Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
BONPA Episode 13


__ADS_3

Pukul 15.00, tepat.


Allea sudah menunggu Romi di depan pintu gerbang. Atensinya terusik saat benda lima inci berbunyi dari dalam tas.


Allea langsung mengambil dan melihat siapa yang memanggilnya. Dan ia langsung menekan answer.


"Hallo, Pak Romi sudah jalan?"


"Nona, bisa lihat seberang Kolios? Di sana ada kafe, Apakah bisa nona nyebarang ke sini? kalau ke situ putar baliknya lama. Nona bisa lewat JPO dekat halte."


Hening. Allea mengernyit menatap JPO panjang. Lalu menghela napas."Oke pak. Saya jalan."


"Siap nona. Hati-hati." Romi mengakhiri panggilan.


Allea mengepalkan tangan dan mulai berjalan menaiki anak tangga satu demi satu. Meskipun merasa ngeri, tapi ia terus berjalan hingga ujung sebelah kanan dekat kafe.


Allea menghela napas lega. Ia mengambil ponselnya. Dan Romi sudah mengirim nama kafe itu.


[Pak Romi: Kafe Mkao meja nomor 4.]


Allea tidak membalas. Ia berjalan menuju kafe itu. Tidak butuh waktu lama, ia sampai dan masuk ke kafe itu untuk bertemu dengan sopir pribadinya.


Allea mengernyit saat melihat meja nomor 4 bukanlah sosok familiar yang ia kenal.


"Ehm. Permisi, benar ini meja nomor 4?" Sapa Allea sopan.


"Benar, silakan duduk. Saya Tantenya Romi." Ucap Indi menyunggingkan sudut bibirnya. Memindai penampilan Allea dari ujung rambut hingga kaki.


"Maaf, Pak Romi dimana, ya?" tanya Allea celingungan.


"Maafkan saya nona." Ucap Romi dalam hati. Yang berdiri di belakang Allea hendak keluar. Tidak ingin menguping pembicaraan mereka. Itu akan menyesakkan dada. Apalagi, ia tahu tabiat Tantenya. Selalu ingin menang dan tidak suka omongannya di bantah.


"Dia sedang pergi sebentar. Nanti akan datang. Sekarang aku ingin bicara denganmu." Indi menjeda. Menyesap minuman yang di pesan.


"Benar namamu, Allea Alister?"


Allea mengernyit, menatap wanita di depannya. "Iya, Benar. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Ada perlu apa dengan saya?"


Indi tertawa kecil."Aku ibunya Melvin. Anak lelaki yang sering menemuimu."


"Oh maaf, saya tidak tahu. Salam kenal, Tante." Balas Allea sembari berdiri dan menunduk hormat. Ia juga menjulurkan tangan untuk salaman. Tapi Indi mengabaikan.


"Baiklah tidak perlu basa-basi. Jauhi Melvin. Jangan deket-deket anakku. Jangan lagi berhubungan dengannya. Kamu tidak cocok." Ungkap Indi mendengus.


Hening. Allea masih mencernah pokok masalah. Belum sempat Allea mengajukan pernyataannya. Indi angkat bicara lagi. "Kamu hanya anak adopsi. Jadi enggak cocok. Tidak serasi dengan Melvin." Telak Indi mengabaikan perasaan Allea.

__ADS_1


Allea mendelik. Bagaikan tersambar petir disiang bolong. Sesak, nyeri melebur jadi satu.


Bukan masalah diminta menjahui Melvin. Tapi mendengar bahwa ia hanya anak adopsi. Itu yang meruntuhkan hati Allea. Seakan dunianya hancur.


Ia narik napas. Menetralkan kondisinya. "Nanti tanya ke Bubu, Allea. Jangan percaya." Batinnya menguatkan hati, menahan tangis.


Allea tersenyum kamuflase."Maaf Tante. Saya dan Melvin hanya sebatas teman."


