
"Selin, kenapa nasib kita sama? mencintai tanpa dicintai. Mungkin Mama bisa memiliki Papamu. Tapi tidak dengan hatinya. Seharusnya, cukup Mama saja yang merasakan." Keluh Intan miris. Taktkala melihat dokumen yang berserakan di meja suaminya.
Pro kontra atas deklarasi status Aslan Alister, sang CEO agensi terkenal di ibupertiwi itu menyebar di seluruh jejaring sosial. Semua kalangan membahasnya.
Bahkan media menggali infomasi pasangan sang CEO itu dari pendidikan, orang tua, status pekerjaan hingga agamanya. Sungguh, mereka sangat penasaran sekali.
Salah satu kawasan apartemen elite, seorang perempuan marah hebat. Selin, Tidak terima dengan kenyataan, bahwa lelaki yang ia dambakan, mencintai perempuan lain. Yang membuatnya sangat marah. Mendeklarasikan hubungan mereka tepat di hadapannya.
Tiga hari ia mengurung diri. Meluapkan kemarahan dengan menghancurkan prabotannya. Entah siapa yang harus di salahkan.
"Tidak. Kau hanya milik Selin seorang," teriaknya nyalang. Menunjuk gambar Aslan yang ia pasang di tembok dekat cermin.
"Jika kau tidak menjadi milikku, jangan harap perempuan lain bisa memilikimu. Aslan, Aku tidak mengizinkan itu terjadi. Hahaha." Tawanya memenuhi seluruh ruangan.
"Jangan salahkan aku, Aslan." Seringainya menatap tajam pada gambar ukuran A3.
...----------------...
Dua minggu berlalu begitu cepat. Athan melepas Arin untuk menjalankan hotel Wilson, Ia masih di Jakarta tapi mengelola hotel yang lain. Jika butuh sesuatu atau konsultan, dengan senang hati ia akan mengosongkan jadwal padatnya.
Arin menatap jalanan. Tersenyum kecut sembari merapikan rambutnya yang diterpa angin.
Tidak terbayangkan sebelumnya. Berstatus istri dari seorang pebisnis yang cukup terkenal di ibupertiwi. Dan kembali kerja? kantoran? Berangkat pagi-pulang petang?.
Rencananya tidak sejalan dengan apa yang di canangkan. Ia hanya ingin hidup damai menjalankan kafe sembari membesarkah Allea. Tidak lebih. Tidak kurang.
Ia menghembuskan napas panjang, matanya enggan berpaling dari jalanan. Menyaksikan kendaraan lalu-lalang berebut jalan. Sesekali terdengar klason. Seperti dè javù saat ia kerja di perusahaan kontruksi.
Saat pulang kerja, ia selalu berdiri di halte mengamati kendaraan dan mengeluh jika kehidupan di setiap harinya bagaikan time loop.
Tin..tin.. tin..
Suara klason membuyarkan lamunannya. Ia menoleh sumber suara. Lalu tersenyum melihat seseorang yang mengklaimnya istri. Wajahnya bersemu merah saat ingat kejadian tempo hari.
"Hei! apa kau tidak waras? Kapan kita nikah?," bisik Arin melotot.
"Segera. Jika kau say yes." Balas Aslan sembari tersenyum ke para hadirin dan mengeratkan rangkualnnya.
Hari ini ia akan memutuskan, akankah di terima atau menolak. Dan setiap pilihannya mempunyai konsekuensi yang harus dihadapi.
"Aslan. Bolehkah aku bertanya?," ucap Arin tiba-tiba setelah keheningan diantara mereka.
"Hmm. Silakan," balas Aslan menoleh sebentar sembari tersenyum tipis.
"Tapi, kayaknya enggak jadi." Arin menggeleng. Pikirannya masih berputar di lobby hotel tiga hari yang lalu. Penasaran apa yang dibahas antara Aslan dan Selin.
Tapi ia ragu. Takut jika Aslan salah paham.
__ADS_1
"Ck. Apaan? kalau enggak jadi malah aku yang kepikiran."
"Entahlah."
Begitulah perempuan. Perasaannya garda terdepan dalam memutuskan sesuatu. Penasaran tapi takut sakit hati jika tidak sesuai prediksi.
Aslan menghembuskan napas berat. Arin memalingkan wajahnya melihat pemandangan dari balik kaca mobil.
kelap-kelip lampu taman menghiasi trotoan. Pedangan kaki lima memulai memasang tenda, Membuka lapak dagangan mereka.
Hening. Tidak ada lagi obrolan di antara mereka. Mobil sedan hitam itu telah sampai tujuan. Panti Asuhan Pelita Kasih.
Arin mengajak Aslan menghadap ke Bunda. Penilaian Bunda sangat mempengaruhi pilihan yang akan ditentukan.
"Selamat datang di rumah penantian." Ucap Arin tersenyum tipis.
Aslan menggeleng.
"Aku yang kasih nama itu. Dulu aku selalu berharap Mama menjemputku dan orang dewasa mengadopsi satu-dua diantara anak panti ini. Mengharapkan janji manis, berupa kebahagian, cinta dan kasih sayang dari sosok yang bernama orang tua."
Arin menjeda menatap bangunan tua di hadapannya sembari menghela napas.
"Kau tahu, Aslan? kenapa dulu aku melepas Allea ke tanganmu tanpa berdebat?." Arin menoleh ke Aslan yang setia mendengarkan.
