Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
BONPA Episode 4


__ADS_3

Komplek Greenville tempat tujuan Allea bersama sang adik. Ia ingin mengungsikan adiknya, supaya bisa mengerjakan tugas sekolah.


"Assalamualaikum tante Mira nan syantik ulala." Teriak Allea setelah menekan bel berkali-kali.


Ceklek


"Anak setan. Ngapain ke sini?." Dengus Mira. Ia paham, pasti ada sesuatu jika anak mantan majikan sekaligus teman kuliahnya ini main ke rumah.


Paling dimarahin Arin atau membuat ulah di sekolah. Lalu kabur ke kawasan komplek Mira yang berjarak kurang lebih lima belas menit dari rumahnya.


"Tamunya itu dipersilakan masuk dulu, Tante. Baru dah di teror pertanyaan." Balas Allea menyunginggkan sudut bibirnya sembari menerobos masuk rumah dan mendorong stroller adiknya.


Mira melotot. Perasaannya tidak enak.


"Hei. Hei. Apa ini? Jangan bilang mau nginep?." Tebak Mira mengerutkan kening melihat tas bawaan si tamu tidak diundang.


"Tepat sekaliii. Duh makin cinta deh sama Tante Mira yang sangat peka ini." Goda Allea mencium pipi Mira.


"Astaga, kenapa aku juga ikutan nanggung beban? apa kurang bapakmu nyuruh suamiku lembur?," keluh Mira kesal.


Allea mengulum senyum sembari mengangkat kedua bahunya.


Yap, Suami Mira itu asisten Aslan alias Rudi Erlangga. Mereka memutuskan menikah setelah menjalin hubungan dua bulan. Hasil dari pernikahan mereka, lahirlah buah hati nan cantik jelita yang dikasih nama Alin Erlangga. Yang kini berusia tujuh tahun.


"Pasti kamu buat salah 'kan kalau emakmu ngasih hukuman ngasuh si kembar?." Retorik Mira sembari mencium pipi si kembar. Ia tidak bisa kesal melihat wajah-wajah lucu anak ini.


Lalu ia menggendong Aidan dan memanggil nany Alin untuk memindahkan Ariella yang sedang tidur.


"Hah. Bukan membuat, Tante. Tapi kejadian enggak terduga." Elak Allea sembari duduk dan menyambar air mineral di meja.


"Eh Alin kemana?." Imbuhnya celingungan.


"Dia sudah tidur. Habis tante marahin." Ungkap Mira duduk di samping Allea.


"Kenapa di marahin, Tante?." Kernyit Allea. Setahunya Alin anak yang penurut dan tidak aneh-aneh.


"Tante kesal, Allea. Ada tugas buat prakarya, jam segini baru ngomong. Biarin saja enggak dapat nilai." Dengus Mira memijat pelipisnya.


Allea cekikian. Teringat kelakuannya dulu saat mendapat tugas prakarya dari janur.


Jam delapan malam ia Baru bilang ke Arin. Kalau paginya harus membawa prakarya. Alhasil ia diomelin Bubunya.


"Sudahlah jangan bahas Alin. Itu bikin pening. Jadi kamu pacaran. Makanya Arin menghukummu. Ututu. Kacian," Tandas Mira sembari senyum-senyum menggoda.


"Heiii. Waaah. Jangan sok tahu tante. Aku enggak pacaran ya." Elak Allea lalu menceritakan apa yang di alaminya selama sepekan kemarin.


Mira hanya menghela napas panjang. Dan menelengkan kepala. Memikirkan jika Alin berusia remaja. Dengan cara bagaimana ia akan mendidik anak gadisnya.


"Ya sudah sana kalau mau mengerjakan tugas, Adikmu serakahkan pada tante." Ucapnya sembari tersenyum dan menepuk pundak Allea.


"Tante Miraaaa. Aku kok makin jatuh cinta. Astaga Tuhan, Tante Mira baiknya enggak ketulungan." Puji Allea manja menahan semburat senyuman.

__ADS_1


"Berisik. Ini cuman berlaku sekali. Besok-besok enggak lagi." Sambar Mira pura-pura ketus. Lalu balik badan menuju kamar Alin sembari tersenyum.


Allea memang pandai membuatnya senang, meski hanya sanjungan receh. Itu membuat hati Mira berbunga-bunga. Apalagi jika diucapkan Allea, terdengar lucu dan menggemaskan.


Di mata Mira, ucapannya itu seperti tulus. Walau sebenarnya tahu, kalau itu hanyalah trik Allea untuk meluluhkan hatinya.


