
Hari berganti. Tahun berlalu. Tak terasa bocah gembul menggemaskan itu sudah berusia tiga tahun. Arin mengembangkan senyum menatap putri cantiknya masih terlelap. Seakan lupa dengan keinginan untuk sekolah.
"Ck. Dasar si gembul. Kemarin nangis-nangis minta sekolah. Jam segini masih ngorok". Celetuknya sembari mecium kening Allea. Si empu kening menggeliat. Lalu ia beranjak ke dapur. Menyiapkan menu sarapan khusus Allea. Si gadis kecil ini sangat peka terhadapan masakan ibunya. Ia selalu protes jika bukan Bubunya yang membuatkan makanan.
"Hallo. Wah kukira kau sudah mati". Celetuk Arin. Saat mengangkat telpon.
"Hahaha. Sial. Jahat banget". Sahut Bian dari sebrang sembari merebahkan punggungnya di shofa.
"Bukannya kau yang jahat? inget gak waktu kau baru datang dan aku menjemputmu. Dini hari kau telpon ngajak ketemuan paginya. Tapi apa? kau gak datang. Malah kabur ke Singapur sampe tiga tahun kaga ada kabar sama sekali. Kau kira aku gak penasaran?". Cerocos Arin kesal tanpa melihat keadaan sekitar.
Aslan duduk di meja makan sembari mencuri dengar pembicaraan Arin.
"Sorry. Mendadak Papa sakit. Aku di minta ngurus pekerjaan Papa. Sudah dong jangan marah-marah. Hmmm Emang kau gak kangen denganku? Lu..".
"Idih rugi bandar orang macam kau ku kangenin". Potong Arin dengan berapi-api. Aslan menyunggingkan senyum mendengarnya.
"Hahaha. Astaga semakin kejam ya omonganmu. Lusa aku Ke Indo. Akan ku jelaskan hutangku padamu".
"Oke. Aku tunggu. Tapi kali ini aku gak akan jemput. Males". Ketus Arin.
"Enggak usah jemput. Aku udah minta Lukman stand by". Ucap Bian lembut. Amarah Arin langsung lenyap mendengar nada biaca Bian.
"Mau ketemu di Cafe apa mensionmu?". Tanya Arin sembari menyiapkan nasi goreng di piring. Entahlah mendengar Arin ingin bertemu seseorang Aslan langsung kesal. Ia menyambar piring itu dan menyatap.
"HEIII INI BUKAN BUATMU". Reflek Arin kaget.
"Ada apa? Kau baik-baik sajakan?". Panik Bian dari sebrang takut Arin kenapa-napa.
"It's oke Bian. Ada anjing salah ambil makan.Nanti kirim pesan aja lokasi ketemunya. Aku tutup dulu ya". Putus Arin menutup ponselnya. Aslan mendelik dengan ucapan Arin. Tapi yang membuatnya semakin kesal saat Arin menyebut nama seorang lelaki.
"Hah. Bisa-bisanya main dimakan aja sih. Ini buat Allea". Lesu Arin sembari menjatuhkan pantatnya di kursi.
"Hanya Allea? untukku gak ada?". Sungut Aslan.
"Memangnya kau suka? Bukannya tiap pagi kau hanya nyeduh kopi sama makan roti". tegas Arin mengernyit.
"Oh ternyata dia memperhatikanku". Batin Aslan menyeringai.
"Mulai hari ini aku suka apa yang kau masak". Jawab Aslan santai.
"Halah bohongnya bisa banget. Kalo masak lumpur emang mau kau makan?". Arin menanggapi sembari beranjak untuk membuat nasi goreng lagi.
__ADS_1
"Lah. Ngapain masak lumpur?. Astaga gadis ini kok imut sekali isi otaknya". Batin Aslan sembari memperhatikan gerak-gerik Arin yang sibuk menyiapkan bahan-bahan.
Keheningan itu terpecahkan oleh dering telpon dari saku celana Arin. Si empu ponsel memeriksa siapa yang menghubungi.
"Ada apa? tiba-tiba saja Bunda telpon?". Tanpa pikir panjang ia langsung tekan tulisan answer.
Arin tersentak mendengar ucapan Bunda.
"Arin. Ada seorang ibu paruh baya ingin bertemu denganmu. Apa kau bisa ke Panti sekarang".
Arin tak menjawab. Ia gemetar. Mungkinkah ibunya yang selama ini ia tunggu? Ataukah seorang teman dari ibunya?. Pikiran Arin menerka-nerka. Ia menghembuskan nafas. Menetralkan kondisinya. Lalu melanjutkan memasak. Setelah selesai, ia menyiapkan untuk Allea. Aslan tak komentar. Ia menunggu Arin bicara.
"Aslan. Maaf bisa tolong antar Allea. Aku ada urusan". Pinta Arin.
"Aku gak bisa. Jam delapan aku ada rapat". Jawab Aslan.
"Kali ini saja As. Apa gak bisa kau pending dulu rapatmu. Hmmm?". Arin sedikit memaksa.
