
"Hiks ... hiks ... " tangis pilu Cia yang masih ketakutan.
"Sudah sayang disini ada mami dan lainnya." ucap Mami Celine menenangkan putri sulungnya.
"Hiks... hiks.."
"Jangan menangis, tenangi dirimu sayang lalu kamu ceritakan pada opa dan kakek .. okey" ucap Papi Amdani.
**********
flashback...
"Huhhhh, haus ..."ucap Gia.
"Ayo kita ke sana" ajak Cia pada Gia menuju meja yang berisikan makanan dan minuman.
Sesampainya didepan meja tersebut. Cia bingung bagaimana mengambil air itu,karena tempatnya tinggi melebihi tinggi mereka.
"Waduh, tinggi sekali" decak Cia
"Kita kan pendek bagaimana?" tanya Cia lagi
"Kursi mana kursi" teriak Gia yang langsung di tampol Cia.
"Aduhhh" ringis Gia.
"Jangan teriak Gia, orang lagi doa" tegurnya.
"Heheh aku lupa" ucapnya malu.
Namun, saat tangan Gia mengambang keatas untuk meraih pembuka air tiba-tiba seseorang meneriaki mereka berdua.
"Heiiii .. jangan mengganggu makanan dan minuman disana!!" teriaknya
"Kalo kalian haus ambil dibelakang jangan ambil enaknya saja" sahut yang lainnya.
"Kami capek mengangkat barang berat kesana kemari, kalian enak tinggal ambil" ucapnya lagi.
"kalian itu tamu disini anak nakal,jadi jangan seenak jidat ambil minuman disini" ucap teman satunya lagi.
"Kami haus " ucap Gia.
"Iya kami haus" ucap Cia juga.
"Kalian kalo mau minum dibelakang saja sana" ucapnya seraya menarik tangan Gia dan teman satunya menarik tangan Cia dengan kasar.
Jadilah mereka berempat pergi ke dapur, ternyata didapur tersebut ada seorang wanita yang sedang duduk memegang pisau,kemudian kedua orang tersebut mendorong tubuh Cia dan Gia kedepan meja tempat dimana wanita itu duduk. Alhasil, tubuh Cia menabrak sisi meja dan Gia ia terkena pisau yang dipegang oleh wanita tersebut.
"Ooppsss" ucapnya lalu pergi meninggalkan kedua bocah yang sedang menahan sakit diikuti kedua wanita yang menyeret Gia dan Cia kedapur.
Sepeninggalan ketiga wanita itu, Cia yang hanya terluka dibagian pelipisnya menangis melihat darah yang mengalir dikepalanya dan melihat sang sahabat terluka, ia menangis berlari meninggalkan Gia menuju ruangan dimana para keluarga besar berbesanan kumpul.
Flashoff...
"Hiks... hiks... gitu ceritanya opa hiks.." ucap Cia yang menceritakan kejadiannya.
Daddy Bryan dan Mommy Citra yang mendengar hal itu sungguh terkejut. Mereka tahu bahwa pelayan dirumah ini hanya paruh baya tidak ada yang masih muda. Hal ini membuat mereka mencurigai seseorang. Siapa gerangannya? Apa maksud dari ini?
__ADS_1
"Ini ga bisa dibiarin" gumam Daddy Bryan menahan emosi.
"Sttttt... kita atur strategi" ucap Papi Amdani.
"Sebaiknya kita susul kerumah sakit" ajak Papa Anjas dan diangguki oleh yang lainnya.
Skipppppp......
Di rumah sakit.
Geo dan yang lainnya sedang menunggu Gia diperiksa,Ellie yang menangisi Gia tak kuasa menahan diri. Ia sudah beberapa kali jatuh pingsan.Ia sangat takut kehilangan anak sambungnya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Geo selalu menenangkan istrinya,bahwa Gia akan baik-baik saja,tapi ibu mana yang tak sedih melihat kondisi anaknya yang memprihatinkan.
"Gia, anak yang kuat..." ucap Geo
"Gia,kesayangan mommy El anak kuat, Gia baik,Gia pasti sembuh" ucapnya lirih.
Lia yang melihat mommynya sedih, ia merengek ingin turun dari gendongan Bunda Dinda.
"Ada apa sayang?" tanya Bunda.
"Au mpat Mi" jawabnya sambil menunjuk kearah kedua orang tuanya.
"Pelan-pelan ya" ucap Bunda seraya menurunkan Lia dari gendongannya.
Setelah terlepas dari sang nenek, Lia berlari kearah orang tuanya.
