
Beberapa hari setelah kejadian itu. Ada perubahan dari sikap Allea. Ia lebih menutup diri dan semua akun sosial medianya di hapus permanen.
Allea risau sekaligus penasaran akan sebuah kebenaran. Tapi ia ragu minta klarifikasi pada orang tuanya.
Ia menghela napas. Menghirup udara segar. Matanya menyisir sekeliling bangunan lantai 5, rooftop sekolah. Tempat yang sering dikunjungi untuk belajar atau merenung.
Terdengar raungan bunyi klakson menggema. Suara motor meraung mengudara. Menandakan jalanan ibu kota mulai sibuk, waktunya para pekerja pulang ke rumah, kost, atau lainnya.
Allea mengernyit. Teringat frame photo di kamar rumah neneknya-Intan. Sekilas senyum perempuan dalam frame itu mirip dengannya. Pernah bertanya pada Intan. Dan neneknya menjawab bahwa itu Tantenya.
"Benarkah dia Tanteku? kayak ada yang aneh?" desis Allea menyugar rambutnya dan mengikat asal.
"Hei. Mikirin apa? berat banget kayaknya." Sapa Ghea sambil menjulurkan air minum kemasan kesukaan Allea.
"Huuft. Kemarin Tante Indi Ibunya-Melvin, nemuin gue." Balas Allea mengedarkan pandangan.
Hembusan angin menyapa, mengusik mereka. Pepohonan melambai. Menggugurkan daun-daun keringnya. Lapangan sebelah kanan terdengar jeritan para siswi yang sedang nonton klub basket latihan.
"Beliau ngomong apa, Al? Elu dari tadi semedi di sini kepikiran omongannya Tante Indi?"
Allea mengulum senyum. "Hmm. Sambil lihatin si ikan."
"Itu kuncing, Al. Bukan ikan" Kekeh Ghea.
"Tapi dia suka ikan, Ghe. Makanya gue kasih nama ikan. Habisin ya, ikan. Kalau habis nanti gue kasih porsi banyak." Balas Allea sambil mengelus si kucing putih bercorak hitam. Si kucing pun mengeong, seakan tahu jika di ajak bicara.
"Astaga. Bodo amat, Al." Dengus Ghea.
Allea hanya tertawa kecil. Lalu ia cerita apa yang Indi katakan. Tidak ada yang terlewat. Ia juga minta saran apakah harus bertanya pada orang tuanya atau disimpan saja rasa penasarannya.
Ghea menghela napas. "Gila. Berani sekali lu nawar saham dan balik nama PT KF grop hanya modal hati dan perasaan cinta. Luar biasa." Ghea berdecak kagum sambil tepuk tangan pelan-pelan.
"Tunggu sebentar. Gue juga penasaran. Elu jadian kah sama kak Fauzi?" lanjut Ghea menyelidik.
"Uhuk. Uhuk. Kapan gue jadian? Sial. Gosip menyesatkan." Elak Allea geram.
"Ya sejak kejadian kemarin, kak Fauzi perhatian banget sama elu. Jadi kita asumsiin elu jadian." Tandas Ghea sambil menghela napas lega. Ia tersenyum sembari menghirup udara senja.
"Hah. Kita sepakat kakak-adikan, Ghe."
"Itu namanya HTS-an, Allea sayang. Pintar sih, tapi kok rada BG." Cibir Ghea cekikikan.
Allea menonyor kepala Ghea pelan. "Siapa yang kayak gitu?. Duh ngaco nih si otak udang. Gue iya-in pas dia ngomong gitu, karena gue pengen belajar sama dia rumus-rumus mtk and kimia yang belum gue paham."
"Gila. Gila. Jadi elu manfaatin dia?"
Tanpa dosa, Allea mengangguk sambil nyengir.
"Parah."
"Bukannya elu juga, Ghe?" Celetuk Allea menautkan jemarinya dan menatap daun-daun yang bergoyang karena hembusan angin.
Ghea melotot. lalu terbatuk-batuk. Dan berdehem beberapa kali.
"Gue tahu, Ghe. Elu deketin gue bukan murni temanan. Gue tahu semuanya. Elu di bayar Melvin, Bukan?" telak Allea menyunggingkan sudut bibirnya.
__ADS_1
Ada rasa nyeri di hati Allea saat tahu kebenarannya. Bahwa Ghea yang selama ini ia anggap teman karib. Sahabat tempat curhatnya. Tapi ternyata, apa yang ia ceritakan justru dijual ke orang lain.
