Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
BONPA Episode 1


__ADS_3

"Ehm masih nungguin jemputan? bentar lagi hujan. Bareng gue saja gimana? kita searah kok," ucap pria berseragam putih abu-abu sembari memainkan tali helm.


Gadis yang berseragam serupa itu mengerutkan kening. Malas berurusan dengan pria di sampingnya.


Ia memang satu komplek sekaligus teman sebaya di lingkungannya. Tapi sebisa mungkin menghindari pria ini jika di area sekolah.


Fauzan Killian, si anak ketua Yayasan di sekolahnya sekaligus idaman kaum siswi SMA Kolios.


"Memangnya kita kenal?." Ketus Gadis itu melirik arlojinya.


"Hahaha. Siapa sih yang enggak kenal Allea Alister di gedung ini? Peraih piala olimpiade terbanyak sekaligus juara lomba taekwondo tingkat internasional." Seringainya menatap Allea.


"Ck. Apaan sih?. Basi." Dengusnya membuang muka.


Fauzan tertawa kecil, "Kalau cemberut gitu makin keluar pesona kecantikan lu."


"Dasar buaya rawa. Inget noh cewek berceceran patah hati lihat tingkah genit lu. Sana cari cewek yang doyan sama lu. Jangan deket-deket gue." Kesal Allea bersedekap sembari celingungan mengamati sekitar.


Berurusan dengan penggemar ketua osis yang kemarin mengantarnya saja baru selesai. Ini lagi spesies satu, mancing masalah.


Lalu ia bernapas lega. Aman. Para kunti penggemar pria ini sudah pulang.


Fauzan tertawa renyah sembari menyugar rambutnya dengan jemari, "Aman, Allea. Mereka sudah pulang."


"Mereka di mana-mana. Buktinya kemarin, gue kira dah sepi. Eh enggak tahunya ada saja paparazi si ketos." Kesal Allea tatkala ingat kelakuan penggemar si ketua osis yang memamerkan gambarnya di mading.


Hancur sudah kehidupan damai sentosa yang ia ciptakan. Keinginannya hanya sekolah, belajar dan lulus dengan damai.


"Hahaha. Kenapa sih benci banget? Harusnya senang dong bisa deket ketos." Ungkap Fauzan menelengkan kepala.


Allea memutar bola matanya. Malas berdebat.


"Hei. Jawab dulu bocah. Main kabur saja." Seru Fauzan mencekal pergelangan Allea.


Baargggh.


Reflek Allea menedang tulang kering Fauzan.


"Aww. Sialan. Sakit Allea. Jadi cewek jangan galak-galak dong." Ringis Fauzan sembari jongkok.


"Hahaha. Sori. Sakit Banget? Ck. Gitu saja ngeluh. Dasar Ojan lemah." Oloknya menepuk-nepuk bahu Fauzan.


Fauzan menyunggingkan sudut bibirnya. Ada rasa aneh menyapa hati saat di panggil 'Ojan'.


Teringat kali pertama bertemu dengan gadis yang sedang mengejeknya ini.


"Selamat datang tetangga baru. Panggil saja Iin. Kita masih seumuran." Sambut Iin-Mama Fauzan sembari terkekeh. Arin hanya mengangguk dan tersenyum.


"Ya ampun menggemas sekali anak gadismu. Siapa namamu, sayang?." Antusias Iin menoel pipi Allea.


"Allea, Tante." Balas Allea mencium tangan Iin.


"Astaga. Pintar sekali." Sahut Iin berbinar dan mencium pipi gembul Allea.


Fauzan kesal. Ia menarik tangan Allea menjauhkan dari dua orang dewasa yang sedang beramah-tamah itu.


"Hei jangan sok imut dan pintar di depan Mamaku!." Ketusnya mendorong sedikit bahu Allea. Ia tidak suka perhatian Iin dibagi pada anak orang lain.

__ADS_1


"Siapa sih yang bicala sok imut dan pintal. Allea cuman jawab kok. Memangnya salah?." Ungkap Allea mengerutkan kening. Fauzan hampir tertawa mendengar suara cadel Allea.


Lalu ia menjulurkan tangan, "Selamat datang. Fauzan. Panggil kakak. Aku lebih dulu lahirnya." Datar Fauzan mengamati gadis di hadapannya.


