
"Cia juga mau jadi doktel tantik hihi.. biar bisa tuntik oom ian" celetuk Cia.
Bahkan, mereka yang berada diruangan itu tertawa terbahak,mendengar celetuk Cia yang ingin menyuntik Tian. Sedangkan Tian ia menggaruk kepalanya gatal mendengar ungkapan dari gadis kecil itu.
*****************
"Kenapa Cia mau suntik om ian?" tanya Almira
"Kalena om Tian suka tuntik-tuntik pasien".ucapnya
"kan dokter menyuntik orang sakit,lalu masalahnya dimana?"tanyanya lagi.
"doktel itu talo tuntik suka dol... dol.. gitu" jawab Cia sambil memperagakan cara menyuntik seperti pistol.
"Ih, Cia talo dol.. dol itu tembak. emang Cia mau tembak om tian ?" tanya Gia.
"Hihi bukan tembak Gia tapi tuntik.. " jawab Cia.
"Tuntik itu begini Cia" ajar Gia mengambil sedotan yang ada diatas meja dan memperagakannya dengan menjepit disela jari telunjuk dan jari tengah lalu jari jempol menutupi lubang sedotan yang diatas.
"ini begini, talo tembak itu pake dua tangan" ucapnya lagi
"OOOOOOOOOO ditu.. oteh oteh" ucap Cia.
******
Diruangan inap orang tua Alex...
"Sayang... hiks .. hiks" ucap Mommy Ica sambil memeluk erat putrinya.
Yup, Setelah mengetahui bahwa adik kesayangannya kembali Alex memutuskan untuk mengajak Ara menemui orang tuanya, tentu saja Alex meminta ijin Aya untuk menemui kedua orang tuanya. Sebenarnya Ara ingin ikut,tetapi kondisi badannya yang masih belum stabil apalagi ia tadi memaksakan diri untuk mengingat kejadian yang lalu.
"Kamu disini aja ya sayang, abang ga lama kok" ucap Alex seraya mencium pucuk kepala Aya dengan sayang.
Ara yang melihat abangnya sangat menyayangi Aya tersenyum, padahal waktu kecil abangnya selalu mendiami Ara kecil. Tapi memang jodoh nggak kemana hehe...
*********
Di ruangan Mom Ica dan Dad Rico
"Mommy....."panggil Ara.
"Ada apa dokterr? kenapa dokter memanggil saya mommy?" tanya mom Ica bingung.
"Mom..... ini Ara. Adik kesayangan abang Alex dan Aya" ucap Ara sedih.
__ADS_1
Melihat wajah kebingungan Mommy Ica dan Daddy Rico, Alex mengangguk dan berkata..
"Iya mom, dia Ara ... kesayangan Alex dan Aya.." ucap Alex.
Seketika membuat Mom Ica tanpa sadar menangis haru, Ia tak percaya bahwa dokter Rara yang diceritakan oleh dokter Tian adalah anaknya sendiri bahkan ia tak mengenali wajah putrinya begitu juga dengan Daddy Rico.
"Sayang... hiks .. hiks" ucap Mommy Ica sambil memeluk erat putrinya.
"Hiks ... hiks .. Mommy maaf..maaf gara-gara Ara, Mom dan Dad mengalami kecelakaan, dan juga maaf gara-gara Ara, Aya sampai mengalami hilang ingatan. hiks... hiks" ucapnya lirih memeluk mom Ica.
"Apa yang terjadi dengan kalian berdua sayang?" tanya Mom Ica setelah ia bisa mengendalikan tangisannya.
"Ceritanya panjang Mom, dan kedua orang tua Aya sebenarnya......." ucap Ara terputus karena dipotong oleh seseorang.
"Sebenarnya apa Ara ???" tanya gadis berkursi roda itu, yang dibelakangnya ada sesosok gadis cantik menggunakan gaun panjang lengan pendek.
Semua orang diruangan itu,menoleh kaget ke arah Aya... Yups gadis itu adalah Aya dan Geisha. Mereka berdua menyusul Alex dan Ara.
"Jawab, ra.!!! ada apa dengan kedua orang tua ku?" tanyanya.
"Sebenarnya.... orang tua Aya masih hidup dan yang di mobil itu bukan orang tua Aya" ucapnya.
"Kamu serius ra? jelas-jelas mayat kedua orang tua ku ada disana!!" teriaknya.
"Sebentar lagi mereka akan datang.." ucap Ara.
