
20xxx
Bian selesai menyebarkan kuesionernya. Ia senang rencananya berjalan sesuai yang diinginkan. Pengerjaan tesis aman tidak terkendala.
Ia ingin cepat-cepat sampai di kampus bertemu Arin. Ingin pamer. Lebih tepatnya.
"Emma Rajendra si bintang iklan itu, aku yakin 100% tidak meninggal karena kecelakaan."
"Tapi buktinya, mobil dia tabrakan. Bukan?."
"Ssst. Ini hanya kau yang aku kasih tahu." Bisik lelaki itu celingungan mengedarkan pandangan. Kosong. Ia tidak melihat seseorang di balik tembok tempat mereka berdiri.
"Dia dibunuh dengan dalih kecelakaan. Pintar sekali bukan si pembunuh itu?."
"Hei. Jangan asal ngomong."
"Terserah kalau tidak percaya."
Mereka masuk mobil dan berlalu mengendarai mobilnya keluar basement.
Bian hanya mematung mendengar obrolan mereka tanpa sengaja.
Ia mengerjap. Lalu menggeleng. Jangan sampai membangunkan jiwa penasarannya.
Pasti akan ia usut sampai ke akarnya bila jiwa penasaran itu melanda.
"Ck. Itu bukan urusanku. Peduli amat." Desisnya menuju mobil yang ia parkir.
Menyalakan mesin mobil menuju kampus. Menyimbak jalanan ibukota yang ramai lancar dengan kecepatan sedang.
Tidak butuh waktu lama, ia sudah sampai kampus. Mencari sosok yang selama ini mewarnai harinya.
Ia tersenyum melihat sosok itu asyik dengan ponselnya.
"Komik terooos," celetuknya sembari duduk di kursi samping Arin.
"Oh kau sudah datang," Arin menoleh ke sumber suara.
Bian hanya mengangguk dan menaikkan kedua alisnya.
"Eh, Bian. Aku yakin kau pasti tahu si Emma Rajendra yang lagi viral. Dia kenapa sih? aku gak ikutin beritanya. Cuman lihat hastag di medsos Rip Emma Rajendra, Usut kasus kecelakaan Emma, gitu." Tandas Arin sembari nyengir.
Bian mengangkat kedua bahunya. Malas membahas si bintang iklan itu.
"Ck. Ayolah. Aku kepo nih." Desak Arin.
"Iya sesuai hastag itulah. Emang kenapa sih? kau dapet untung kalau tahu?."
"Hehehe. Enggak bro. Dapet dosa, iya."
Bian menatap Arin lekat-lekat. Ia mengernyit dan menggeleng. Ingat si topik pembicaraan mantan bintang Iklan JS Crop.
Sekilas Mirip. Bathin Bian menilai.
"Dia sedikit mirip denganmu."
"Ha? Siapa? Emma?."
"Iya. Kalau kau poles dikit tuh wajah kucelmu, pasti dikira kau Emma ke 2. Hehehe."
"Aih. Sialan. Aku malas pakai dempul kayak gebetanmu."
__ADS_1
"Hei. Gebetan your head!. Mana ada? jangan sok tahu ya mulut."
"Hahaha. Serius? terus kak Shanum itu siapa?." Goda Arin sembari berdiri. Menghindar dari jangkauan Bian.
Ia takut kena jitak saat mengusik urusan pribadi sang sobat karib.
"Hei. Mau kabur kemana kau?. Sini!." Kesal Bian pura-pura.
Ia mengulum senyum dengan tingkah sahabatnya itu. Bian menyugar rambutnya.
"Benar Arin. Aku memang menyukainya. Bahkan pernah menyatakan perasaanku. Tapi syaratnya. Harus mengakhiri persahabatan kita." Monolog Bian mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
"Tentu aku keberatan. Aku ingin disampingmu. Menjadi tumpuanmu. Arin. Sampai kau bertemu orang tuamu. Bertemu seseorang yang mampu membahagiakanmu."
Janji Bian pada dirinya.
...----------------...
Ruangan kafe itu lengang. Hanya terdengar bunyi AC dan detak jam dinding. Sesekali tirai melambai tersimbak semilir angin.
Kedua lelaki ini masih terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
Rudi sudah diizinkan pulang. Perannya sebagai jaminan sudah selesai.
Liza tiba-tiba ada panggilan masuk dari seseorang. Tentu saja Si Athan. Lelaki itu sedang gencar mendekatinya dengan alibi proyek kerjasama sebuah event acara.
Bian menatap Aslan. Si lelaki kurang ajar yang menculik sahabatnya tanpa izin.
Entah, apa yang ia pikirkan. Seakan wajahnya menunjukkan kegamangan.
Mencerna perkataan Bian.'Kau bisa jamin kedepannya dia baik-baik saja dan bahagia'.
"Bian. Aku tidak tahu apa yang kau khawatirkan. Tapi aku usahakan dia selalu baik-baik saja dan membuatnya bahagia."
Rasa cemburu itupun sedikit mereda. Saat melihat Bian layaknya sang Ayah bagi Arin.
Ia selalu berpikir bahwa antara lelaki dan perempuan itu tidak mungkin murni bersahabat. Pasti diantara mereka ada yang menyimpan perasaan.
