
“Anak kita.... hiks.. potongan baju itu yang...” Ucap Ica
“Iya sayang aku tahu, aku usahakan mencari lagi anak kita yang hilang ucapnya.
“benar ya “ucap Ica memastikan omongan suaminya.
“Iya sayang” jawabnya menyakinkan sang istri lalu mengecup singkat kening sang istri.
*
*
*
“Huft, Gavisco bagaimana kabarmu sekarang ?” ucapnya lirih sambil menatap langit malam.
“sudah dua tahun tidak ada kabar berita”.
Ya... terakhir mereka ketemu ketika Gavisco menikah dan Ica melahirkan, setelah itu mereka putus kontak.
*
*
*
Gavisco hari ini ia akan pergi kesuatu tempat dan ia tak ingin seseorang mengikutinya, assitennya ia suruh untuk pergi kekantor membantu sang papinya yang sudah tua namun tetap memaksa untuk bekerja keras, semenjak kepergian Mami Kanaya yang pergi entah kemana. Begitu juga Gavisco ia tak dapat pergi kemana-mana karena ia dan papinya sedang diintai oleh pihak musuh berdaulat.
“Kamu, pergilah temani papi bekerja. Aku ingin sendiri”. perintahnya.
“tapi tuan kemana ?” tanyanya.
“aku ingin pergi ke makam anakku” ucap Gavisco.
“Baiklah” jawabnya.
(Dasar Bodoh) umpat seseorang.
Namun, sebelum itu ia mengirim pesan kepada seseorang dan ia tersenyum sinis menatap kepergian Gavisco. Sedangkan disisi lain, seseorang yang mendapat pesan singkat itu tersenyum penuh kemenangan dan ia langsung bergegas pergi kekantor.
*
*
*
Kini, Gavisco datang kesebuah tempat yang mana ia mendapat petunjuk dari kode rahasia. Ia sempat berpikir siapa orang yang memberi kode itu kepadanya. Setahu ia, yang sangat tahu kode itu adalah Izi dan Istrinya Olivia. Ia ikut bingung apakah Izi atau istrinya tapi tidak mungkinkan ?
Ia pun melihat kiri dan kanan takut ada yang mencurigakan, ia juga terpaksa mengganti mobilnya di rumah sederhana tempat ia dan istrinya tinggal dulu yang kini dijaga dan ditinggali oleh seorang lelaki tua yang masih membujang di usianya yang sudah rapuh.
“Ini pasti tempatnya... nomornya sama dan alamatnya juga pas”ucapnya melihat tulisan di kode tersebut.
“Aaaaa... kalo bukan gimana ? masa aku salah baca kode nya” teriaknya frustasi.
Namun, seseorang menegurnya dari belakang.
“Mas................................”
*
*
__ADS_1
*
“Bagaimana Dad ?” tanya Gadika yang baru keluar dari kamar.
“Ini..........” tunjuknya kepada menantunya.
“Kod.... kode i..ini...” ucapnya terkejut.
“Kita tunggu besok saja... biar Izi yang bacakan kodenya” ucap Daddy Geo.
Ya sekarang mereka tengah berkumpul diruang kerja Daddy Gama. Ico yang baru pulang dari luar kotapun ikut pertemuan sang daddy. Ia pulang cepat karena pekerjaannya sudah selesai.
Andra, Dion, Rino, Ico, dan Gadika sedang berdiskusi tentang kembaran Visco anak bungsu Gadika dan Ica yang hilang satu tahun yang lalu.
Sedangkan Daddy Geo, Ayah Gio, Papi Bimo, Papa Tian, Daddy Bian serta Papi Candra tengah melakukan meretas perusahaan yang mereka curigai.
*
*
*
Disisi lain..............
Namun, seseorang menegurnya dari belakang.
“Mas................................”
Gavisco tertegun ketika mendengar suara yang begitu familiar baginya, suara yang mirip sekali dengan istrinya yang menghilang.
“Mas Visco...........” panggilnya lagi.
“Mas kenapa berdiri didepan rumah ?” tanya Gravaellie atau Olivia
Deg... Degh... Deghh...
“A... a..apa ini nyata ?” tanyanya tak percaya.
Ia menepuk keras pipinya berulang kali serta menggosok kedua matanya untuk memastikan apakah ini nyata atau halusinasi dirinya yang rindu pada sosok sang istri.
“Oo.. ol..olivia...” panggilnya lirih.
“Iya mas ini aku, istrimu ...” ucapnya tersenyum seraya mengelus pipi sang suami.
“Ka..kamu nyata hiks.. hiks...” ucapnya menangis.
“Mas kita masuk dulu ya, disini tidaklah aman” ucapnya tergesa dan menarik tangan sang suami.
“A.. aku parkir mobil dulu..” ucapnya sesegukkan.
“baiklah...” ucapnya.
Gavisco segera menaiki mobilnya memasuki perkarangan rumah sang istri, sedangkan Gravaellie ia segera menutup pagar rumahnya. Ia meminta sang suami membawa mobil masuk ke halaman belakang yang berada dibawah halaman rumah. ( ini tuh, seperti parkiran yang di mall- mall ya tapi parkirannya dibelakang hanya saja lewat ruang bawah tanah).