"Telima kasih kak Ojan. Enggak boleh plotes. Telselah aku mau manggil apa." Pungkas Allea menjabat tanggan Fauzan.


Fauzan tersenyum mengingat tingkah lucu Allea saat kecil.


Lalu tanpa permisi ia memakaikan helm di kepala Allea.


"Woi apaan nih? Apa lu kira gue deg-deg ser gitu?. Jangan harap. Ck. Gue bisa sendiri. Singkirkan tangan haram lu!." Sungutnya menarik tali helm.


"Dasar landak. Galaknya minta ampun. Gue cuman bantu masangin. Apa salahnya?."


"Kalau ada yang motoin. Urusan makin panjang kakak wakil ketua osis yang terhomat."


"Hahaha. Sial. Bisa banget naikin mood. Mereka sudah pulang tenang saja."


Allea tidak menjawab. Ia hanya menatap tajam Fauzan.


Fauzan mengulum senyum melihat bibir Allea komat-kamit. Ia tahu adik kelas sekaligus tetangga kompleknya ini terkenal sulit di dekati.


"Elu berubah, Allea. Dulu sering ngintilin gue, sekarang malah menghindar." Bathin Fauzan menghela napas.


Allea tidak tertarik dengan mereka. Entahlah. Berurusan dengan orang populer itu melelahkan. Dan slogan yang selalu ia gaungkan. Jangan berurusan dengan pihak Osis dan para anteknya.


Sebelum masuk sekolah Kolios. ia riset dulu lingkungan sekolahanya bagaiamana. Bahkan membuat daftar murid yang harus di hindari.


...----------------...


Hari ini cuaca tidak bersahabat. Langit gelap pekat. Angin berhembus kencang.


Lima panggilan untuk putrinya, tetapi tidak ada satupun yang di jawab. Sebab saat telepon Romi-sopir pribadi Allea, Katanya sedang di bengkel. Ban atau mesin mobilnya bermasalah.


Lalu matanya menyipit saat melihat di luar jendela. Motor ninja hitam berhenti di gerbang rumahnya. Ia langsung menuruni tangga dengan hati mengkal.


Bersedekap di samping pintu, menunggu putrinya masuk rumah.


Ceklek.


Allea terjingkat, "Allahhuakbar. Astaga. Bubu ngagetin. Hampir saja jantungku copot."


"Siapa dia?." Datar Arin menatap tajam.


"Kak Fauzan, Bubu." Cicit Allea takut melihat raut Arin.


"Yang kemarin?. Berani sekali nganterin anak gadis orang tanpa izin. Mana gak ucap salam sama orang tuannya." Sungut Arin menjatuhkan pantatnya di sofa.


Allea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kakak kelas super menyebalkan. Ingin bilang begitu. Tapi bibirnya sempurna terkunci. Mendadak gagu jika Arin sudah mengeluarkan taring.


Ia menggeleng. Benar. Akhir-akhir ini ada yang aneh. Ia manggut-manggut. Pasti ada sesuatu.


"Coba dia siapa?laki-laki yang empat hari nganterin kamu. Bukan si Fauzan. Kalau dia Bubu sudah tahu. Dan kamu harus di hukum. Melanggar aturan nomor dua." Imbuh Arin menurunkan nada bicaranya. Menatap Allea lekat-lekat.


Arin tidak bisa marah pada Allea. Hatinya nyeri melihat Allea hanya menunduk, diam tatkala dimarahi.


Setiap ingin marah. Ia selalu mengingat saat kali pertama Allea di temukan. Tidak menyangka bocah tanpa dosa yang dibuang Ibunya itu, kini tumbuh menjadi sosok remaja pintar nan cantik. Sangat membanggakan.

__ADS_1


Allea menghela napas panjang. Terlintas di pikiran peraturan yang dikeluarkan orang tuanya saat masuk SMA.


Pertama. Dilarang berantem dengan teman sekolah. Tahan amarah dan abaikan mereka, yang membuat hati mengkal. Jika melanggar, siap-siap dikirim ke pondok pesantren.


Arin menulis ini, karena ia langganan di panggil guru BK saat Allea SMP.