Setelah Ara menelpon seseorang dan mengatakan mereka akan datang, semua orang yang berada diruangan tersebut terdiam. Apalagi tadi ketika Aya dan Ghea ke ruang rawat orang tua Alex,tak lama seluruh keluarga besar berbesanan itu menyusul Aya dan Ghea ke ruang rawat orang tua Alex. Jadilah mereka disana ramai ketika Ara sedang menelpon seseorang.
"Ini sunyi sekali.. aku jadi pengen ngeluarin gas" ucap mama Agatha membisik Mom Citra.
"Haissh... jangan gitu kita diam dulu menunggu siapa yang datang".balas mom Citra berbisik.
"Hei kalian ini kenapa berbisik-bisik berbesan?" tegur Mami Chika
"gamau ajak kami bertiga?" tanya Mama Amira.
"Iya nih" balas Bunda Dinda.
"Hei, kenapa kalian bertiga jadi rempong begini???" tanya mama Agatha.
"Hei, kalian berdua duluan yang mulai" ucap Mama Amira.
Yaela emak-emak rempong, berbesanan,berbisikan tapi sayang bisikan mereka mengeluarkan suara yang cukup besar akibat perdebatan yang tidak jelas .
Mereka yang berada diruangan itu hanya menggelengkan kepala,melihat istri-istrinya saling berdebat. Sedangkan Aya dan Ghea duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang, Alex dan Ara masih setia duduk di sisi ranjang kedua orang tua mereka. Sembari menunggu kedatangan seseorang.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengarlah suara ketukan pintu, Aya yang mendengar ketukan itu seketika jantungnya berdebar. Siapakah gerangan itu? Alex yang melihat kekasihnya gelisah datang menghampirinya. Sedangkan Ara ia membuka pintu dan keluar dari ruangan.
"Tenang sayang..." ucap Alex menenangkan kekasihnya.
"Aku... gatau... gimana bang" Ucap Aya lirih.
"Kita akan lihat siapa yang datang, kamu harus tenang" ucap Alex seraya memeluk kekasihnya Aya membalas pelukan itu.
"Hais, selalu aku jadi nyamuknya" celetuk Ghea sembari menghentak-hentak kakinya.
Alex dan Aya hanya tersenyum melihat kelakuan Ghea yang mana menurut mereka sangatlah lucu.
Ceklek......
"Mari masuk Ma,Pa, Papi Thori" ucap Ara.
Semua orang melihat kearah keempat orang itu, dan lebih mengejutkan lagi Ayah Gibran, ia sangat kaget melihat rekan kerjanya datang keruangan Mom Ica dan Dad Rico.
"Tuan Thori" ucap Ayah Gibran.
"Hai, Hallo tuan Gibran"balas Papi Thori.
"Jadi selama ini, Ara tinggal dikediamanmu?" tanya Ayah Gibran .
"Oh iya tuan, saya tidak tahu bahwa Rara ini masih keluarga kalian. Karena saya menemukannya di jalanan dan waktu itu ia sedang dikejar oleh beberapa pria berseragam serba hitam." jelasnya.
"Waktu itu saya dan anak saya baru saja pulang dari makam istri saya. Kami menolongnya, lalu membawanya ke rumah dan diobati disana hingga pada saat itu juga saya mengangkatnya menjadi anak perempuan saya."Ucapnya lagi.
Ara hanya diam dan tersenyum,jika bukan Papi Thori dan anaknya mungkin ia sudah mati oleh penjahat itu. Aya yang melihat tatapan kesakitan dimata Ara memanggilnya.
"Ara...." panggilnya
Ara menoleh dan tersenyum kepada Ara,namun senyuman itu berubah dengan tangisan kesakitan, ketika Ara memeluk erat Aya seolah tak ingin dipisahkan kembali. Mereka melupakan sosok kedua paruh baya itu.
"Apakah kami berdua dilupakan disini?" ucap pria tua itu.
Seketika mereka diruangan itu menoleh, Ara yang sangat pelupa hanya cengengesan.
"Heheh, I'm so sorry my father. I forget ".ucap Ara cengengesan.
"Kamu itu ya dasar nakal".ucap pria itu.
Melihat hal itu,mom Ica dan Dad Rico menatap haru, ya Ara benar Mila dan Zidan masih hidup sedangkan Aya ia takut menatap wajah kedua paruh baya itu.
***Happy Reading**
__ADS_1