Indi mendengus kesal. "Jangan bohong. Aku tahu, kamu di kasih kado permata biru, bukan?. Itu ngasihnya pas liburan. Lalu ulang tahunmu, dia datang kan?. Kamu tahu? Dia kabur dari pesantren, hanya demi hadir di acaramu yang enggak penting itu." Sungut Indi kesal.


Allea diam. perasaannya campur aduk. Jika saja orang yang di hadapannya ini bukan orang tua, mungkin Allea sudah menghantam wajah orang ini.


"Sial. Gue harus gimana? gue jawab hanya sebatas teman, Anda mencak-mencak. Kenapa enggak nanya langsung ke Melvin saja?." Dongkol Allea dalam hati.


"Memangnya orang tua angkatmu enggak ngasih tahu, kalau masih sekolah itu jangan pacaran dulu, itu tidak bagus. Atau mereka sengaja menyuruhmu mendekati anakku?" Cibir Indi menatap Allea, remeh.


Allea mengepalkan tangan. Ia akan diam jika hanya dirinya yang diolok. Tapi kalau menyangkut orang tuanya, Ia rela melakukan apa saja. Bahkan nyawanya pun ia taruhkan.


Allea menyugar rambutnya. Masa bodoh tata krama. "Maksud tante apa?. Mereka selalu nasehati saya. Coba tanyakan ke Melvin, putra kebanggan anda. Sebelum anda menemui saya."


Indi mendelik melihat perubahan sikap Allea."Itu tidak perlu. Ambil ini dan jangan pernah hubungi Melvin." Indi melempar amplop cokelat ukuran A4. Terlihat tebal, siapapun pasti tergiur ingin segera mengambil dan menuruti omongan Indi.


Tapi Allea beda. Dengan santai ia menautkan jari-jemarinya menatap Indi intens. Lalu menerbitkan senyum kapitalis, yang sering ia lakukan kala meminta sesuatu pada orang tuanya. "Harga hati dan rasa cinta saya mahal, Tante. Anda tidak mampu membelinya."


Allea bersedekap dan menyeringai. "Baik, jika begitu. Belilah hati dan rasa cinta saya dengan semua saham perusahaan tambang suami anda sekaligus balik nama atas nama PT. Allea Alister. Bagaimana? Jika anda setuju, saya berjanji, tidak akan mencintai putra anda. Tapi kalau tidak setuju. Tentu anda tidak berhak mengantur hati saya." Balas Allea menghela napas.


Indi mendelik. Mendengar ungkapan si bocah yang ia anggap remeh. Bahkan ia tidak menyangka bocah baru gede ini punya pikiran seperti itu. "Apa kamu gil-."


Allea memotong, "Bukankah saya sudah bilang, hati saya sangat mahal. Uang tunai yang anda sodorkan itu tidak cukup. Dan perlu anda ketahui!. Setiap anak yang lahir ke dunia. Dia tidak bisa memilih dilahirkan oleh siapa, orang tua kaya-raya, miskin, taat agama atau bahkan orang tua yang sudah tiada. Dia menjalani takdir untuk dilahirkan. Jadi, anda jangan pernah memaki anak yatim-piatu atau anak di luar nikah. Itu tidak pantas." Tetuahnya membuat Indi membulatkan mata. Hampir tersedak saliva-nya.


"Terima kasih. Saya permisi." Pamit Allea sekilas menunduk dan melangkah keluar kafe.


Indi menatap punggu Allea. Ia tercengah sekaligus kagum dengan pikiran bocah SMA itu.


"Pantas saja, Melvin sangat tertarik. Pesonanmu memang kuat. Aku akui, Melvin memang pintar memilih perempuan. Auranya beda dari kekasih Milan dan Martin dulu. Aku kira dia akan gembira mengambil uang ini. Bahkan dia berani menasehatiku." Gumam Indi tertawa kecil sembari mengawasi Allea dari kaca jendela. Yang sudah di jemput Romi.


