Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
BONPA Episode 9


__ADS_3

Minggu pagi nan cerah. Para insan berbondong-bondong keluar rumah bersama keluarga. Menikmati akhir pekan mereka untuk jalan-jalan atau sepedaan.


Beda cerita dengan gadis cantik nan manis ini. Saat teringat tulisan dari sepucuk surat yang belum tahu artinya. Ia langsung bangkit. Mencari selembar keras itu.


"Gue enggak mungkin nyerah sebelum nyoba." Desisnya sembari memindahi tulisan itu di aplikasi penerjemah.


Lalu matanya terbelalak saat tahu artinya. "Ha?. Ini seriusan?. Aduuuh jantung gue melenyeot. Melvin sialan. Bisa banget bikin gue ba-per. Awas ya kalau ujungnya cuma ngomong 'kita temanan saja'. Siap-siap gue mutilasi." Gerutu Allea sembari menetralkan debaran hebat dalam dadanya.


"Allea, bangun!. Nenek sudah masak menu sarapan kesukaanmu." Teriak Intan dari lantai bawah. Ia sangat bahagia dengan kehadiran Allea.


Dengan senang hati ia akan bangun pagi-pagi untuk melayani cucu kesayangan itu. Apapun yang Allea minta selalu di turutin.


"Meluncur Nek." Sahut Allea melangkah menuju meja makan.


"Allea, temenin kakek main golf ya." Pinta Pandu sembari menyesap tehnya.


"Enggak bisa, Mas. Allea mau aku ajak berkebun." Sanggah Intan.


Allea menopang dagu. Mengulum senyum menyaksikan Kakek-Neneknya adu mulut.


Lalu beranjak ke dapur kotor mengambil sesuatu. "Kali Kakek-Nenek butuh ini." Lempengnya menyodorkan teplon dan panci.


"Hahaha. Dasar cucu kurang ajar. Bukannya melerai malah dukung adu jotos." Ucap Pandu menyudahi perdebatan.


Intan pun ikut tergelak melihat tingkah cucunya.


Allea mengangkat kedua bahunya. "Ya setiap Allea nginep. Kakek sama Nenek selalu begitu. Coba kompak, sebelum Allea ke sini itu kalian diskusikan dulu. Pengin ngajak cucunya kemana. Bukan begitu, Kakek-Nenek Allea tersayang?."


Pandu dan Intan cekikikan mendengar tetuah cucunya. Ini siapa yang tua dan muda?. Kenapa perannya terbalik?.


Lalu mereka menikmati sarapan. Di selingi obrolan hangat.


Kiloanmeter dari kediaman Pandu, Arin kedatangan tamu tidak di undang. Tiga pria tampan berbaris di depan rumah.


kompak mereka mengucap salam pada Arin tatkala pintu terbuka.


"Melvin, Fauzan, satunya?." Arin mengabsen tamunya.


"Fauzi, Tante." Ucapnya sopan.


Dari dalam rumah Aslan teriak. "Siapa yang datang, sayang?."


"Ini." Arin belum selesai bicara, Suaminya itu mendekat ke pintu. "Astaga, ngapain kalian pagi-pagi ke sini?."


"Anu, Om. Allea-nya ada?." Cicit mereka kompak.


"Enggak ada. Mau ngapain nyari-nyari anak saya?." Aslan naik pitam. Ia bersedekap mengamati satu persatu pria muda di depannya ini. Yang terlihat gugup dan tegang.


"Ka..kami ingin mengajak be..belajar, Om." Gugup Fauzan.


"Enggak perlu. Anak saya sudah pintar." Sambar Aslan kesal.


"Pulang kalian, Anak saya enggak di rumah. Kalau pun ada, saya enggak iziin pergi." Imbuhnya ketus mengusir tamu tidak di undang itu.


Melvin menghela napas, "Maaf sebelumnya, perkenalkan nama saya Melvin, Om. Mungkin kedatangan saya menganggu waktu kumpul keluarga, Om Aslan. Maaf jika tidak sopan, akan tetapi saya ada perlu dengan putri, Om. Waktu saya di Jakarta tidak banyak." Jelasnya sembari menyajikan senyum ramah.


Kompak Fauzan dan Fauzi mengernyit mendengarnya.


"Oh ini toh anak yang sering dipuji-puji istriku. Not bad. Haih. Enggak bisa, Allea masih kecil." Gumam Aslan dalam hati memindai tampilan Melvin dari ujung rambut sampai kaki.


"Bilang saja nanti saya sampaikan."Tegas Aslan memalingkan wajahnya ke samping.


Dengan berat hati, Melvin pun mengangguk. "Baiklah. kalau begitu saya tulis surat ya, Om." Putusnya bergeser ke sebelah kiri. Segera menulis surat untuk gadisnya.


