
Tiga hari tak ada kabar dari Arin. Ponselnya tak bisa dihubungi. Aslan frustasi dengan situasi saat ini. Allea benar-benar menguji kesabaran. Tak mau makan. Tak mau mandi. Bila makan hanya mau di suapin Papinya. Mandipun harus dipaksa. Seperti halnya pagi ini.
"Allea. Apa kau tak ingin mandi dan pergi ke sekolah?". Nada bicara Aslan sedikit menaik satu oktaf. Allea hanya menggelang dan memeluk guling Arin.
"Allea menurutlah. Apa kau tak kasihan sama Papi dan Mbak Meli?". Lanjut Aslan mengusap wajahnya kasar. Kesal dengan tingkah Allea.
"Allea maunya sama Bubu". Lirihnya sembari memainkan ujung guling.
"Hah. Allea jangan cari yang gak ada. Menurutlah. Please Papi mohon". Melas Aslan.
"Gak mau aku mau ketemu Bubu. Huhuhu. hikshikshiks. Papi jahat". Teriak Allea mengagetkan Aslan dan ART.
Aslan memijit pelipisnya. selama tiga hari jadwalnya berantakan. Dari menjadwal ulang rapat bersama klien. Kunjungan ke anak cabang. Rapat mingguan. Evaluasi acara yang akan diselanggarakan dalam beberapa hari kedepan.
"Sial. pergi kemana anak itu?. Harus mencarinya kemana lagi?Ada apa dengannya? Apa yang terjadi?". Lirih Aslan putus Asa sembari merebahkan tubuhnya di samping Allea. Dalam tiga hari Allea selalu tidur di kamar Arin.
"Apa kau merindukan Bubu?". Lembut Aslan seraya medekap tubuh putrinya. Allea mengangguk.
"Papi juga?". Tanya polos Allea.
"Hmmm". Ucap Aslan setengah sadar. Sebagian nyawanya sudah jalan-jalan ke alam mimpi. Allea berbalik menatap wajah Papinya.
"Papi. Allea ingin main ke kafe Bubu". Pinta Allea manja.
"Pak Tomo yang anter mau?".Tawar Aslan dengan setengah kesadaran. Allea tak menjawab. Gadis kecil itu cemberut. Aslan dekap erat tubuh putrinya seraya menyunggingkan senyum. Ia paham putri kecilnya merajuk.
"Iya nanti Papi anter. Papi tidur dulu 10 menit". Pungkas Aslan mencium kepala Allea.
"Ha?. Papi gak kelja?". Celoteh Allea.
"Memangnya putri Papi mau di tinggal?". Retorik Aslan. Allea hanya menggeleng dan mengeratkan pelukannya. Lalu mereka terlelap dalam alam mimpi.
Hari ini langit sedang tak bersahabat. Awan pekat diiringi Angin kencang. Transportasi umum ibu kota saling mendahului. Tak ingin mengalah. Pun dengan mobil pribadi. Saling serobot. Buru-buru ingin cepat sampai tujuan. Pasalnya, kalau turun hujan jalanan padat merayap.
Genap tiga hari Arin tak keluar kamar. Tak mandi dan makan. Ia hanya bengong melihat langit-langit kamar. Tak semangat menjalani hari. Seakan dunianya hancur. Namun mau tak mau akhirnya beranjak. Ia lapar.
"Ada makanan apa?". ucapnya lesu saat sampai lantai bahwa dengan penampilan berantakan. Dua orang yang sedang siap-siap buka kafe bengong melihat kondisi Arin.
"Wah apakah lagi cosplay jadi gladangan?". Komentar Mira spontan.
Plaak
Rio memukul kepala Mira dengan kemoceng.
"Haacim. Sial. Debunya banyak oon". Kesal Mira sembari melempar tutup gelas ke arah Rio.
Kricing...
Terdengar pintu kafe terbuka.
"Maaf kami belum buka". Kompak mereka. Si pengujung tersenyum dan melangka mendekati meja bar.
"Oh Dokter Bian. Apa kabar?". Teriak Mira bahagia. Rio hanya tersenyum. Arin menoleh sekilas lalu kembali merebahkan kepalanya ke meja.
"Alhamdulillah baik. Oh Astaga siapa demit ini?". Bian berjingkat ke samping saat melihat Arin. Mira dan Rio hanya cekikian.
"Ck. Kan kau setannya". Timpal Arin lemas sembari mengangkat kepalanya dan tangannya meraih toples yang berisi makanan ringan.
"Hah? Arin? Ada apa denganmu? Siapa yang membuat mu seperti ini? come on baby. Ini bukan Arin yang ku kenal. Pertama sana mandi dulu. Baau sekali. Berapa hari kau tak mandi?". Cerocos Bian layaknya emak titi sembari mengibas-ibaskan tangannya. Kompak Mira dan Rio mengacungkan tiga jari ke arah Bian. Bian langsung melotot.
