Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
BONPA Episode 5


__ADS_3

Allea langsung merebahkan kepalanya di meja saat bel istirahat pertama berbunyi. Ia merasa lega tidak terlambat. Jika masa SMP tidak masalah bila telat masuk. Tetapi kini ia berbeda saat duduk di bangku SMA. Rasanya akan rugi jika melewatkan semenit penjelasan dari guru mata pelajaran.


"Tumbenan lu telat." Celetuk Ghea sembari merapikan bukunya.


"Adik gue enggak mau ditinggal. Mereka nangis minta ikut, Ghea." Jelas Allea seraya memainkan bolpoin.


Ghea mengangguk paham soal kedekatan Allea dengan sang adik. Ia juga tahu kalau teman karibnya ini sedang menerima hukuman.


Bisik-bisik dari murid lain mengusik atensi mereka. Allea mengangkat kepalanya dan mengernyit saat mereka berbisik menyebut nama si ketua osis.


"Ya ampun ganteng banget sih kak Fauzi. Jadi pengen jadi pacarnya."


"Duh tatapannya itu loh bikin melting."


"Eh tapi ngapain ke kelas kita?."


Dan masih banyak lagi perkataan aneh yang mereka bisikkan ke teman mejanya.


Fauzi berdiri di meja Allea, yang belakangnya ada Fauzan. Mereka sering kali di panggil kembar tapi beda. Karena nama yang mirip. Dan jika di lihat sekilas, wajah dan postur tubuh mereka sedikit mirip.


"Lu enggak lupakan sama janji yang tadi pagi?." Datar Fauzi sembari bersedekap menatap Allea yang masih mencerna omongannya.


Mendadak Allea amnesia dengan kejadian beberapa jam lalu. Bahwa si ketos pangeran kepagiannya yang menyelamatkan dari keterlambatan. Kuis Fisika membuatnya pening. Ditambah jam kedua mengerjakan soal kimia yang membuatnya mikir keras. Dan juga kepikiran sang adik. Apakah menangis, rewel atau tidak?.


"Ha? Memangnya gue janji apa?." Kernyitnya mengingat. Ia benar-benar lupa dengan janji yang diucapkan.


Dan omongannya itu langsung dikomentari dari teman kelasnya yang duduk di samping, pojok dan belakang.


Serentak mereka mencibir dengan berbisik,"Pura-pura lupa. Terus ngomongnya sok imut sekali."


"Sumpah ngeselin banget." Sambung yang lain dengan menatap kesal ke arah Allea. Siswi itu bernama Malika pegemar garis keras Fauzi.


"Mau mentlaktir gue." Seringai Fauzi sembari menyugar rambutnya. Dan langsung disambut teriakan dari siswi yang berada di kelas itu.


Reflek Allea berjingkat mendengar teriakan mereka.


"Astaga, Ada apa dengan mereka?." Lirih Allea mengelus dada.


Fauzi mengulum senyum. Baginya tingkah Allea itu menggemaskan. Apa lagi saat bengong keheranan.


Ghea hanya tertawa kecil dan bangkit dari bangkunya.


"Nitip enggak? mau ke kantin nih." Ghea menyela obrolan Fauzi dan Allea. Sebab ia paham teman sebangkunya itu akan malas beranjak setelah pelajaran Fisika dan Kimia.


"Ha? Oke tentu saja Ghea. Biasa cemilan dan air mineral ya. Uangnya pakai punya lu dulu, oke." Ungkap Allea sembari memamerkan siluet senyuman manis khas miliknya.


Hingga membuat Fauzan dan Fauzi terkesima. Ternyata tidak hanya lelaki berdua itu, teman kelasnya yang laki pun ikut terpesona.


Ghea mengacungkan ibu jarinya, "Gampang. Bisa di atur."


"Thank you, Ghea yang manis, syantik."


"Jangan di lanjutkan, Allea. Lu tahu? gue mau muntah mendengarnya." Potong Ghea sembari berlalu.


Allea tertawa mendengar sambaran teman sebangkunya itu.


"Ups. Sori kak. Oh iya, nih uangnya. Jajan saja bareng kak Ojan. Enggak masalahkan tanpa gue?." Ucap Allea menyodorkan satu lembaran merah.


Fauzi mendengus. Mengubah gaya berdirinya. Ia meletakkan kedua tangannya ke meja. Menyodongkan sedikit badannya ke arah Allea.


Lagi-lagi siswi yang melihat adegan tanpa skenario itu menjerit senang. Padahal orang yang di tatap itu justru kesal. Rasanya ingin menendang tulang kering si ketos yang berlagak ini.


Kini tatapan mereka bertemu. Hati Fauzi sudah gemuruh bak badai. Tapi yang di tatap hanya mengernyit keheranan.


"Kenapa lihat-lihat? minta di colok?." Ketus Allea dengan meragakan dua jarinya yang siap melayang ke arah mata Fauzi.


Reflek Fauzi menarik diri. Lalu tertawa sembari meraup wajahnya. Sikap Fauzi membuat murid lain tercengah. Pasalnya, ia terkenal mahal senyum apa lagi tertawa lepas seperti ini.