"Mi... gan dih. dik hus.." ucapnya.
Ellie menoleh kearah anak bungsunya,ia tertegun ia lupa bahwa si bungsu ikut ke rumah sakit. Ellie pun langsung menyusui Lia hingga Lia terlelap.
"Sayang .. kamu makan dulu, dari semalam kamu belum makan" bujuk Geo.
"Nanti bang, El belum lapar El mau tunggu Gia bangun hiks" ucapnya terisak.
"Sayang, dokter bilang Gia akan bangun sebentar lagi.. ini sudah siang loh." bujuknya lagi.
"Bener ya Gia bangun nanti" ucap Ellie memastikan ucapan suaminya.
"Iya, sekarang kita makan dulu okey" ajak Geo.
CEKLEK...
"Eh, kalian mau keluar ?" tanya Tian.
"Iya, gue sama El mau keluar dulu. Gue titip Gia sama lu." ucap Geo
"Yauda iya pergilah" ucap Tian.
Yups, Tian yang merawat Gia. Karena ia yang ingin memastikannya sendiri. Bagaimana kondisi Gia walau ada dokter Ara yang membantunya.
Sepeninggalan Geo dan Ellie, Tian menduduki dirinya disamping ranjang Gia. Sembari memantau CCTV di rumah mertuanya.
"ooooOoo eh, sejak kapan Mom dan Dad memiliki pelayan muda begini ? Kalo anaknya bi sum gamungkin kan?? wahwah... ada yang minta dimainin ini ckckck" ucapnya gamblang.
Tiba-tiba....
"Eunghhh........" suara lenguh Gia.
__ADS_1
"Haa...auss..." ucapnya lagi
Mendengar suara itu, Tian menoleh kearah Gia dan mendapati gadis kecil itu telah sadar, Tia dengan cepat memberikan air kepada Gia, kemudian memeriksa keadaan Gia.
"Syukurlah kamu sudah sadar,nak" ucap Tian.
"Ciii...cia om.... " ucapnya terbata
"Cia, dirumah sayang... kamu mau apa?" tanya Tian.
Gia hanya menggelengkan kepalanya,kepalanya masih pusing dan badannya sangat lemas sekali.
Tak lama datanglah Ellie bersama si kembar Ica dan Ico tak lupa Lia yang digendong Geo. Sedangkan anggota yang lain sedang berada dikantin rumah sakit. Mereka belum tahu bahwa Gia sudah sadar.
"Bagaimana bang, apa Gia sudah sadar ?" tanya Ellie.
Namun, sebelum Tian menjawab Gia lebih dulu memanggil Ellie dengan mata yang masih terpejam.
"Mommy...." panggilnya.
Ellie yang mendengar panggilan anaknya langsung mendatangi ranjang Gia. Iya mengusapi pucuk kepala Gia dengan sayang.
"Kamu sudah sadar nak, Masih ada yang sakit?" tanya Ellie.
"Gia gapapa mom, hanya sedikit pusing." ucapnya sambil tersenyum.
"ini dalum na kok bisa lengket di tulit tatak?" tanya Ica yang kepo.
"Ini tatit tidak?" tanyanya lagi.
"sakit sayang" ucap Gia.
"Huh, dotel na tiapa ini." sungutnya marah karena kakaknya kesakitan di infus.
"Dokternya kakak ga tau sayang" jawab Gia.
Ica melihat kearah Tian dimana Tian menggunakan baju dinasnya hal itu membuat Ica semakin marah. Sedangkan saudara kembarnya tidak peduli dengan keanehan saudara kembarnya. Ia memilih duduk disofa bersama daddy dan omnya.
"Dotel Ian dangan takitin tata ica" teriaknya marah.
Tian yang diteriakin marah oleh Ica hanya menahan tawanya begitu juga dengan Geo. Wahai Ica, tolonglah orang sakit wajar di infus wkwkwk...
"Om Ian nda ad ulut ya ? Ica maah ni" ucapnya dengan berkacak pinggang.
"Adik jangan marah nanti disuntik om Tian baru tahu rasa" ucap Gia menakuti adiknya yang sok berani itu.
"Di tuntik?" tanya nya
"iya disuntik kan mom?" Ucap Gia meminta bantuan mom Ellie
"Iya nanti di suntik sama dokter kalo Ica marah-marah" ucap sang mommy.
Hal itu membuat Ica takut dan berlari kearah daddynya dengan mata yang berkaca-kaca.
🥱Drama lagi... drama lagi...
***Happy Reading***
__ADS_1