Sekilas bocah itu tersenyum ramah saat Romi membukakan pintu. Dan tanpa sadar Indi pun mengulum senyum melihatnya.


...----------------...


Suasana hati Allea sangat buruk. Ia masih memikirkan omongan Indi terkait anak adopsi. Ingin memastikan. Tapi takut jika itu benar. Allea menghela napas panjang.


"Nona. Saya minta maaf." Ucap Romi sembari mengitip Allea dari kaca spion.


Allea menggeleng."It's oke Pak. Tapi jangan bilang. Pak Romi, di suruh Melvin menjadi sopir saya?" tebak Allea mengernyit. Dalam hati berkata, "Please, tidak."

__ADS_1


Romi mengangguk pasrah dengan wajah sendu. Allea mendengus kesal. Entah kenapa hatinya bagai tersayat belati.


"Sial. Jadi dia mantau gue." Gumam Allea memalingkan wajah.


"Ini langsung pulang, non?" tanya Romi ragu-ragu.


Allea tersenyum getir. "Ayo makan dulu Pak. Sebagai perpisahan. Saya baik-baik saja, Pak Romi. Jangan khawatir."


Romi mengangguk. "Mau di mana, non?"


"Sebenarnya, saya penasaran sama kedai kaki lima yang ada tulisan sea food. Tapi kayaknya, Pak Romi, enggak biasa. Jadi silakan Pak Romi tentukan, saya ngikut." Ungkap Allea menyunggingkan sudut bibirnya.


"Hei. Siapa bilang, nona? saya juga bisa makan di tempat itu. Ayo di sana saja. Ini pertama bagi, nona 'kan?. Sama, saya juga." Balas Romi sembari tersenyum.


Akhirnya mereka sepakat makan di kedai sea food pinggir jalan. Saat mereka masuk, kompak mematung dan mengerutkan kening. Berisik pengorengan dan obrolan pengunjung membuat tempat itu tidak kondusif.


Lalu mereka kompak balik badan sembari berucap, "Sepertinya lain kali saja." Mereka tertawa dan saling tatap. Lalu Romi memutuskan makan di tempat restoran 'all you can eat.'


Setelah selesai makan, Romi tidak segera mengantar Allea pulang. Mereka bermain di funworld. Dan duduk santai di taman menikmati udara senja.


"Terima kasih, nona. Saya tidak akan melupakan momen ini. Sungguh anda sangat baik. Cantik, pintar pula." Ucap Romi sekilas menatap Allea.


"Hahaha. Saya jadi malu, Pak. Oh iya, panggil saja Allea. Toh mulai besok Pak Romi bukan sopir saya lagi." Balas Allea merapikan rambutnya yang di terpa angin.


Romi menggeleng. "Sulit. Itu sudah menjadi kebiasaan. Jadi anda jangan keberatan."


"Baiklah. Semoga Pak Romi tidak melupakan saya di kemudian hari."


"Itu tidak mungkin. Panggil saja jika nona butuh bantuan. Insya Allah, nomor saya tetap sama."


Allea manggut-manggut dan terharu sekaligus dadanya menghangat. Perkataan Romi menghibur kegundahan hati Allea.


"Terima kasih banyak, Pak Romi."


"Sama-sama, nona. Oh iya, ini ada sedikit kenang-kenangan dari saya." Ucap Romi menyodorkan paper bag kecil.


Allea tersenyum menerima paper bag itu dan berucap terima kasih.


...----------------...


Selamat berakhir pekan teman-teman. Happy reading ya. Jangan lupa komen sarannya. Itu sangat saya tunggu ๐Ÿ˜‰.


...๊ฐ์‚ฌํ•ฉ๋‹ˆ๋‹ค. ๐ŸŒน...


...๐Ÿงก๐Ÿงก๐Ÿงก...

__ADS_1


__ADS_2