Sekira sudah aman, Gravellie mengeluarkan robot yang menyerupai orang-orang asli untuk berkeliaran dihalaman rumah dan meminta mereka untuk berjaga-jaga apabila ada yang mencurigakan.
Sementara di parkiran belakang, seorang wanita yang tengah duduk ditaman samping parkiran mengerenyit heran mobil sport siapa itu ? sepertinya bukan mobil milik anaknya, bahkan anaknya keluar hanya berjalan kaki ke arah pasar.
“Mobil sport siapa itu ? Apa Vaell membeli mobil sport ? tapi setahu aku tidak penjual barang mewah di daerah ini?” ucapnya heran.
“oma, mum ana ?” tanya bocah perempuan yang baru berumur 1 tahun.
__ADS_1
“Em, gatau oma.. apa itu mobil mommy mu sayang ?” tanya wanita tua itu.
“enda au” jawabnya bingung.
Namun, ketika Gavisco keluar dari mobilnya hal pertama kali yang iya lihat adalah seorang wanita paru baya dan seorang anak perempuan kira-kira 1 atau 1,5 tahun umurnya.
Gavisco berjalan menghampiri mereka dengan ragu.
“Mami, kalian disini ternyata Vaell mencari kalian tapi tidak ketemu,” ucap Vaell mengagetkan Maminya.
“Aduh, Vaell mami terkejut” ucapnya yang benar-benar jantung akan copot.
“ ya ma” ucap anaknya yang juga protes
“Hahaha mami ini.. ini juga satu anak mommy sok-sok protesin mommy” ucapnya seraya menggendong sang putri.
“Nak, itu siapa ?” tanyanya kepada Vaell
Gravaellie menoleh kearah yang ditunjuk oleh sang mami dan ia baru ingat bahwa suaminya datang kemari.
“Aduh mam, Vaell lupa......” ucapnya
“hai...” sapa lelaki itu ketika sudah sampai dihadapan istrinya.
“Hai mas...” jawab Vaell
“Ini siapa ?” tanya Gavisco.
“Ini Gralgatka, mas..” jawab Vaell.
“Ralga ini daddy Visco” ucap Vaell memperkenalkan Anak dan Ayah yang sudah lama tidak bertemu.
“ii.. ini anak kita ?” tanyanya lagi.
Matanya berkaca-kaca ketika Vaell memperkenalkan seorang bocah perempuan kepadanya.
“Iya ini Ralga anak kita dan Rabert sedang bermain dengan sepupunya disana.....” ucap Vaell sembari menunjuk dimana posisi saudari kembar Ralga
“Anak kita kembar ?” tanyanya bengong.
“Lah memang kembarkan ?” ucap Vaell heran.
Kenapa suaminya menyangka bahwa ia melahirkan satu bayi, bukankah anaknya kembar. Seketika Vaell lupa memberitahu Gavisco bahwa mami Kanaya ada disini.
“Aduh, Vaell lupa...” ucapnya sembari menepuk jidat.
“Ada apa ?” tanya Gavisco yang sekarang sudah mengendong anaknya.
Gavisco benar-benar rindu dengan keluarganya yang sudah hilang setahun ini, ia bertahan diri untuk tinggal bersama papinya hanya untuk mencari tahu keberadaan sang istri lewat papinya, tapi sang papi seolah tak peduli dengan dirinya dan hal itu membuat ia sering kecewa setiap menerima perlakuan sang papi terhadapnya.
“Mami......” panggilnya kepada sang Wanita paru baya yang menangis dalam diam.
Ketika ia melihat anak bungsunya yang sangat ia rindukan setiap hari, setiap waktu, setiap apapun lah yang penting setiap, sekarang sosok itu berada tepat dihadapannya.
Gavisco menoleh kearah pandangan sang istri, betapa terkejutnya ia melihat sang mami yang ia rindukan, benar-benar ia rindukan.
“Ma...ma..mami...” ucapnya lirih.
“Anakkku....hiks..hiks” pecahlah tangisan sang Mami. Dimana ia sangat merindukan anaknya.
“mami... hiks.. hiks Visco rindu mami” tangisnya.
__ADS_1
Vaell tersenyum haru, melihat betapa kerinduan sang mami kepada suaminya, mereka bertahan diri ditempat ini untuk menghindari seseorang yang ada dimansion Papi Rafa. Tujuan awal Gravaellie datang dan masuk ke lingkungan keluarga papi Rafa adalah penyebab kewarasan Kakak perempuan Gravaellie yang bernama Sravaellie. Ia mengira Kakak Gavisco penyebab kakaknya hilang akal warasnya lalu memperkosa kakaknya hingga kini kakaknya memiliki anak laki-laki bernama Apolinary Boleslaw. Namun, setelah ia menikah dengan Gavisco ia baru tahu orang yang membuat kakaknya gila adalah kakak tiri Gavisco. Orang yang membuat Mami Kanaya harus keluar dari mansionnya sendiri. Tak hanya itu ia juga dan bayinya hampir dibunuh karena akan mengganggu warisan dari papi Graninggrat.