
Allea menghembuskan napas panjang setelah bel pelajaran terakhir selesai. Ia melepas kacamatanya.
"Pala gue muter-muter euy."Keluh Allea sembari memijat batang hidungnya.
"Elu yang otaknya ecer saja muter-muter. Apa lagi gue yang dengdong MTK. Sebelum nerima soal, kepala gue berasa pecah duluan ." Sahut Ghea memijat pelipisnya dan menghela napas berat.
Allea memalingkan wajahnya ke arah Ghea seraya menyunggingkan senyuman.
"Enggak dengdong-dengdong amat, Ghe. buktinya, elu rank dua." Hibur Allea.
Ghea hanya nyengir. Lalu merogoh kantong roknya. Telepon genggamnya bergetar. Satu notifikasi masuk.
[Big Bos: Hp dia tidak bisa dihubungi. Kenapa?.]
"Mana gue tahu." Celetuk Ghea saat baca pesan itu.
"Kenapa Ghe?."
"Hp elu mati?."
Allea menepuk jidatnya. "Oh ya ampun. Gue lupa nyalain."
"Ha?. Dari pagi?." Heran Ghea pada si teman karib yang tidak begitu peduli dengan handphonenya.
"Hehehe. Iya. Kebiasaan kalau di charge gue matiin. Terus kadang lupa nyalain lagi." Jawab Allea sembari mengaktfikan ponselnya.
Ghea geleng-geleng. Lalu mengetik di layar ponselnya. Membalas pesan sang atasan.
[Ghea: Hpnya lupa di aktifiin sedari pagi. Laporan selesai.]
[Big Bos: Belum selesai, Ghea!!!. Siapa nama kakak kelasmu yang minggu kemarin nganterin dia?.]
[Ghea: Senin-Kamis di anter Kak Fauzi. Hari Jumat, Kak Fauzan. Ada lagi?.]
[Big Bos: Oke. Thank you.]
Setelah membaca pesan itu. Ghea mengernyit.
"Dia tahu dari siapa?. Sejauh mana dia ngawasi cewek narsis bin bar-bar ini?." Bathin Ghea sembari menatap Allea yang sibuk dengan ponselnya.
"Mau pulang bareng gue, Al?." Tawar Ghea sembari memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ia tahu jika Romi-sopir pribadi Allea masih izin kerja.
"Boleh deh. Tapi."
"Gue tahu. Elu belum pernah naik angkotan umum 'kan. Tenang, nanti gue antar sampai halte dekat rumah lu." Potong Ghea, seakan tahu apa yang ingin dilontarkan si teman karib.
Allea tersenyum dan menggamit tangan Ghea. "Makasih loh. Du ileh baik banget lu, Ghe. Mau-maunya anterin gue. 'kan rumah kita enggak searah."
Ghea hanya tersenyum kiku. Tentu ia akan melakukan apa saja jika berurusan dengan sang gadis pujaan hati si pemberi beasiswa.
Mereka pun meninggalkan kelas menuju halte terdekat sekolah. Namun, kerumunan di gerbang menghentikan langkahnya.
Allea dan Ghea saling tatap. Lalu kompak mengangkat bahu.
"Misi-misi. Air panas." Celetuk Ghea supaya mereka minggir. Allea mengikuti di belakangnya.
Reflek para siswi menggeser posisi tubuhnya. Ghea memimpin jalan sembari celingungan. Mencari sesuatu yang menjadi pusat perhatian warga Kolios ini.
Ia menyeringai. Saat menoleh sebelah kanan. Sosok yang begitu familiar di matanya.
Seorang pria mengenakan t-shirt hitam dipadu dengan celana cargo panjang. Tangannya bersedekap sembari menyisir kerumunan mencari sosok gadis yang ingin ditemui.
Ghea langsung menyenggol lengan Allea, "Ciee. Uhui. Ehm. Di jemput nih."
Si empu lengan mengernyit sembari menatap Ghea. "Ha? maksudnya apa?."
"Sebelah kanan, Al." Interupsi Ghea.
"Mata gue enggak jelas. Blur semua." Sahut Allea sembari mengaduk-aduk tas mencari kacamatanya. Semenjak SMP kelas VII, ia mengalami gangguan mata miopi.
"Assalamualaikum, Allea." Ucap pria itu menghentikan aktivitas Allea.
"Kyaaaa. Suaranya." Serentak para siswi menjerit heboh saat mendengar salam pria itu.
"Astaga. Enggak baik untuk kesehatan jantung." Keluh Ghea mengelus dadanya.
"Melvin? Ngapain di sini?." Desis Allea menyipitkan mata.
"Kalau ada yang ucap salam itu di jawab, Allea."
