
Rudi: 😭😭 Sori. Tadi lupa kirim pesan. Lagi ngurus skandal si sialan Joni & Jovita. Apa kau masih nungguin di restauran atau tidak jadi berangkat?.
Rudi mengirim pesan setelah keluar dari gedung Alter menuju parkiran. Hari ini ia lembur mengurus skandal dan juga berkas merger agensi Keyeas Entertainmen.
Merasa bersalah tidak menepati janjinya. Ia keluar lebih dulu meninggalkan si atasan yang masih berkutat di ruangannya.
Arin: It's oke. Aku sudah menebak kemungkinan kau sibuk. Jadi, tenang saja. Aku tidak pergi.
Rudi: Syukurlah. Memang kau ingin bicara soal apa?.
Arin: Terkait Aslan.
Deg
Rudi berhenti mengetik. Ia menggeleng.
"Apa ini? Dia sedang menyelidiki Aslan?," monolog Rudi menyunggingkan sudut bibirnya.
Belum sempat Rudi membalas. Arin sudah mengirim pesan lagi.
Arin: Jelaskan sikap Aslan!. Bagaimana saat dia marah? Dan sejauh mana hubungannya dengan Selin?. Oh iya apa dia sangat mencintai Emma?.
Rudi melotot melihat rentetan pertanyaan Arin. Ia seperti di interogasi.
"Dia lebih mengerikan dari pada Bian dan kakaknya." Dengus Rudi bingung ingin membalas apa.
Arin: Ceritakan secara objektif dan jangan bohong!. Aku tahu kau sangat memahami atasanmu, yang mungkin saja sering kau sumpahi dalam hati. 😏 Oh iya. Awas saja! kau sampai cerita ke Aslan. 🔪🔪🔪
"Wah. Aku tercengah membaca pesannya. Kau harusnya jadi cenayang, Rin."Komentarnya membaca pesan yang di kirim Arin.
"Ehm. Kau tidak jadi pergi?."
Rudi terjingkat. Menoleh ke luar kaca mobil yang sengaja ia buka setengah. Di sampingnya ada Aslan yang bersandar sembari bersedekap.
Rudi keringat dingin. Seolah tertangkap basah sedang menggoda kekasih si atasan.
"Aku mendengar kau sebut nama, Rin? Siapa dia?," Aslan mengernyit melirik reaksi Rudi.
Lalu tanpa permisi ia masuk ke mobil Rudi.
"Hei. Apa yang kau lakukan? Turun!." Serunya melotot.
"Tidak mau. Kalau kau tidak kasih tahu siapa nama yang kau sebut tadi."
Ampuun. Bener-bener ya mereka. Kenapa sih Arin pakai acara tanya ke aku?. Bathin Rudi memijat pelipisnya.
__ADS_1
drrrttt...
Arin: KAK RUDI?? Kau masih hidup, bukan?. Ini urgent kak. Please! Aku hanya ingin tahu penilaian kakak. Biar hatiku semakin mantap buat kasih keputusan.
Rudi lengah. Benda lima inci itu sudah pindah tangan.
"Hei. Hei. Kembalikan!."
"Tunggu sebentar!. Kau?."
"Haaahhh. Itu tidak seperti dugaanmu, Aslan. Kau bisa membaca histori pesannya." Dengus Rudi kesal.
Aslan menurut. Ia membaca pesan Arin dari awal. lalu mengernyit. Entah kenapa hatinya bergejolak aneh.
"Jadi, aku sedang di selidiki? kenapa dia tidak bertanya langsung ke aku? bisa saja kau menjelek-jelekkan aku," lesu Aslan menyandarkan punggungnya sembari menjulurkan benda lima inci ke Rudi.
Niatnya, ia ingin membalas tapi urung. Sebab, ia takut balasan yang di berikan Arin.
Rudi hanya mendengus. Ia merasa bersalah pada dua orang. Lalu mengetik sesuatu, membalas pesan Arin sembari menatap Aslan dan tersenyum tipis.
"Ya sudah sono keluar!," sungut Rudi sembari mendorong tubuh Aslan.
"Boleh aku." Aslan tidak melanjutkan. Sebab ponselnya berdering.
Ia merogoh kantong mengambil benda lima inci itu dari saku celana.
Wajah lesu itu pun berubah sumringan. Ia langsung keluar dari mobil. Rudi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang atasan. Dan berlalu mengabaikan kegiatan Aslan.
