa baju pendek satu pun.
Naura juga ingin sekali melepas bros kecil yang mengaitkan belahan hijab segi empatnya ke pundak kiri. Namun tak bisa juga ia lakukan karena yang memakaikan bros itu adalah Fatimah yang tak lain ada di sampingnya sendiri.
Naura hanya bisa menghela napasnya sebal dan mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya, berharap keringatnya akan segera kering.
"Naura, kau sangat cantik" puji Shela melihatnya takjub.
Naura hanya tersenyum sekenanya. Setidaknya ia menanggapi walaupun tak ingin menanggapi siapapun di saat badannya kepanasan sehingga bawaannya ingin emosi. Sudah ke berapa kalinya Naura mengelap keringat di wajahnya.
"Naura" panggil Fatimah membuatnya menoleh. Mereka berhenti ketika yang lainnya masih berjalan. Akhirnya mereka hanya berdua.
"Kakak tahu, Kamu masih merasa tidak nyaman dengan pakaianmu. Kamu harus bersabar. Kakak yakin, suatu saat nanti Kamu pasti nyaman dengan pakaian yang kamu kenakan." Fatimah tersenyum.
"Ingat satu hal, suatu kewajiban memang terkadang berat untuk dilaksanakan. Tapi jika tidak dilaksanakan, kita akan menyesal." lanjutnya memegang dan mengusap-usap telapak tangan Naura dengan lembut.
Naura sempat terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang dikatakan Fatimah.
"Iya,Kak." Naura kembali tersenyum dan sedikit mengangguk pelan. Menghela napasnya dalam. Apa mungkin dirinya akan belajar untuk mulai bersabar? Entahlah.
Kami tiba di depan majlis. Suasana begitu ramai dengan penuh lantunan Al-Quran, meskipun Naura melihatnya dari luar jendela. Baru kali ini Ia merasakan suasana setenang ini. Lebih tepatnya, Naura merasa takjub.
Perhatiannya teralihkan pada suara dan sosok yang tak asing dan merasa pernah melihatnya. Sosok itu tengah berbincang dengan Fatimah.
"Besok saja, Kak. Aku masih sibuk dengan beberapa kitabku yang belum ku selesaikan"
"Tapi Aku hanya ingin sekarang. Tidak bisakah kau menunda kitab-kitabmu sejenak?"
"Tidak bisa. Sudah ku bilang, Aku--"
Dialah Ramdan. Ucapannya terpotong di udara saat menyadari kehadiran Naura yang menghampiri mereka. Ramdan terpaku dengan apa yang dilihatnya. Sungguh, Ramdan tak dapat berbohong bahwa Naura sungguh cantik dan anggun. Ramdan menelan salivanya pelan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sembarang. Perasaannya tak karuan, dalam hatinya beristighfar, berusaha menetralkan hati dan pikirannya.
__ADS_1
Sedang Fatimah mengernyitkan dahinya begitu sadar dengan tingkah aneh Ramdan. Fatimah mengira Ramdan seperti kewalahan menyembunyikan sesuatu. Fatimah menoleh ke arah belakang dan mendapati sosok Naura yang menghampiri mereka. Fatimah terkekeh pelan dan mengerti apa yang terjadi.
"Apa? Apa tadi aku tidak salah dengar? Kau menolak permintaan Kak Fatim? Tidak sopan sekali ya?!" Tanya Naura terbawa kesal sendiri.
Fatimah dan Ramdan hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa saat. Mengapa Naura kesal seperti itu? Sebegitu kesal kah?
"Kau seharusnya menerima permintaan Kak Fatim! Apa susahnya?"
"Naura betul sekali, adikku. Apa susahnya menerima permintaan Kakakmu ini? Ayolah!" Fatimah menyenggol pelan lengan Ramdan, mencoba membujuknya.
Naura terkejut kala mendapati kata yang janggal dari Fatimah. "Adik? Kakak? Jadi--"
"Ya. Ada apa? Apa ada yang salah dari perkataanku?" tanya Fatimah mengingat apa yang dikatakannya sebelumnya.
Naura kebingungan untuk menjawab. Namun Ramdan seolah mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ah, Dia itu memang tak jelas, Kak. Oh ya, Aku memutuskan untuk berubah pikiran. Aku menerima permintaanmu." ujar Ramdan sempat membuat Naura mendelik sebal saat di bagian awal kalimatnya, sedang Fatimah memandangnya girang pada akhirnya.
"Kau memang adikku yang terbaik!" ujar Fatimah. Ramdan tersenyum dan menghela napas lega.
"Ngomong-ngomong, jika dilihat dengan seksama, pakaian kalian serasi. Apakah kalian..." seru Fatimah.
"Janjian?" sambung Fatimah menggoda.
Kemudian Fatimah menggenggam dan menarik pelan lengan Naura untuk memasuki pintu majlis bersama. "Ayo, kita masuk dan mengaji. Yang lain pasti sudah menunggu"
Naura hanya mengangguk dan mengikuti langkah Fatimah. Saat hendak melewati Ramdan yang masih berdiri, mata keduanya saling bertemu. Membuat mereka kembali gugup setelah kejadian kemarin yang membuat mata mereka bertemu seperti sekarang.
Sama seperti Ramdan yang terpaku dengan wajah di hadapannya, Naura pun merasa takjub dengan ketenangan saat memandang wajah milik Ramdan. Keduanya tak bisa berkedip karena gugup dan takjub. Menurut Naura juga, wajah Ramdan begitu sempurna karena tak ada setitik pun noda hitam bahkan jerawat. Begitu mulus dengan rahangnya yang semakin memberi kesan sempurna.
Mata yang saling bertemu itu pun berakhir saat Naura dan Fatimah berlalu.
__ADS_1
Ramdan mengerjapkan matanya beberapa kali. Menyentuh dada bidangnya yang tertutup balutan koko berwarna hitam dengan garis biru kecil di bagian lengan panjangnya. Ia rasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Dalam hatinya kembali mengucap kalimat istighfar untuk menetralkan hati dan dirinya sendiri.
##