
Aslan POV
Satu minggu aku selalu pulang dini hari. Menyelesaikan pekerjaan dari cabang Singapur. Ada apa ini? kenapa hatiku gelisah? Kenapa selalu terlintas wajah Allea?. Hah. Anak itu selalu menganggu pikiranku. Hari ini aku putuskan untuk pulang cepat.
Tepat jam tujuh malam. Aku pulang. Samar-samar aku mendengar suara Arin sedang memuji seseorang. Aku medekat supaya terdengar.
Deg.
Sial. Apa ini? kenapa wanita itu ingin kembali ke dunia entertainment? siapa sponsornya?. Entahlah. Untuk sekarang aku tak ingin memikirkannya. Lalu aku meraih remot dan memecet tombol off. Ada apa dengan hatiku? kenapa tak marah saat Arin protes saat tvnya aku matikan?. Entah aku tak mengerti dengan hati ini.
Seperti halnya sekarang. Hatiku gelisah menunggu kedatangannya. Kemana perginya? Siapa yang dia temui?. Apakah menemui kekasihnya?.
"Hah. sial. Itu bukan urusanku. Lupakan". Monologku menghibur hati.
Lalu aku menajamkan pendengaran dan menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Akhirnya dia datang juga". Lirihku melirik ke arah pintu utama.
"Astaga setan". Kagetnya saat melihatku duduk di ruang tengah dengan keadaan gelap hanya cahaya dari TV. Hampir aku tertawa melihat raut wajahnya. lucu sekali.
"Tampan sempurna begini kau bilang setan?". Seringaiku.
"Tampan apaan? gelap kayak penampakaan. Hampir saja aku mati berdiri karena jantungan". Omelnya sembari menekan saklar lampu.
"Nah kan kalo gini keliatan cakepnya kayak malaikat surga". Lanjutnya sembari tersenyum. Aku mendelik mendengar ucapan ngawurnya dan saat melihat senyuman manisnya, muncul gejolak aneh dari dadaku. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum. Dia berjalan menuju kulkas mengambil air dingin. Kenapa mataku enggan berpaling? Sial. Ada apa ini? Apakah aku tidak baik-baik saja?.
"Kenapa dia membuang anaknya?". Komentarnya menautkan jemari. Seolah menganalisis suatu masalah. Ha? tunggu sejak kapan dia sudah duduk di samping ku?. Sial. Gejolak aneh ini kenapa semakin terpacu begitu cepat. Aku memejamkan mata menetralkan gejolak hebat dalam hatiku. Rasanya ingin membungkam bibir ranumnya. Supaya tak bicara lagi.
"Sebab dia ingin memisahkan aku dengan anak itu". Bodoh. Kenapa aku menjawab pertanyaannya?. Hah. Aslan. Kau benar-benar bodoh. aku merutuki kebodohanku.
"Hah? Kenapa?". Sahutnya ke arahku sembari mengernyitkan dahi.
__ADS_1
Hening. Aku memalingkan wajah. Jujur tak sanggup menatap wajahnya yang imut. Aku bisa khilaf kalau dia terus seperti ini.
"Ah maaf. Itu bukan urusanku. Kau boleh tak menjawab. Selamat malam". Pungkasnya sembari beranjak ke arah kamar Allea. Kenapa? Kenapa hatiku tak rela dia berlalu begitu saja?. Apakah ada lagi kejadian seperti ini di lain hari?.
"Huuuft. Bisa gila aku".
......................
"Hah. Aku harus bagaimana Arin? pura-pura tak tahu seperti sekarang? Atau menjelaskan siapa kau sebenarnya?". Monolog Bian saat sampai di mensionnya. Ia langsung memeriksa laporan dari anak buahnya. Menatap kertas ukuran A4 dengan menghela nafas panjang. Sebuah kenyataan yang menyesakkan dada dan mengagetkan jagat raya jika identitas Arin di ketahui khalayak umum.
"Lalu siapa ibu-ibu paruh baya yang selalu mencari tahu keberadaanmu? Apakah dia ada kaitanya dengan ibumu atau ayahmu?". Lagi. Monolog Bian penuh pertanyaan. Ia mondar-mandir dengan ponsel di genggaman sembari komat-kamit merapelkan kata. kasih tahu. Enggak. Berulang kali.
"Baiklah. Lebih baik dia tahu dariku. Inilah kenyataannya walau pahit untuk diterima. Maaf Arin jika nanti kau sakit hati dengan identitasmu". Lirih Bian sembari mencari kontak sang sahabat rasa adik kandung.
......................
__ADS_1