
Dua hari berlalu. Aslan selalu menghindari pertemuan dengan Arin. mendengar namanya saja membuat hati dag dig dug. Tetapi dengan sengaja Rudi selalu menyebut nama Arin. Lalu saat Aslan salah tingkah. Rudi mengulum senyum. Pura-pura tak tahu.
"Wow. Mungkinkah dia membuka hatinya untuk orang lain? Hebat nona Arin. Kau perempuan pertama yang mampu menggoyahkan seorang Aslan". Monolog Rudi sembari tanggannya menari-nari di keyboard mengetik keyword Alesha Arin.
"Ha? Luar biasa. Dia jadi model iklan JS Crop". Komentar Rudi. Lalu Ia terus menyelam hingga sampailah di platfom ytube salah satu kampus ternama. Matanya melotot saat melihat beranda yang penuh dengan nama Alesha Arin.
"Sepertinya dia ikon kampus. Kenapa gak lanjut jadi model?. Tunggu. Apa ini? Wah ternyata dia pandai memainkan alat musik. Aku kira hanya gitar. Eh. Waah dia juga pernah memenangkan perlombaan tingkat nasional. Hebat. Oh dulu dia anak BEM ". Decak kagum Rudi sembari menyunggingkan senyum. Tanpa sengaja getaran aneh menyapa dada Rudi. Entah terharu atau rasa suka.
Rudi menggeleng. Seakan teringat akan sesuatu. Lalu beranjak ke rak buku. Matanya tertuju ke majalah beberapa tahun silam.
"Oh ternyata nama lengkapmu Alesha Arin". Lirihnya saat melihat gambar anak berseragam putih biru tersenyum manis sembari memegang gitar.
Flash Back
Tahun 20xxx
Agensi Alter Entertainmen mengadakan audisi di kalangan remaja tanggung untuk mencari anak berbakat. Tetapi audisi itu hanyalah kamuflase perusahaan tersebut. Tujuan utamanya mencari anak pintar dalam berbagai bidang dan ingin menanggung seluruh pendidikannya.
Bruggkh
"Sori". Ucap anak perempuan berseragam putih biru sembari menatap gedung Alter.
"Aku Rudi Erlangga". Ucapnya tanpa basa-basi dan mengulurkan tangan. Anak perempuan itu mengernyit menatap Rudi.
"Arin". Sahutnya singkat menerima uluran tangan Rudi sembari tersenyum.
Deg
"Gils manis sekali senyumnya. Astaga sadar Rud. Sadar. Inget! dia masih bau minyak telon". Gumam Rudi dalam hati. Lalu ia menepis tangan Arin saat getaran di dadanya semakin menjadi. Reflek meraba dadanya. Ia mengela nafas pelan.
"Sial. Kenapa dadaku? biasanya gak seperti ini saat cewek-cewek di kelas bercanda atau tersenyum". Umpat Rudi pada hatinya yang tak punya sopan-santun.
"Ya kak? Ada apa dengan dada kakak?". Reflek Arin menoleh ke arah Rudi.
"Ehm. Aaa itu. Anu emmm gak apa-apa.". Kikuk Rudi sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Oh iya, kau ikut audisi ini?". Rudi mengalihkan pembicaraan.
"Huuft. Terpaksa harus ikut kak. Kata guru aku. ini tuh audisi bergedok beasiswa. Sssttt tapi jangan bilang-bilang gitu kata guru aku". Bisik Arin sembari celingungan layaknya maling sedang mengintai keadaan. Rudi tersenyum melihat kelakuan bocah di depannya ini. Ia mengabaikan desiran dalam dadanya yang semakin kencang.
"Aku pun juga tahu". Bisik Rudi menyodongkan badannya ke telinga Arin seraya menyeringai.
"Wah. Pasti kakak suaranya bagus atau bisa main alat musik. Kakak lebih pro akademik apa non akademik?". Antusias Arin. Matanya berbinar.
