
Ruangan itu sunyi. Hanya terdengar detak bunyi jam dinding dan hembusan angin memasuki ruangan lewat kisi-kisi jendela. Dina menunduk. Dadanya sesak dengan kebenaran yang ia ketahui selama ini.
"Arin. Apa kondisimu sudah baik-baik saja?". Getir Dina memastikan keadaan anak sahabatnya itu.
"Aku baik-baik saja Tante. Tapi Hatiku gak baik-baik saja". Jawab Arin dengan nada bergetar. Dina reflek memeluk tubuh Arin. Menghapus air mata yang terus mengalir.
"it's oke Arin. Pelan-pelan. Tante janji akan kasih tau kebenarannya". Tutur Dina sembari mengusap-usap punggung Arin.
Arin menganggung.
" Tante. Aku ingin ke makam Mama".
"Ayo Tante anter".
"Bunda boleh ikutkan?".
Dina mengangguk. Arin ganti pakaian. Bunda menunggu mereka di lobby. Beberapa saat mereka keluar dari ruangan.
"Bunda. Aku ingin ke makam Mama. Apa Bunda bisa ikut?". Tanya Arin.
"Iya Bunda bisa. Tadi anak-anak sudah Bunda titipkan ke bibi Lusi. Oh Arin apa kamu sudah hubungi orang rumah? takutnya Allea mencarimu". Bunda mengingatkan Arin.
Benar. Sepedih apapun hati. Komunikasi itu penting. Arin terpaksa menyalakan ponselnya.
"Ada apa ini? kenapa Meli telpon banyak banget. Aslan? tumbenan dia menelponku". Komentar Arin saat ponselnya menyala.
"Mereka pasti mengkhawatirkanmu". Sahut Bunda.
Arin langsung menghubungi Meli. Tapi Meli tak menjawab. Lalu Arin menghubungi Aslan.
"Hallo kau dimana? Bukannya sudah janji jemput Allea". Ketus Aslan dari sebrang.
"Maaf. Tolong bilang ke Allea. Aku hari ini sepertinya gak pulang. Urusanku belum selesai". Jawab Arin berusaha bicara seperti biasanya. Walau sepertinya itu tak mungkin. Suara Arin khas orang selepas nangis. Arin belum selesai bicara tapi ponselnya sudah mati. Baterai habis.
......................
Aslan mematung setelah mendengar ucapan Arin. Ia menggeleng.
"Suaranya seperti habis menangis. Kenapa dia? Hmmmm bukankah selama ini dia gak pernah menangis?atau aku saja yang tak melihat? ". Monolog Aslan.
"Masalahnya. Bagaimana aku kasih tahu bocah ini? Arin ada apa denganmu". Lanjut Aslan sembari menyelimuti Allea. Akhirnya setelah drama nangis hampir setengah hari. Allea tertidur. Ia kelelahan.
"Tuan". Rudi berbisik supaya tak membangunkan Allea.
"Ada apa? Kau tahu lokasi Arin?". Kernyit Aslan.
Rudi mengangguk. Lalu mereka berjalan menuju ruangan Aslan.
"Menurut CCTV motor matic dengan nama pemilik Alesha Arin pada jam..." Rudi menoleh saat mendengar Aslan bergumam.
"Nama yang bagus".
"Ya tuan?". Rudi memastikan dengan apa yang ia dengar.
"Lanjutkan". Titah Aslan sembari menautkan kedua jemarinya.
"Dia menuju gang saikin tuan. Tapi saya tidak tahu tujuannya kemana. Soalnya gang itu tidak ada CCTV". Jelas Rudi.
__ADS_1
"Huwaah. Haruskah kita lapor polisi atas hilangnya dia?". Retorik Aslan sembari menyugar rambutnya.
"Iya? Maaf tuan. Tapi Nona Arin belum sampai 24 jam keluar rumah. Atau bagaimana jika kita bertanya ke Cafe Al's. Mungkin saja mereka tahu". Saran Rudi.
"Binggo. Let's go". Semangat Aslan sembari menjentikkan jarinya.
Mereka beranjak menuju kafe.
Di tempat lain. Arin telah sampai di pemakaman umum. Kedatangan mereka di sambut oleh hembusan angin nan kencang.
"Ini batu nisan Mamamu Arin". Dina menunjukkan seraya jongkok. Arin dan Bunda mengikuti.