Buuugh
__ADS_1
"Gila. Kau itu perempuan jangan malas mandi walo ada masalah. Mandi itu sebagian dari iman dan menghilangkan kotoran. Ya ampun. Ada apa denganmu? Arin. Astaga Tuhan. Aduh palaku migran liat kelakuanmu". Omel Bian sembari memegangin kepala.
"Ck. Iya. Iya aku mandi". Dengus Arin sembari menghentakkan kakinya .
Bian menatap punggung Arin. Ia menyunggingkan senyum getir. Seakan tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Lalu ia meghela nafas berat.
"Rio tolong buatkan teh manis hangat dan roti bakar ya. Antara ke atas". Pintanya seraya tersenyum ramah. Lalu Bian berjalan menuju lantai atas.
Bian dan Bunda orang yang selalu ada untuk Allea.Saat ia membutuhkan dukungan. Perbedaannya. Bian selalu menggunangkan nada ketus atau kata-kata pedas. Namun sebenarnya, Bian sangat menyayangi Arin. Peduli. Bahkan rela melakukan apapun asal Arinnya bahagia.
Sedangkan Bunda, khas ibu-ibu yang memanjakan anaknya. Sebenarnya Arin tak pernah kena marah. Ia tipe anak pandai. Displin. Tanggung jawab dengan pekerjaannya. Menurut. Tapi gara-gara satu anak yang salah semuanya kena marah.
......................
Selin tersenyum ramah pada penggemarnya. Hari ini film yang ia bintangi pertama kali tayang. Ia menghadiri gala premiere sekaligus sesi bincang hangat bersama penggemar. Suasana sangat ramai. Para penggemar meneriakin namanya. Memberi dukungan. Selin tersenyum santun.
"Astaga. Liat cantik sekali dia"
"Ya ampun sopan banget"
"Kiyaaa. Akhirnya aku bisa melihat langsung Selin"
Dan masih banyak lagi bisik-bisik para pegemar. Mereka sangat kagum dengan kecantikan Selin.
Meli mencuri kesempatan menonton gala premiere itu lewat streaming. Ternyata ia salah satu penggemar Selin. Dalam perjalanan ke kafe, ia asyik menonton.
"Mbak Meli nonton apa?". Allea ingin tahu. Meli kaget dengan pertanyaan bos kecilnya. Lalu melirik jok kemudi Aslan. Ia tahu gosip yang beredar antara Selin dan tuannya saat ini. Namun baik keduanya tak ada klarifikasi. Para penggemar pun menebak sesuka hati dan berpikir mereka ada hubungan spesial.
"Ehm. Mbak nonton acara makan-makan non". Bohong Meli kiku.
"Oh. Allea minjem Hp mbak Meli boleh?". Harap Allea.
Beberapa saat mereka sudah sampai.
"Hari kerja ramai juga". Celetuk Aslan melangkah ke dalam kafe.
"Anteee. Pamaan". Cepreng Allea memanggil Mira dan Rio semangat.
"Oh nona bos kecil". Sahut keduanya sembari tersenyum. Rio langsung mencium pipi gembul Allea. Mira pun sama.
Aslan tersenyum melihatnya. Lega. Selama tiga hari suasana hati Allea selalu uring-uringan. Baru hari ini ia kembali ceria. Seakan lupa akan Bubunya.
"Tumben main. Ada apa nih?". Goda Mira.
"Allea kangen Bubu ante". Sahut Allea menunduk.
Aslan langsung berdecak. Kesal. Padahal berharap tak mengingat Bubunya. Mira reflek menutup mulutnya. Kali ini ia salah ngomong.
Rio hanya geleng-geleng dan menghembuskan nafas.
Tiba-tiba Allea memiringkan kepala. Samar-samar ia mendengar suara tak asing dari atas. Benar. Bocah peka terhadap suara Bubunya itu langsung berlari ke lantai atas. Ingin memastikan.
"Allea. Pelan-pelan". Seru Aslan kaget dan mengikuti Allea dari belakang.
Sampai di atas Allea mencari sumber suara yang didengar. Ia menyimbak gorden dekat balkon. Matanya melotot saat melihat sosok yang tiga hari ia rindukan.
"Huwaaaah. Bubu jahaaat. Hiks". Teriaknya sembari menghambur memeluk Arin. Si empu tubuh kaget. Ia tak menyangka Allea akan datang.
"Bubu kenapa ninggalin Allea?. Memangnya Allea nakal?. Kenapa Bubu gak pulang? Allea kangen Bubu. Papi juga kangen. Memangnya Bubu gak kangen kami?". Rentetan pertanyaan polos Allea membuat Arin bingung menjawab. Ia hanya menelan ludah.
