Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 34 Quality Time


__ADS_3

Aslan mondar-mandir, bak setrikaan kusut. Khawatir jika sesuatu terjadi. Sesekali ia menatap Allea yang sibuk bermain boneka barbienya. Aslan menghubungi Meli untuk segera kembali ke ruangan Arin. Tidak lama kemudian Meli sampai ruangan dengan napas tersedak-sedat.


"Tolong, jaga dia." Pintanya dan berlalu dari ruangan itu.


Meli mengangguk, "Baik tuan."


Samar-samar Aslan mendengar ucapan Meli. Ia segera berlari ke resepsionis. Ingin menyakan ruangan yang tadi di sebutkan Arin. Hatinya gelisah, ia ingin cepat-cepat melihat keadaan sang tambatan hati.


"Tuan. Bu Arin di ruang meeting lantai 1 sebelah kanan." Ucap Lusi tatkala melihat Aslan.


Aslan hanya mengangguk. Ia berlari ke arah tangga darurat mengabaikan tatapan heran Lusi.


Mungkin Lusi berpikir 'kenapa tidak pakai lift?.'


Aslan hanya ingin cepat sampai, memastikan wanitanya baik-baik saja.


Room meeting.


Terlihat tulisan di sebelah kanan dekat lift dan tangga darurat. Pintunya terbuka sedikit.


Ia berjalan pelan sembari mengantur napasnya. Gelenjar nyeri menyapa hati tatkala melihat wanitanya duduk termenung. Seakan jiwanya menghilang ke suatu tempat. Padahal beberapa jam lalu masih tertawa bahagia.


Aslan menghembuskan napas berat.


"Apa yang terjadi? hmm?." Tanya Aslan lembut sembari mengembelai kepala Arin.


Arin mendongak dan menyajikan senyuman. Tetapi matanya terlihat sembab. Ia berdiri memeluk Aslan.


"Aslan."


"Hmm?."


"Aku lapar."


"Nangis itu butuh tenaga." Lanjutnya sembari nyengir.


"Memangnya siapa yang buatmu nangis?."


"Calon mertuamu."


"Ha? yang mana?."


"Ck. Nanti ceritanya. Sekarang aku ingin makan dan pengen main. Ke Dunia fatansi ya. Maukan?." Rajuk Arin layaknya anak kecil.


Aslan mengernyit lalu tersenyum, "Baiklah. Ayo!." Sembari tangannya mengambil ponsel di saku celana dan mengirim pesan ke Rudi.


Si sekertaris handal itu harus siap kerja lembur bagai kuda menanggung beban pekerjaan sang atasan.


Aslan mengulum senyum membayangkan wajah kesal Rudi.


Mereka keluar ruangan menuju lobby. Sebelumnya, Aslan menghubungi Meli untuk segera turun.


Setelah sampai lobby, Arin meminta Meli ke kafe. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Allea dan Aslan. Meli mengangguk paham. Sopir hotel mengantarnya ke kafe.

__ADS_1


"Papi, kita mau kemana? kenapa mbak Meli gak boleh ikut?." Allea bertanya dengan rasa ingin tahu.


Semenjak sekolah ia semakin pintar dan rasa ingin tahunya semakin tinggi. Apapun ditanya, hingga membuat Arin bingung menjawab.


"Bubu katanya lapar. Dan pingin main, sayang." Balas Aslan mengusap kepala Allea.


"Aciiik. Allea cudah lama gak main cama Papi dan Bubu." Sahut Allea girang.


Arin cekikian melihat sikap Allea. Memang Allea penawar mujarab dari kesedihan yang ia rasakan. Seakan tidak terjadi apa-apa tatkala bermain atau bertemu putri semata wayangnya itu.


Terima kasih Tuhan, sudah mengirimkan dia untukku. Mama, Maafkan aku tidak mencari tahu lebih dalam atas kepergianmu. Semoga kau bahagia di sisiNya. Aku hanya ingin berdamai dengan keadaan.


Gumam Arin dalam hati sembari mencium ubun-ubun Allea.


...----------------...


"Kamu dari mana?." Ketus Pandu tatkala Intan memasuki rumah.


"Ada urusan, mas. Sejak kapan kau peduli dengan kegiatanku?." Balas Intan datar.


Pandu mengernyit. Heran dengan sikap aneh sang istri. Biasanya tidak pernah melontarkan pertanyaan.


"Ehm. Entahlah sejak kapan aku merhatiin kegiatanmu," desis Pandu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Intan terbelalak. Dadanya berdebar hebat. Ia tersipu dan mengulum senyum sembari menunduk.


"Maksdunya?," Sahut Intan memastikan omongan sang suami yang amat dicintai.


"Serius mas? tumben?," celetuk Intan kilat dengan hati berbunga-bunga.


Memang selama menjadi istri Pandu, ia tidak pernah diajak liburan atau menghabiskan waktu bersama. Pandu selalu beralasan saat diajak pergi liburan atau bermain dengan Selin.


"Kalau tidak mau ya sudah. Aku ajak Selin."