"Nira Amina". Lesu Arin tak semangat.
"Kau tahu Arin? Namamu itu sebenarnya nama Nira yang dibaca kebalik". Jelas Dina menoleh Arin seraya tersenyum getir.
"Nira. Arin. Wah luar biasa". Celetuk Arin kagum.
"Dan Alesha itu mempunyai arti semoga selalu dalam lindungan Allah". Lanjut Dina menjelaskan.
"Nama yang indah". Lirih Bunda terharu.
"Arin. Tante gak tahu penyebab kematian Nira. Hanya saja sehari setelah bertemu Papamu, aku mendapat kabar bahwa dia sudah meninggal. Dan pihak polisi menyatakan Mamamu bunuh diri". Tutur Dina sedih.
Arin kaget mendengarnya. Ia semakin penasaran dengan kronologi sebenarnya. Saat ini kunci penyebab kematian sang Mama hanya Papanya. Arin menunduk. Lesu.
"Sepertinya hari sudah semakin gelap. Ayo kita pulang. Besok di lanjutkan lagi". Bunda memecah keheningan dan sangat peka dengan situasi.
Dina mengangguk dan beranjak. Arin masih enggan meninggalkan pusara sang Mama. Sedih. Sesak. Kecewa. Namun, keadaan sekarang siapa yang berhak ia salahkan?.
"Tante. Tolong antar Bunda. Aku ingin di sini sebentar". ucapnya dengan menatap kosong batu nisan Mama.
"Bunda pulang duluan. Kamu hati-hati. Jangan pulang sampai larut". Pesan Bunda.
Hening. Arin tak menyahut. Lalu Bunda mendekat memeluk tubuh Arin.
"Bunda yakin Arin anak yang kuat. Mencobalah menerima kenyataan dan kembali ceria seperti Arin yang Bunda kenal. Jangan larut dalam kesedihan. Sayangnya Bunda". Bisik Bunda sembari mencium kepala Arin dan berlalu. Arin menangis dalam diam.
......................
"Rio. Coba kau lihat!. Si Sugar daddy nya Nyonyia bos tumbenan mampir". Celetuk Mira saat melihat tamu di parkiran.
BUUAGKK.
"Aaw. Sialan. Sakit Bodoh". Reflek Mira.
"Kalo ngomong yang sopan. Coba nyonyia bos denger. Tuh mulut dah di rujak". Dengus Rio kesal.
"Kenapa sih? Aku kan cuman bercanda. Reaksimu kayak orang cemburu". Sungut Mira menyipitkan mata.
"Iya aku cemburu. Kenapa? Masalah?". Akui Rio menggebu-gebu. Mira langsung melongo mendengarnya.
"Kau seri..." Mira tak melanjutkan sebab Aslan memotong.
"Ehm. Permisi. Maaf mengganggu. Aku mau tanya. Apakah kalian tahu selain ke sini Arin pergi kemana?". Ragu-ragu Aslan bertanya sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya ampun. Cakep sekali ciptaan Tuhan ini. Astaga nikmat mana lagi yang aku dustakan lihat ciptaan Tuhan seindah ini". Jeritan batin Mira seraya senyum genit.
__ADS_1
"Mata dikondisikan Mir. Biasa aja gak usah kegatelan". Celetuk Rio sembari melemparkan lap piring ke wajah Mira. Rudi tersenyum melihatnya.
"Ih dasar si Rio nyebelin". Sungut Mira sembari melarikan diri. Malu.
"Maaf kurang tahu. Arin gak pernah cerita soal pribadinya baik ke aku atau Mira. Oh mungkin anda bisa tanya ke Dokter Bian". Jawab Rio.
"Siapa?". Reflek Aslan kaget mendengar nama yang tak asing di telinganya.
"Dokter Bian. Beliau investor kafe ini sekaligus sahabat Arin". Jelas Rio.
Wajah Aslan memerah. Kesal mendengar nama lelaki itu dan mengepalkan tangan.
"Oke terima kasih". Pungkas Aslan sembari nahan amarah. Rudi mengernyit melihat kelakuan aneh tuannya.
"Hmm Dokter Bian?. Sepertinya aku pernah melihat". Gumam Rudi sembari menggeleng. Aslan langsung berhenti mendadak.