Allea menatap Ghea yang menunduk."Dan elu menyukai dia, si pembeli informasi. Melvin Kyle." Seringai Allea.
Ghea mendelik. "Se-sejak kapan lu tahu, Al?"
Allea terkekeh dan menggeleng. "Sudah lama, Ghe. Mungkin pas kenaikan kelas. Atau mungkin menjelang ulang tahun gue."
Ghea menghela napas berat. "Sori, Al. Gue butuh uang."
Allea merangkul bahu Ghea. Teman karib yang sangat ia sayang. "Gue tahu, Ghea Mentari. Jujur hati gue sakit pas enggak sengaja lihat notif HP elu waktu itu. Gue marah, pasti itu. Pengen hajar, jelas. Tapi ada satu quotes yang mengurungkan gue buat hajar elu." Allea menjeda memalingkan muka.
"Ehm. 'Allea is my best friend until jannah'. Sori, gue enggak sengaja lihat." Lanjutnya tersipu malu sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sial. Napa tingkat kekepoan lu menyebalkan sih, sedari dulu." Sambar Ghea mendengus.
"Iya sori selirnya Melvin. Gue kan penasaran." Kekeh Allea meski ada semburat nyeri dihatinya.
"Anjir! terus Elu, ratunya?" kelakar Ghea.
"Yoi. Tapi auto di lengserkan sama ibu suri Indi Ramadanti, sebelum naik tahta." Allea tertawa.
Ghea tergelak, lalu menyugar rambutnya. "Sori, Allea. Keadaan yang memaksa gue ngelakuin itu. Jujur gue tulus berteman sama elu. You know? setiap gue ngasih info ke Melvin. Pasti gue merasa bersalah ke elu." Ia menjelaskan sembari menatap teman karibnya lekat-lekat.
"Syukurin. Males maafin sekarang. Nunggu lebaran monyet, baru gue maafin." goda Allea cekikikan.
"Si anjir. Gue lagi serius. Aih nyebelin. Sumpah." Sungut Ghea kesal.
"Hahaha. Ehm. Itu hukuman lu, Ghe. Soalnya enggak mau cerita ke gue. Ya memang sih gue enggak berduit kayak.-"
Ghea reflek membukam mulu Allea. Ia menarik napas lalu dihembuskan pelan-pelan. "Pertama, gue minta maaf. Kedua gue juga minta maaf. Ketiga, gue sungkan mau cerita ke elu, Allea. Gue."
"Maaf. Setiap gue ingin cerita ke elu. Pasti ada perasaan enggak enak. Gue sadar diri, Allea. Elu and gue itu beda kasta."
"Maksud elu apa, Ghe?" Sambar Alea cepat.
"Ghea, gue berteman enggak pandang status sosial. Bukankah gue sering bilang. Yang punya uang dan fasilitas nyaman itu bokap-nyokap gue, Ghe. Gue itu sama kayak elu. Mungkin bedanya, elu part-time jaga toko baru dapat uang. Gue momong adik-adik, beres-beres kamar, nyuci baju sendiri baru dapat uang jajan." Jelas Allea menghela napas.
Ghea menatap teman karibnya dengan rasa bangga. Dari SD hanya Allea yang mengajaknya ngobrol. Menolongnya saat diolok teman sekelas hanya karena sepatu rusak masih di pakai. Membantunya mengerjakan pelajaran.
Allea, orang pertama yang mengulurkan tangan tanpa minta imbalan.
Ghea mengusap wajahnya. "Ehm. Maaf dan terima kasih, sobat gue. Btw, gue boleh jual yang barusan elu ceritakan?"
"Tebal muka juga lu." Kekeh Allea.
"Hahaha. Kepepet, Al." Balas Ghea sambil mengusap sisa-sisa air matanya.
Allea mengangguk. "Silakan. Tapi ini yang terakhir, Ghe. Mulai sekarang tolong jangan kasih tahu apapun soal gue ke dia. Bisa 'kan?"
"Oke, Al. Gue janji. Dan soal elu anak adopsi atau enggak. Gue pikir, skip saja alias tidak perlu bertanya pada mereka, Ortu elu. Kita tidak tahu kejadian di masa lalu. Bukankah jika bertanya malah menimbulkan luka? gue yakin 100% elu itu anak Om Aslan dan Tante Arin. Wajah kalian sekilas mirip. Ya meskipun lebih dominan Om Aslan sih." Jelas Ghea tertawa kecil.
Allea mengangguk sambil mengembangkan senyuman dan memeluk sahabat karibnya.
