
Senja di hari jumat. Dua insan beda jenis itu enggan beranjak dari tempat duduknya. Menikmati menu pesanan sembari bercengkrama.
Membahas kenangan saat kali pertama jumpa. Tawa menghiasi diantara mereka. Menertawakan kisah pilu masa lalu.
"Sungguh ganjil sekali kejadian saat itu. Aku saja tidak percaya" Rudi berkomentar sembari menyesap kopi hitamnya.
"Hei, apa lagi aku kak? Hanya bisa bengong saking tidak masuk akalnya. Bisa-bisanya diskualifikasi anak manis, baik, pintar."
"Astaga narsis sekali. Mana ada orang muji diri sendiri?" selak Rudi heran dengan tingkat kepercayaan diri si lawan bicara.
"Hahaha, tentu saja ada. Lah ini orangnya" Arin membalas sembari menaik-naikkan kedua alisnya.
Ia menghela napas, "Yah. Siapa lagi yang muji hasil pencapaian kita? Kalau bukan diri sendiri. Nungguin orang lain? sampai lebaran kuda pun aku yakin tidak ada. Justru mereka akan mengkritik tanpa tahu bagaimana prosesnya."
Lanjut Arin sembari menyisir ruangan kafe yang berada di area lobby gedung Alter. Mencuri dengar keluh kesah para pegawai yang baru saja duduk di samping mejanya.
"Benar aku setuju" balas Rudi sembari menarik sudut bibirnya.
"Kak Rudi, waktu itu tidak lolos atau bagaimana?" tanya Arin penasaran. Pasalnya, tidak ada nama peserta yang bernama Rudi Erlangga.
"Hehehe. Aku memang tidak ikut. Kau mencariku.?"
"Tentu saja. Aku penasaran Kak Rudi itu bisa main alat musik apa. Saat itu aku ingin menawarkan battle."
Rudi tertawa renyah mendengar penjelasan Arin.
Aku selalu melihatmu dari jauh. Bathin Rudi menatap Arin lekat-lekat.
Sebenarnya banyak sekali yang ingin ditanyakan. Tapi entah kenapa bibirnya membeku. Ia hanya menatap wajah ayu sang cinta terpendam dengan rasa berdebar-debar.
"Ehm. Sori ganggu. Boleh aku pinjam sebentar Rudinya?."
Reflek Arin dan Rudi menatap si empu suara yang sangat familiar itu.
Wajah Rudi berubah masam. Jengkel dengan sikap sang atasan.
Yap. Aslan tanpa permisi menimbrung obrolan dua orang yang sedang menikmati reuni. Hatinya bak tersulut api tatkala melihat mereka bercanda ria. Apalagi tatapan si sekertaris itu membuatnya kesal.
Rasanya ingin mencukil kedua kornea si sekertaris. Tatapannya sungguh tidak sopan.
"Ada apa? bukankah kerjaan saya sudah selesai? ini hari menjelang akhir pekan" dengus Rudi menekan perkataannya.
Aslan tidak menjawab. Ia justru menarik kursi dan menjatuhkan pantatnya.
Arin mengernyit,"Tidak jadi bawa kak Rudi?".
Kak Rudi?. Aslan membeo dalam hati. Perasaannya semakin runyam mendengar ucapan Arin. Logikanya tak lagi berfungsi. Aslan mode menyebalkan.
"Kenapa? Apa tidak boleh aku duduk di sini?. Bukankah gedung ini milikku?" ketus Aslan bersedekap.
Oh Astaga. Manusia satu ini. Bilang saja kalau cemburu. Jerit Rudi dalam hati. Ingin sekali melayangkan tinju ke wajah rupawannya itu.
Arin melongo mendengar ucapan aneh Aslan. Seantero jagad pun tahu, gedung itu miliknya tanpa harus deklarasi.
"Allea dimana? Kenapa kau di sini?."
"Tenang saja. Allea bersama kak Liza. katanya bentar lagi sampai sini."
"Apa? Dia mau ke sini?" gusar Rudi dan mengedarkan pandangan.
Kafe semakin ramai. Para pegawai memutuskan tidak langsung pulang. Mereka ingin minum kopi sejenak dan ngobrol bersama rekan kerjanya.
"Apa dia tidak boleh ke sini?" Arin ragu-ragu bertanya. Ia menggigit bibir bawahnya.
Rudi menyahut, "Tidak."
__ADS_1
Aslan membalas, "Boleh."
Mereka menjawab bersamaan. Arin menunduk lesu. Salah mengartikan ucapan dua orang ini.
"Jadi tidak boleh ke sini ya. Maaf kalau gitu. Segera aku hubungi Meli."
Arin langsung gerak cepat merogoh telepon genggamnya di saku celana. Mencari kontak Meli.
"Ck. Aku bilang..." Aslan menggantung ucapannya tatkala mendengar seruan Allea.
"Papiiiii."
Bocah gembul menggemaskan itu kilat sekali memanggil heronya tanpa berpikir kondisi dan situasi sekitar.
Serentak atensi pengunjung kafe menoleh ke sumber suara. Anak perempuan nan menggemaskan dengan rambut kuncir dua. Mengenakan dress warna pink selutut. Ia menghambur ke pelukan Aslan.
Rudi berjingkat.
Arin menunduk sembari membentur-benturkan ponsel yang di genggamnya ke jidat.
Aslan? orang ini justru bahagia dengan kedatangan putrinya. Mengabaikan kerisauan si sekertaris. Lalu menggelar ritual. Menghujani pipi gembul Allea dengan ciuman.
"Ya Tuhan. Aku mau di posisi bocah itu."
"Ha? serius itu anak pak Aslan?."
"Sial ini pasti mimpi?."
"Hiks aku patah hati. Pak Aslan ternyata sudah beristri."