"Aku ingin dia merasakan kasih sayang dari orang tuanya. Eh. Aku melupakan sesuatu." Decak Arin sembari menepuk pelan keningnya.
"Apa itu?."
"Hei. Kau tega memukulku?. Aku mencintainya sejak di kandungan."
Deg.
Hati Arin bergejolak nyeri, saat mendengar kata 'mencintainya'.
Berarti dia sangat perhatian dengan Selin?. Bathin Arin menatap lekat-lekat Aslan. Lalu membuang muka.
Aslan mengernyit. Merasa aneh dengan perubahan sikap wanitanya. Tatkala ingin bertanya. Bunda Siti berdehem layaknya sang satpam keamanan.
"Arin. Kamu datang tidak sendiri?," biasa basa-basi Bunda sembari tersenyum lembut. Arin langsung menyalami Bunda diikuti Aslan.
"Hehehe. Iya Bun. Katanya dia ingin bicara sama Bunda."
"Ternyata putri Bunda pintar bohong. Arin, kenapa tidak bilang ke Bunda? kalau Ayah dari putri yang kamu adopsi itu pemilik acara beberapa tahun silam." Dengus Bunda balik kanan masuk ke rumah.
Mereka mengikuti di belakang.
"Apa kamu lupa kejadian waktu itu? setiap malam kamu menangis. Memang saat itu kamu tertawa saat bermain bersama adik-adik. Tapi kalau sendiri, kamu selalu menangis. Apa kamu kira Bunda tidak tahu, hmm?," jelas Bunda menahan amarah.
__ADS_1
"Maaf Bun,"lirih Arin menunduk.
Bunda mempersilakan duduk dengan isyarat tangan menjulur ke arah kursi.
"Arin, bisa tolong lihatin anak-anak di kamar!" seru Bunda sembari tersenyum.
Bunda menyusirku,'kan?. Bathin Arin mengerutkan keningnya.
"Kenapa? tenang saja. Bunda tidak mungkin mengusirnya". Kekeh Bunda.
Arin beranjak sembari manyun. Aslan menatap punggung Arin.
"Kau mencintainya?. Dia anak yang kuat. Ceria. Pintar. Dan jarang sekali menangis di depan Bunda." ucap Bunda lembut sembari menatap lorong yang masih terlihat sedikit punggu Arin.
Aslan menoleh ke Bunda.
"Aku, Siti. Orang yang membesarkan Arin. Dan beginilah salah satu latar belakangnya. Terkait orang tua kandungnya, kau bisa tanya ke dia."
"Saya, Aslan Alister. Terima kasih atas waktunya. Maaf sebelumnya atas berita yang beredar. Bisa jadi itu sangat mengganggu anda."
Bunda tersenyum tipis sembari manggut-manggut melihat Aslan. Mengamati sosok lelaki di hadapannya. Layaknya sang HRD menyeleksi pegawai baru.
"Dan niat saya kemari, Saya ingin meminta izin untuk menikahi putri yang anda cintai dan besarkan sepenuh hati." Lanjut Aslan dengan nada sedikit bergetar.
"Kau yakin bisa membahagiakannya?. Mencintainya setulus hati. Menerima begitu banyak kekurangannya? Tolong yakinkan hati Bunda, nak. Bunda tidak ingin anak-anak dari panti dipandang sebelah mata."
Bunda menjeda menghela napas. Menyeka buliran air mata.
"Mereka anak yang baik. Apa salah mereka? hanya karena sebagian dari mereka mewarnai rambut, merokok, balap liar. Lalu masyarakat menghakimi mereka anak nakal. Mereka hanya melampiaskan emosi yang mungkin kita tidak tahu."
Lengang sejenak. Terdengar tirai melambai tersimbak semilir angin.
"Percayalah, Bunda. Saya tidak memandang anak panti sebelah mata. Justru saya mengakui, mereka hebat-hebat," Aslan menjeda menghembuskan napas pelan.
"Saya akan membahagiakan putri anda, Alesha Arin. Mencintai kekurangan dan kelebihanyan." Lanjut Aslan mantap.
Bunda tersenyum haru. Melihat tekat kuat lelaki di depannya.
Beda sekali dengan suami Manda. Kenapa dulu aku mengizinkan menikahi Manda? Bagaimana dia sekarang? apakah jadi cerai?. Bathin Bunda gamang.
"Aku izinkan, nak. Tapi keputusan final ada di tangan nak Arin. Sebab dia yang akan menjalani. Kalau dia mantap dan yakin dengan hatinya. Pasti dia akan menerimamu, Bukan begitu Arin?. Keluarlah! Bunda tahu kamu menguping."
Arin keluar dari persembunyian. Ia memang mengumping di ruangan Bunda Siti yang dekat dengan ruang tamu.
"Siapa yang ngumping, Bunda?" elak Arin sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia salah tingkah. Malu. Jiwa penasarannya memang 11-12 dengan Bian. Rasa ingin tahunya level maksimal.
Bunda hanya geleng-geleng kepala dan menghembuskan napas.
__ADS_1
Bian dan Bunda. Hafal sekali dengan kebiasaan Arin. Kalau Bunda aku masih wajarkan. Tapi Bian? kenapa aku tidak terima jika dia tahu segala kebiasaan Arin?. Bathin Aslan sembari menghela napas.
...----------------...