Kedua. Dilarang keras pacaran dan diantar-jemput temen laki yang belum dapat izin dari Arin atau Aslan. Hukuman sedang dipikirkan. Bisa jadi tidak terduga jika melanggar.


Arin dan Aslan antisipasi jika ada pria yang mendekati anak gadisnya ini. Mereka khawatir sesuatu yang tidak di inginkan terjadi.


Ketiga. Baju Allea di cuci sendiri, kamar juga harus di rapikan sendiri. Jika melanggar tidak dapat uang jajan.


Keempat. Selesai makan Allea harus menyuci piring dan merapikan meja makan. tidak boleh minta tolong asisten rumah kalau tidak mendesak.


Kelima. Jam malam 21.00 tidak boleh dilanggar.


"Peraturannya bikin ngelus dada." Keluh Allea dalam hati. Sembari menyisir rambutnya dengan jemari.


"Kak Oji, Bu. Allea enggak bisa nolak. Soalnya, dia maksa." Jelas Allea menyebut asal nama si ketua osis.


"Oji? Baru dengar. Memang ada murid dengan nama itu? Hmmm, kayaknya dia ngubah nama orang lagi. Supaya aku enggak tahu nama lengkap bocah itu." Kata Arin dalam hati sembari mengulum senyum.


"Mungkin dia suka sama kamu." Celetuk Arin beranjak ke meja makan. Melihat menu makan si kembar yang di buat nanynya.


"He? Siapa yang Bubu maksud?." Kaget Allea mendengar celetukan Arin.


"Fauzan dan si Oji-Oji itu."


"Hahaha. Mimpi. Kak Ojan sudah punya pacar. Kak Oji. Hmmm, kayaknya juga sudah punya. Mereka cuman pingin Allea di ganggu penggemarnya. Huwaaa. Menyebalkan." Komentar Allea sembari memukul-mukul sofa.


Arin terkekeh melihat tingkah putrinya, "Jangan membencinya, nanti suka tahu rasa loh."


"Apa?Allea pastikan itu tidak mungkin." Sambarnya kilat dan berlalu ke kamar. Arin hanya tersenyum dan geleng-geleng.


Sampai di kamar, Allea mengernyit. Mengingat tingkah aneh pria yang mengantarnya. Ia punya alasan menerima tawaran mereka.


Fauzi Zedekiah, Padahal ia tersangka utama yang harus bin wajib di hindari. Ketua Osis Kolios nan menyebalkan. Sering memamerkan wajah datarnya. Anehnya, siswi-siswi jejeritan bak kerasukan saat melihat wajah datar pria itu.


Ia menyeringai melihat Allea berdiri di samping pintu gerbang. Sedari tadi ia celingungan mencari gadis ini. Susah sekali ditemui, padahal masih di gedung yang sama.


"Ayo gue anter!. Sampai nolak. Gue giling di lapangan." Dingin Fauzi menyodorkan helm.


Allea melotot. Dan meraih helm itu. Dasar gila. Mentang-mentang anak pemilik Yayasan. Segala keinginannya harus di turutin.


"Wah. Sakit tuh anak." Komentarnya manggut-manggut. Menggeleng mengingat kejadian hari kedua ia di antar si ketua osis.


Tanpa melihat situasi, si ketua osis menyodorkan helm ke arah Allea yang sedang berjalan menuju gerbang.


"Pakai. Berani nolak. Gue lindas kaki lu."


Allea langsung menyambar helm itu dan naik ke jok belakang. Peduli setan dengan tatapan mereka. Kesehatan mental lebih utama.


Lalu kejadian yang baru saja ia alami. Si Fauzan teman sekompleknya itu main sambar naruh helm di kepalanya.


"Astaga. Kenapa sih mereka ganggu gue?. padahal gue enggak ganggu mereka. Parahnya, satu gangguan jiwa. Satu buaya rawa. Ck. Ck. Nasib. Sepertinya gue harus pindah sekolah." Desis Allea mengacak Rambutnya. Frustasi dengan situasi yang di alami.


Lalu tangannya bergerak menarik laci. Ia mengulum senyum melihat benda pemberian dari seseorang.

__ADS_1


"Liburan masih lama." Lirihnya menatap benda itu.


...----------------...


__ADS_2