Rudi tercengah. Pikirnya buyar.
"Sialan. Bisa-bisanya tertarik sama bocil. Astaga kalau temen kelas tahu. Aku pastikan sudah di ledekin. Hmmm aku harus diam-diam soal ini. Toh aku gak mungkin ketemu lagi sama bocah ini". Batin Rudi saat sadar akan desiran dihatinya.
"Rahasia. Good luck bocah. Semoga lolos audisi. Aku duluan". Ucap Rudi mengusap kepala Arin dan melangkah menuju gedung megah itu.
Arin mendengus kesal mendengar ucapan Rudi.
Flash Back end
Tanpa sadar. Rudi mengembangkan senyum sembari menatap wajah anak berseragam putih biru di majalah. Hingga tak menyadari keberadaan Aslan yang berdiri di sampingnya hampir lima menit. Aslan mengamati sekertarisnya nan tampan itu. Lalu mengernyit.
"Ehm. Segitu sukanya kau dengan bocah itu?". Ucap Aslan tiba-tiba. Rudi tersentak dan menutup majalah itu.
"Oh Tuan. Ehm. Maaf saya tidak menyadari kedatangan anda". Elak Rudi sopan.
"Hmmmm. Padahal aku lebih suka kau panggil Aslan dan akrab seperti waktu kuliah dulu. Aku gak tahu masalahnya Rud. Mendadak kau berubah seperti sekarang". Timpal Aslan sedih sembari duduk di sofa.
"Entah kenapa, sikapmu berubah. Setelah kau cerita pertemuan tanpa sengajamu dengan bocah SMP saat kau audisi. Saat itu aku sangat senang kau cerita selain tugas kuliah. Sebanarnya aku merindukan saat-saat kita kuliah dulu. Saat kau membela aku yang dikatain curang waktu mengerjakan UAS. Lalu saat kau mentraktir aku sebab IPK mu bagus". Kenang Aslan sembari tersenyum getir.
Rudi diam. Ia bingung ingin menjawab apa. Sepintas Rudi mengenang kebersamaan dengan Aslan sewaktu kuliah. Lalu ia tersenyum.
"Maaf Aslan. Aku punya alasan sendiri. Saat ini aku belum bisa cerita". Ucap Rudi dalam hati sembari meletakkan dua cangkir kopi.
Dulu mereka satu almamater dan kebetulan satu jurusan. Tanpa sengaja keduanya semakin dekat. Awalnya Rudi tak tahu jika Aslan anak keluarga konglomerat. Mereka berteman biasa. Saling membantu tugas kuliah. Namun pertemanan itu merenggak dan perlahan sikap Rudi berubah saat mengetahui siapa Aslan sebenarnya.
"Aku ingin ngobrol layaknya teman dekat saat berdua". Pinta Aslan.
"Hmmmm. Baiklah". Pungkas Rudi. Aslan berbinar. Ia senang.
"Wah Benarkah. Ehm. Sebenarnya aku masih penasaran kisahmu dengan bocah SMP itu. Gimana apa kau sudah bertemu dengan bocah itu? Apakah dia jadi model atau artis?". Antusias Aslan. Penasaran dengan kisah cinta sepihak sang teman sekaligus sekertarisnya. Ia sudah lama ingin berbincang santai bersama Rudi. Lebih tepatnya. Ingin menggoda Rudi.
__ADS_1
"Ck. Itu kisah kapan tau. Aku saja sudah lupa wajahnya". Sanggah Rudi namun anehnya ada rasa nyeri menyapa hati.
"Masak sih? Aku gak percaya Rud. Biasanya pertemuan singkat itu sangat berkesan". Timpal Rudi sembari menyesap kopinya.
Rudi terdiam. Ia ragu untuk mengatakan yang sebenarnya. Ia tak ingin ada perselisihan dengan Aslan. Apalagi gara-gara perempuan.
