Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 36 Menghantar


__ADS_3

ARIN POV


Hari ini, sekolahan Allea mengadakan pentas seni dalam rangka penutupan tahun ajaran. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Bocah gembul itu sebentar lagi masuk TK.


Kiloanmeter dari sini, ada seorang ibu yang berduka atas kepergian anak tercintanya. Selin Anesa. Dia benar-benar pergi untuk selamanya. Dan akan dimakamkan pukul 01.00 siang. Ibu Intan mengabariku. Ya, aku putuskan memanggilnya Ibu.


"Allea, Bubu belum sempat ngobrol dengan Mamimu. Janji yang pernah Bubu lontarkan dulu belum kesampaian. Menggampar orang tuamu dengan sendal legend Bubu." Lirihku tersenyum tipis dan mencium keningnya. Dia menggeliat, mengubah posisi tidur. Membelakangiku.


"Yakin? tega menggamparku?." Suara bas setengah serak itu menimpali monologku. Sejak kapan dia berdiri di situ?. Aku melangkah menghampirinya. Tidak ingin mengusik tidur Allea. Ini belum waktunya dia bangun. Semalam Aslan memutuskan menginap. Ish. Malu rasanya, jika mengingat kejadian semalam.


"Tentu saja tega. Sini aku gampar!. Silakan pilih. Pakai sendal jepit. Heels, teplon atau."


Cup.


Aku melotot dan mematung. Kaget dengan serangan kilatnya. Pikiranku kosong. Aslan sialan!, bisa tidak kasih aba-aba dulu. Itu membuat jantungku ambrol.


"Aslan! Apa yang kau lakukan? Sial, kan jadi lupa aku tadi mau ngapain." Decakku kesal.


Dia hanya terkekeh sembari melangkah ke lantai bawah. Ah iya, mau buat sarapan. Sekaligus cek persedian bahan-bahan. Semalam Rio dan Mira belum sempat memeriksa. Setelah kafe di tutup, mereka melarikan diri. Meli izin dua hari ke Bogor, tempat saudaranya. Ingin menenangkan hati dan pikiran. Dia sangat berduka atas kejadian yang menimpa idolanya.


Bian is calling...


Aku melengkungkan bibir membaca kontak si pemanggil, lalu menekan tulisan answer.


"Lohai Bian. Apa kabar? Long time no speak up." Ucapku antusias. Kangen sekali dengan manusia super sibuk ini.


"Antara baik dan buruk, Rin." Balasnya mendengus. Mungkin sedang mengusap wajahnya di seberang.


"Apa yang terjadi?," tanyaku khawatir.


"Keadaan papa semakin buruk. Aku di suruh segera nikah. Papa ingin melihat mantunya. Itu kabar yang sangat buruk, bukan?. Ck. Sial." Jawab Bian. Suaranya bersungut-sungut.


Aku menawan tawa. Andai saja dekat, pasti aku menggodanya. Lalu dia akan memiting leher dan menjitak kepalaku.


"Lalu kabar baiknya. Tunggu saja ya beberapa hari lagi." Lanjutnya sembari tertawa kecil.


Sungguh menyebalkan. Justru itu membuatku semakin penasaran.


"Oh iya, Jakerdah apa kabar?." Imbuhnya lagi.


"Panas, Banjir, Macet." Ungkapku tertawa kecil.


"Sial. Aku juga tahu itu. Maksudku. Kau, Allea sehat? lalu kafe berjalan lancar? terus ada masalah enggak di hotel?." Bian menegaskan. Dari suara speaker telepon terdengar samar suara tante Vani. Dia bicara selintas dengan tante.


"Emmm. Aman terkendali bos. Kau tidak tanya kabar terkait Aslan?." Ucapku menatap Aslan yang sedari tadi menekuk wajahnya. Entah dia cemburu atau tidak suka kalau aku mengobrol dengan Bian.


Bian hanya mendengkus. Aku tertawa kecil.


"Salam untuk Tante dan Paman ya. Oh iya Bi. Kau udah tahu kabar belum?." Lanjutku sembari meletakkan roti bakar ke piring. Lalu menyodorkan ke hadapan Aslan.


"Kabar apa?."


"Selin meninggal."

__ADS_1


"Ya alhamduillah kalau begitu." Ucapnya ringan.


