Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
BONPA Episode 11


__ADS_3

Sebagai kegiatan liburan semester genap, Pondok Pesantren Nurul Furqon tempat Melvin mondok mengadakan Dauroh Quran. Dan Melvin mendapat amanah menjadi salah satu kakak musyrif.


Dari selesai subuh hingga menjelang maghrib para santri putra sili berganti menyetor ayat yang telah di hafalkan.


"Bas, besok tolong terima setoran anak-anak ana." Ucap Melvin sembari memasukkan satu-dua bajunya ke tas.


"Antum mau kemana? Kabur?" kernyit Abbas melihat teman sekamarnya itu tergesa-gesa.


Melvin menggeleng. "Urusan pribadi. sangat penting." Lalu ia memanggul tasnya siap keluar lewat jendela. Pintu ajaibnya yang sering digunakan kala malas mengikuti rutinitas asrama.


"Hei, seriusan antum kabur?. Bagaimana kalau ketahuan Ustadz Ilham?. Ana harus alasan apa?" panik Abbas sembari menahan pergelangan Melvin.


Ia menepis tangan Abbas sembari menghela napas. "Apa saja, Abbas. Misal kurang enak badan atau apapun. Hanya semalam. Besok ana sudah balik."


"Tapi."


"Tolong, Abbas. Ini sangat mendesak. Ana percaya pada antum. Assalamualaikum." Pamit Melvin naik ke bibir jendela, lalu melompat ke pagar tembok pembatas antara asrama dan jalan setapak.


Setelah mendarat sempurna ia langsung berlari ke arah telepon umum terdekat. Menghubungi Romi untuk menjemputnya di bandara Halim sekaligus menyiapkan keperluannya. Ponsel, penginapan dan lainnya.


Lalu ia mampir ke konter yang melayani pembelian tiket pesawat, tiket kereta antar kota dan sebagainya.


"Mas, tiket pp ke Jakarta. Sekarang." Pinta Melvin sembari menyerahkan KTP-nya


"Siap." Si pejaga konter langsung mengetik di keyboard lalu mencetak tiket Melvin.


"Terima kasih, Mas. Oh iya, bisa tolong antar saya ke bandara?. Ralat, saya sewa motor anda sehari semalam satu juta." Ungkap Melvin sembari menyodorkan uang dan melirik motor matic di sebelah kanan.


"Oke dek. Rezeki yo ndak boleh di tolak. Sebentar aku ambilin kuncinya dulu." Balas si penjaga konter sembari tersenyum dan mengambil kunci motornya.


"Iki kuncine, dek. Hati-hati. Ojo ngebut." Nasehatnya sembari menyerahkan kunci motor.


Segera Melvin mengendarai motor matic itu dengan kecepatan tinggi menuju bandara.


"Bocah gemblung. Di kandani kok ora nurut. Wis karepmu kalau ada apa-apa. Sing penting motorku gak rusak." Komentar si penjaga konter dan kembali ke aktivitasnya.


Rencana awal memang tidak akan datang. Namun setelah dipikir-pikir, ia memutuskan untuk datang. Apapun caranya.


Setelah perjalanan kurang lebih dua jam, Ia sampai bandara. Terlebih dulu menitipkan motor sewaannya di salah satu rumah warga dekat bandara. Lalu ia berlari ke arah boarding pass. Lewat sedikit saja, pasti ketinggalan.

__ADS_1


Melvin mengusap pelipisnya seraya menghela napas. Lalu ia mengulum senyum dengan kegilaan yang dilakukan.


"Baru kali ini melakukan sesuatu tanpa rencana matang."Gumam Melvin sembari melirik arlojinya. Yang menunjukan pukul 17.45 WIB. Otaknya langsung bekerja ketika sampai tujuan nanti dan melafadzkan doa dalam hati. "Semoga tidak macet."


Nihil. Mobil Romi tidak bergerak. Setelah keluar dari area parkir. Melvin sampai bandara Halim kurang lebih pukul 19.45 WIB. Segera ia mencari keberadaan Romi. Lalu setelah ketemu, ia meminta Romi untuk mengendarai mobilnyab dengan kecepatan tinggi. Tapi sayang, jalanan ibu kota di hari weekend sangat tidak bersahabat.


Melvin pun hanya bisa menghela napas panjang. Hampir dua jam kejebak macet membuatnya frustasi. Dan saat jalanan lancar, ia meminta Romi mengemudi dengan kecepatan tinggi.


...----------------...


Kepulangan Melvin yang mendadak itu tidak di ketahui keluarganya. Ia sengaja melakukannya. Karena, jika mereka tahu urusan makin panjang.


