Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 7 Pindah Tempat


__ADS_3

Pebisnis muda. Mempunyai paras nan rupawan bak pangeran kerajaan. Sikapnya yang ramah terhadap rekan kerja atau pelanggannya sering kali di salah artikan.


Tapi sayangnya, ia tertutup soal perasaan suka pada lawan jenis. Hatinya telah lama membeku bersama sang pujaan hati yang telah pergi.


"Kau bisa drive kan?". Ucap Aslan pada Arin.


"Saya belum punya SIM". Datar Arin. Aslan mengernyit. Seolah nada bicara gadis di depannya ini tak asing.


"Hmmmm apakah kita pernah bertemu?". Aslan meyakinkan keraguan.


"Dua minggu ya lalu tuan. Apa anda lupa saat mengambil Allea". Balas Arin sembari menekan kata terakhirnya.


"Enggak. Sebelumnya, mungkin?". Aslan menggeleng.


"Tidak pernah". Tegas Arin sembari duduk di jok belakang.


"Hei apa yang kau lakukan? apa kau kira aku sopir? Duduklah di depan". Dingin Aslan. Meli meciut mendengarnya.


"Kau saja Mel yang duduk di depan. Sini Allea biar aku yang gendong".


Meli takut-takut duduk di jok depan. Aslan tak komentar.


Ia benar-benar kesal dengan sikap Arin yang menurutnya kurang ajar.


"Wah aku tercengah dengan keberanian mbak Arin. Apa dia gak tahu siapa Tuan Aslan Alister? Bagaimana reaksinya kalo dia tau?". Batin Meli.


Sesekali Aslan melirik Arin lewat spion dekat kemudi. Ia menyipitkan mata lalu menggeleng.


Akhirnya ingat gadis itu. Benar. Jangan bilang Aslan jika tak mengingat hal sekecil kutu.

__ADS_1


"Oh si wanita gak sopan yang waktu itu aku tebengin. Sempit sekali dunia ini. Ck". Batin Aslan menggerutu.


Hampir dua jam mereka terjebak macet. Maklum malam minggu. Sangat padat jalanan ibukota.


Hal itu membuat Aslan semakin kesal. Meli yang takut dengan sikap bosnya. Ia memegangin tali seat belt sembari menggigit bibir bawahnya.


"Ya ampun mbak. Bisa-bisanya anda tidur. Santai sekali hidupmu". Batin Meli iri dengan Arin.


"Enak sekali dia. Bisa tidur pulas. Gak tau apa kalau aku gak bisa tidur 2 hari". Kesal Aslan saat melihat jok belakang dari kaca spion.


Sama. Arin juga tak bisa tidur dalam dua hari. Ia sangat merindukan Allea. Hingga rasanya ingin pergi ke rumah Aslan. Tapi Bian menghiburnya dan rasa itu pun sedikit menghilang.


Aslan hanya medengus kasar. Setelah selesai memarkirkan mobil. Ia langsung berlalu tanpa membangunkan Arin.


"Mbak Kita sudah sampe". Meli membangunkan Arin.


"Hmmm ma menit Bi" Gumam Arin sembari pindah posisi. Meli hanya geleng-geleng kepala dan menggendong Allea pelan-pelan supaya tak terbangun.


Benar-benar hanya lima menit. Si sobat tepat waktu itu selalu menepati perkataan baik yang di ucapkan atau sang lawan bicara.


"Dia belum bangun". Suara bas Aslan mengagetkan Meli.


"Belum Tuan. Tadi bilang lima menit gitu". Jawab Meli sembari berbisik.


"Oh. Allea tidurkan di kamarku". Pinta Aslan.


"Baik tuan". Balas Meli sembari berlalu. Aslan penasaran. Ia beranjak dari tempat duduknya menuju mobilnya.


"Ha? Bisa-bisanya tidur pulas dengan tempat gak nyaman gini?". Batin Aslan heran. Ia menyilangkan tangan.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Arin berbunyi mengagetkan Aslan dan juga si empu ponsel. Aslan langsung pura-pura telpon seseorang.


"Hmmm. Hallo". Suara serak Arin khas orang bangun tidur.


"Jangan bilang kau udah tidur?". Retorik Bian.


"Hoooam. Aku cuman ketiduran. Kapan pulang?". Arin keluar mobil merenggangkan ototnya lalu jongkok sembari menggaruk rambutnya.


Aslan melongo melihat tingkah absurd Arin. Wanita langkah yang sulit di temukan. Jika kaum hawa ingin tampil sempurna di jangkauan matanya.


Ini kali pertama ada kaum hawa yang beredar di sekitarnya bersikap biasa saja dan masa bodoh dengan penampilan.


"Menarik". Seringai Aslan lirih. Lalu meninggalkan Arin.


"Sepertinya akan lama di sini. Selesai tugas mau Jenguk Mama sama Papa dulu. Kau mau nyusul?". Bian menjelaskan.


"Enggak. Aku di sini saja. Sekarang aku tinggal sama Allea". Balas Arin sumringah.


"HA?APA?Jangan bercanda Arin, ini gak lucu? Kenapa gak diskusi dulu denganku?". Bian naik pitam dari sebrang.


Arin langsung terdiam. Ada rasa penyesalan dihatinya. Bian bukan sekedar sahabat. Tetapi seperti wali untuknya.


"Maaf". Lirih Arin lesu.


"Hah. Baiklah. Nanti kita bahas lagi. Yang penting kau harus hati-hati. Kalo ada apa-apa hubungi aku. Oke". Cemas Bian.


"Hmmm oke. Tenang saja. Semoga urusanmu lancar bro. Aku tutup ya". Balas Arin langsung menutup sambungan telponnya. Lalu berjalan menuju pintu utama.


Kiloanmeter dari tempat Arin. Bian menggenggam erat ponselnya. Lalu menekan kontak seseorang. Ia mengutus orang itu mengawasi dan melaporakan kegiatan Arin.

__ADS_1


"Dasar bodoh. Dalih membesarkan Allea bersama. Gak mungkin. Seorang Aslan Alister dengan suka rela ngomong begitu. Aku yakin, kau pasti mengatakan sesuatu yang rahasia baginya". Gumam Bian menyelidik.


...----------------...


__ADS_2