"Kenapa kau diam? Tunggu. Jangan bilang kau sudah menemukan dia?". Selidik Aslan.
Rudi mengangguk pasrah. Lalu menghembuskan nafas. Ia beranjak ke meja kerjanya. Mengambil map merah. Aslan mengernyit.
"Bocah itu orang yang kau ingin tahu identitasnya". Ucap Rudi menaruh map merah di depan Aslan.
Deg
Aslan terdiam. Rangkaian kata yang mengantri di mulutnya untuk menggoda Rudi seketika lenyap bersamaan ia membuka map merah itu. Matanya melotot.
"Alesha Arin". Pekik Aslan. Lalu menatap Rudi.
"Benar. Bocah SMP itu dia". Jawab Rudi sembari menyunggingkan senyum.
"Jangan bercanda Rud?". Syok Aslan. Tak percaya.
"Aku gak bercanda setelah memastikan. Lihat saja photo-photonya". Pungkas Rudi meyakinkan Aslan.
"Aslan. Kau menyukainya bukan?". Tebak Rudi. Aslan Melotot. Lalu salah tingkah.
"Nyatakan saja. Abaikan aku. Entahlah. Tapi aku berpikir kemungkinan dia tertarik padamu". Lanjut Rudi menggeleng seakan menganalisis.
"Hei. Jangan ngaco. Aku.."
"Apa? belum move on dari nona Emma? Basi Aslan. Jangan bohongi perasaanmu. Awas saja kau nangis-nangis saat Arin ikut Dokter Bian". Potong Rudi kesal dengan perkataan yang akan keluar dari mulut Aslan.
"Ck. Jangan sembut nama itu. Bikin kesal saja". Ketus Aslan.
"Hahaha. Kenapa? kau cemburu?. Kau tau. Arin itu mantan model iklan JS Crop bahkan perusahaan itu donatur permanennya".
"Apa? mana buktinya? Kenapa dia kenal JS Crop?". Kaget Aslan dan membuka lembar demi lembar kertas A4 itu.
"Sial. Hebat sekali bisa menjinakkan JS Crop yang terkenal susah di ajak kerja sama". Celetuk Aslan saat melihat bukti-bukti photo penghargaan dan kegiatan JS Crop.
"Tepat sekali, As. Saat aku mencari tahu identitas Alesha Arin, satu pertanyaan muncul di otak. Kenapa JS Crop sangat peduli dengan satu anak yatim-piatu itu? pasti identitas anak ini sangat istimewa. Kau tahu siapa Dokter Bian?". Ucap Rudi.
"Siapa Dia? Nama dan wajahnya tak asing". Sahut Aslan Penasaran.
"Namanya. Albian Jansen. Si bungsunya tuan Jansen". Jelas Rudi. Aslan terkejut sekaligus penasaran terhadap Alesha Arin yang mampu melunakan keluarga Jansen yang terkenal kaku.
Hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Lalu Rudi menggeleng.
"Ehm. Tapi Aslan. Sebelum kau confess perasaanmu pada Arin. Izin aku menyapa bocah itu bukan sebagai sekertarismu". Harap Rudi ragu-ragu.
Aslan menggeleng. Ia mengernyit.
"Mungkinkah Rudi masih menyukai Arin? Sial. Seperti apa penampilan dan sikap si bocah SMP itu? Hingga beberapa tahun berlalu Rudi masih menyimpan perasaannya". Batin Aslan menatap Rudi.
"Hmmm baiklah. Just say hello?". Was-was Aslan.
"Hahah. Iya. Mungkin ada sedikit pertanyaan atas kejadian acara itu". Ucap Rudi sembari mengingat kejadian yang mengejutkan sekaligus tak terduga.
Saat itu, semua peserta sangat tak percaya diri melihat bakat bocah SMP yang sering dikucir kuda. Setiap minggunya selalu mendapat rate bagus dari juri bahkan votenya selalu tinggi. Lalu saat tiga besar tak ada angin. Tak ada hujan. Bocah itu dinyatakan tidak lanjut ke bapak selanjutnya atau juri memutuskan mendiskualifikasi bocah itu.