Sebenarnya, ia ingin bertemu Allea sebelum kembali ke pondok. Namun setelah dipikir ulang, lebih baik tidak. Sebab itu bisa jadi membahayakan gadisnya, jikalau ketahuan orang kepercayaan Kyle yang tersebar di mana-mana.


Melvin menghela napas dan meraih ponselnya di nangkas dekat tempat tidur.


[Melvin: Assalamualaikum. Selamat pagi, Allea. Sedang apa?.]


Melvin menatap ponselnya sembari mengulum senyum. Mengingat kejadian semalam.


[Yaa Qalbii: Waalaikumsalam. Pagi juga.]


[Yaa Qalbii: Jadwal ngangon]


Melvin cekikikan membaca pesan Allea diiringi hati berdebar hebat sekaligus berbunga-bunga. Tidak menunggu lama ia membalas pesan itu.


[Melvin:Ortu kemana? kok kamu yang jaga si kembar?.]


Setelah mengirim pesan, ia menatap layar ponselnya. Yang penuh dengan photo Allea. Dari tema wallpaper di wchat. Photo profil hingga tampilan pada layar ponselnya. Tetapi kalau untuk profil, Melvin mengedit photo Allea dengan efek sketsa. Sehingga Mama-papa dan keluarganya tidak tahu jika photo profil yang di gunakan itu seorang gadis spesial bagi Melvin.


[Yaa Qalbii: Biasa weekend, jadwal waktu berduaan. Oh iya, kapan balik pondok?.]


[Melvin: Siang jam 13.00. Balas suratku, Allea!.]


[Yaa Qalbii: Duh lupa naruh, Vin. Enggak mungkin juga sekarang nyari.]


Melvin senyum-senyum setiap membaca pesan Allea. Ia membayangkan seakan bicara face to face dengan gadisnya.


[Melvin: Ya sudah kalau gitu nulis saja surat 'Melvin tampan, ana uhibbuka']

__ADS_1


Setelah membalas pesan, Melvin cekikikan. Dan hatinya berdebar. Ia tidak sabar menunggu tanggapan Allea.


[Yaa Qalbii: Milvin timpin, ini ihibbiki.]


Melvin mendelik dan terbahak-bahak membaca pesan Allea. Seolah ia mendengar gadisnya ngomong seperti itu.


[Yaa Qalbii: sent your lokasi bro. Gue sudah nulis request lu.]


[Melvin: Hotel Best Western Premier The hive. Jatinegara. Jaktim. No. 34. nomor kamar 302 atas nama tuan Melvin. 😊]


[Yaa Qalbii: Sip. Sudah gue kirim. ditunggu saja. Oke kalau gitu sampai di sini ya chat nya. Gue mau nyuapin si kembar. Hati-hati, Vin.]


Raut wajah Melvin berubah sendu setelah membaca pesan gadisnya. Ada rasa tidak rela obrolan mereka berakhir. Ia menghela napas.


[Melvin: Oke. Terima kasih, Allea. Jaga kesehatan. Jangan lupa makan.]


Sepuluh menit berlalu, Allea tidak membalas pesannya. Ia mendengus. Dan beranjak ke arah jendela. Menatap pemandangan di balik jendela. Lalu-lalang kendaraan. Terdengar raungan klakson mengudara. Bunyi sirene menggema, entah dari ambulans, polisi atau pemadam kebakaran.


Melvin menghembuskan napas sembari menyugar rambutnya. Dan atensinya terusik saat terdengar suara ketukan dari arah pintu.


Ceklek


"Ada paket, tuan. Atas nama Melvin Tampan." Ucap pegawai hotel itu sembari membaca nama si penerima yang tertera.


Hampir saja Melvin menyemburkan tawa. "Ehm. Iya saya sendiri. Terima kasih." Balas Melvin menerima surat itu dengan perasaan bahagia.


Si pegawai hotel pun berlalu sembari mendunduk hormat pada customernya.


Melvin segera membuka surat Allea. Ia tidak sabar dengan apa yang ditulis gadisnya.


Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, ya akhi.


Pasti lu mau koment 'kan kalau gue enggak pakai salam. Ini gue kasih lengkap, supaya Allah Ta'ala melimpahkan keselamatan, Rahmat dan barokah-Nya. Masya Allah. Mendadak gue cosplay ukhti-ukhti sholehah.


Melvin terkekeh."Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ya ukhti."


Apa lagi ya yang harus gue tulis. Jujurly, gue bingung mau nulis apa. Pokoknya sukses selalu deh. Dan semoga kita bisa ngobrol panjang lebar. Thank you for everything, Melvin :). Hati-hati di jalan, Tuan Muda Melvin tampan.


"Hahaha. Aku ingin lihat reaksimu pas omong 'Melvin tampan'. Pasti lucu menggemaskan." Desisnya seraya melipat selembar surat itu, dimasukan ke tas.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2