Aku tidak segera menjawab. Terkejut dengan ucapan Bian.


"Hei. Mulut kalau ngomong." Aku menjeda. Soalnnya Bian menyela ucapanku.


"Hah. Kau tidak tahu kebusukannya, Arin. Kalau saja dia menyentuh seujung rambutmu. Aku pastikan dia enggak umur panjang."


Aku merinding mendengar perkataan Bian, "Ha? Apa maksudmu, Bi."


"Kematian Emma, dia penyebabnya."


"Apa?." Pekikku membulatkan mata.


Menatap Aslan yang sedang menikmati kopinya dan menatapku dengan menautkan kedua alisnya. Tanganku gemetar mendengar penjelasan Bian. Apa dia gila?. Kenapa tega membunuh teman dekatnya?.


Aslan, akankah kau membenci Allea, jika tahu kejadian yang menimpa tunanganmu?. Aku menggeleng. mengusir prasangka buruk. Allea darah dagingnya. Dia tidak salah. Aku mengangguk dan menggeleng.


"Ada apa? Kenapa lihatin aku? Apa kau terpesona dengan ketampananku." Ucapnya mengagetkan.


Aku bersedekep menatap Aslan sembari manggut-manggut, "Hmmmm masih tampan mas-mas 2 dimensiku." Kekehku berlalu ke lantai dua membangunkan Allea.


"Hei. Mereka enggak nyata." Sanggahnya kesal.


Dia tahu apa yang kumaksud. Sebab, saat bersamanya aku sering membahas komik yang kubaca. Lebih tepatnya, meracuni dia supaya ikut membaca.


...----------------...


Pukul 08.00 pagi, acara pentas seni segera dimulai. Semua undangan wali murid memasuki ruangan. Aku mendengar bisik-bisik mereka. Menuduhku orang ketiga diantara hubungan Aslan dan Selin. Bahkan ada yang menerka kecelakaan yang menimpa Selin itu adalah ulahku.


Doa pembuka dipimpin Ibu Dewi selaku pembawa acara. Selanjutnya kata sambutan dari pihak ketua panitia, koordinator Yayasan Gemilang dan kepala sekolah PAUD & TK Gemilang.


Acara dilanjutkan dalam pentas seni. Aku meneteskan air mata melihat Allea tampil. Cepat sekali besarnya. Perasaan baru kemarin dia bisa jalan. Aslan mengusap-usap pundakku.


"Dasar cengeng," bisiknya sembari menyodorkan tisu dari tasku yang dia bawa.


Ya, aku memang cengeng jika menyangkut Allea. Bahkan aku pernah berpikir akan sepedih apa hatiku, jika Allea diambil paksa oleh Selin.


Dan saat mendengar kabar duka atas kepergian Selin. Aku justru bernapas lega. Jahat memang.


Pukul 11.00 siang. Acara itu telah selesai. Kami langsung menuju ke tempat Selin di kawasan Menteng. Jalanan cukup padat. Biasa weekend.


"Ehm, Keluargaku ingin bertemu denganmu."Ucap Aslan memulai obrolan.


"Ha? Kapan? Duh aku takut." Jawabku grogi. Ini pengalaman pertama. Tentu harus membuat mereka terkesan. Apa ya kira-kira yang dilakukan saat bertemu keluarga kekasihnya?. Mengajak ngobrol sekan mengenalnya? Diam saja menunggu di sapa? Atau mengekori sang kekasih?.


Entahlah. Aku menghela napas panjang sembari melihat pandangan diluar kaca mobil.


"Mereka baik. Enggak usah takut. Langsung saja ya. Setelah ini." Ungkap Aslan meraih tanganku lalu dicium.


Ya gusti. Apa dia tidak tahu reaksi hatiku?. Semoga saja tidak dengar dekup jantungku.


"Apa hatimu baik-baik saja kalau tanganmu aku cium begini?," lanjutnya tersenyum tipis sembari mencium punggu tanganku lagi dan menatap intens.

__ADS_1


Aku melotot. Tidak usah tanya bambang. Itu membuatku malu sekaligus pingin. Ah tidak. Dasar otak kotor. Jangan mikir macam-macam.


"Itu lampunya sudah hijua." tandasku mengusir rasa malu. Membenarkan posisi duduk. Mengubah suhu AC.