"Astaga. Tuan ada apa?". Reflek Rudi kaget. Hampir saja ia menabrak punggung Aslan.
"Aku dengar. Kau menyebut Dokter itu". Selidik Aslan.
"Aaa. Benar Tuan. Saya pernah melihat mereka di RS Kasih Ibu".
"Oh iya. Aku ingat. Waktu kejadian aku nebeng ke dia. Aku pikir dia siapa. Berani sekali mengabaikan aku dan malah ngacir ke arah orang lain. Sopankah begitu?". Kesal Aslan bercampur antara kejadian tempo lalu dan sengatan panas dalam hatinya. Cemburu?. Entahlah.
Rudi hanya mengeleng dan tersenyum kecut dengan sikap tuannya.
Lalu mereka meninggalkan kafe itu. Pengunjung kafe semakin larut semakin padat. Kebanyakan pelanggan yang datang seorang pekerja kantoran. Terkadang ada yang seharian di kafe. Katanya numpang kerja. Supaya ganti suasana. Di ruangan terus pengap. Ide buntu.
Tak lama Aslan dan Rudi pergi. Arin datang dengan penampilan menyedihkan. Ia langsung merebahkan kepalanya di meja bar. Rio menyodorkan minuman kesukaan Arin. Milkshake Chocolate.
"Istirahat sana. Sedih melihatmu tak bernyawa gitu". Celetuk Rio sembari menyiapkan kopi untuk pelanggan.
"Menyedihkan sekali penampilanmu. Kayak diputusin pacar". Sambung Mira asal sembari menompang dagunya.
"Hah. Rasanya sesak. Apa begini kalo putus cinta?". Retorik Arin sembari menyesap minuman.
"Tadi..." Mira langsung berhenti saat Rio menarik lengannya dan menggeleng. Memberi syarat untuk tak memberi tahu Arin bahwa beberapa saat lalu Aslan mencari tahu keberadaannya. Mira mengernyit.
"Keliatannya dia butuh waktu sendirian". Bisik Rio. Mira hanya mengangguk paham.
"Aku ke atas dulu". Ucap Arin tak bersemangat.
Lantai atas ada dua kamar. Satu khusus untuk Arin dan kamar satunya untuk umum yang ingin istirahat atau bermalam di kafe.
Setelah sampai kamar. Arin membongkar barang-barangnya. Sebagian barang dan bajunya memang ia simpan di kafe. Sengaja tak membawa semua ke rumah Aslan. Ia berpikir akan susah nantinya jika pindahan.
"Akhirnya ketemu". Lirihnya saat melihat kotak merah. Ia mengatur nafas. Lalu membuka kotak merah itu.
"Benar. Kalungnya sama. Kalung couple". Komentar Arin sembari menarik sudut bibirnya. Ia membuka kalung itu. Terlihat lelaki muda nan tampan dengan setelah tuxendo hitam.
"Ini Papa waktu muda?. Cakep sekali". Monolog Arin. Lalu ia membalik foto ukuran kecil itu. Matanya melotot saat melihat rangkaian nama yang tak asing baginya.
"Pandu Pratama. Hahaha. Sial. Lelucon apa ini?". Pilunya. Ia langsung membanting kotak merah itu bersama foto Papanya. Marah. Kesal. Mengkal.
"Aaaaarrggh". Jeritnya frustasi. Padahal orang yang bersangkutan selalu beredar di dekatnya. Kenapa dulu takut membuka kalung itu?
Seandainya dulu aku membuka dan mengetahui nama Papa. Mungkin sekarang aku tak sesakit ini. Kenyataan ini menyesakkan. Hingga aku enggan membuka mata lagi. Mungkin sekarang aku punya Allea untuk mewarnai hari-hari dan pelipur laraku. Tetapi akan seperti apa nantinya jika publik tahu bahwa Allea putri seorang artis papan atas dan pebisnis muda nan ternama di negri ini? bila suatu saat mereka bersatu menjadi keluarga harmonis. Aku bisa apa untuk menahan Allea?. Aku hanya pengasuhnya yang tak punya hak menahan Allea. Maaf Allea. Bukan aku meninggalkanmu. Tapi aku akan berusaha menjalani hari tanpamu.
__ADS_1
Kekhawatiran Arin saat mengetahui kebenaran atas dirinya dan orang sekitar saat ini.
......................