"Sudah gue jawab kok. Tapi dalam hati." Sangkal Allea sembari tertawa kecil.
Melvin tersenyum samar mendengar sanggahan Allea. Namun atensinya terusik akan bisik-bisik dari para siswi yang mencibir gadisnya sesuka hati.
Menilai Allea kecentilan, genit dan masih banyak lagi kata-kata negatif. Cibiran itu membuatnya kesal. Ia mengeraskan rahang sembari mengepalkan tangannya. Menggeser posisi, Ingin menegur mereka.
Allea menggeleng. "It's oke, Melvin. Gue enggak apa-apa. Enggak perlu debat dengan mereka. Percuma, buang-buang energi."
"Hah? Tapi, Allea?. Kamu tidak sakit hati mendengar omongan mereka?. Bilang saja. Aku cukup mampu membeli mulut-mulut sampah mereka, agar tidak memvonismu seenaknya." Sungut Melvin menatap gadis pujaan hatinya.
Allea tertawa kecil. "Gue sudah kebal, Vin. Tenang saja, Allea sang pemaaf enggak sakit hati."
"Baiklah jika begitu." Balas Melvin sembari tersenyum bangga pada gadisnya.
__ADS_1
Ghea geleng-geleng. Pemaaf apanya?. Coba saja tidak ada Melvin, pasti ia akan mengumpat. Menyumpahi mereka.
Setelah kejadian si ketua osis mengantarnya tempo lalu itu menyebar. Ia menjadi bahan gunjingan seantero Kolios. Bahkan pernah di maki klub penggemar si ketua osis.
Apakah Allea akan diam saja? Tentu tidak. Ia pun membalas makian mereka. Hingga salah satu anggota klub itu menangis mendengar makian Allea. Untung saja kejadian itu di luar sekolah. Jika di area sekolah. Pasti mereka di arak ke ruang BK.
"Ehm. Gue duluan ya. Tj arah rumah gue sudah datang. See you monday, Allea. Happy weekend." Pamit Ghea melambaikan tangan.
"Hati-hati, Ghea. Eh. Hei, kok gue di tinggal?. Terus gue."
"Aku anter, Allea." Sahut Melvin cepat mengalihkan atensi Allea.
"Ha? tapi."
"Aku sudah izin ke Tante Arin dan Om Aslan. Mereka sudah oke kok." Potong Melvin sembari tangannya mengambil alih tas Allea.
"Kyaa. Gue juga mau digituin." Seru mereka heboh.
Allea mengernyit menangkap ucapan Melvin. Sejak kapan punya nomor kontak orang tuanya?. Berarti mereka sering kirim pesan?. Lalu kenapa Bubunya tidak cerita?. Allea menghela napas. Pertanyaan demi pertanyaan menyapa otaknya.
"Hah. Sudahlah nanti tanya saja sama Bubu." Ucapnya dalam hati. Lalu menyisir rambutnya dengan jemari.
Diantara kerumunan itu ada sepasang mata yang mengawasi mereka sembari mencengkram setang motornya.
Sepasang mata itu milik Fauzi. Ia kesal melihat sikap Allea yang terlihat sangat akrab dengan pria itu.
"Siapa dia?." Desisnya menahan rasa amarah yang meluap. Lalu ia menjalankan motornya sembari menekan klakson kuat-kuat.
...----------------...
Hendi-sopir Melvin mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Mereka enggan membuka obrolan. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya deru mesin mobil sebagai latar suara diantara mereka.
"Pak Hendi. Kita mampir ke restoran biasa, ya." Interupsi Melvin memecah keheningan.
"Baik tuan." Balas Hendi sembari melirik majikannya lewat kaca spion dekat kemudi. Lalu kembali fokus mengemudi.
"Eh. Gue belum laper, Vin."
"Aku yang lapar, Allea. Tadi selesai jumatan belum sempat makan."
Suara lembut Melvin menimbulkan gelenjar aneh dari dada Allea. Ia memalingkan wajah ke samping kiri. Melihat jalanan dari balik kaca.
"Sial. Dada gue kenapa sih?. Tolonglah jantung, jangan berdekup kesetanan gini. Astaghfirullah. Sadarlah Allea. Jangan kepedean kalau dia menyukai lu. Ya... meskipun kelihatannya memang begitu." Gumam Allea dalam hati sembari mengulum senyum.
Hendi dengan lihai memarkirkan mobil sedan hitam itu di basement salah satu Mall elit ibukota.
"Kita sudah sampai tuan." Komando Hendi membukakan pintu untuk Melvin.
"Terima kasih pak." Ucap Melvin segera pindah ke sebelah kiri. Lalu membukakan pintu untuk Allea.
