
Pandu mondar-mandir di ruang kerjanya. Ia ingin menghubungi seseorang untuk memastikan sesuatu. Tetapi hatinya ragu. Ia melihat nomor kontak itu dan menghembuskan napas berat. Pandu mengangguk mantap. Menghubungi nomor kontak yang susah payah ia dapatkan.
“Tolong. Angkatlah!.” Gusarnya saat si pemilik nomor belum menjawab.
“Hallo. Ada yang bisa di bantu? Maaf, ini dengan siapa?,” sapa orang dari seberang.
“Iya, hallo Dina. Apa kabar? Ini aku Pandu.”
Lengang. Sepertinya Dina sangat kaget mendengar nama orang yang menghubunginya. Nama yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
“Kau pasti sangat kaget. Maaf aku mendapatkan nomormu dari kenalanku.” Lanjutnya menjelaskan.
Setelah keberadaan Nira sulit dilacak, Pandu langsung terpikirkan orang terdekat Nira. Satu-satunya teman dekat sang pujaan hati itu hanyalah Dina. Lalu ia usaha mencari tahu nomor kontak Dina.
“Haahh. Ini kejutan luar biasa, Pandu. Aku kira kau melupakanku. Oh kabarku, alhamdulillah baik.” Balas Dina menghela napas pelan.
“Syukurlah. Mana mungkin aku lupa, Dina. Apa kau senggang? Sengaja aku menghubungi malam hari. Pasti di sana pagi, bukan?,” basa-basi Pandu mencairkan suasana.
“Wah. Sampai mana kau tahu tentangku? Maaf Pandu, aku hanya mencintai mas Liam,” gurau Dina tertawa kecil.
“Hahaha. Tenang saja Dina. Hatiku hanya untuk Nira.”
Hening. Tidak ada balasan dari seberang, hanya terdengar helaan napas.
“Terus kenapa kau meninggalkannya, Pandu? Apa itu yang namanya cinta?.”
“Aku tidak pernah meninggalkannya. Tidak sama sekali. Justru dia yang menghilang tanpa jejak.
“Pandu. Coba kau pikir?. Wanita mana yang mau di duakan? Mungkin mulutnya bilang tidak apa-apa, tapi apa kau tahu isi hatinya?.” Dina menjeda menetralkan intonasi suaranya.
“Kau menghubungiku pasti ingin bertanya terkait Nira, bukan?,” retorik Dina melanjutkan bicaranya.
Pandu menghela napas panjang sembari menyisir rambutnya dengan jemari.
“Benar, Dina. Aku ingin bertemu dengannya.”
“Telat Pandu. Kemana saja kau selama ini?.”
Pandu memotong ucapan Dina, “Tunggu, Dina. Apa maksdunya telat? Di mana Nira sekarang?.”
“Kau pura-pura tidak tahu atau.”
“Dina. Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi dengan Nira. Tolong jangan bertele-tele.” Potong Pandu tidak sabaran. Hatinya gelisah jika sesuatu yang tidak di inginkan terjadi.
Dina mengela napas, “Nira meninggal, setelah bertemu denganmu beberapa tahun silam.”
“Jangan bohong!. Terakhir aku bertemu dengan Nira, satu bulan sebelum aku menikah dengan Intan. Setelah itu aku tidak pernah bertemu, Dina. Kau jangan membohongiku.” Gusar Pandu. Kakinya lemas. Dadanya nyeri.
__ADS_1
“Aku serius, Pandu. Kalau kau tidak percaya, temui anakmu dan minta dia untuk mengantar ke makam Nira. Maaf harus mengakhiri panggilan ini. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Sampai nanti, Pandu.”
Dina mengakhiri panggilan. Pandu mematung. Ia tidak percaya dengan kabar yang di terima. Hatinya menyangkal bahwa sang pujaan hati telah tiada. Tetapi hatinya bertanya-tanya. Siapa orang yang di temui Nira?.
Suara ketukan pintu mengalihkan atensinya. Ia terjingkat dan menoleh ke arah pintu.
“Mas, makan dulu.” Pinta Intan sembari menatap lelaki yang begitu dicintai. Meski ia tahu kalau lelaki itu tidak perna mencintainya.
Pandu mengeryit. Matanya menyipit. Ia melangkah mendekati istrinya. Intan salah tingka di tatapan sang suami. Hatinya berdebar hebat. Mengharap lebih pada sang suami.
“Intan. Aku ingin bertanya.” Suara berat Pandu semakin membuat Intan berdegup kencang.
Intan hanya mengangguk.
"Apa kau pernah bertemu Nira?."
"Mas Pandu! kenapa kau tidak pernah memikirkan hatiku? kenapa hanya Nira yang kau pikirkan?." Nyalang Intan kesal dengan sikap Pandu yang acuh tak acuh. Perlahan ia meneteskan air mata.
"Apa tidak ada sedikit saja aku di hatimu mas?," lanjut Intan sesegukan.
Pandu menyugar rambutnya, "Bukankah aku sudah bilang. Aku hanya mencintai Nira. Kau jangan pernah mengharapkan cintaku."