Fauzan duduk di kursi depan Allea. "Bubu sama Papi lu lagi liburan?Adik-adik lu enggak di ajak?." Sambung Fauzan mengusik atensi Fauzi.


Allea menghela napas panjang. Mengingat kembali penyebab menerima hukuman itu. Ingin meluapkan kekesalan pada dua pria di hadapannya ini. Tapi, percuma marah-marah. Hukuman tetap berjalan.


Ia mendengus dan menelengkan kepala.

__ADS_1


"Wah. Mentang-mentang tetangga lima langkah, doyan sekali kepoin kehidupan tetangga sebelah." Cabik Allea dongkol.


"Bisa enggak! kalian minggat dari meja gue? Kalian tuh mengganggu otak gue yang seharusnya rehat sejenak." Imbuhnya menghela napas panjang.


Pekikkan Allea mengundang makian dari teman-temannya yang masih betah di kelas. Karena ingin melihat sang ketua osis dan wakilnya.


Mereka tidak berbisik. Makian mereka samar-samar bisa Allea dengar.


Allea mendengus sebal.


"Oke gue tunda minta tlaktirannya. Not bad, akhir pekan." Celetuk Fauzi sembari melirik Fauzan seakan minta penjelasan dari ucapan Allea.


"Bodo amat. Toh gue akhir pekan enggak bisa keluar. Hadapi noh Bubu sama Papi kalau mau ngajak gue keluar." Sahutnya dalam hati.


Allea malas menjawab. Sebab ia yakin yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata mempekeruh suasana.


Fauzi dan Fauzan melangkah menuju pintu. Namun pekikkan Allea yang terdengar bahagia itu menghentikan langkah mereka.


Kompak dua pria itu bersedekap mengamati Allea yang berbinar-binar menerima panggilan vedio.


...----------------...


♡Uncle Bian is Vedio Calling...


"Paman Bian. Mana pacar gantengku? Duh kangen euy sama calon imam."Kekeh Allea berbinar menatap layar lima inci yang melihatkan wajah Bian.


"Hahaha. Alan masih delapan tahun, Allea. Sepertinya enggak dulu deh. Paman lebih srek Alan dan Ariella." Bian membalas candaan Allea.


Ya. Bian sudah menikah sepuluh tahun yang lalu, dengan perempuan pilihan orang tuanya.


Shania Liu. Butuh dua tahun lebih untuk menerima perempuan itu. Hingga akhirnya lahir buah hati mereka. Alan El Janson. Yang kini berusia delapan tahun. Ketampan dan sikap dingin tapi perhatian yang diwariskan bapaknya itu membuat Allea terpesona.


"Oh tidak bisa begitu Paman Bian yang tercinta, tersayang, tersegalanya untuk Allea."


"Pandai sekali menjilat. Siapa yang ngajari?." Potong Bian sembari tertawa kecil.


"Secara alamiah, Paman. Tenang saja Paman. Di jamin tidak akan menyesal punya mantu sholihah, cantik, pandai, sopan, ramah lingkungan kayak Allea ini." Cerocos Allea sembari cekikikan.


"Sudah gilanya. Ini titipan lu." Celetuk Ghea disebelah Allea. Ia menyodorkan plastik hitam.


Ghea kembali dari kantin saat Allea memuji-muji diri sendiri yang membuatnya mengernyit heran. Lalu berdehem paham. Kalau bicara tanpa peduli sekitarnya, sudah pasti Allea teleponan dengan Paman tercintanya-Bian. Yang sering sekali dielu-elukan oleh teman karibnya itu.


Allea menerima sembari tersenyum.


Ghea menggeser posisi ponsel Allea, "Hallo Paman, saya Ghea. Masih ingatkan bocah SD yang waktu itu?." Sambung Ghea sembari melambaikan tangan.


"Tentu saja paman ingat, Ghea. Paman juga ingat sama bocah laki yang sering buat Allea mencak-mencak itu. Ah siapa namanya?." Balas Bian sembari mengingat nama bocah itu.


"Melvin Kyle, Paman. Bungsunya pengusaha tambang emas berlian. Bukan main camernya Allea itu." Ungkap Ghea keceplosan.


Allea langsung merebut ponselnya. "Anu Paman. Sudah bel masuk. Jam istirahat sudah selesai. Nanti di sambung lagi. Love you Paman."


Buru-buru Allea menekan layar warna merah untuk mengakhiri panggilan. ia tidak menunggu jawaban dari Bian.


Fauzi pun balik badan. Ia merasa kesal mendengar nama lelaki yang di sebutkan Ghea. Suasana hatinya berubah buruk.


"Hei. Mulut bebek. Ringan sekali ngomong camer depan Paman Bian." Dengus Allea kesal.


"Apa salah gue? memang nyatanya begitu 'kan." Elak Ghea tanpa dosa seraya mengangkat kedua bahunya.


"Ya Gusti, Ghea. Pingin gue hih rasanya. Tahu enggak ekpresi wajah Paman? Dia shock dan kesal. Gue yakin dia telepon Bubu. Nambah lagi masalah." Keluh Allea mengacak-acak rambutnya.


