Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
BONPA Episode 10


__ADS_3

Hari ini terakhir class meeting. Semua murid Kolios berkumpul di aula. Menghadiri closing ceremony acara class meeting sekaligus pengumuman pemenang lomba. Sang ketua osis menyampaikan seulas kata sambutan. Riuh tepuk tangan menggema di ruang aula. Menyambut kata-kata bijak sang ketua osis.


Tiga jam kemudian acara itu telah selesai. Kelas Allea menjadi pemenang lomba catur putri dan futsal putra. Mereka pun langsung merayakan kemenangan di kantin sekolah.


Namun, atensi mereka teralihkan oleh kerumunan di mading.


"Eh, Mereka lihatin apa?." Malika mengernyit menatap para murid yang saling dorong ingin melihat papan pengumuman.


"Paling pengumuman murid yang juara umum seangkatan." Balas Faiz- si ketua kelas sembari menyesap Es cokelatnya.


"Oh kayak semester ganjil kemarin,ya." Sambung Fina.


"Yoi. Gue enggak penasaran. Pasti gue peringkat 100 sekian." Sahut Deo tertawa kecil.


"Dan elu bangga?." Sarkas Galang.


"Hahaha. Sialan, lu." Umpat Deo melempar gorengan ke Galang.


"Eh gue yakin si anak pintar ini jadi juara umum seangkatan kita. Gimana kalau kita minta traktir dia?." Usul Ghea sembari menaik-naikkan alisnya ke arah Allea.


"Cerdas. Gue suka usulan lu, Ghea. Sejutaaa gak guys?" Seru Faiz sembari menjentikkan jarinya.


"Sejutaaa, Pak ketua." Seru mereka heboh diiring tawa gembira.


"Sejuta, sejuta nenek lu?. Enggak bisa. Gue missquen mendadak kalau jajanin kalian." Sungut Allea bersedekap.


"Hahaha. Jajanin kita tuh, enggak sampai jual tanah, Al." Kelakar Ramdan menepuk-nepuk bahu Allea.


"Ya tanah siapa juga yang bisa gue jual, Ram?." Dengus Allea pada teman sekelasnya.


"Gue jamin, elu enggak bakalan missqueen, Allea. Ayolah!,. Tlaktir kita yang hampa dunia ini, ya, ya." Rengek Ghea membuat teman yang lain tergelak.


"Kita cuma 25 ekor, Allea. Bisa lah restoran Jepang." Malika ikut membujuk sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Ehm. Selamat Allea atas juara umumnya. Nilai elu yang paling tinggi diantara juara umum lainnya." Ucap Fauzi menimbrung keseruan mereka.


Allea mendengus dan menganguk sebagai jawaban untuk Fauzi.


"Jadi elu setuju mau traktir kita?. Ya Gusti, Ya Tuhan panjangkan umur sahabat hamba yang baik hati suka berbagi ini." Tandas Ghea semangat sembari menengadahkan tangannya.


Tentu saja tindakan Ghea membuat teman-temannya tergelak.


Fauzi yang tidak tahu apa-apa hanya mengernyit dan mengulum senyum.


Allea melotot. Lalu menghela napas panjang. "Baiklah, Ayo ke restoran Jepang.


"Horeee. Asyiik. Syalala." Seru mereka heboh mengabaikan sekitarnya. Dan langsung menarik lengan Allea untuk segera berangkat ke restoran terdekat.


Ghea seakan melupakan sesuatu. Ia putar balik menghampiri Fauzi yang masih mematung. Heran dengan tingkah teman kelas Allea.


"Terima kasih Kak Fauzi. Atas datang di waktu yang tepat. Pokoknya lope sekebon cabe." Ungkap Ghea sumringah sembari menunduk sekilas dan berlalu.


Fauzi mengulum senyum."Lope sekebon cabe?. Mau bikin gue sakit perut apa gimana?. Ada-ada saja." Monolog Fauzi sembari menyugar rambutnya dan berlalu menuju ruangan osis.


...----------------...


Malam ini adalah perayaan hari ulang tahun Allea ke tujuh belas. Dekorasi hall hotel sangat mewah bertema frozen.


Allea yang minta tema itu. Alasannya, karena ia menyukai warna biru dan karakter olaf di film itu. Hingga undangan mengira yang ulang tahun putri ke-2 Aslan.


Lalu mereka mengulum senyum saat melihat kue dan photo-photo masa kecil Allea. Mereka berkomentar temanya sangat kekanak-kanakan untuk usia yang menginjak dewasa.


Master of Ceremony membuka acara menghentikan bisik-bisik undangan. Tamu undangan itu dibagi dua kubu. Kolega Aslan dan teman sekolah Allea.


Riuh tepuk tangan dari undangan saat sang MC mempersilakan Aslan untuk menyampaikan serangkai kata-kata sambutan serta Allea diminta kedepan.