"Ck. Sialan, ****** pengkolan mana yang berani sekali godain calon laki gue?."
"Sssstt jangan keras-keras. Nanti kalau pak bos denger mampus lu."
Mereka yang di ruangan kafe, bukan lagi berbisik. Tapi menyuarakan isi hatinya.
Arin mendelik. Tolong siapapun bungkam bibir bocah itu. Omongannya sangat membahayakan.
Rudi pun tak kalah panik. Reflek ia memundurkan kursi. Hingga menimbulkan bunyi.
Aslan hanya mengulum senyum. Hatinya berbunga mendengar comelan Allea.
Setelah mendengar ucapan Allea. Atensi pengunjung kafe menatap intens si empu yang di panggil bubu. Hanya ada satu perempuan yang duduk antara dua lelaki di sudut jendela itu.
Mereka langsung bergosip ria tanpa tahu kronologinya. menyudutkan Arin sesuka hati. Kelihatan seperti berbisik tapi suara mereka masih bisa di dengar.
Rudi kesal. Ia beranjak. Ingin memarahi mereka. Namun Arin menghentikan.
"Aku tidak apa-apa kak. Jangan buat keributan." cegah Arin menggegam pergelangan Rudi.
Aslan melotot. Ia langsung berdiri, menggendong Allea dan beranjak mendekati Arin.
"Jangan dengarkan mereka babby. Ayo pergi makan malam. Katanya putri kita lapar " alibi Aslan sembari menggamit tangan Arin.
Arin syok. Kakinya lemas. Dadanya bagaikan terguncang gempa dengan kekuatan 8,9 magnitudo. Hingga getarannya berasa di daratan.
Ia membayangkan wajahnya, pasti memerah bak kepiting rebus.
Pengunjung kafe semakin menjadi. Menjerit dalam hati. Kesal setengah mati dengan perempuan yang di panggil 'babby' oleh pria yang mereka idamkan jadi suami.
Rudi hanya menghela napas panjang. Menggerutu dalam hati.
Breaking news. Sekali buat skandal langsung punya anak dan istri. Hebat tuan. Sungguh anda sangat luar biasa menambahkan beban pekerjaan saya.
Setidaknya masih ada dua hari untuk menyiapkan energi menghadapi jutaan pertanyaan dari si kuli tinta yang haus akan berita.
__ADS_1
Meli melongo menyaksikan adegan tanpa skenario itu. Jiwa penasaran atas hubungan antara sang idola dan atasannya mengikis.
...----------------...
"Aku cemburu, Arin" Aslan berucap memecah keheningan.
Allea asyik bermain boneka di jok belakang. Mengabaikan kedua orang tuanya.
"Ma..maksudnya?" Arin ragu-ragu bertanya. Namun ada seburat kebahagiaan diwajahnya.
Aslan menginjak gas. Menepi pelan dan berhenti sejenak. Lampu merah.
"Iya. Bolehkah cemburu? aku."
"Papi. Kapan campainya?" Allea memotong ucapan Aslan.
Dasar bocah pengganggu. Arin mendengus. Penasaran kelanjutan omongan Aslan. Namun enggan untuk bertanya.
Ia meraih tubuh gembul Allea yang pindah posisi ke pangkuannya. Allea ceriwis tanya ini itu. Arin menggaruk rambutnya yang tak gatal. Kewalahan menjawab pertanyaan Allea.
Apalagi hati dan pikirannya saat ini sedang tak Singkron. Arin mendengus melirik Aslan. Ia tak membantu jawab, justru hanya cekikian.
"Bubu cebetal lagi Allea libul. Kita libulan kemana?."
"Ke pantai."
Allea tak suka dengan jawaban sang ibu. Ia bersedekap dan manyun, "Tidak mau."
"Ya sudah naik odong-odong saja kalau gitu."
"Memang ada bu?."
Bocah itu mendonga melihat netra ibunya penasaran dengan 'odong-odong'.
Arin cekikian melihat wajah lucu anaknya. Padahal ia hanya menjawab random.
"Tentu saja ada. Nanti Bubu ajak ke pasar malam."
"Cama Papi?."
Arin menggeleng. Tidak yakin. Allea menatap bubunya penuh harap dengan jawaban yang menyenangkan.
Arin buka mulut. Tapi ia ragu.
"Iya Papi ikut. Nanti Papi anter" Aslan menyahut dan tersenyum.
Allea langsung berseru senang. Tak lama ia pun terlelap. Lelah seharian beraktifitas.
Jalanan padat merayap diiringi gerimis mengguyur ibukota. Seru klason menyalang tak sabaran dari arah belakang.
"Ya ampun sabar. sudah tahu macet" gerutu Arin. Kaget dengan kebisingan klason.
"Aslan. Kita mau kemana? ini bukan arah kafe."
"Benar. Papa ingin ajak Allea main. Sekaligus kita butuh bicara, Arin. Hanya kita berdua. Tanpa Allea dan yang lain."
Hening. Arin tak menjawab. Ia malas berpikir. Lelah. Seharian menerima bimbingan Athan cara mengatur hotel, menerima dan memperlakukan pelanggan.
Pergi ke museum Alter ingin melepas penat sekaligus melihat album dan atribut para idol dibawa naungan agensi itu.
Tapi rencananya tidak berjalan sesuai yang di bayangkan. Harus bertemu teman yang hanya sekali jumpa.
Lalu kejadian aneh yang membuatnya canggung saat menatap si biang onar. Aslan. Orang yang membuat hatinya bak naik roller coaster. Namun tatkala ingat perlakuan Aslan, pipinya bersemu merah.
Arin menghembuskan napas pelan sembari menyisir rambut Allea dengan jemari.
__ADS_1
...----------------...