Allea menggeleng sembari mengembangkan senyuman.


"Baiklah mari kerjakan tugas." Monolognya melangkah menuju kamar tamu untuk segera mengerjakan tugas.


...---------------...


"Sayang, Besok aku pulang ya. Aku enggak tega ninggalin si kembar. Dan kepikiran Allea. Pasti dia keganggu belajarnya." Risau Arin mendongak ke wajah suaminya. Yang memejamkan mata. Pura-pura tidur setelah melakukan adegan panas.


Mereka ke Bali untuk liburan sekaligus survei tempat untuk membuka cabang hotel di sana.


Arin masih menjalankan hotelnya dengan baik. Setelah si kembar lahir, ia mengganti nama menjadi 'Alailla Twin hotel'.


"Mereka pasti baik-baik saja, sayang. Tenanglah, bukankah ada Rudi dan Mira?. Ayo nikmati waktu berharga ini." Jelas Aslan mencium puncuk kepala istrinya dan mengeratkan pelukan.


Arin menghela napas panjang."Ih, Jeda dulu, Aslan. Ayo kita ngobrol bahas Allea." Kesal Arin tatkala Aslan mendaratkan ciuman di leher lalu menjalar ke area sensitif.


"Iya. Iya. Bagaimana dengan anak gadis kita yang sebentar lagi tujuh belas tahun itu? Mau kasih kado apa? Dia kemarin merajuk minta kado SIM." Komentar Aslan sembari melonggarkan pelukan. Menumpukkan kedua tangannya ke tengkuk menatap langit-langit kamar hotel.


Aslan tersenyum mengingat kelakuan anak gadisnya itu. Aih waktu begitu cepat berlalu. Seperti baru kemarin Allea melayangkan pukulan pada teman TKnya. Selalu ribut dengan teman sekelasnya saat SD. Langganan di panggil guru BP saat SMP, karena sering bolos pelajaran yang tidak disuka.


"Aku khawatir dengan Allea. Anak itu semakin hari kenapa sangat cantik, pintar bawel?. Dan kamu tahu enggak?. Banyak sekali yang DM dia di instagramnya. Duh aku ketar-ketir, Aslan. Belum lagi anaknya mbak Iin yang diam-diam memperhatikan Allea. Aku pernah melihat anak itu sering mengikuti mobil Allea pas berangkat sekolah." Arin menjeda menghela napas. Aslan masih mendengarkan kelanjutan cerita istrinya.


"Hmmm. Aku cemburu kalau kamu bahas anak itu. Sering banget kamu muji dia. Anak baik, anak sholeh, anak ganteng. Hah." Dengus Aslan mengubah posisi tubuhnya menghadap ke arah istrinya. Lalu mengulum senyum melihat wajah panik Arin.


"Tenang saja, cinta. Kamu tetap yang utama kok. Hatiku hanya untukmu seorang, ya hubby." Arin menenangkan sembari mencium pipi suaminya.


Aslan terkekeh dan mencium kening Arin.


"Tapi memang anak itu gentle sekali. Sebelum nemuin Allea selalu ucap salam dulu ke kita. Aku jadi respek sama bocah baru gede itu. Belum lagi beliin kita oleh-oleh. Pintar sekali memperlakukan orang tua cewek yang disukai. Aku jadi enggan buat menolaknya. Sial. pintar sekali cara mainnya." Decak kesal Aslan mengingat Melvin yang begitu pintar mencari celah kelemahan Aslan. Ia selalu tahu apa yang sedang di inginkan Aslan. Tidak hanya Aslan, tapi ia juga tahu benda atau sesuatu yang diidam-idamkan Arin.


"Bener banget, sayang. Aku sampai tersentuh pas dia ngirim hadiah di hari jadi pernikahan kita. Dan dia orang pertama yang ngasih hadiah. Aku sih yes kalau punya mantu seperti itu" Kekeh Arin menatap suaminya.


Aslan hanya menghela napas. Ia tidak bisa pungkiri. Melvin memang lelaki muda yang berbeda dikalangan remaja zaman sekarang. Yang kebanyakan hanya menjemput pujaan hatinya di depan gang atau janjian di pinggir jalan. Bahkan acap kali mereka menghindari orang tua si gadis pujaan hatinya.


"Baiklah, Cintaku. Nanti aku minta Rudi cari tahu biodata cowok-cowok yang dekat dengan Allea. Jangan khawatir. Putri kita itu hanya terpesona dengan Bian si menyebalkan itu." Jelas Aslan sembari mencium kening Arin lalu turun ke bibir dan merambat ke daerah-daerah sensitif.