"Nah 'kan, jantung gue kayak lari marathon. Bener-bener enggak bisa bohong. Tahu saja wajah tampan rupawan bak pangeran kerjaan." Bathin Allea lagi. Menyunggingkan sudut bibirnya.
"Ehm. Gue bisa sendiri, Vin. Itu bikin gue enggak enak." Protes Allea sembari keluar dari mobil. Perlakuan Melvin membuatnya canggung.
"Kenapa? Bukankah kemarin pas di anter kakak kelasmu tidak keberatan." Melvin langsung melotot dengan perkataannya. Ia sadar jika keceplosan.
Allea mengernyit. Mencerna omongan Melvin.
"Hei. Elu kok."
"Pak Hendi ikut saja masuk. Ayo makan bersama." Pinta Melvin mengabaikan pekikkan Allea.
"Tapi tuan."
"Allea, kamu tidak keberatan 'kan?."
Allea hanya mengangguk. Ia masih penasaran kenapa Melvin bisa tahu jika dirinya di antara kakak kelas.
Melvin tersenyum ke arah Hendi. "Tidak apa-apa, Pak. Melvin tahu Pak Hendi juga belum makan. Ayo!."
Terpaksa Hendi mengikuti titah sang majikan. Ia mengekori mereka ke dalam Mall.
"Melvin. Elu tahu."
"Kalau kamu ke sini, biasa makan di restoran mana, Allea?." Lagi-lagi Melvin memotong ucapan Allea.
"Restoran Jepang." Dengusnya kesal.
Ia menggeleng. Mengerutkan keningnya memikirkan sikap Melvin. Lalu mengangguk. Benar, pria itu menghindari pertanyaannya.
Allea mengurangi derap langkahnya. Ia menyejajari Hendi.
"Pak Hendi, sudah berapa lama ikut Melvin." Basa-basi Allea untuk meredam kekesalannya.
"Sejak tuan muda Melvin baru lahir, Non." Jawab Hendi sembari tersenyum.
Hening sejenak. Allea mengingat tahun lahir Melvin.
"17 tahun?." Allea menebak. Hendi mengangguk membenarkan.
"Apanya yang 17 tahun, hmm?." Sambung Melvin balik badan.
"Apaan sih?. Elu itu enggak di ajak." Decak kesal Allea membuat Melvin tertawa kecil. Begitu juga dengan Hendi.
__ADS_1
"Baiklah. Aku minta maaf kalau buat salah. Coba bilang, apa yang membuatmu kesal?." Pintanya sembari masuk ke restoran Jepang. Diikuti Allea dan Hendi.
"Dih enggak nyadar. Gue cuman mau nanya, elu kok bisa tahu gue di anter kakak kelas? Bisa tahu nomor kontak Bubu sama Papi. Terus, ini 'kan belum liburan, kok elu sudah pulang?." Sungut Allea mendengus.
Melvin menggaruk tengguknya yang tidak gatal. "Hehehe. Banyak juga ya, pertanyaanmu."
"Kamu pilih mana yang harus aku jawab, Allea?." Lanjut Melvin sembari sibuk membuka-buka daftar menu.
"Semuanya, Melvin sialan. Ah serah dah. Demen banget bikin gue naik tensi." Jerit Allea dalam hati.
Namun ia tidak mampu menyuarakan isi hatinya. Pesona suara Melvin yang terdengar serak-serak berat serta nada bicaranya yang kalem, lembut mendebarkan itu menyihir jiwa Allea.
"Pak Hendi pilih menu yang mana?." Tanya Allea mengabaikan perkataan Melvin.
"Aduh saya bingung non. Namanya aneh-aneh gini. Setahu bapak cuman nasi padang, warteg sama nasi uduk." Kekeh Hendi sembari membolak-balik daftar menu.
Allea mengulum senyum. Ia menggeser posisi duduknya, mendekat Hendi. "Pak. Kalau ditlaktir itu pilih menu yang paling mahal." Bisik Allea cekikikan.
"Saran Allea, bapak pilih menu Beef teriyaki bento. Enak menurut saya." Lanjutnya mengacungkan jempol. Hendi menggeleng. Lalu mengangguk mengikuti saran Allea.
Melvin menghela napas. Ia paham bila gadisnya sedang merajuk.
"Kamu mau aku jawab semua pertanyaanmu?." Retorik Melvin setelah selesai memilih menu.
Allea menatap Melvin sekilas. Helaan napas panjangnya sebagai jawaban. Lalu melanjutkan membuka-buka daftar menu.
"Ini juga enak, Pak." Informasi Allea menunjuk gambar sushi. Hendi hanya tersenyum kiku sembari melirik tuan mudanya.