Undangan berdecak kagum melihat kecantikan Allea.


Ia memakai dress berwarna biru selutut. Dengan rambut yang di rias gaya waterfall franch braid. Dipadu perhiasan permata biru pemberian Melvin.


"Enggak nyangka dia cantik banget kalau dandan."Gumam Ghea sembari bersedekap.


"Huuft. Banget. Gue akui itu. Pantas saja banyak yang tergoda. Sial. Kenapa sih enggak salah satu saja yang dia miliki?. Kenapa harus di borong semua?." Decak kesal Malika menatap iri Allea.


"Cantik. Pintar. Baik hati. Berkecukupan. Sempurna, walau kadang ngomongnya bikin ngajak ribut." Timpal Fina menyejajari mereka.


Kompak Malika dan Ghea menolah Fina, lalu mereka tergelak. Atensi mereka terusik akan dering telepon Ghea.


"Gue ke sana sebentar." Pamit Ghea sembari menunjuk sudut ruangan.


"Hall-."


"Assalamualaikum. Ghea, acaranya di AT hotelkan?. Sudah di mulai belum?." Sambar Melvin tidak sabaran.


Ghea mengerjap mendengar suara berat Melvin. Entah mengapa ada rasa ganjil menyapa hatinya.


"Sadar Ghea. Dia penolong elu. Dan tugas elu hanya memantau pujaan hatinya. Haram Ghea menyukainya. Ingat posisi!." Bathinnya sembari menghela napas.


"Ehm. Waalaikumsalam. Baru mulai. Dia cantik banget, Vin" Balas Ghea sekilas melirik Allea yang sedang tersenyum. Mengabaikan hatinya yang berdenyut nyeri.


Terdengar kekehan Melvin dari balik speaker telepon."Terima kasih, Ghea. Jangan bilang aku datang. Segera aku jalan ke sana. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Lirih Ghea menatap teleponnya yang meredup. Ia menghela napas panjang. Menetralkan kondisi hatinya. Lalu gabung kembali ke pesta itu.


Acara selanjutan, pemotongan kue ulang tahun. Undangan pun bernyanyi sembari tepuk tangan. Lalu setelah itu, MC mengumumkan saatnya sesi games dan karaoke. Tamu undangan menyambut gembira. Apalagi hadiah pemenang yang dijelaskan MC membuat teman-teman Allea berseru antusias.


"Selamat brojol, Sis." Celetuk Ghea mendekati Allea.

__ADS_1


"Oh Ghe. Thank you. Mana kadonya?." Balas Allea sembari tersenyum.


Ghea menghembuskan napas berat,"Males beli. Elu 'kan sudah punya semuanya."


Allea tertawa kecil."Alhamdulillah, tapi elu harus ingat, Ghe. Yang punya uang dan semuanya itu Papi sama Bubu. Gue mah missquen."


Lalu petikan gitar mengalihkan atensi mereka. Reflek menoleh ke sumber suara. Allea melangkah, mendekati petikan gitar itu. Lalu mengulum senyum. Melihat sosok yang sangat ia cintai. Duduk dengan memaku gitar.


"Bubu, Sudah lama enggak main gitar." Lirihnya sekilas mengingat kenangan saat Arin bernyanyi sembari memainkan gitar.


Jreng


"Selamat malam semuanya." Suara Arin mengalun indah memenuhi penjuru ruangan.


Mata Arin menyisir ruangan mencari anak gadisnya. Lalu tersenyum manis saat melihat Allea berdiri di hadapannya. Semua mata memperhatikannya sembari berbisik.


"Lagu ini saya persembahkan untuk anakku tercinta, Allea. Yang hari ini usianya genap 17 tahun. Allea, Anakku. Semoga panjang umur, menjadi anak kebanggan kami. Terima kasih telah hadir mengisi hari-hari, Bubu." Ungkapnya sembari memetik senar gitar. Lalu ia memulai bernyanyi.


Melihat tawamu


Mendengar senandungmu


Terlihat jelas di mataku


Warna-warna indahmu


Menatap langkahmu


Meratapi kisah hidupmu


Terlihat jelas bahwa hatimu


Anugerah terindah yang pernah kumiliki


Sifatmu yang s'lalu


Redakan ambisiku


Tepikan khilafku


Dari bunga yang layu


Saat kau di sisiku


Kembali dunia ceria


Tegaskan bahwa kamu


Anugerah terindah yang pernah kumiliki


Belai lembut jarimu


Sejuk tatap wajahmu


Belai lembut jarimu


Sejuk tatap wajahmu


Hangat peluk janjimu


Anugerah terindah yang pernah kumiliki


Wo-ho-oh


Suara riuh tepuk tangan mengiringi lirik terakhir yang dinyanyikan Arin. Allea langsung menghambur memeluk Ibunya.