Lalu terjadilah adegan panas diantara mereka menjemput kenikmatan surga-dunia untuk yang ke sekian kalinya.


...----------------...


Pagi ini kediaman Rudi sangat ramai. Tangis Aidan yang minta susu. Raungan Ariella yang tidak ingin di tinggal sang kakak pergi sekolah. Mira yang baru tahu kedekatan si kembar dengan sang kakak hanya melongo.


"Gimana Al, adikmu enggak mau di tinggal. Ini sudah jam setengah tujuh lewat. Kamu masuk jam berapa? Apa mau izin saja?." Ucap Rudi gelisah melihat kerusuhan si kembar.


"Aku masuk jam setengah delapan, paman. Enggak mungkin izin. Soalnya ada kuis." jawab Allea sembari menggendong Ariella.

__ADS_1


"Sssttt. Sudah nangisnya. Lihat noh langitnya biru cerah. Duh cantik sekali kayak si Ella yang belum mandi. " Ucapnya dengan nada mendayu-dayu sembari menimang-nimang Ariella.


Beberapa menit kemudian, Ariella lansung memejamkan mata. Ia tertidur. Allea tersenyum melihat wajah pulas adiknya dan menaruh di tempat tidur dekat Aidan yang sudah terlelap setelah kenyang minum susu.


Aidan berbeda. Ia tidak akan menangis bila masih mendengar suara Allea. Makanya hanya minum susu dan mendengar suara sang kakak pun bisa membuatnya jalan-jalan ke alam mimpi.


"Paman, Allea turunin saja di halte depan. Takutnya Alin telat. 'kan arah sekolahan kita beda. Maaf ya Alin, kakak lama. Terima kasih sudah nungguin." Ungkap Allea sembari tersenyum pada Alin yang cemberut.


"Nanti kamu telat, gimana? Romi kemana sih, kok enggak jemput?." Balas Rudi melajukan mobilnya keluar komplek.


"Pak Romi izin, katanya mau jemput keponakkannya." Jawab Allea mengambil ponselnya di saku rok.


Lalu menepuk jidatnya, "Astaga, kenapa enggak download aplikasi ojol saja sih?. Memang kadang-kadang Allea kelewat pintar." Gerutunya sembari tertawa kecil.


Rudi hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala.


"Paman. Sini saja. Oke, thanks paman Rudi yang baik hati. Salim dulu dong, supaya Allea selamat sampai tujuan." Celetuk Allea mencium punggu tangan Rudi dan turun dari mobil.


Rudi terkekeh mendengar omongan Allea.


"Hati-hati. Ini buat tambahan ongkos." Ucap Rudi menjulurkan dua lembaran merah.


Senyum Allea terbit. Senang mendapat tambahan uang jajan. "Alhamdulillah rezeki anak sholihah. Sering-sering Paman, Allea ikhlas." Kekehnya sembari menerima uang itu.


Rudi tersenyum dan kembali melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota nan padat merayap.


Pukul 07.10 waktu setempat. Hati Allea semakin risau. Pesan ojek online selalu ditolak dengan alasan server penuh.


"Ck. Sial. Bentar lagi masuk. Ya Tuhan, ojek pengkolan kok enggak ada sih kalau lagi dibutuhkan." Menolog Allea menatap nanar jajalan nan padat.


Ia mengeleng. Mengurungkan niatnya naik kendaraan umum.


Tin...tin..tin..


Suara klakson kendaraan mengagetkan Allea. Ia mengerutkan kening. Melihat si empu motor menepi mendekatinya.


"Naik." Ucapnya datar sembari membuka kaca helm.


"Sial. Harus banget pengeran kuda besi si ketos? Enggak ikut?. Telat. Kalau ikut?, siap-siap di rujak si kunti penggemarnya." Bathin Allea bimbang.


"Enggak naik? Bentar lagi masuk." Seringai Fauzi sembari menginjak tuas kopling gigi ke depan.


"Oke kak Oji, Gue ikut." Reflek Allea naik ke jok belakang.


Fauzi mengernyit mendengar nama panggilan dari Allea. Lalu ia mengulum senyum dengan hati berbunga-bunga. Ia langsung mengendarai si kuda besi membelah padatnya jalanan.


Allea melirik arlojinya. Lalu menghela napas berat.


"Kak, sori. Bisa lebih cepat sedikit? Sudah jam 7.25, jam pertama ada kuis." Pinta Allea ragu-ragu.


Fauzi tidak menjawab hanya menambah laju kecepatan sembari melirik Allea dari spion kaca.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2