"Hallo."
"Aku terima lamaranmu, Aslan. Ayo kita menikah". Potong Arin cepat.
Hening. Aslan tidak segera menjawab. Ia sangat terkejut. Hingga susah mengendalikan hatinya. Debaran hebat menyeruak dari dalam. Kakinya limbung.
"Aslan."
"Thanks Arin. Aku mencintaimu." Ucap Aslan sangat bahagia. Matanya berbinar-binar.
"Hmmm. Ya sudah sampai ketemu besok."
Arin mengakhiri panggilan.
"Tidak apa-apa jika kau belum mencintaiku. Kau menerima lamaranku itu sungguh membuatku bahagia. Terima kasih, Arin." Lirih Aslan tersenyum getir menatap benda lima inci yang mulai meredup.
...----------------...
__ADS_1
Selin membatalkan semua kontrak iklannya dengan alibi, tubuhnya kurang sehat. Ia butuh waktu istirahat selama satu bulan. Bahkan ia menolak tawaran pemeran utama dalam drama bertajuk 'Dosenku, suamiku'. Yang diadaptasi dari novel populer di mobile platform.
"Huuft. Beres. Sekarang kerumah pak Edi." Monolog Selin menatap gedung agensinya dan berlalu.
Ia ingin memastikan. Apakah anaknya, benar di bunuh atau hanya di buang ke salah satu panti. Edi-sopirnya dulu yang sangat setia. Sehari setelah kejadian itu, ia pamit mengundurkan diri.
Selin tancap gas, menyimbak jalanan ibukota dengan kecepatan tinggi. Mengabaikan klason nyalang saat menyerobot mendahului. Waktunya tidak banyak. Lebih cepat, lebih baik.
Kurang lebih tiga jam ia mengendarai mobil, akhirnya sampai lokasi. Menghela napas berat. Istirahat sejenak lalu keluar mobil.
"Permisi. Apa benar ini rumah pak Edi." Tanya Selin pada ibu baru baya yang sedang sibuk menjemur.
Ibu itu mengernyit. Mengamati penampilan Selin yang mencurigakan. Jaket hitam celana Jins. Rambutnya diikat kuda lalu kacamata hitam menghiasi matanya.
"Tenang saja Bu. Saya hanya ingin bicara dengan pak Edi. Saya Elin, anak yang sering pak Edi antar jemput sekolah." Jelasnya menenangkan Ibu itu.
Ia tahu jika Marsih-istri Edi salah satu asisten kakeknya dulu. Saat ia umur lima tahun, Marsih mengundurkan diri.
"Oh cucunya pak Candra?. Ya ampun sudah besar. Bibi sampai tidak mengenali. Silakan masuk. Suami saya biasanya mancing. Tunggu saya panggilkan." Marsih langsung berlalu menuju empang tempang mancing Edi.
Sepuluh menit berlalu, Marsih kembali bersama Edi.
"Kenapa nona kemari? Ada apa?," tanya Edi saat masuk ke rumah.
"Jangan bicara di sini pak. Mari ke sesuatu tempat dulu." Interupsi Selin menoleh kanan-kiri.
Edi hanya mengangguk. Lalu mereka berjalan ke luar rumah menuju halaman belakangan.
"Jadi, anak yang waktu itu apakah sudah mati?." Tanya Selin tidak sabaran.
Edi tidak langsung menjawab. Ia memandang hamparan sawah yang di tanami padi. Menghela napas dalam-dalam.
"Entahlah nona. Saya tidak yakin. Sebab kondisi bayi itu sangat lemah."
"Berarti pak Edi tidak membunuh bayi itu."
Ede menggeleng, "Saya tidak tega membunuh bayi tidak berdosa itu nona."
"Sial. Buukankah tinggal dihanyutkan ke sungai, urusan selesai. Atau cekik saja lehernya." Dengus Selin kesal mendengar jawaban mantan sopirnya.
"Terus dia dimana sekarang?."
Edi menggeleng. Ragu-ragu ingin menjawab. Ia tidak ingin bayi itu kenapa-napa.
"Aku yakin pak Edi tahu tempat itu. Antar aku ke sana. Aku tidak menerima penokan," pungkasnya menyerahkan kunci mobil ke tangan Edi.
__ADS_1
Edi menghembuskan napas berat. Dengan berat hati ia mengantar mantan majikannya ke lokasi kali pertama bayi itu dibuang.
...----------------...