Bian yang mendengarnya tersedak dengan kata 'Papi juga kangen'. Ia langsung menoleh ke arah Aslan dan melotot. Aslan pun tak kalah kaget. Ia sampai mematung mendengar celotehan putrinya.
__ADS_1
Arin mengangkat tubuh Allea ke pangkuannya.
"Allea ingat Dia siapa?". Arin mengalihkan pembicaraan sembari menghapus air mata Allea.
"Hallo ponakan cantik paman. Sekarang sudah besar ya". Sapa Bian dengan suara bariton dan tersenyum manis. Allea menggeleng. Ia tak ingat.
"Hahaha. Syukurin dia melupakan mu". Arin senang. Bian langsung tersenyum melihat Arin tertawa. Sejenak lupa akan kesedihannya.
"Aku senang kau tertawa". Gumam Bian.
"Allea. Itu gak sopan. Bubumu lagi ngobrol. Jangan ganggu". Aslan maju ingin mengambil Allea dari pangkuan Arin. Tapi Allea semakin mengeratkan pelukan. Entah perasaan apa yang di rasakan Aslan. Hanya saja ia tak suka dengan pemandangan saat ini.
"Kukira kemana. Ternyata malah asyik berduaan". Prasangka Aslan dalam hati.
"Hmmm urusanku sudah selesai. Aku pulang dulu. Kangen sama si rabbit". Bian beranjak.
"Jangan lupa mandi. Makan. Aku gak ingin kau cousplay jadi orang gila sekaligus gladangan". Celetuk Bian menyeringai sembari mengacak-acak rambut Arin.
"Hei. Aku males keramas lagi". Teriak Arin dongkol.
"Hahaha. ke salon aja nanti aku bayarin". Seringai Bian menatap Aslan.
"Kenapa menatapku?". Batin Aslan sambil mengepalkan tangan.
"Ogah". Dengus Arin.
"Oh Iya lusa aku balik. Katanya Mama kangen. Jadi kalo kau bisa ikutlah. Jenguk Mama". Ucap Bian sembari berlalu tanpa menunggu jawaban Arin.
Aslan langsung duduk di kursi yang Bian tempatin tadi. Pikirannya menebak sesuka hati hubungan mereka. Hal itu membuatnya dongkol.
"Wah. Apa-apan ini?. Jadi selama 3 hari kau hanya di kafe ini?". Retorik Aslan. Kesal.
"Maaf aku gak ingin bahas ini". Jawab Arin sendu sembari memalingkan wajahnya. Aslan menggeleng. Mungkin ada Allea. pikir Aslan.
"Ehm. Allea Bisa turun sebentar main sama mbak Meli. Papi ingin bicara dulu sama Bubu". Pinta Aslan lembut. Allea mengangguk dan berjalan ke lantai bawah. Arin menyunggingkan sudut bibirnya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihat. Allea yang hanya mendengarnya kini menuruti perkataan selain dirinya.
"Bagus Allea. Bubu senang melihatnya. Kalo begini aku tenang. jika nanti saatnya aku pergi. Batin Arin menatap punggu putri yang ia besarkan dengan penuh kasih.
Hening. Aslan bingung ingin memulai dari mana. Sadar akan status diantara mereka. Selama ini Arin tak pernah melebihi batas. Hanya mengasuh Allea tak lebih. Tak kurang. Bahkan jika Aslan tak pulang, ia pun tak bertanya atau protes. Tapi kenapa hati Aslan kesal saat Arin tak pulang? Aslan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Canggung.
"Ehm. Sorry kalo aku mengganggu. Tapi 3 hari ini kenapa kau tak ada kabar? Allea mencarimu". Aslan hati-hati bertanya.
"Mmmm. Aslan. Sepertinya tugasku merawat Allea cukup sampai di sini. Aku senang Allea menuruti omonganmu". Pekik Arin seraya tersenyum getir. Ia mengabaikan pertanyaan Aslan.
Aslan kaget. Mengernyitkan dahinya.
"Ada Apa ini?. Pasti terjadi sesuatu". Batin Aslan gusar dengan pernyataan Arin.
"Apak maksudmu? Bukankah kontrak perjanjian kita membesarkan Allea". Gusar Aslan. Rasanya tak rela Arin raib dari pandangannya.
"Benar. Tapi bukankah Allea sudah besar". Sahut Arin masih dengan posisi sama. Menatap riuhnya jalan raya.
"Belum Allea masih kecil. Dia pasti akan bertanya kenapa kau pergi". Keukeuh Aslan.
"Kasih tahu saja siapa aku dan jelaskan ibu kandungnya".
"Publikkan saja Aslan supaya aku hancur sekalian dan tak berharap berlebihan". Lanjut Arin dalam hati. Menahan sesak.
Aslan layaknya arca. Ia tak percaya dengan ucapan Arin.
......................
__ADS_1