Tapi, kedua orang ini membuka pikirannya. Bian berperan layaknya kakak sekaligus Ayah.
"Kau bisa menjamin, Aslan?. Bisakah kau tidak membuatnya meneteskan air mata?."
Aslan tercengah dengan perkataan Bian. Seakan khawatir perempuan itu raib dari jangkauannya. Atau mengkhawatirkan segala kemungkinan?.
"Kalau kau bisa menjamin. Aku bisa tenang dan meninggalkannya disini," lanjutnya sembari tersenyum kecut.
Aslan menggeleng.
"Kau mau kemana?."
"Merawat orang tuaku di Singapur."
"Akan aku usahakan."
"Tidak, Aslan. Aku butuh janji seorang lelaki yang tidak mungkin mengingkari."
"Baik Bian. Aku janji. Jika dia menangis. Dia tidak bahagia. Aku kembalikan dia padamu."
Aslan berucap ragu-ragu. Bian mengangguk dan menjabat tanggan Aslan.
Derap langkah dari anak tangga mengusik atensi mereka. Kompak mereka menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Kalian tidak adu jotos di teras, Bukan?. Soalnya sunyi sekali," kiku Arin salah tingkah.
Bian memincingkan mata dan berdiri mendekati Arin.
"Jadi, kau menguping?," tebak Bian menyodongkan badan ke arah Arin.
Dada Aslan langsung bereaksi. Maaf kawan rasa cemburu itu tidak mereda. Justru semakin menjadi menyengat hati.
"Hehehe. Enggak ya. Cuman curi dengar dikit kok." Elak Arin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Itu sama saja, Bodoh." Bian menjitak kepala Arin lalu mengusapnya.
Rasa panas bagaikan tersulut api melihat keakraban dua orang depan matanya, membuat Aslan menghembuskan napas berat. Sesak sekali rasanya.
"Kenapa Aslan? Cemburu?," retorik Bian menyeringai saat menoleh ke belakang.
Aslan hanya nyengir. Malu dengan reaksi hatinya.
"Hahaha. Tenang saja dia cuman adik kecil kami."
"Hei. Jarak umur kita cuman dikit." Potong Arin cemberut.
"Berisik, Arin. Aku lagi bicara sama calon lakimu."
Arin langsung bersemu merah. Menunduk. Malu dan menangkupkan kedua pipinya. Pasti wajahnya memerah bagaikan kepiting rebus.
Aslan. Hmm lelaki ini berbunga-bunga saat disebut 'calon lakimu'.
"Huuuftt. Sebenarnya aku masih kesal. Ingin sekali menghajarmu, Aslan. Kau lelaki pertama yang membawa kabur Arin. Dan juga orang pertama yang mampu menyakinkan hatiku."
Bian menjeda. Menghela napas.
"Kau ingat Arin?. Saat kau SMA dan Kuliah, berapa banyak lelaki yang mendekatimu? walau wajahmu dekil, kucel seperti tidak mandi setahun." retorik Bian membuat si empu nama malu dan mendengus kesal.
Aslan menahan tawa mendengar ucapan Bian. Ia membayangkan wajah Arin masa SMA dan kuliah.
"Rata-rata mereka hanya ingin memanfaatkanmu. Meminjam otak yang sedikit encer itu, mengerjakan tugasnya. Dan bodohnya kau tidak bisa menolak," tandas Bian menoleh Arin.
"Hei. Setan. Aku tidak terima kalau kau bilang begitu. Aku sudah menolak," sanggah Arin.
"Terus? kenapa mereka masih mendekatimu kalau sudah ditolak?."
"Hehehe. Anu Bian. Sebenarnya mereka mohon-mohon kayak mau nangis gitu. Mereka janji buat bayar persoal 100 ribu. Terus aku lihat ada 50 soal. Ya sudah hajar. Itung-itung lumayankan. Eh. Kau datang mengusir mereka tanpa tahu apa-apa," jelas Arin sembari mengingat kejadian saat itu.
Bian melongo. Tidak percaya dengan sobatnya ini. Bisa-bisanya menggadaikan otak cemerlangnya.
"Wah. Luar biasa, Rin. Aku tercengah dengan bisnismu." Bian geleng-geleng.
Arin melotot saat melihat lelaki di depannya mati-matian menahan tawa. Ia langsung menunduk.
Terima kasih intermezonya, Arin. Aku semakin penasaran akan masa SMA dan kuliahmu. Bathin Aslan menatap perempuannya penuh damba.
"Ehm. Maaf soal omongan random kami," ucap Bian pada Aslan.
"Tidak masalah. Aku jadi tahu sisi Arin yang dulu," balas Aslan mengulam senyum.
"Oke. Mulai sekarang aku titip Arin padamu, Aslan. Tolong jaga dia. Terima kekurangannya. Maafkan dia kalau omongannya menyebalkan." Bian menjeda menahan air mata yang akan jatuh.
"Jelek-jelek begini dia baik hati." Lanjut Bian menyunggingkan senyum.
Astaga Bian. Padahal kalimat awal membuat Arin terharu. Bahkan hampir meneteskan air mata.
__ADS_1
Tapi tatkala dengar lanjutannya, ia melotot sebal. Hilang sudah rasa haru. Berganti rasa jengkel.
...----------------...