Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 30 Curahan Hati II


__ADS_3

Setelah dua jam lebih mereka berbincang dengan Bunda. Akhirnya mereka pamit. Bunda menawarkan untuk menginap. Tapi mereka tolak dengan dalih besok masih kerja. Bunda hanya mengangguk paham dan mengantar kepergian mereka.


"Jadi? apa keputusanmu?," Aslan melontarkan pertanyaan setelah duduk di bangku taman dekat Panti.


Mereka ingin menikmati udara malam sejenak sebelum melanjutkan perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua jam.


"Entahlah. Aku masih ragu." Arin menyenderkan punggungnya. Melihat langit gelap.


"Kau meragukan aku?."


"Bukan, Aslan."


"Terus apa?."


Arin diam sejenak. Memejamkan mata menelisik kegamang hati atas sebuah ikatan pernikahan. Ada sedikit rasa takut yang menghantui. Memang ia belum menjalani. Tapi akhir-akhir ini teman sekolahnya sering cerita di grop wechat soal hubungan rumah tangga mereka.


Banyak sekali keluhannya. Dari suaminya yang tidak kasih nafkah. Lalu memutuskan cerai. Stress diteror mertua kapan punya keturunan. Biaya sekolah anak semakin tinggi. Padahal baru masuk PAUD atau TK. Dan kisah pelik lain yang temannya rasakan.


"Sejujurnya, aku takut akan ikatan pernikahan. Aku takut berakhir seperti Mama-Papa." Jawab Arin kemudian dengan intonasi sendu.


Aslan terperanjat. Ia mengernyit.


"Aslan. Beberapa bulan lalu aku baru tahu kalau Papaku itu bernama Pandu Pratama." Arin menghela napas. Menjeda bicaranya.


Lalu ia melanjutkan dengan senyum getir, "Setelah tahu, sejuta pertanyaan muncul di otakku. Kenapa mereka pisah? kenapa waktu itu Mama selalu bohong soal Papa? Kenapa Papa bisa nikah dengan Mama Selin? Benarkah Selin suadara tiriku?."


Aslan melotot mendengarnya. Ia seolah tidak percaya.


"Tunggu!. Maksudnya kau dan Selin?."


"Iya. Aku dan Selin suadara. Dan secara langsung Allea keponakanku."


Arin menyunggingkan senyum.


Aslan menyisir rambutnya dengan jemari. Ia menghembuskan napas berat.


Albian Jansen. Kau pasti tahu soal ini. Pantas saja kau ingin memastikan dia selalu aman. Entah kenapa perasaanku jadi tidak tenang. Bathin Aslan menatap Arin lekat-lekat.


"Lalu soal Mamamu?," Aslan ragu-ragu bertanya.


"Mamaku sudah meninggal."


"Ah maaf." Canggung Aslan kiku.


"Tidak apa-apa. Itu sudah lama berlalu."

__ADS_1


"Apa kau ingin bertemu Papamu? atau apa perlu aku izin ke Papamu?."


"Hahaha. Untuk apa, Aslan? Ini hidupku. Aku yang jalani. Dan mungkin saja dia tidak ingin bertemu denganku. Bukankah aku hanya aib saat dia akan naik ke jajaran partai. Biarkan saja kehidupan berjalan seperti ini. Hidupku dan hidupnya."


Arin menjeda. Mengatur napasnya. Menahan air mata. Ia tidak ingin menangis di depan lelaki ini. Supaya tidak terlihat cenggeng.


"Aku sudah berjanji, tidak akan muncul di hadapannya. Tidak ingin mengusik mereka." Lanjut Arin tersenyum getir.


Entah kenapa hati Aslan nyeri mendengar perkataan wanitanya.


Reflek Aslan merengkuh tubuh Arin. Ia memeluk wanitanya sembari berkata, "Menangislah kalau itu menyesakkan. Jangan di tahan. Tidak apa-apa sesekali kau menjadi cenggeng."


Seketika Arin menangis di pelukan Aslan.


...----------------...


"Bubu, matanya kenapa?," tanya polos Allea saat melihat mata Arin sembab.


"Oh ini, tadi abis ngupas bawah merah,"alasan Arin sembari menarik kursi dekat Allea.


"Bubu." Allea menjeda ragu akan bertanya.


"Iya. Ada apa, Allea?."


"Itu, Kenapa lebih cuka di cini? kenapa tidak kembali ke lumah Papi? kata Opa, Papi kecepian." Lanjutnya sembari meminta Meli menyuapkan nasi goreng.


"Huuft. Maafin Bubu, Allea."