"Mas. Tambah salmon volcano roll, ya." Ucap Allea pada pramusaji yang mencatat pesanan mereka.
Setelah selesai membaca ulang pesanan mereka, si pramusaji melangkah ke belakang. Menginfokan pada rekan kerjanya.
Melvin menautkan jemarinya. Ia tersenyum melihat Allea sibuk merapikan rambut yang diterpa semilir angin.
Hendi berdehem. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Salah tingkah dengan sikap dua remaja beda gender ini.
"Ehm. Bapak ke toilet sebentar, ya." Pamit Hendi beranjak.
"Oke, Pak." Kompak Allea dan Melvin sembari mengangguk.
"Kamu ngambek?."
"Siapa yang ngambek?. Cuma dongkol saja sama orang."
Melvin tertawa kecil. "Apa bedanya, Allea?. Astaga, menggemaskan sekali kalau ngambek." Kata Melvin dalam hati.
"Pertanyaanmu yang pertama. Aku tahu dari Ghea." Ungkapnya sembari mengulum senyum.
"Maaf, Allea. Belum saatnya kamu tahu siapa sebenarnya sopir pribadimu." Bathin Melvin menatap gadisnya lekat-lekat.
"Ghea?." Beo Allea. "Kalian sering chattan?." Desisnya sembari menopang dagu dan memalingkan wajah ke samping.
"Kenapa nih jantung?. Kok reaksinya begindang?. Masa iya gue cembukur?. Enggak mungkinlah jantung Allea yang bersih higienis ini ternodai?. Ih. Tapi kok rasanya panas, ngeselin gini kalau bayangin mereka chattan.Ya ampun. Benarkah ini yang di namakan cemburu?. Astaga. Bubu, anak perawanmu hatinya sudah ternodai."
"Kadang-kadang kita kirim pesan." Balas Melvin menghentikan keluh kesah Allea dalam hati.
Reflek Allea menatap si lawan bicara yang duduk di seberang meja. Ia Menghela napas. Mengusir rasa ganjil yang menyapa hatinya.
"Berarti bener, sering chattingan." Allea bersikukuh dengan opininya.
Melvin tergelak. "Kenapa? kamu cemburu?."
"Ha?. Apa?. Ke.. kenapa juga gue cemburu?. Bukan urusan gue, kalian chattan atau ketemuan." Sungut Allea menggembungkan pipinya.
"Kamu cemburu, Allea." Kekeh Melvin menegaskan.
"Enggak, ya. Ih enggak percayaan." Elak Allea sembari menyangga kedua pipinya.
"Hahaha. Tapi reaksi wajahmu bilang begitu, Allea." Goda Melvin mengulum senyum dan memperhatikan gerak-gerik gadisnya.
"Ha? Memangnya kelihatan?." Aku Allea tanpa sadar. Lalu melotot mengingat omongannya. Dan memukul pelan bibirnya.
"Haish. Si bodoh." Maki Allea dalam hati.
Melvin mengerjap mendengarnya. Rasa kaget itu belum hilang. Ditambah desisan pernyataan Allea membuat jantungnya mempompa lebih cepat.
"Iya cemburu. Memangnya boleh begitu?." Desis Allea lirih sembari mengambil ponselnya dari saku rok.
"Aku masih bisa dengar, Allea. Tentu saja boleh. Dengan senang hati aku terima rasa cemburumu." Kekeh Melvin sembari menopang dagunya. Memperhatikan gadisnya yang mematung.
Allea mengatupkan bibirnya. "Haish. Mulut sialan. Kebiasaan nyeplos seenak jidat. Sangat memalukan. Elu juga, Vin?. Punya pendengaran tajem banget." Umpat Allea dalam hati sembari komat-kamit memaki dirinya.
Melvin tertawa kecil melihat kelakuan si gadis pujaan hati. Gerakan Allea terhenti saat pramusaji mengantar pesanan mereka. Dan Entah kemana perginya Hendi. Ia belum menampakkan diri hingga Melvin menghubunginya untuk segera kembali.
...----------------...
Hallo kawan. Saya tahu kok bila kalian akan berpikir. "Loh anak pesantren kok gitu sih, thor?. 'Kan dia dapet pelajaran agama. Terkait larangan pacaran sebelum halal, dan Bla bla bla."
Benar. Saya tidak mengelak.
Jika ada yang keberatan atau kurang berkenan, saya mohon maaf. 🙏🙂.
Sebenarnya, kisah Melvin x Allea ini. Saya terinspirasi dari cerita keponakan. Lalu saya modifikasi. 😉
__ADS_1
...🌹🌹🌹...