"Thank you, Bubu. I love you so much more than anything." Ungkap Allea mencium pipi Arin.


"Ehm. Just Bubu? Papi enggak?." Retorik Aslan mendekati Allea dan Arin.


"Jadi hanya Bubu saja, Allea. Paman Enggak?." Sahut Bian berjalan ke arah Allea. Mengabaikan bisik-bisk undangan yang keheranan.


Allea melotot."Paman Bian." Serunya Girang. Dan Bian hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Ohoo jadi kamu hanya mencintai Arin, bocah gembul?." Sambung Aliza mengagetkan Allea.


Allea hanya tersenyum malu mendengarnya. Apalagi iringan tawa para undangan sembari berbisik 'bocah gembul'. Dan decak iri dari teman sekolahnya atas perhatian dan kasih sayang dari sana-keluarga membuat Allea melafadzkan rasa syukur dalam hati.


Sungguh malam ini ia sangat bahagia. Orang-orang yang ia cintai berkumpul. Namun, rasa ganjil menyapanya saat sosok yang ia inginkan tidak hadir.


Allea menghembuskan napas. "Pasti dia sibuk. Dan mungkin enggak bisa izin." Monolognya lirih sembari menatap Orang tuanya yang sedang berbincang dengan Bian dan Aliza.


Para undangan pun mulai beranjak. Satu persatu pamit sembari mengucap selamat pada Allea.


"Baiklah. Berarti dia enggak dateng. Jangan kecewa, Allea." Gumamnya dalam hati sembari melangkah ingin menghampiri Bian. Namun langkahnya terhenti saat suara khas yang ia nanti menyapa.


"Hei. Assalamualaikum. Aku telat ya." Ucapnya sembari ngos-ngosan dan sedikit membungkuk.


Allea tidak segera menjawab. Ia kaget, tidak percaya sekaligus bahagia. Senyum cerah pun terbit di bibirnya.


"Telat banget, Vin. Noh tamunya sudah pada bubar." Balas Allea pura-puta ketus sembari bersedekap. Walau sebenarnya ia ingin sekali memeluk pria ini.


"Kamu tidak-."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."Sambung Allea cepat. Seolah tahu apa yang akan Melvin ucapkan.


Melvin tertawa kecil sembari berdiri tegak menatap gadisnya dari ujung kaki hingga puncuk rambut.

__ADS_1


"You look beautiful, Allea." Pujinya membuat Allea bersemu merah.


"Ehm. Dari dulu kali. Baru nyadar?.“ Retorik Allea sembari berjalan mengambil air putih.


Melvin tergelak mendengarnya. Lalu terjingkat saat gadisnya menyodorkan air putih sembari berucap,"Sepertinya elu haus."


"Terima kasih, Allea." Ucap Melvin sembari mengulum senyum.


Allea hanya tersenyum sembari memalingkan wajah dan berdehem. Salah tingkah.


...----------------...


Mereka pun pindah tempat ke balkon untuk berbincang. Mengabaikan undangan yang masih menikmati hidangan atau karokean. Untuk saat ini mengobrol dengan pria ini lebih penting.


"Vin, Sepertinya gue tahu apa yang elu ucapin pas di toko buku." Ungkap Allea membuka obrolan sembari menghela napas pelan. Mengatur kondisi dadanya yang tidak karuan sedari Melvin datang.


"Hmm. Memangnya apa?." Balas Melvin sembari melengkungkan sudut bibirnya.


"Zawjatun. Kalau enggak salah artinya istri. Benar?." Ujar Allea sembari tersenyum tipis.


"Hehehe. Benar Allea." Aku Melvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku dengar, kamu mendapat nilai terbaik." Imbuhnya menatap lekat-lekat si gadis pujaan hati.


"Pasti Ghea yang ngasih tahu." Komentar Allea dalam hati sembari mendengus.


Melvin mengulum senyum, seakan tahu apa yang dipikirkan gadisnya. "Aku tahu bukan dari Ghea."


"Ha?. Elu-."


"Allea, kenapa kamu tidak balas surat yang aku titipkan Papimu?. Kamu tahu?. Aku menunggu balasanmu."Ungkap Melvin memotong ucapan Allea. Menatap langit gelap yang ditemani satu,dua,tiga bintang bersinar.


"Sori, Vin. Gue belum baca suratnya. Waktu itu aku ingin fokus ujian dulu. Lagian kenapa sih enggak ngechat gue?." Dengus Allea mengerucutkan bibirnya.


Melvin terkekeh. "Entahlah. Kalau denganmu, aku lebih suka kirim surat . Karena-."


"Tentu saja begitu. Orang chattingan khusus untuk Ghea." Sambar Allea sembari menarik sudut bibirnya.


