Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
BONPA Episode 12


__ADS_3

Libur panjang semester genap telah berlalu begitu cepat. Para murid kembali ke habitatnya.


Para murid berbondong-bondong datang pagi untuk memilih bangku. Tapi tidak dengan satu murid ini, Allea. Gadis itu jam tujuh masih santai di rumah menikmati sarapan dan menunggu bekalnya yang masih di buat Arin.


"Allea, ini sudah tujuh lewat. Kamu enggak apa-apa nungguin. Dikit lagi sih." Ucap Arin sembari menggaduk masakan.


"Tenang, Bubu. Awal masuk itu palingan upacara. Allea males ikut." Balas Allea santai sembari makan cemilan di toples.


"Ehm. Selamat pagi." Sapa Aslan bergabung di meja makan.


"Pagi." Kompak Allea dan Arin.


"Oh iya. Mulai besok, kamu berangkat sama papi, Al."


"Pak Romi kemana? Terus pulangnya gimana, Pi?"


Aslan tersenyum."Nanti sopir Papi yang jemput."


"Tapi, Pi. Allea kadang pulangnya sampai sore. Belum lagi kalau ada eskul dan les privat." Allea menjeda. Ia menarik napas."Makanya, izinin Allea bawa mobil Pi. Atau naik angkotan umum juga enggak apa-apa."


Aslan menggeleng. "Papi yang kenapa-napa, Allea. Kalau kamu pergi sendiri."


"Allea, ini bekalnya sudah jadi." Interupsi Arin menghentikan perdebatan anak-bapak ini.


Allea menghela napas. "Ya sudah terserah Papi saja gimana enaknya. Terima kasih, Bubu. Allea berangkat. Assalamualaikum." Ucapnya sembari mencium punggung tangan Arin dan Aslan.


"Waalaikumsalam."


Pukul 07.30, Allea keluar rumah. Ia lari kecil ke arah mobil yang sudah siap mengantarnya. Romi segera menekan pedal gas saat Allea menghempaskan punggungnya di kursi, meninggalkan halaman rumah.


"Hei, Pak Romi. Rapi sekali." Komentar Allea tersenyum ramah.


"Ehm. Iya, nona. Hari ini saya pamit ya, non." Balas Romi sekilas melirik Allea dari kaca spion dekat kemudi.


"Saya sedih loh, Pak. Btw, Pak Romi setelah ini kerja dimana?"


"KnF Sekuritas, non." Ucap Romi menggeleng."Benar 'kan enggak bohong. Itu perusahaan keluarga. Dan gue yang pegang." Batin Romi membenarkan opininya.


Allea mengangguk percaya. "Sukses selalu ya pak. Oh iya, sore masih bisa jemput saya?"


"Tentu bisa, nona. Ayo melukis kenangan indah di hari terakhir saya." Jelas Romi sembari tersenyum.


"Oke, Pak. Jemput jam tiga, ya. Baiklah, mari nikmati waktu bersama yang sebentar ini." Ungkap Allea membuka pintu.


"Tapi nona,-"


Allea memotong ucapan Romi. "Saya akan bolos les. Ssttt. Tapi jangan bilang Bubu sama Papi." Ia memberi isyarat, menempelkan jari telunjuknya di bibir dan mengedipkan sebelah mata.


Romi pasrah. Ia hanya mengangguk, menyetujui ide nona majikannya sembari mengulum senyum.


"Terima kasih, Pak Romi. Sampai ketemu nanti sore. Hati-hati di jalan."

__ADS_1


"Sama-sama nona."


Romi masih menatap Allea yang berjalan ke dalam area Kolios. Ada rasa tidak rela mengakhiri kontrak kerja dengan nona manis baik hati itu. Namun, ia tidak bisa terus-terusan membagi waktunya.


...----------------...


Sampai di kantor. Romi sudah di tunggu tantenya-Indi. Wajahnya terlihat marah. Romi menghela napas.


"Ehm, tante sudah lama?" Basa-basi Romi mendekat ke Indi yang duduk di sofa.


"Bagus, Romi. Kamu mendukung bocah SMA itu dengan anakku, Bukan?." Dengus Indi kesal. Menatap anak kakaknya itu tajam.


"Kemarin Melvin ke Jakarta pas ulang tahun bocah itu. Dan kamu yang memfasilitasi. Aku tahu, Romi. Jangan anggap remeh orang-orang Kyle. Mereka dengan akurat akan memberi laporan terkait keluargaku." Sungut Indi berapi-api.


Romi diam dan menunduk. Ia merasa bersalah. Ingin menyanggah bahwa itu tidaklah benar. Tapi menyanggah pun percuma, jika berhadapan dengan tantenya itu. Hasil akhir, pendapat Indi selalu benar.


"Aku ingin bertemu bocah itu."


"Tante mau ngapain?" Sambar Romi khawatir.


Indi menyunggingkan sudut bibirnya. "Ada apa denganmu, Rom?. Kamu mengkhawatirkan bocah itu? Sepertinya dia anak baik, sampai kamu tidak rela jika aku menemuinya."


Romi menghela napas. Ia benar-benar tidak ingin Indi bertemu nona manisnya. "Benar, tante. Dia anak yang baik, pintar, sopan."


"Maka dari itu, aku ingin bertemu, Romi. Aku ingin melihat langsung putri Alter Entertainmen itu." Seringai Indi.