Fauzan dan Fauzi saling tatap. Lalu mengangkat kedua bahu mereka. "Ha? Masa cuma gitu saja langsung nyerah?." Cibir Fauzi menyeringai.


"Terus kalian ngapain masih di sini? Pulang san-."


"Ehm. Maaf Om. Saya ke sini ingin nagih janji yang pernah di ucapkan anak Om." Potong Fauzi. Membuat Aslan semakin naik pitam terlihat dari raut wajahnya.


"Aduh, Fauzi. Elu cari masalah." Komentar Fauzan dalam hati sembari nepuk jidat. "Ehm. Anu, Om Aslan. Maksudnya, kami ingin makan bareng sebelum UAS sekaligus sharing materi pelajaran." Sambung Fauzan berusaha meredakan amarah Aslan.


Karena ia tahu jika tetangganya ini marah, maka tidak segan-segan mengusir secara paksa. Dengan adu jotos, atau bisa jadi memberi hukuman menguras kolam. Dan membersikan rumahnya.


Melvin menoleh mendengar ucapan Fauzan. "Mereka dekat dengan Allea?. Tunggu. Dia pria yang nganterin Allea pulang. Hmmmm. Aku tidak menyukainya." Kata Melvin dalam hati sembari mengepalkan tangannya.


"Hah. Sekali lagi. Allea tidak di rumah. Dan perlu kalian catat. Saya tidak mengizinkan Allea kelayapan dengan kalian atau lelaki manapun. Mengerti!." Bentak Aslan berkacak pingang.


Fauzan dan Fauzi pun balik kanan. Meninggalkan kediaman Aslan. Helaan napas panjang mereka sebagai tanda meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


Rasanya ingin menonjok wajah Aslan. Tapi sadar lelaki itu Ayah dari gadis yang disukai.


"Tolong di sampaikan ya Om." Pinta Melvin was-was. Takut jika suratnya langsung di robek atau dibakar.


Aslan mengangguk. "Oke. Tapi saya baca dulu. Harus saya sortir kata-katanya. Kalau ada yang enggak pantas di baca Allea, maka langsung saya bakar. Intinya kamu hanya ingin pamit balik ke pondok kan?." Seringai Aslan sembari bersedekap.


Melvin menatap Aslan, "Tidak hanya pamit, Om. Sebelum pergi, aku ingin bertemu Allea. Kemungkinan aku tidak bisa bertemu dia lagi." Keluh Melvin dalam hati. Lalu mengangguk pasrah sembari tersenyum kecut.


...---------------...


Senin kembali menyapa dengan langit cerah. Di iringi sang mentari yang tersenyum malu-malu.


Para insan pengais nafkah telah siap memulai aktivitasnya. Rela berangkat pagi-pagi demi angkotan umum supaya lengang tidak berdesakan. Ada juga yang telat masuk kerja beralasan jalanan padat.


Tidak hanya mereka. Para pengais ilmu alias pelajaran pun tidak ingin kalah. Mereka terlihat sibuk. Dengan buku-buku di tangan. Membaca, menghafal materi untuk bekal ujian yang beberapa jam lagi segera mereka hadapi. Pekan ulang akhir semester genap. Ulang penentu dari hasil belajarnya selama ini. Akankah hasilnya sesuai yang diharapkan atau tidak?.


Dan sampai hari kembalinya Melvin ke pesantren, Allea tidak ada tanda-tanda menghubungi Melvin atau membalas suratnya.


Melvin menghela napas. Melangkah menuju kelasnya sembari memikirkan omongan sang Ibunda.


"Melvin. Mama tahu kemarin kamu bertemu dengan anak itu. Baiklah, Mama tidak melarang. Tapi ingat, Vin. Jodohmu sudah Mama siapkan." Tegas Indi tanpa peduli perasaan putranya.


"Mama-Papa sudah mengalah dan menuruti keinginanmu yang pengin ke pondok pesantren.Tapi untuk kuliah, kamu harus menurut pada kami." Imbuh Indi meninggalkan kamar Melvin.


Ia menghela napas sembari menyugar rambutnya. Lalu mengucap istighfar untuk menenangkan hatinya.


...----------------...


Setelah seminggu di gempur ujian. Akhirnya selesai juga. Kini tinggal menunggu hasilnya. SMA Kolios memasuki class meeting. Ajang lomba antar kelas yang di selenggarakan oleh osisi.


"Hei dari kelas kita siapa yang mau jadi wakil di lomba catur putri dan putra?." Ungkap sang ketua kelas X-1


“Allea, Iz. Otak dia kan encer." Usul Ramdan semangat.


"Iya gue setuju." Dukungan serentak dari murid putra.


