Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
BONPA Episode 6


__ADS_3

Semua kegiatan Melvin sudah selesai. Ia meminta izin kembali ke rumah sebentar sebelum ujian akhir semester genap pekan depan.


Ia memang santri yang mempunyai hak istimewa, sehingga mudah mendapatkan izin. Melvin mengembangkan senyum dengan hadiah yang telah disiapkan untuk teman SDnya.


"Semoga kamu suka." Lirih Melvin. Lalu ia menoleh ke arah mobil yang memasuki gerbang asramanya.


Seorang lelaki berjalan mendekat. "Assalamualaikum."


"Waalikumsalam. Lansung saja ya Om. Kita tolak ke Jakarta." Interupsi Melvin sembari memasukkan koper ke bagasi.


"Om Romi izin berapa hari? terus dia siapa yang anter?." Imbuhnya.


"Di antar Pamannya. Ck. Cepatan lulus, Vin. Malas ngantar-jemput cewek lu terus." Dengus Romi kesal.


Yap, Sopir pribadi Allea itu saudara Melvin. Romi Adamar. Yang mempunyai usaha di bidang lembaga keuangan non bank. Seorang direksi di perusahaan elit, setiap hari ia harus mengantar-jemput gadis pujaan hati keponakannya.


Mana sudi ia melakukan hal bodoh itu. Jika saja tidak teledor, kepergok Melvin saat melakukan kesalahan. Demi rahasianya aman terkendali. Ia berjanji akan menuruti semua yang Melvin suruh.


"Sabar Om. Setahun lagi aku lulus." Balasnya sembari tersenyum.


Melvin ikut kelas akselerasi. Yang saat ini, ia sudah kelas 5 atau kelas XI SMA sederajat.


"Ada kabar apa Om? aku tidak ingin mendengar banyak pria yang mendekatinya."


Romi mendengus. Dan menatap keponakkannya yang menyebalkan itu.


"Benar tebakan lu, Vin. Banyak cowok yang mendekatinya. Bahkan dia dihukum Bu Arin, gara-gara sepekan kemarin diantar kakak kelasnya." Jelas Romi sembari menyalakan mesin mobilnya.


Melvin menoleh ke Romi, "Kenapa Om enggak bilang? Memangnya mobilmu kenapa? Ck. Siapa pria itu?. Dia di hukuman apa?."


Romi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mana yang harus gue jawab duluan?."


"Menurut Om Romi mana yang lebih penting?."


Romi mendengus kesal. Bisa-bisanya punya ponakkan super menyebalkan seperti ini.


"Kenapa?. Enggak suka?. Mau aku sebarin vedio panas Om Romi."


Reflek Romi mengijak rem.


"Allahuakbar. Astagfirullah." Sebut Melvin mengelus dada.


"Oke. Gue jawab yang paling penting. Jangan ingetin kekhilafan gue yang sudah lama berlalu, Vin." Jengkel Romi menatap tajam Melvin.


"Dia dihukum untuk menjaga adik-adiknya. Bu Arin dan Pak Aslan ke Bali. Katanya survei lokasi. Untuk cowok yang nganterin kemarin gue enggak tahu namanya. Gue cuman tahu si Fauzan. Kakak kelasnya yang sekomplek." Lanjut Romi menjelaskan sembari melajukan kembali mobilnya.


Melvin menghembuskan napas, "Bukannya aku sudah bilang. Cari tahu semua yang bersakutan dengannya."


"Wah. Menyeramkan sekali bocah satu ini. Dia juga punya privasi, Vin. Enggak mungkin gue menyelam sampai ke Dasar lautan." Tandas Romi geleng-geleng.


"Jangan kasih dia harapan palsu. Bukankah Paman sama Tante enggak suka dengan cewek pilihan anaknya. Lu enggak lupa 'kan sama kekasih Bang Milan dan Bang Martin?. Mereka harus pisah dan menikahi cewek pilihan yang sudah ditentukan Om dan Tante." Lanjut Romi menasihati.


Entah kenapa ia tidak ingin, jika si nona majikannya yang baik hati nan cantik itu dilabrak Indi-Mama Melvin. Membayangkan saja membuat hati Romi sakit.


Ia benar-benar tidak rela gadis manis itu menjadi salah satu korban kekesalan Tantenya.


"Mereka enggak punya keberanian melawan Mama-Papa. Buktinya. Aku diizinkan mondok walau awal-awal ditentang." Timpal Melvin sembari menatap pemandangan diluar jendela kaca.


"Hah. Oke elu bosnya." Putus Romi kesal. Ia selalu kalah jika berdebat dengan Melvin.