"Hahaha. Kenapa? gerah?." Godanya mengacak-acak rambutku.


Aku mendengus. Malas menjawab. Menoleh ke jok belakang. Allea masih tidur pulas. Lalu melirik Aslan yang kembali fokus mengemudi.


"Aslan. Haruskan nanti aku kasih tahu ibu kandungnya?." retorikku tiba-tiba menatap Allea lewat spion kaca.


"Tidak usah. Buat apa? Toh ibu yang paling dia sukai hanya kau."


Senyap. Aku tidak membantah. Tidak lama kemudian. Kami memasuki kawasan elit perumahan Menteng. Lalu Aslan memarkirkan mobil di lahan kosong dekat rumah duka.


"Aku saja yang gendong Allea." Ucap Aslan membuka pintu belakang menggendong Allea yang masih terlelap. Dan tangan kirinya menggenggam tanganku. Aih Aslan, perlakuan kecil ini yang sering kali membuatku melting. Meski terlihat sepele tapi mampu membuat hatiku berdesir.


Kedatangan kami menjadi pusat perhatian. Aku hanya tersenyum kiku. Sesekali Aslan tersenyum simpul pada awak media. Menolak bujukan mereka untuk memberi tanggapan atas kejadian yang menimpa Selin.


Belum sempat masuk. Aku melihat keranda jenazah keluar. Digotong ke ambulan. Di ikuti Ibu yang menunduk menyeka air mata. Lalu Papa merangkul bahunya.


"Selamat jalan Selin." Lirih Aslan menatap keranda itu. Aku menoleh. Dan penasaran apa yang dia pikirkan.


"Ayo ikut ke TPU, As." Ajakku dan menerobos kerumunan. Ingin ikut mobil rombongan dari keluarganya. Ibu tidak sengaja melihatku. Dia berjalan mendekat.


"Kau baru datang? Apa kau ingin ikut ke makam?." Tanyanya sembari mengusap rambut sebelah kiriku.


Aku mengangguk. Ibu tersenyum getir. Melambaikan tangan pada seseorang dalam rumah.


"Biarkan Allea tidur di kamar. Tolong ya Bi Sulis." Sarannya. Kami mengangguk. Menyetujui.


...----------------...


Acara pemakaman Selin telah selesai. Perlahan orang yang ikut ke makam kembali. Tetapi Ibu, Papa, Aku dan Aslan masih mematumg menatap pusara Selin.


"Semoga amal ibadahmu diterima di sisiNya." Lirihku sembari melirik ke samping kiri.


"Emma Rajendra". Bathinku sembari menatap Aslan. Teringat perkataan Bian tadi pagi.


"Kecelakaan itu hanya rekayasa, Arin. Dia menyuruh orang untuk menabrak Emma dengan skenario kecelakaan lalu lintas. Dulu mereka berteman dekat, walau beda agensi. Lalu berita mengejutkan dari media terkait Aslan yang bertunangan dengan Emma, si artis naungannya. Itu membuat Selin enggak suka. Karena dia menyukai Aslan."


Aku menghela napas pelan. Dan mengedarkan pandangan. Mama juga dimakamkan di sini. Kakiku bergerak ke batu nisan Mama diikuti Aslan.


"Nira Amina." Komentar Aslan menggeleng.


"Hmm. Makam Mamaku." Lirihku mencabut rumput di pusara Mama.


"Hallo. Mama. Aku Aslan. Calon suami putrimu. Terima kasih sudah melahirkan dia ke dunia ini. Putri anda tumbuh menjadi anak yang sangat baik dan cantik."


"Ehm. Apa yang kalian lakukan? ayo pulang." Ucap Papa.


"Aku hanya menengok Mama, Pa. Kebetulan Mama juga dimakamkan di sini."


Tunggu.Tunggu. Kenapa aku panggil Papa? Astaga. Bisa-bisanya keceplosan seperi ini. Tapi dia tidak protes. Justru mendekati batu nisan Mama. Reflek aku memberi tempat.

__ADS_1


Papa tidak bicara. Dia hanya menatap pusara Mama. Lalu terdengar semilir angin yang berhembus. Menggugurkan daun-daun kering. Menerpa pepohonan membuatnya melambai-lambai.


...----------------...


__ADS_2