"Lupakan dia, mas. Mari memulai hidup tanpa bayang-bayang dia, hmm?," harap Intan berlinang air mata.
"Haah. Aku tidak bisa, Intan."
Sakit rasanya selalu di abaikan sang suami yang begitu dicintai.
"Satu kesalahanmu. Kau hadir diantara kita." Dingin Pandu sembari menepis tangan Intan.
"Kau yang nerima tawaran Papa, mas. Jika saja kau tidak nerima aku tidak akan ada di antara kalian," Sanggah Intan lantang.
"Cukup, Intan. Aku tidak ingin bertengkar denganmu. Aku hanya ingin tahu, apa kau pernah bertemu dengan Nira?."
Intan menunduk. Ia menyeka air matanya.
"Aku tahu mas. Kau mencari anakmu dengannya 'kan?. Aku tidak keberatan mas, jika kau mencantumkan dia di kartu keluarga kita. Dan membawanya ke sini. Aku akan menyayanginya seperti Selin. Tapi bisakah kau lupakan Nira?."
"Intan. Berapa kali aku harus katakan. Aku mencintainya. Aku ingin bertemu dengannya. Jadi aku hanya ingin tahu. Apa kau pernah bertemu dia?." Pandu keukeuh dengan pertanyaannya. Ia benar-benar penasaran.
Intan menduduk. Hatinya bagaikan ditikam sembilu. Sakit. Nyeri. Sesak. Melebur jadi satu.
"Aku punya hak untuk tidak menjawab,mas." Pungkas Intan berlalu sembari mengepalkan tangan.
Pandu menghembuskan napas berat. Melihat punggung sang istri yang semakin menghilang. ia mengeraskan rahangnya.
"Sial. Aku semakin curiga."
__ADS_1
...----------------...
Hati Intan tidak tenang setelah sampai di kamar. Ia mengingat kejadian pertemuan pertama dengan Nira.
Saat rumahnya ke datangan tamu tidak di undang. Waktu itu hujan turun selepas magrib. Diiringi suara guntur. Satpam keamanan melaporkan bahwa ada seseorang ingin bertemu suami majikannya.
Tanpa pikir panjang, Intan menyuruhnya masuk ke rumah. Begitu Nira masuk. Ia sangat terpesona dengan kemegahan dan keindahan interiornya.
“Pantas saja mas Pandu meninggalkan aku yang gak bergelimang harta,” lirih Nira pilu.
Intan menghela napas. Ia menduga pasti perempuan ini adalah Nira. Perempuan yang sangat dicintai sang suami.
“Kau ingin bertemu dengan mas Pandu?.” Retorik Intan tersenyum tipis. Tapi tidak dengan hatinya.
Rasanya, bagikan air mendidih. Melihat wajah ayu Nira tanpa polesan make up. Alis hitam teba. Bulu mata yang letik. Bibir tipis kemerahan. Pipi merah saat kedingian.
Ia mendengus tatkala saingan cintanya menahan dingin. Tanggannya meraih remot pendingin udara mengganti suhu.
Sunggug wajah Intan sangat cantik nan elegan, hingga Nira terpesona. Ditambah saat ia tersenyu, tentu lelaki akan jatuh hati padanya. Tapi ada apa dengan hati Pandu? Kenapa lelaki itu tidak tergoda?.
“Benar. Bolehkan aku bicara dengannya?. Setidaknya 2 jam saja.” Nira memohon.
Intan menggeleng, “ Mas Pandu ke luar kota dari kemarin.”
“Tolong, bisakah kau hubungi dia? Ini sangat penting.” Desak Nira memotong kelimat Intan.
“Maaf aku tidak bisa.” Balasnya sembari berbalik.
Aku enggak bisa. Sebab dia selalu menolak panggilanku. Pekik Intan dalam hati. Ia menahan tangis mengikat perlakuaan sang suami. Tapi inilah buah dari keegoisannya.
Nira meraih pergelangan Intan, “Tolong. Aku mohon!.”
Intan menepis tangan Nira sekuat tenaga, melampiaskan amarahnya. Pertahanan Nira tidak seimbangan. Ia terhuyung dan sesuatu yang tidak di inginkan terjadi.
“Tidak. Aku tidak membunuhnya. Sungguh. Aku tidak sengaja melakukannya. Apa mas Pandu percaya kalau aku cerita? bagaimana kalau dia menceraikan aku?," risau Intan. Diantara risiko yang harus diterima. Ia tida sanggup diceraikan sang suami.
...----------------...
Halo kawan yang bukan penikmat harta orang tua. 🤭
Jangan lupa!!! lope sekebon n vote syantiknya ya. Duh baeq nya reader noona kiyowo ini. Gomawo reader. 🥰
Oh iya di antara para pembaca adakan yang jurusan hukum? boleh DM saya ya. Mau konsultan terkait hukum pidana pembunuhan berantai. Sudah tanya mbak Google, tapi saya kok makin pusing. hehehe sedikit curcol.
Terima kasih semuanya. 😊
Happy reading.
__ADS_1