__ADS_1


"Aku tahu. Om Romi enggak ingin lihat dia menangis atau sakit hati, bukan?." Tebak Melvin tiba-tiba sembari menyeringai ke arah Romi.


"Gila. Hebat banget tebakan lu, Vin. Buka kios cenayang gih, gue yakin akan laku keras. Apa lagi dengan tampang lu yang cakep itu." Kelakar Romi tertawa kecil.


"Aku tahu. Aku memang ganteng. Tapi aku hanya ingin tebar pesona di hadapan humairaku, Allea."


"Uhuk. Uhuk. Apa yang lu bilang tadi? Gila. Mondok bukannya belajar yang bener malah mikirin cewek." Timpal Romi geleng-geleng.


"Hahaha. Kalau enggak bener, mana mungkin aku bisa ikut kelas akselerasi?. Tenang saja, Om. Aku itu pintar dan tahu batasannya."


Melvin menjeda membenarkan posisi duduknya.


"Aku bisa yakinin Mama sama Papa kalau Allea itu pantas bersanding denganku. Bukankah Om Romi paham bagaimana sikap dia dalam memperlakukan orang tua dan sekitarnya?." Retorik Melvin mengulum senyum.


Romi tercengah. Ia baru paham maksud dan tujuan Melvin memintanya menjadi sopir pribadi Allea.


Romi menghela napas sembari mengusap wajahnya.


Melvin memang tertarik dengan Allea sejak kelas 5 SD. Dan tingkah iseng pada Allea itu cara ia mengekpresikan rasa sukanya. Melvin tidak akan melawan meski gadis itu sering menendang tulang keringnya. Memukul kepalanya dengan penggaris dan lainnya.


Setelah kelulusan Sekolah Dasar saat itu, Ia sangat bimbang. Satu sisi, ingin dekat dengan gadis itu. Dan satu sisi, ia ingin melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren.


Lalu sebuah ide gila terlintas di kepala Melvin agar selalu tahu keadaan dan mengawasi diam-diam si gadis pujaan hati. Ia memutuskan mencari orang kepercayaannya untuk pura-pura bekerja di rumah gadis itu atau mengikuti kemana perginya si gadis pujaan hati.


Alhasil ia menemukan sekutu yang sangat di percaya. Ghea Mentari. Teman sekelasnya yang terlihat pendiam suka menyediri. Sebuah imbalan nan menggiurkan membuat Ghea menyetujui rencana Melvin.


Melvin mengulum senyum mengingat kenakalannya sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar.


...----------------...


Kapal udara milik keluarga Kyle mendarat cantik di landasan pacu terdekat. Setelah terbang selama satu jam lebih tiga puluh menit itu akhirnya sampai tujuan.


"Anak sholeh Mama akhirnya sampai. Maaf, Mama enggak bisa ikut jemput." Ucap Indi sembari mencium pipi putra bungsunya.


Melvin hanya tersenyum dan merangkul bahu Indi. "Mama-Papa apa kabar? sehat 'kan?."


Indi mengangguk dan menatap lekat-lekat putra bungsunya itu. Ia bangga pada perubahan Melvin yang semakin santun. Selalu lembut saat memperlakukannya. Nada bicaranya yang kalem menenangkan itu selalu dirindukan.


Apalagi saat pulang. Pakaiannya selalu dicuci sendiri. Setelah makan, piringnya langsung dicuci. Bahkan, ia mau membantu pekerjaan asisten rumah. Bocah manja nan nakal itu benar-benar sudah berubah.


"Kenapa, Ma?. Wajah Melvin semakin ganteng, ya?." Ucapnya sembari menggamit tangan Indi.


"Putra Mama selalu tampan. Mama sangat merindukanmu, nak. Enggak menyangka buntot Mama sudah besar." Jawab Indi menyeka air mata.


"Sini Ma, Melvin peluk. Kalau kangen itu bilang, Mama sayang. Anak gantengmu ini pasti langsung pulang." Ucap Melvin tertawa kecil sembari merentangkan tangan memeluk Indi.


Romi yang melihat adegan Ibu-anak bagaikan sepasang kekasih itu hanya geleng-geleng.


"Ehm. Ayo pulang. Apa kalian enggak lapar?." Celetuk Romi menghentikan adegan peluk-pelukan mereka.


"Oh Romi lapar. Ayo mampir ke rumah dulu, Rom. Tadi Bi Siti masak banyak." Balas Indi menoleh ke Romi.


Romi hanya tersenyum kiku. Mengekori mereka.