"Hahaha. Kamu salah, Allea. Aku ingin melihat tulisan tanganmu dan bisa kubawa ke pondok. Lalu saat aku dilanda rindu, akan kubaca suratmu." Jelas Melvin mengulum senyum sembari menatap Allea lekat-lekat.


Allea mengerjap. Hatinya berdegup kencang mendengar rangkaian kata-kata Melvin.


"Ehm. Apaan sih, Vin? Gue jadi malu." Tuturnya salah tingkah.


"Allea."


"Hmm."


"Dengarkan aku. Dari dasar kalbuku, telah terukir dua nama." Melvin menjeda menatap Allea penuh kasih.


"Pertama, Indi Ramadanti-Ibuku. Kedua, Allea Alister-calon ibu dari anak-anakku." Melvin menghela napas sembari mengulum senyum.


Allea bersemu merah mendengarnya. Detak jantungnya bagaikan lari marathon.


"Maaf, jika posisimu nomor dua. Karena bakti anak laki-laki tetap pada Ibunya meski nanti sudah menikah. Allea, aku mencintaimu." Lanjut Melvin menyatakan perasaan.


Allea melotot. Perasaannya campur aduk. Sulit sekali dijabarkan dengan kata-kata. Dan mendadak ia jadi gagu. Hati, pikiran dan bibirnya tidak singkron.


Melvin tertawa kecil melihat tingkah gadisnya. "Aku tidak meminta jawaban segera, Allea. Santai saja. Dan ke datanganku hari ini. Ingin melihatmu sekaligus pamit."


Allea mengernyit."Apa maksudnya, Melvin?." Hatinya mencelos setelah beberapa detik bahagia bagaikan terbang ke angkasa. Lalu sedetik berikutnya terhempas bebas ke dasar jurang.


"Kenapa lagi ini hati? kok rasanya nyesek denger kata pamit." Bathin Allea menatap Melvin lekat-lekat.


Melvin mengulum senyum."Iya Allea. Setelah ini aku akan sibuk. Jadwal padat di pondok. Terus setelah selesai pendidikan. Semua santri di minta mengabdi selama dua tahun. Lalu." Melvin menjeda, suaranya sedikit bergetar.


"Lalu?." Tuntut Allea menggeleng.


"Aku langsung melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Kampus pilihan Mama-Papaku." Terang Melvin sembari menunduk lalu tersenyum simpul menoleh Allea.


Allea tersenyum getir. Baru saja ia mendengar pernyataan cinta. Lalu sedetik kemudian ungkapan pamit yang menyesakkan dada.


"Silakan turuti orang tua lu, Vin. Kita masih bisa kirim pesan, bukan?. Seperti chattan." Ucap Allea melengkungkan sudut bibirnya.


Melvin menggeleng, "Aku tidak janji, Allea. Tapi aku usahakan."


"Kalian ngobrol apa? Sepertinya serius." Celetuk Arin melongok ke arah mereka.


Reflek dua remaja beda jenis ini terjingkat dan menoleh sumber suara. Kompak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal membuat tiga orang dewasa berpikiran liar.


Aslan, Bian dan Aliza saling tatap dan mengernyit.


"Allea, sudah malam ayo pulang!." Sungut Aslan menatap tajam Melvin.


"Allea, ngapain kamu berduaan sama pria asing?." Ketus Bian dingin menatap Melvin tidak suka.


"Bocah gembul. Ngapain berduaan di tempat remang-remang begini?. Kata nenek itu berbahaya. Yang ketiganya itu setan." Ucap Aliza bersedekap dengan tatapan tidak bersahabat ke arah Melvin.


"Maaf kami tidak seperi itu." Sanggah Melvin sopan sembari tersenyum ramah. Meskipun hatinya bak gendang ditabuh. Ia memberanikan diri mengungkapkan rasa sukanya pada orang tua dan kerabat terdekat si gadis pujaan hati.


Namun respon mereka tidak sesuai ekspetasi. Kecuali Arin selaku Ibu dari gadis itu tersenyum ramah manggut-manggut.


Respon Aliza tidak bersahabat. Ia menatap tajam lelaki yang mendekati bocah gembulnya dan berseru tidak mengizinkan. Di matanya Allea masih bocah gembul nan menggemaskan. Yang tidak boleh dimiliki lelaki manapun. Aliza dengan keras menentang niat Melvin.


Sedangkan Aslan dan Bian. Tanpa komentar mereka kompak menarik tangan Allea segera menjauh dari si penculik hati nan membahayakan.


Melvin hanya bisa tersenyum kecut seraya menyugar rambutnya, Menatap punggung mereka yang semakin tidak terlihat.

__ADS_1


"Aku merasa ini tidak mudah." Lirih Melvin sembari beranjak menuju hotel penginapannya.


...----------------...


__ADS_2