Sore itu, mereka sepakat mangkir eskul dan melanjutkan cerita receh membahas rencana kehidupan masa depan. Dari setelah lulus sekolah, impian kencan romantis ala mereka sendiri, kriteria pria untuk dijadikan suami, hingga rencana memiliki anak setelah menikah nanti.
__ADS_1
Setelah hari itu, Ghea benar-benar menepati janjinya. Tidak lagi melaporkan kegiatan Allea pada Melvin.
...----------------...
Allea memutuskan tidak akan cerita atas kejadian kemarin. Ia mengubur rasa penasarannya. Biarkan semua mengalir bagai air. Dan mempersiapkan hati jika suatu saat nanti perkataan Indi terbukti.
"Bubu, kalau Melvin kirim pesan atau surat. Jangan di balas." Celetuk Allea sembari menyuci piring usai makan malam.
"Ha? tiba-tiba? Ada apa nih?" selidik Arin mengernyit.
Allea mengulum senyum dan mengecilkan air keran. "Enggak ada. Allea hanya ingin fokus belajar dan ngejar impian. Nanti pas waktunya, baru Allea mikirin cowok."
"Bagus. Papi setuju, Al. Lanjutkan!." Sahut Aslan tersenyum bahagia.
Tentu saja ia akan mendukung. Sebab jika Allea jalan dengan pria, Aslan merasa cemburu dan patah hati.
"Hufft. Baiklah kalau gitu. Oh apa jangan-jangan karena si tukang ojekmu itu?" Goda Arin.
Yap. Allea setiap pulang sekolah di antar Fauzi. Dan sesekali mampir bertemu Arin saat ia di rumah.
"Yeee apaan. Bukan kok."
"Ck. si bocah dingin itu? Al. Al. Kalau cari cowok bok ya bener dikit. Satunya alim, keramahan. Satunya hawa dingin gunung everest." Cibir Aslan sambil berlalu ke ruang keluarga.
Allea hanya memutar mata. Malas berdebat dengan Papinya.
Setelah selesai menyuci piring dan merapikan meja makan, Allea bergabung bersama Arin, Aslan dan adik-adiknya di ruang keluarga. Berbincang ringan membahas pendidikan Allea dan juga si kembar.
Sejak Allea memutuskan komunikasi dengan Melvin. Mereka tidak lagi bertemu. Bahkan saat Melvin berkunjung ke rumah Allea sebelum pergi ke negeri orang pun, gadis itu tidak ada di rumah. Ia sedang mengikuti lomba cerdas cermat di luar kota.
"Sampai ketemu kembali, Yaa Qalbii. Tunggu aku menjemputmu di mahligai cinta." Desis Melvin sambil mengembangkan senyuman.
Bonus Part Selesai.
...----------------...
Terima kasih sudah membaca dan menunggu update-an saya. Terima kasih sudah memberi dukungan dan sarannya, hingga saya menyelesaikan tulisan ini. Sekali lagi, sangatΒ² terima kasih. Lope sekebon toge. πππ
Jaga kesehatan ya kalian, sampai jumpa di karya selanjutnya. π
Mau request kisah siapa? nanti saya pertimbangkan. Hehehe.
Tapi untuk yang akan datang, saya sedang menggarap Melvin x Allea. ππ» Spoiler dikit sebelum launching. ππ€
Coming soon ya gaes, mohon di tunggu.
Setelah kurang lebih enam tahun meninggalkan negara tercinta, akhirnya dia kembali dengan pengalaman yang di dapatkan. Melvin Kyle. Pria tampan bak blasteran Surga itu siap bergabung di perusahaan Ayahnya-KF Grop.
Kepribadiannya yang santun, ramah alim nan sholeh itu selalu membuat pegawai mendambakannya. Berebut ingin memilikinya, sebagai suami dan calon menantu.
Namun hati seorang Melvin Kyle telah terukir satu nama, yaitu teman semasa SD-nya. Dia tidak tergantikan. Meskipun banyak gadis cantik disekitarnya. Karena suatu kejadian memaksa mereka untuk tidak lagi tegur-sapa.
Akankah Melvin bertemu dengan teman SD-nya itu? Atau menerima gadis pilihan sang ibunda untuk menjadi pendampingnya?
__ADS_1
Lalu bagaimana kehidupan teman SD-nya setelah sekian lama? apakah dia sudah memiliki tambatan hati? atau mungkin sudah menikah mengikuti trend akhir-akhir ini, nikah muda.
...β‘β‘β‘...