"Yo,yo. Ngajuin nama enggak nanya dulu. Gue enggak mau. Males mikir. Skip cari yang lain. Masih ada Ghea sama Malika noh." Tolak Allea kembali merebahkan kepala di meja.


Diskusi mereka terhenti saat salah satu badan pengurus harian osis masuk ke kelas itu.


"Ngapain Kak Mei ke sini?."


"Ish, ish senyumnya itu loh. Bikin jantung porak-poranda."


"Kayaknya dia nyamperin Allea deh."


"Allea lagi. Allea lagi. Bikin kesel saja sih. Gue juga cantik dan pintar." Ketus Malika iri dengan Allea.


"Ssst berisik." Tegur Deo.


Lalu mereka memperhatikan interaksi Meisya-si bendahara osis yang berdiri di samping meja Allea sembari bersedekap dan mengulum senyum.


"Allea Alister." Ucap Meisya dengan nada rendah.


“Iya. Gue kenapa lagi?.“ Sahutnya mengangkat kepala. Lalu mengernyit melihat sosok gadis yang tidak pernah ia temui. "Gue enggak pernah buat salah pada kakak.“ Celetuk Allea menggeleng.


“Benar. Tapi gue datang ada perlu sama elu." Balasnya sembari tersenyum ramah.


"Bisa to the poin saja enggak. Gue lagi males mikir." Sambar Allea mengernyit.


Meisya mengulum senyum. Ia memang ingin berbincang dengan si murid teladan nan pintar tiada duanya ini. Yang sering kali di elu-elukan para guru sekaligus membuat mereka jengkel. Suatu kesempatan saat Sidin-guru kesiswaan, meminta salah satu anggota osis untuk memanggil Allea.


"Bisa ikut gue?. Pak Sidin yang minta." Terang Meisya.


"Kalau gue bilang enggak bisa. Tetep harus ikut, Kak?." Geleng Allea melirik kakak kelasnya.


Meisya tertawa kecil."Wah bener ya isu sedap elu itu. Yang sering gue-."


"Isu apaan?. Kok gue enggak pernah denger?." Potong Allea mengernyit.


"Ngeselin. Plus don't care sekitar. Angkuh, sombong, Sok pintar. Kecentilan. Genit. Plus narsisnya kelewatan." Sambung Fauzi yang sedari tadi bertengker di balik pintu.


Omongan Fauzi langsung di sambut jeritan murid putri kelas X itu. Ghea dan Allea reflek tutup telinga sembari geleng-geleng.


"Hihihi. lucu banget mereka?. Gue kira semua murid cewek di sini penggemar si ketua osis." Bathin Meisya mengulum senyum melihat dua murid putri di hadapannya ini.


"Oh minta di tampol rumus MTK gue itu anak. Memang gue pintar. Masalah?. Kalau berani, sini maju ke hadapan gue, battle soal MTK!. Sampai dia menang gue sembah sujud di hadapannya. Kalau gue yang menang. Siap-siap masuk rumah sakit." Ketus Allea mengedarkan pandangan.


Ruangan itu langsung lengang mendengar tantangan Allea. Mereka menatap horror Allea dan bergidik ngeri.

__ADS_1


Tentu saja mereka mengakui, pasti Allea yang menang. Bocah itu pantas berlagak.


Sebab, mereka tahu jika Allea sering menang adu argumen dengan guru matematika-Sigit. Mereka pun teringat tingkah teman sekelasnya itu.


"Allea, Bapak tidak pernah mengajarkan rumus seperti ini." Ucap Sigit mengernyit melihat jawaban soal Allea.


"Iya pak. Rumusnya saya buat simpel. Kalau di buku itu berbelit-belit." Jawab Allea menatap gurunya.


"Tapi-."


"Hasilnya sama kok pak, Sudah saya cocokkan. Terus saya pikir lebih baik pakai rumus sendiri, Bukan begitu pak Sigit?." Retorik Allea dengan wajah polosnya.


Sigit tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mendengus kasar dan geleng-geleng dengan kelakuan muridnya. Teman sekelas Allea menahan tawa melihat raut wajah sang guru yang menahan amarah. Auranya berasa ingin menelan Allea hidup-hidup.


Fauzi menggaruk tengkuknya. Suasana di kelas itu membuatnya tidak enak.


"Ehm, gue enggak tahu siapa orangnya. So, cepet ikut ke ruang pak Sidin. Kalau enggak mau, gue siap gendong elu." Celetuk Fauzi menyeringai dan langsung di sambut jeritan murid putri. Kompak mereka membayangkan di gendong si ketua osis ala bridal style.


"Najis." Desis Allea melotot dan bangkit dari bangkunya.


Tawa Mesiya menyambut desisan Allea. Sedangkan Fauzi hanya melengkungkan sudut bibirnya. Lalu mereka melangkah menuju ruangan Sidin.