Allea menyelak, "Bubu tidak malahankan cama Papi? Allea tidak mau Papi cama Bubu picah, kayak olang tua Helen."


Allea menunduk. Sedih. Ia ingat saat Helen teman yang lebih tua satu tahun darinya cerita soal Mama-Papanya.


"Allea, itu tidak mungkin terjadi. Papi sama Bubu hanya perlu sendiri dulu untuk saat ini. Nanti."


"Tapi kata Helen juga gitu. Katanya Papa Helen bilang Mama-Papa butuh cendili dulu Tapi meleka malah ngajak Helen ke percidangan buat lembutin Helen."


Ha?


Arin menelan salivanya yang tersangkut di kerongkongan. Ia benar-benar tercengah dengan pemaparan putri kecilnya yang sebentar lagi menginjak usia empat tahun.


Privat dari siapa? pintar sekali mengkoyak hati Bubunya. Padahal baru empat tahun pun belum genap. Seakan Arin tersadar. Ia langsung bertindak. Mengesampingkan rasa yang menyelimuti hati terkait pernikahan.


Ia tersenyum getir. Apapun terkait Allea, pasti ia kabulkan.


"Percayalah sama Bubu, Allea. Bubu dan Papi tidak begitu." Tutur Arin mengusap kepala Allea penuh cinta.

__ADS_1


lalu Allea di antara ke sekolahnya.


Kiloanmeter dari tempat Arin dan Allea, Seorang lelaki menggerutu sepanjang perjalanan ke kantor. Pasalnya, ia tidak bisa mampir ke kafe dulu untuk sarapan bersama putri dan wanitanya.


"Sialan. Merusak pagi hariku saja. Terus mereka kemana setelah buat skandal?." Dengus Aslan kesal, mendengar laporan bahwa idol naunganya kena skandal. Kencan diam-diam.


"Sepertinya mereka tidak tahu, soalnya berita baru semalam. Mereka sedang liburan di Bali, setelah projek film." Jelas Rudi sembari melirik notifikasi di arlojinya.


Arin? Ada apa ini? kenapa menghubungiku?. Bathin Rudi saat tahu nama kontak yang mengirim pesan.


"Haaahhh. Tim humas bagaimana? apa sudah bertindak? sudah konfirmasi ke pihak bersangkutan?."


"Handphone mereka dan menejernya tidak bisa di hubungi dari semalam." Balas Rudi tapi matanya terus melirik arloji itu.


Penasaran isi pesannya. Ia curi-curi kesempatan membaca.


Arin: Hallo Kak Rudi. Bisa maksi [makan siang maksudnya, nanti kak Rudi baca makasih, hehehe] hari ini di restauran xxx. Jangan sampai Aslan tahu. Ok!. Awas kalau sampai dia tahu. Fix kita tidak berteman. 😈


Rudi mengulum senyum membaca kalimat awal lalu menghela napas berat membaca bagian akhir.


Pasangan menyebalkan. Kalian kok ya cocok. Suka sekali membuatku kesal. Jengkel. Bagaimana aku bisa menghindari dia? apa lagi ini ada masalah. Hebat Arin. Kau sangat hebat membuatku pusing cari celah buat kabur darinya. Bathin Rudi melirik Aslan lewat kaca spion.


"Ada apa Rud? ada yang ingin kau bicarakan? jangan menatapku seperti itu." Celetuk Aslan risih dengan tatapan Rudi.


"Emmm. Anu. Ada suadara jauh saya datang. Dia minta saya mentraktir makan siang nanti. Jadi."


"Tidak di izinkan," potong Aslan cepat.


"Cancel. Besok atau lusa saja." Lanjutnya sembari keluar dari mobil saat berhenti di depan lobby kantor.


"Mati saja kau!." Umpat Rudi lirih sembari menyerahkan kunci mobil ke pak satpam untuk diparkirkan.


Rudi: Sori. Siang tidak bisa. Kalau sore gimana? pulang kerja. Kantor ada sedikit masalah.


Setelah kirim pesan ia berlari mengejar si atasan yang sudah berdiri depan lift.


drrrttt...


Rudi langsung memeriksa ponselnya.


Arin: Ok. Semangat!! jangan lupa sarapan. Mikir dan kena omelan butuh tenaga 💪💪


Rudi mengulum senyum membaca balasan Arin. Jika saja tidak ada Aslan, pasti ia akan tertawa.


Siapa yang mengirim pesan?. Apa dia punya kekasih? Jarang sekali dia senyum-senyum kayak gitu. Bathin Aslan mengernyit melirik Rudi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2