Rudi mengela nafas berat.
"Memangnya ada kejadian apa?". Kernyit Aslan.
"Hah. Bener-bener ya kau. Anak dari acara yang naungi masak gak tahu sih?. Tanya saja sama Papamu". Dengus Rudi kesal saat ingat kejadian tempo lalu.
Padahal beritanya saat itu sangat heboh di kalangan masyarakat. Bahkan netizen berspekulasi bahwa bocah seribu bakat julukannya, sengaja di debak dari acara. Setelah bocah itu keluar, rating acara langsung turun.
......................
Bian menatap pemandangan diluar jendela. Perkataan Arin masih berputar-putar di kepalanya. Rencana awal, ia akan membereskan pekerjaan di Rumah Sakit. Lalu mengajukan surat risegn dan menetap di Singapur mengajak Arin. Namun, saat tahu keadaan sahabatnya. Niat Bian goyah. Ia mengubah rencananya.
"Kenapa dia selalu mengubah rencana aku". Keluh Bian. Ia menyadarkan punggungnya di kursi. Lalu tersenyum. Ingat kekacauan yang pernah ia lakukan.
Flash Back
__ADS_1
Acara santunan itu berjalan lancar. Anak-anak panti sangat senang dengan hadiah yang di bawa keluarga Jansen. Aliza Jansen. Nona muda Jansen itu sangat antusias. Ia tertawa saat beberapa anak panti bergaya layaknya model iklan.
"Cih. Cari muka sekali. Menyebalkan".Cibir Bian saat matanya melihat ada anak perempuan dengan gaya centil.
"Memang. Ngeselin banget. Namanya Manda. Kelas 9". Timpal Arin menyejajari Bian di ambang pintu aula.
"Astaga bocah. Main nyamber aja sih". Kaget Bian.
"Hehehe. Sori kak". Ucap Arin sembari menunjukkan dua jari telunjuk dan tengah.
"Gak usah sok deket". Ketus Bian sembari menaruh topinya di kepala Arin. Lalu menarik ujung topi itu supaya menutupi wajah Arin.
"Jangan senyum. Kau kelihatan jelek dan bodoh". Lanjut Bian sembari menyunggingkan bibirnya.
"Ih apaan sih?. Oh iya aku hampir lupa. Kakak namanya siapa? Terus tadi ada apa? kayaknya ada yang ngikuti aku ya? Siapa mereka kak? peculik ya?". Arin membombardir pertanyaan sembari merubah posisi topi jadi terbalik.
"Satu-satu bodoh". Bian menonyor jidat Arin dengan jari telunjuk.
"Aduh". Keluh Arin sembari mengusap jidatnya. Bian hanya acuh tak acuh.
"Bian". Ucapnya singkat sembari bersedekap.
Arin mengangguk. Paham. Ia masih terdiam seakan menunggu jawaban lain. Satu menit berlalu. Tak ada ucapan lain dari Bian.
"Hanya itu?". Kernyit Arin.
"Iya. Emang apa lagi?". Bian balik tanya dan mengangkat bahunya. Saat Arin ingin berkata. Bunda Siti memberi komando anak-anak untuk berbaris. Namun, Arin tak bersemangat. Ia masih berdiri di samping Bian dan menghela nafas.
"Sono baris. Nanti kau gak dapet uang". Celetuk Bian.
"Gak. Soalnya sebentar lagi aku punya banyak uang". Sahut Arin.
"Dih sombong. Uang dari mana?" Cibir Bian.
"Aku kan masuk 3 besar the got talented this year's yang di adakan Alter Entertainmen. Terus katanya kalau aku juara 1. Aku dapet uang seratus juta sama beasiswa sampai kuliah". Antusias Arin senang.
"Acara Apa?". Bian memperjelas.