Romi mengernyit. "Jangan bilang tante.-"


"Mereka menikah pas bocah itu umur kurang lebih tiga tahun. Dan secara hukum, bocah itu hanya anak adopsi Arin. Bukankah anak yatim-piatu tidak cocok untuk Melvin?" Imbuh Indi membuat Romi mematung. Tidak percaya dengan penjelasan tantenya.


Romi menghela napas. Hatinya mengelak. Bahwa nona majikannya hanya anak adopsi. Padahal wajah anak itu tiruan bapaknya. Sangat mirip. Bahkan bisa dibilang Aslan versi perempuan.


Romi mengangguk pasrah. Toh tantenya tidak bisa dihentikan tatkala punya keinginan. "Baik Tante, nanti Romi antarkan."


"Satu lagi, Rom. Cepat-cepat kamu keluar dari pekerjaan keduamu itu. Dan jangan sampai Melvin tahu."


"Aku mulai besok sudah berhenti anterin dia, Tante. Hari ini terakhir."


"Bagus. Kalau begitu Tante pergi dulu. Nanti jemput di salon langganan Tante."


Romi hanya mengangguk dan menghembuskan napas berat. Masih mematung menatap punggung tantenya yang menghilang dibalik pintu.


"Apakah itu benar? Jangan-jangan tante hanya salah paham demi memisahakan romansa anak remaja. Hah!. Gue enggak tahu." Dengus Romi menyugar rambutnya.


Kiloanmeter dari tempat Romi, Allea mendapat pernyataan cinta dari fauzi. Yang disaksikan banyak murid. Mereka bersorak.


"Terima. Terima."


Allea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf kak. Apa bisa kita pindah tempat? di sini kurang tepat."


Fauzi mengangguk. Dan mereka pun pindah ke ruang osisi.

__ADS_1


"Jadi apa jawaban lu, Allea?" tuntut Fauzi saat sampai di ruang itu.


"Ehm, pertama. Terima kasih kak atas rasa sukanya. Kedua. Maaf, gue enggak bisa nerima perasaan kakak." Tegas Allea merasa tidak enak. Tapi ia harus lakukan supaya Fauzi tidak berharap.


Fauzi mendengus. "Baiklah. Tapi masih bisa 'kan kita berteman?" pintanya. Ia tidak memaksa Allea menjelaskan kenapa perasaannya di tolak. Baginya itu akan lebih menyakitkan, jika tahu alasannya.


"Bisa saja, kak. Tapi apa enggak canggung dan kakak merasa sakit hati kalau lihat gue?" geleng Allea mengernyit.


Fauzi mengulum senyum dengan tingkah adik kelasnya ini. "Mungkin iya. Tapi seiring waktu berjalan pasti akan terbiasa. Dan mulai sekarang, gue akan menganggap lu adik."


"Kakak enggak marah? atau mau menggiling gue di lapangan, misal?"


Fauzi terkekeh. Rasa sakitnya sedikit meredam. "Enggak, Allea. Perasaan itu enggak bisa di paksa. Gue cuma pengen ungkapin saja. Supaya plong dan enggak nyesel nantinya."


Allea menganguk, "Gue salut, Kak. Kirain, kakak akan menghalalkan segera cara supaya gue nerima pernyataan, kakak"


"Hahaha. Apa gue sejahat itu dimata lu, Allea?" Retorik Fauzi menyugar rambutnya.


Allea tersenyum samar. "Sedikit. Sori." Ungkapnya meringis.


Fauzi tertawa kecil. "Gue enggak seperti itu kali." Sanggkalnya.


"Huuft. Kakak tuh mukanya jutek, galak gitu loh. Jadi pasti banyak mengira kayak pikiran gue."


"Astaga, nih gue senyum. Cakepkan?" Ucapnya sembari melengkungkan bibirnya dengan dua jari telunjuk.


"Hahaha, Jatuhnya kayak boneka chucky."


"Sialan. Ehm. oh iya, ini hadiah ultah lu kemarin. HBD." Fauzi menyodorkan kado kecil itu.


Allea mengernyit. "Tunggu!. Ini bukan suap 'kan?"


"Hahaha. Enggak, Allea. khawatir banget sih. Kalau elu enggak percaya, Buka saja sekarang."


"Hehehe. Gue percaya, Kak. thank you. Oh iya, gue boleh panggil kakak dengan sebutan kak Oji?"


"Silakan, adik gue yang manis."


"Hahaha. Jangan gitu, kak. Nanti gue jatuh hati."


"Huuu, jadi senang dengernya."


Keduanya kompak tertawa sembari meninggalkan ruang osis. Dan para murid pun berbisik saat melihat dua insan beda jenis itu akrab. Saling lempar candaan. Menduga bahwa mereka telah resmi kencan.


Para murid putri yang menyaksikan pria idamannya tertawa, dan terlihat bersahabat itu merasa iri dengan Allea. Bagi mereka, Allea sangat beruntung bisa mencarikan hati ice prince. Ya, itu julukan Fauzi sejak masuk SMA.


Fauzi Zedekiah, Pria itu akan mencair dan menghangat penuh perhatian jika hanya bersama Allea Alister. Gadis satu-satunya yang mampu menghancurkan bekunya hati Fauzi.


Dan hubungan kakak-adik itu akan berlangsung hingga mereka tumbuh dewasa, sampai bertemu pasangan masing-masing.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2