"Siapa yang bilang tidak mau?." Sanggah Intan sembari menggamit lengan Pandu.


Mereka layaknya anak remaja tanggung yang sedang kasmaran.


Pandu menghela napas panjang, ia memutuskan membuka hatinya untuk Intan. Ia tahu apa yang terjadi pada Intan dan wanita pujaan hatinya. Istrinya bukan perempuan jahat seperti yang di duga.


Justru wanita ini salah satu korban ketamakan atas jabatan yang diimpikan. Seandainya ia tidak mengiyakan tawaran Candra, mungkin tidak ada hati yang terluka.


Hati Intan berdebar hebat. Penantiannya selama ini membuahkan hasil. Sesekali Ia melirik suaminya yang fokus mengemudi.


"Apa Selin menghubungimu? Denger-denger dia vakum sebulan?." Pandu membuka obrolan.


"Aku enggak tahu, mas. Handphonenya enggak bisa di hubungi. Aku juga belum sempat telepon manajernya." Jelas Intan.


"Semoga tidak terjadi apa-apa." Imbuhnya menghela napas.


Pandu hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Intan. Apa kau mendukung hubungan Arin dan Aslan? sedangkan Selin."

__ADS_1


"Tenang saja mas. Aku tidak akan mengusiknya. Kau jangan khawatir. Aku akan mengurus Selin." Intan memotong ucapan Pandu. Ia memalingkan muka melihat pemandangan dibalik jendela mobil.


Pandu mengangguk, berusaha mempercayai ucapan sang istri.


Tidak lama kemudian, mereka sampai di restoran yang sudah Pandu tetapkan. Sesuatu yang tidak terduga, telah menyapa tanpa permisi. Mereka berpapasan dengan Arin tepat di pintu masuk restoran.


Canggung sekali suasananya. Aslan mau tidak mau harus menyapa Pandu. Sebab, ia mengenalnya sekaligus ayah biologis dari wanita yang disukai.


"Ehm. Apa kabar Pak Pandu?." Basa-basi Aslan reflek menjulurkan tangannya dengan sopan. Ia bersikap seakan bertemu dengan kolega bisnisnya.


Pandu tersenyum menyabut tangan Aslan,"Baik. Dunia sepit sekali. Tidak menyangka kita bertemu di sini."


Aslan hanya tersenyum kiku. Arin yang menggendong Allea mendengus pelan. Hatinya bergejolak aneh. Dan entah mengapa Pandu memutuskan duduk semeja dengan Aslan dan Arin. Pandu beralasan ingin membahas bisnis. Baik Intan dan Arin hanya mengangguk pasrah.


Hening di tengah ramainya pengunjung. Allea mendadak jadi pendiam. Ia hanya main barbie barunya.


"Ehm. Namamu siapa nak?." celetuk Intan mencoba mencairkan suasana dari ke heningan.


Allea mendongak ke arah Intan, "Allea. Umul 3 tahun tapi bental lagi mau 4." Celotehnya sembari menunjukkan 3 dan 4 jarinya.


Arin dan Aslan tersenyum bangga pada putrinya.


"Ya ampun pintarnya. Allea boleh kok panggil aku, grandma. Coba panggil grandma!," Tiba-tiba Intan menginterupsi sebuah panggilan khusus.


Allea mengernyit, ia menoleh ke Arin seakan meminta persetujuan. Arin mengangguk pelan sembari melengkungkan bibirnya.


Ya bagaimanapun Allea memang cucu Intan. Ia tidak mungkin melarangnya.


"Glandma." Ucap Allea ke arah Intan.


"Iya sayang. Astaga. Imutnya. Beginikah rasanya punya cucu." Gemas Intan.


Namun, bisik-bisik pengunjung di meja belakang mengalihkan atensi mereka. Reflek mereka memeriksa ponselnya, lalu kompak melotot membaca headline berita.


"Tidak mungkin. Ini pasti bohong." Pekik Intan sembari berdiri. Ia limbung, tubuhnya tidak seimbangan. Pandu reflek meraih tubuh Intan. Merengkuh ke dalam pelukannya.


"Ayo kita pastikan. Semoga saja itu tidak benar." Ucap Pandu menenangkan.


Pandu pamit sekaligus minta maaf telah merusak agenda makan siangnya. Kalau di kata makan siang pun sepertinya tidak juga. Sebab, sudah lewat jam makan siang.


"Ini seperti mimpi." Lirih Arin menatap benda lima inci di tangannya.


Aslan yang di sampingnya, langsung merangkul bahu Arin sembari mencium kepalanya.


'Kecelakan lalu lintas di tol Jor, Artis Selin Anesa tewas.'


Begitulah headline berita siang ini. Dan berita itu langsung tranding di sosial media. Penyebabnya masih dalam penyelidikan polisi.


...----------------...


Happy reading semuanya. Terima kasih sudah membaca dan mampir di lapak saya. Maaf jika update nya lama. Ada sesuatu yang harus saya urus. 🙏


...🍃🍃🍃...

__ADS_1


__ADS_2