
"Tuan ini permintaan anda". Ucap pria berjaket hitam sembari meletakkan map coklat.
"Oke. Sisanya nanti kalau saya sudah bertemu dia."
Pria itu hanya mengangguk dan berlalu.
Pandu membuka isi map itu dengan hati was-was. Matanya terbelalak tatkala melihat photo-photo anak gadis berseragam Sekolah Dasar hingga lulus gelar sarjana.
Keningnya mengernyit saat mengamati tempat tinggal gadis tersebut. Lalu menggeleng.
"Panti Asuhan Pelita Kasih? Ada apa ini? kenapa photo Nira tidak ada?." gusar Pandu.
Ia beranjak dari duduknya. Melihat pemandangan di luar jendela. Risau akan keadaan Nira sang istri tercinta yang tidak tertulis di map itu.
"Pandu. Meningkahlah dengan putriku. Dia sangat menyukaimu. Aku pun juga sangat menyukamu. Kinerjamu bagus". Ucap Candra Pradipta ayah Intan.
"Kalau kau setuju. Aku pastikan kursi wakil Direktur utama untukmu". Lanjutnya menjanjikan jabatan nan menggiurkan.
"Saya butuh waktu pak". Balas Pandu sopan.
"Oke. Sepekan aku ingin jawabanmu. Datanglah ke ruanganku". Tegas Candra.
"Sial. Kenapa dulu aku menerima tawaran itu?". Sesal Pandu mengingat kisah masa lalu yang membuatnya bertengkar hebat dengan Nira.
Tanpa ada gugatan penceraian, keduanya memilih hidup masing-masing. Nira bersama si calon bayi meninggalkan ibukota.
Pandu dengan berat hati menikah dengan Intan. Menerima status menantu si pemilik gedung C&P dan menjabat sebagai wakil Direktur utama di perusahaan itu.
Pandu bergegas. Ia ingin bertemu dengan anak gadisnya yang selama ini tidak pernah ditemui.
__ADS_1
Setelah menikah dengan Intan. Ia tidak tahu keberadaan Nira. Waktunya tersita dengan urusan perusahaan. Namun, rasa cintanya tak lekang oleh waktu.
...----------------...
"Tuan, Hari ini saya izin pulang cepat".
Aslan tercengah. Ia mengamati penampilan sang sekertaris dari ujung rambut hingga kaki. Lalu menghela napas berat.
"Bisakah kau tidak pergi, Rud?". Lesu Aslan menyenderkan punggungnya di senderan kursi.
Rudi menggeleng dan tersenyum.
"Baiklah. Baiklah. Silakan pergi jangan hiraukan aku". Rajuk Aslan kesal.
Entah kenapa hatinya nyeri saat melihat Rudi berdandan bak anak remaja belasan tahun.
Di luar ruangan itu. Seorang perempuan mengenakan t-shirt putih dibalut kardigan biru langit berpadu celana jeans sepatu kets. Ia mengamati gedung nan megah di depan matanya.
Ia tersenyum. Teringat kenangan saat kali pertama datang ke sini.
Yap. Perempuan itu ialah Arin. Ia pamit ingin jalan-jalan sendiri. Menikmati waktu sendirian seperti dulu sebelum kehadiran Allea.
Dan kebetulan Allea di ajak ke studio Aliza untuk menjadi model baju anak seumurannya.
"Hai. Aku Rudi Erlangga". Ucapnya tiba-tiba di samping Arin sembari menjulurkan tangannya.
Arin mengernyit. Suara itu sangat familiar. Ini seperti déjà vu.
Arin langsung melotot tatkala ingat kejadian kurang lebih 15 tahun yang lalu.
__ADS_1
"Kau? Kau kak Rudi?". Balas Arin girang dan meraih uluran tangan Rudi.
"Wah. Dunia ini sempit sekali. Ternyata kau jadi sekertaris si pemilik gedung itu". Lanjutnya sembari menyibak anak rambut yang ditiup angin.
Rudi sama seperti dulu. Tercengah dan hatinya berdebar hebat. Rangkaian kata yang ia siapkan mendadak hilang. Pikirannya buyar. Lidahnya kebas.
"Kak Rud? kenapa diam saja?. Eh. Tapi kok Kak Rud tahu kalau aku anak yang waktu itu?". Arin penasaran sembari berjalan ke arah pintu gerbang.
Melanjutkan niat melihat museum gedung itu. Rudi menyejajari langkah Arin.
"Aku gak sengaja lihat majalah lama yang ada di perpus kantor. Dan aku melihat photomu". Rudi menjeda.
"Lalu. Ehm, aku stalking akun sosmedmu". Kiku Rudi malu-malu.
"Benarkah? wah jujur aku sangat senang bisa bertemu kak Rud lagi". lugas Arin berbinar dan tersenyum.
Sial. Tolong kerja samanya. Jangan senyum seperti itu. Bisa jadi aku egois ingin memilikimu.
Batin Rudi menatap Arin sembari memegangi dadanya. 15 tahun berlalu tapi reaksi hatinya masih sama.
Benaknya, ia ingin memeluk tubuh ramping perempuan disampingnya ini. Melepaskan Rindu yang selama ini dirasakan. Ternyata ia selalu mencari keberadaan Arin setelah ajang audisi itu selesai.
Rela gabung di perusahaan itu demi menemukan Arin dan juga kebenaran tentang keluarnya si anak berbakat dari ajang audisi.
Dari lobby sisi kanan. Ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Ia mengepalkan tangan saat melihat tatapan Rudi begitu memuja Arin.
Tanpa sengaja kakinya melangkah mengikuti mereka.
...----------------...
__ADS_1