Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Epiosde 21 Aliza x Athan


__ADS_3

Di kafe dekat hotel Wilson. Seorang perempuan mencoba meluruskan kekacauan yang ia buat. Malu atas apa yang ia lakukan.


"Kak Liza mencium pipi kak Athan. Terus memiting lehernya, menjabak rambutnya sambil ngomel-ngomel".


Penjelasan Arin masih menacap di otaknya. Hingga malu menatap lelaki asing yang duduk di kursi sebrangnya.


"Ck. Kau mau ngomong apa? waktuku sangat berharga". Ketus Athan tak sabar.


Hampir 10 menit mereka duduk tanpa ada pembahasan.


Aliza masih terdiam.


"Cih. Ternyata gagu. Lancar makinya hanya pengaruh alkohol". Cibir Athan memprovokasi jiwa bar-bar Aliza.


Berhasil. Aliza terpancing. Ia memang tak suka di olok-olok. Itu akan melukai harga dirinya.


"Wah. Ternyata mulutmu boncabe level sekebon. Aku kira kau akan trauma setelah terserang ciuman dahsyatku".


Giliran Athan yang kelabakan mendengar omongan Aliza tanpa di filter. Semua pengunjung langsung menatap mereka. Mengintimidasi. Lalu geleng-geleng. Athan menghela nafas dan tersenyum kecut.


"Bener-bener cewek gila. Bisa di filter ngomongnya. Kita di tempat umum".


"Memangnya ada yang salah dengan omonganku?. Bukankan benar kemarin aku menciummu. Tapi dalam keadaan gak sadar. Ck. Sial. Sori. Aku kira kau adikku. Nada bicaramu mirip dia". Jelasnya memalingkan muka.


Ia membayangkan wajahnya, sudah pasti memerah seperti kepiting rebus.


Sebenarnya Athan ingin marah tapi entah kenapa ia justru terkekeh mendengar penjelasan perempuan super gila ini. Benar-benar tak peduli dengan tatapan aneh pengunjung kafe.


"Bilang saja kalau ada yang aku rugikan. Bisa hubungi ini". Lanjutnya menyodorkan kartu nama.


Athan mengambil kartu nama itu dan membacanya.


"Kau desainer?"

__ADS_1


"Apakah harus aku jawab?".


"Hahaha. Astaga galak sekali. Padahal aku hanya memastikan".


Benar-banar mirip Bian. Sangat menyebalkan


Bathin Liza menilai Athan. Lalu menggeleng mengingat sesuatu.


"Hmmm. Ada hubungan apa kau dan Arin?". Selidiknya tanpa basa-basi.


Aliza memang pengamat yang baik. Ia langsung mencium gelagat aneh saat mereka sampai di hotel. Tatapan Athan tak biasa tatkala melihat Arin.


"Ehm. Tidak ada. Aku baru bertemu kemarin". Elak Athan mengalihkan pandangan.


"Hahaha. Jangan bohong bodoh. Kau menyukainya". Tandas Aliza.


Athan terdiam. Memang ia menyukainya tapi bukan menjurus ke suka lawan jenis. Justru Ia terpesona dengan perempuan gila di depannya ini. Bicara tanpa berbelit-belit. Bebas. Seakan tanpa beban. Ia menatap Aliza lekat-lekat.


"Why? Apa aku salah?"


"Hapus rasa sukamu. Kami menolak".


Kami menolak


Athan membeo dalam hati. Ia mengernyit siapa yang di maksud 'kami'. Berarti ada banyak orang di belakang Arin. Athan menarik sudut bibirnya.


"Sepertinya tidak bisa".


"Oke. Tunggu kiriman Pestisida".


"Buahahaha. Astaga apa aku seperti hama?".


"Kurang lebih begitu".

__ADS_1


Obrolan itu masih terus berlanjut. Setiap Aliza ingin menyudahi. Athan selalu mengajukan topik baru untuk dibahas. Sepertinya Athan memang enggan menyudahi obrolan. Anehnya obrolan mereka mengalir dari pembahasan receh hingga berujung ke pekerjaan. Merancang konsep kerjasama. Merencanakan proyek baru. Cerita perjalanan karir. Hingga berujung curhat kisah asmara. Satu frekuensi. Di tinggal nikah sang kekasih hati.


Mereka benar-banar lupa waktu. Dari pengunjung kafe sepi. Lalu ramai lagi. Mereka masih betah di tempat duduk itu. Hingga beberapa kali nambah minuman dan makanan ringan. Hingga sang pramusaji menatap mereka heran.


"Lah. Udah Break lunch aja nih". Celetuk Liza melirik alroji Athan.


"Oh ya ampun. Sori. Aku sudah menahanmu lama".


"Memang. Baru sadar. Untung hari ini aku gak sibuk. coba kalau sibuk. Rasakan kolak sepatuku". Kelakarnya sembari menujuk sepatu katsnya.


"Hahaha. Ya harusnya tinggalin saja". Timpal Athan melihat sepatu Liza.


"Ninggalin orang yang sedang ngomong? Ck. itu kesalahan besar. Kanjeng nenek tahu, bisa dirajam ini telinga"


"Hahaha. Terima kasih atas waktunya nona. Perkenalkan saya Athan William". Ucapnya sembari berdiri dan membungkuk.


"Nice too meet you tuan Athan. Maaf atas ke tidak sopanan saya kemarin. Perkenalkan Saya Aliza Jansen". Balas Liza dengan gaya yang serupa.


Adegan aneh dua insan beda jenis itu membuat pramusaji kafe geleng-geleng kepala. Heran. Bisa-bisanya baru salam perkenalan setelah berbincang panjang lebar. Apa itu gaya baru dalam menyapa orang pertama kali bertemu?.


Aku tarik perkataanku. Dia orang yang menarik - Aliza keluar dari kafe sembari tersenyum.


Sepertinya aku jatuh hati sama perempuan pemabuk itu - Athan menatap punggung Aliza sembari memegangi dadanya yang berdebar hebat.


......................


Author: Hallo Aslan. Amankan?. Sainganmu pindah kelain hati. 😈


Aslan: 😭😭 Bahagia thor.. rasanya ingin salto dari ruanganku sampai kafenya doi.


Author: Jangan Aslan [muka panik]. Bahaya. tunggu sianida atau pestisidanya Aliza dulu.


Aslan: Thor... jangan gitu. Yah.. saingan hilang pawang doi bertambah. 😭😭😭😭

__ADS_1


...🌹🌹🌹...


__ADS_2