"Om Romi mau satu mobil apa sudah di jemput pacar?. Eh." Celetuk Melvin menyunggingkan sudut bibirnya.


"Atuh kenalin ke Tante sama Paman, Rom. Kamu loh bentar lagi kepala tiga. Apa enggak kepingin nyusul adik-adikmu. Bahkan anak-anak mereka sudah besar." Sambung Indi menoleh ke arah Romi.


Romi gelapan ingin menjawab apa. Sialan memang keponakannya itu.

__ADS_1


Ia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangan kuat-kuat. Rasanya ingin melayangkan pukulan ke wajah tanpa dosa Melvin.


Romi mendengus sebal. Melihat Melvin yang cekikian. Bahagia diatas derita orang.


"Om Romi belum ada calon, Ma. Dia masih suka jajan." Sahut Melvin senyum-senyum.


Romi langsung mendelik. Lalu mendengus. Ia berkata dalam hati sembari menghela napas panjang. "Gue tobat, Vin. Gara-gara kepergok elu."


"Ha? Jangan-jangan kamu."


"Itu enggak bener, Tante. Mulut Melvin saja yang minta di sekolahin lagi." Potong Romi kilat sembari duduk di jok sebelah kemudi.


Melvin tertawa mendengar kekesalan Om-nya.


"Melvin. Melvin. Kamu ya. Isengnya masih saja." Gemas Indi menjewer telingan Melvin


"Aw. Sakit, Ma." Rintih Melvin mengusap-usap telinganya.


Arif-sopir pribadi Indi langsung menyalakan mesin saat ketiga orang itu sudah duduk. Ia mengemudi dengan kecepatan sedang.


Lengang sejenak. Hanya terdengar deru mesin diantara mereka.


"Oh iya, Santi kemarin bilang kalau kamu sering antar-jemput bocah SMA, Rom." Celetuk Indi menatap Romi.


"Calon istrimu atau bagaimana? Kamu suka yang muda-muda, Rom?." Imbuh Indi sembari tertawa kecil.


Romi tidak segera menjawab. Ia menoleh Melvin.


"Ehm. Aku yang nyuruh Om Romi antar-jemput bocah SMA itu, Ma. Allea namanya." Sahut Melvin dengan hati berdebar.


Ia ingin tahu reaksi sang Mama terkait gadis pilihannya.


Romi menyunggingkan senyum. "Gentle juga lu, boy. Kirain mau diam saja. Ah iya, kalau apapun terkait nona, pasti dia garda terdepan." Kata Romi dalam hati melirik Melvin lewat kaca spion dekat kemudi.


"Apa?. Melvin. Mama tidak setuju kalau kamu macari perempuan sembarangan. Kamu."


"Mama. Dia gadis baik-baik. Bukan gadis sembarangan." Potong Melvin lembut sembari mencium punggung tangan Indi.


Indi menghela napas."Pokoknya Mama enggak setuju, Vin. Kamu itu masih tujuh belas tahun. Belajar yang benar. Senengin diri sendiri dulu. Jangan mikirin perempuan. Soal jodoh. Nanti Mama siapkan."


Melvin menghela napas panjang.


"Ya, ya, Mama benar. Tapi untuk apa kita berdebat, Ma?. Toh belum tentu juga dia menyukai Melvin." Ucapnya sendu sembari memalingkan wajah. Melihat pemandangan warna-warni lampu taman menghiasi jalanan.


"Ha? Maksudnya apa, Vin? Dia tidak menyukaimu?. Berani sekali menolak keturunan Kyle? Apa dia buta? laki-laki tampan, di jamin kaya, Baik, sholeh begini dia tidak suka?." Decak kesal Indi. Tidak terima jika putra bungsu kebanggannya ditolak perempuan yang disukai.


"Jadi Mama merestui hubungan kami jika dia menyukai Melvin?." Retoriknya mengulum senyum sembari menoleh ke arah Mamanya.


Indi terdiam. Ia tercengah dengan kata-kata putra bungsunya.


"Kita sudah sampai." Interupsi Arif memecahkan ketegangan di antara mereka.


Indi buru-buru keluar. Ia khawatir jika Melvin menuntut jawabannya.


Tidak hanya Indi yang tercengah. Romi pun sangat terkejut dengan ucapan keponakannya itu.


"Hebat boy. Hanya elu yang bisa buat Tante Indi terdiam seribu bahasa. Pantas saja lu sombong bisa yakinin mereka." Komentar Romi dalam hati sembari menatap punggung Melvin yang menghilang di balik pintu rumah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2