"The Got Talented This Year's". Jelas Arin.
Bian mengernyit dan menghela nafas. Ia berlalu menuju mobil tanpa pamit. Arin hanya mengeleng. Lalu mengangkat bahu.
Beberapa jam kemudian. Saat mobil mewah itu tiba di mension kediaman Jansen. Bian langsung berlari mencari tayangan ulang audisi yang ia baru dengar. Lalu ia melempar remot saat melihat Arin di peluk salah satu peserta pria seumurannya. Tangannya mengepal erat. Entah itu perasaan suka atau obsesi semata.
"Bian ada apa? Kenapa kau marah?". Tanya Papa Jansen.
"Iya Ada apa? padahal tadi, mama lihat kau sangat senang saat ngobrol dengan salah satu anak panti". sambung Mama Stevani.
"Ma. Pa. Bian gak suka dia dipeluk sama lelaki lain. Pokoknya Bian ingin dia keluar dari acara itu. Bisa kan Pa?". Dingin Bian sembari menatap wajah Arin dilayar 55 inci. Papa dan Mama hanya bengong mendengar perkataan putra satu-satunya.
"Jangn gila Bi. Kalau sampai 3 besar berarti dia punya bakat yang di inginkan agensi itu. Terus dengan mudahnya kau minta Papa menghentikan dia?". Sambung Aliza sembari mengambil air minum.
"Cih. Jangan sok suci kak. Bukankah kakak juga menghalalkan segala cara demi mendapatkan sesuatu yang kau inginkan?". Sarkas Bian dingin.
Aliza langsung berdehem dan berlalu ke kamar. Mama dan Papa saling tatap. Lalu menghela nafas. Anak lelakinya itu memang susah sekali di dekati baik dari keluarga besar atau orang luar. Lebih suka menyediri. Bahkan ia tak punya teman akrab. Makanya Mama dan Papa sangat bahagia saat melihat Bian mau berbincang dengan anak panti. Itulah salah satu tujuan mereka sering mengadakan santunan. Papa mengeleng. Mama Stevani menyetuh pundak Papa seakan isyarat darinya.
"Baiklah. Nanti Papa usahakan". Putusnya. Bian menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
Benar. Papa menepati janji putranya. Segala cara ia lakukan untuk mengeluarkan peserta yang bernama Alesha Arin. Dengan berat hati pihak juri dan menejemen acara itu mengatur skenario untuk menggugurkan peserta yang sangat mereka kagumi sekaligus sayangi.
Sikapnya yang ceria, sopan, ramah. Bahkan kadang-kadang bocah SMP itu dengan senang hati membantu membereskan studio, membelikan minuman saat akan breafing. Bahkan mereka sudah memberikan julukan si anak emasnya Alter.
Bian menyaksikan saat acara itu tayang. Papa dan Mama pun ikut hadir menonton. Saat pembawa acara memberi tahu siapa peserta yang keluar. Bian tersenyum puas.
"Maafkan anak kami nak". Batin Papa dan Mama saat melihat Arin menangis tersedu-sedu dibalik layar TV 55 inci itu.
"Pa. Aku ingin dia jadi model perusahaan. Lalu saat dia SMA dan kuliah. Aku ingin jadi wali sekaligus donaturnya". Pungkas Bian sembari meletakkan remot TV dan berlalu.
Flash Back End
"Maaf Arin". Lirih Bian sembari meraup wajahnya. Entahlah. Saat itu diam-diam Bian terobsesi dengan Arin. Bukan terobsesi suka pada lawan jenis pada umumnya. Tetapi, Bian menganggap identitas Arin itu bagaikan pecahan puzzle yang harus di susun supaya tahu sesuatu yang tersembunyi. Hal itu sangat seru dan menantang bagi Bian.
......................
Nih saya majukan jadwal update nya. Happy readying epribadi. 😉
__ADS_1
Untuk yang kangen Allea. Tahan ya. 😍😍