"Gak bisa Rin. Rapat ini penting untukku". Ucap Aslan.
"Apa? kau lebih mementingkan rapatmu dari pada Allea? kenapa gak kau undur jammya?". Kesal Arin.
Mereka layaknya pasangan normal yang mengurus buah hatinya dengan kasih sayang. Selama ini tak ada berdebatan. Arin yang selalu mengalah bila Aslan pulang larut atau bahkan tak pulang. Gadis itu tak seperti gadis kebanyakan di luar sana yang suka beranja atau sejenisnya. Nyaris dua puluh empat jam ia gunakan bersama Allea. Kalau pun pergi hanya ke cafe nya.
"Benar. Urusanku sangat penting. Aku sudah lama menantikannya. Maaf Aslan. Aku titip Allea". pungkasnya sembari menyambar kunci motor matic nya. Melaju cepat hingga Aslan khawatir jika terjadi sesuatu. Aslan mengernyit.
"Sepenting itukah dia? Siapa yang akan di temui? Orang spesial dalam hidupnya? Ck. Kenapa sih akhir-akhir ini aku penasaran dengan urusan pribadinya". Gerutu Aslan kesal.
"Bubu jangan tinggalin Allea". Jeritnya sembari berlari saat mendengar bunyi motor. Peka sekali. Padahal beberapa saat masih terlelap. Aslan langsung menangkap tubuh Allea.
"Gak mau.. Huhuhu. Allea gak mau cama Papi. Allea mau ikut Bubu". Rajuknya sembari memukul lengan Aslan.
"Allea. Bubu sedang pergi sebentar. Bubu sudah masakin Allea nasi goreng. Sekarang mandi dulu sama mbak Meli nanti Papi antar ke sekolah ya". Tutur Aslan lembut.
Allea mengangguk sembari sesegukan.
"Anak pintar". Puji Aslan. Aslan langsung menelpon Rudi. Memintanya mengulang jadwal meeting.
......................
Dina adalah sahabat satu-satunya Nira. Ia pengusaha di bidang perhotelan. Sudah tersebar di beberapa negara Asia. Rencananya, ia ingin mengakuisi salah satu hotel di Jakarta.
__ADS_1
"Semoga aku bisa secepatnya bertemu anakmu". Matanya sendu menatap batu nisan yang terukir nama Nira Amina. Menghela nafas panjang. Sesak. Saat mengingat kejadian beberapa tahun silam.
"Dia pasti menunggu kedatanganmu. Nira. Andai saja kau mendengar perkataanku. Aku yakin kau akan hidup bahagia dengan putrimu". Lirih Dina sembari menunduk.
Hening. Terdengar hembusan angin membelai dedauan. Membuat daun berjatuhan. Dina menoleh ke samping.Seolah merasakan kehadiran seseorang yang sangat di rindukan. Lalu atensinya teralihkan dering ponsel di balik saku blazer yang dikenakan.
"Nyonya. Kami menemukannya. Data dan tempat tinggal sudah kami kirim. Tolong periksa.". Informasi dari sebrang.
Dina terperanjat. Ia langsung berdiri. Perlahan kristal bening membasahi pipinya. Entah perasaan lega, sedih atau bahagia.
"Baik. Aku segera ke sana". Putusnya. Menutup telpon.
"Nira. Aku pergi dulu. Nanti akan ku bawa dia ke sini". Monolognya menatap batu nisan Nira. Lalu melangkah menuju parkiran. membuka laptopnya. Mencari dokumen yang baru saja di terima. Ia menghela nafas saat tahu lokasi anak itu. Langsung tancap gas ke lokasi.
Setelah perjalanan hampir satu jam lebih. Dina sampai di tujuan. Panti Asuhan Pelita Kasih. Melangkah memasuki gerbang.
"Maaf anda ingin bertemu dengan siapa?". Tanya lelaki berseragam SD.
"Oh. Bisa bertemu dengan ibu panti dek?". Jawab Dina.
"Baik tunggu sebentar saya panggilkan". Anak lelaki itu berlari ke dalam. lalu beberapa saat keluar lagi.
"Silakan ke ruang Bunda bu. lurus belok kanan". Jelas anak lelaki itu lalu beranjak. Dina mengangguk.
"Jadi kau selama ini di sini nak? kau pasti merindukan ibumu". Lirihnya saat melewati lorong.
Tok.. Tok.. Tok..
"Silakan masuk". Bunda Siti mempersilakan.
"Terima kasih". Sambung Dina sembari membuka pintu.
Bunda mengangguk dan tersenyum mempersilakan tamunya duduk.
"Maaf. Pagi-pagi saya mengganggu aktivitasnya. Saya ingin bertemu dengan anak ini kalo tidak salah namanya Arin". Ucap Dina tanpa basa basi.
Bunda reflek memeluk wanita paruh baya ini sembari meneteskan air mata.
"Terima kasih sudah kembali. Tak sia-sia dia selalu menunggumu. Aku akan menghubunginya. Pasti dia sangat bahagia". Cerocos Bunda sembari mencari kontak nama Arin.
......................
__ADS_1