Ghea melotot. Ia benar-benar tidak paham dengan kehidupan teman karibnya ini. Allea tidak pernah membahas atau cerita terkait kedekatannya dengan sang Paman atau Tantenya.


"Sori, Allea. Gimana? gue perlu jelasin ke Paman elu pas istirahat kedua?." Sesal Ghea gelisah. Takut bila teman karibnya kena marah atau sejenisnya.


"Besok-besok gue enggak lagi deh nibrung obrolan kalian." Cicit Ghea menyesali sikapnya.


"Hahaha. Tenang sobat. Palingan hukuman ngangon adik-adik bertambah jadi dua minggu." Kekeh Allea merangkul bahu Ghea.


"Hahaha. Sialan. Gue lagi meratapi kesalahan. Elu malah ngelawak. Sial, adik elu bukan kambing," timpal Ghea sembari menghela napas.


Allea hanya manggut-manggut dan membuka plastik yang berisi makanan ringan. "Berapa semuanya?."

__ADS_1


"Gratis. Untuk menebus kesalahan gue beberapa menit yang lalu." Jawab Ghea mulai mengeluarkan alat tulis.


"Asyik. Sering-sering gue enggak nolak."


"Si dodol malah ngelunjak. Gue yang keberatan.


Allea hanya cekikikan dan ikut menyiapkan alat tulis.


Hari ini jadwal kelas X-1 itu tidak belajar di kelas. Tetapi ke ruang laboraturium. Mereka akan melakukan pratikum terkait pembahasan mengidentifikasi hewan.


...----------------...


Fauzi tidak ke kelas, belok kanan menuju ruang osis. Suasana hatinya buruk. Lalu ia menjatuhkan pantatnya di sofa. Tangannya mengetuk-ngetuk meja.


"Kalian tetanggaan?." Dingin Fauzi menodong Fauzan dengan aura tidak bersahabat.


"Iya. Satu komplek." Jawab Fauzan mendengus.


"Kenapa enggak bilang?. "


"Sori. Soalnya elu enggak nanya."


Lengang sejenak. Memang benar yang di katakan Fauzan. Marah pun percuma. Fauzi menghela napas.


"Dia punya adik? berapa tahun?."


"Punya. Adiknya kembar. Kayaknya sekitar dua atau tiga tahun. Gue kurang begitu tahu. Sekarang jarang main ke sana."


Fauzi melotot mendengar penjelasan Fauzan.


"Sial. Berarti rumah mereka deket banget." Komentar Fauzi dalam hati sembari mengamati Fauzan.


"Kalau soal Melvin, siapa dia?." Dengus Fauzi kesal.


Fauzan tidak segera menjawab. Ia mengeleng. Memang mereka satu komplek. Tapi waktu TK sampai SMP Allea tidak satu sekolah. Ia juga tidak tahu siapa pria itu.


"Gue enggak tahu, Zi. Setahu gue, cowok itu temen pas SDnya. Tapi dulu mereka sering berantem." Jelas Fauzan ragu-ragu. Lalu menghela napas.


"Oh. Gue baru inget. Tapi si cowok itu sering main ke rumahnya di bulan-bulan tertentu. Kayak pas liburan sekolah." Fauzan tidak melanjutkan omongannya.


Serentak atensi mereka teralihkan ke arah pintu yang dibuka.


"Kak Ojan bisa tolong anterin gue ke rumah Paman Rudi?. Komplek Greenville tahukan?." Cerocos Allea ngos-ngosan.


Setelah mendengar adiknya nangis dan tiba-tiba badan mereka panas. Tanpa pikir panjang. Ia minta izin dan langsung berlari ke kelas Fauzan. Ingin minta tolong untuk mengantarnya. Persetan dengan tatapan aneh dari teman kelas Fauzan.


Saat mereka kompak bilang Fauzan di ruang osis. Allea langsung kabur tanpa mengucapkan terima kasih yang sering ia lakukan.


Fauzan langsung bangkit. Ia mengulurkan air mineral yang berada di meja. Fauzi merebutnya dan membukakan untuk Allea.


Fauzan menyunggingkan senyum samar.


"Dasar Fauzi. Bikin kaget saja." Gerutu Fauzan dalam hati.


"Gue saja yang anter." Datar Fauzi sedikit menyunggingkan sudut bibirnya.


"Ck. Gue butuh cepet dan orang yang tahu jalannya." Sambar Allea ketus.


"Gue tahu kok komplek itu. Saudara gue."


"Terserah siapa saja yang penting lima belas menit gue harus sampai." Potong Allea tidak sabaran.


"Gue tunggu di gerbang." Imbuhnya balik badan menuju kelas. Mengambil tas.


Fauzi masih tercengah. Biasanya ia sering melihat wajah ketus Allea.


Tapi kali ini, wajah panik Allea justru semakin membuat hati Fauzi berdetak lebih kencang.


"Sial. Gue semakin menyukainya." Lirih Fauzi sembari menyugar rambutnya.


Lalu keluar menuju parkiran.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2