...----------------...


"Skakmat." Seringai Allea menatap si lawan. Teman sekelas menyambutnya dengan seru kebahagiaan.


Setelah debat hebat dengan teman sekelas. Akhirnya, Allea mengalah dan mengikuti kegiatan class meeting. Tidak masalah, lumayan sebagai kenangan semasa sekolah. Nikmati saja, Toh nanti pasti dirindukan bila sudah tamat SMA.


"Sial. Cepet banget. Katanya enggak pernah main catur." Decak kesal Aira menggaruk rambutnya. Ia benar-benar tercengah.


"Kenapa, Kak?. Heran ya dengan kelihaian gue?." Retorik Allea cekikikan. Yang langsung disambut pelototan Aira.


"Gue memang hebat kak. Sekali lihat langsung jago. Ya gimana lagi, namanya juga Allea. Apa sih yang enggak bisa?." Imbuhnya sombong sembari menunduk sekilas lalu meninggalkan Aira. Si kakak kelas itu mengeraskan rahang dan mengepalkan tangan menatap punggu Allea.


"Udahan kan?" tanya Allea. Ia ingin segera ke kelas berkutat dengan tumpukan buku-bukunya.


"Belom, Allea." Kompak mereka.


"Lokasi selanjutnya lapangan futsal. Lomba futsal putri. Kelas kita lawan X-1 IPS." Informasi Linda salah satu murid putri di kelas X-1 IPA.


"Hah. Ngapain sih capek-capek rebutan bola. Mending beli saja." Dengus Allea.


"Yee. Si bocah kelewat pintar. justru serunya tuh disitu." Pekik mereka heboh. Lalu mereka pun masuk ke lokasi futsal.


Formasi kelas Allea sudah tentukan. Posisi kiper di isi Allea. Linda mengisi posisi jangkar. Posisi Sayap di isi Ghea dan Malika. terakhir, Fina mengisi posisi penyerang.


Setelah lapangan itu terisi para pemain, Fauzan-sang wasit jalannya permainan langsung meniup peluit.


Para penonton pun berseru heboh. Kebanyakan penonton pria menggaungkan nama Allea. Sebuah kesempatan yang mereka nanti-nantikan. Melihat langsung kecantikan si murid teladan bin pintar itu.


Lalu mereka mengernyit melihat Allea yang mengamati gawang lawan dengan bola di tangannya.


"Alleaaa. Tendang bolanya. Ngapain sih, lu?." Seru timnya kesal. Karena Allea menjeda permainan lebih dari lima menit. Mereka ingin segera menyelesaikan lalu istirahat.


"Sebentar kawan. Gue kepikiran rumus gaya tendangan-."


"Bodo amat!." Pekik mereka serentak sembari menjatuhkan pantatnya ke lantai.


Para penonton tergelak mendengar perdebatan pemain setim itu. Dan pertandingan yang bermula tegang, seru mendebarkan itu kini mendadak dagelan.


"Apa salah gue?." Retorik Allea menggarung tengkuknya yang tidak gatal. Ia berjalan mendekati timnya.


"Elu salah, Allea. Ini pertandingan bukan ngerjain soal Fisika." Kesal Ghea sembari menyugar rambutnya.


"Lagi kayak gini kok ya sempet-sempetnya mikirin rumus, Al." Sambung Fina sembari mengikat rambut.


"Tahu nih si anak kelewat pintar. Mood gue jadi anjlok. Inget jawaban ulangan Fisika gue. Mana banyak tang-ting-tung. Kalau sampai dapet nilai dibawah KKM. mampus gue, siap-siap digeprek nyokap." Keluh Malika menyangga dagunya.


"Tidak. Jangan racunin otak gue buat mikir gitu, Mal. Huwah. Capek gue di hukum nyuci mobil, enggak di kasih uang jajan setiap nilai ulangan gue jelek." Tandas Linda ikut menyuarakan isi hatinya.


Allea hanya tersenyum canggung. Dan ke empat temannya langsung merenung memikirkan hasil ujian. Mereka memang tergolong murid pintar. Sering peringkat satu atau tiga besar semasa SD-SMP.


Dan akhirnya mereka sepakat mundur dari pertandingan. Kepikiran nilai ujian yang kebanyakan dijawab asal.


Tapi beda cerita dengan Allea. Ia menikmati acara class meeting itu. Seakan mendapat pengalaman baru. Dan berbaur dengan teman dari beda kelas.


Ia melupakan tawaran Sidin untuk menjadi calon ketua osis di periode selanjutnya. Lupa membaca surat dari Melvin yang di titipkan Ayahnya. Untuk saat ini, ia ingin menikmati masa-masa SMA yang hanya sekali selama hidup.


Karena keseruan saat SMA ini pasti akan dirindukan tatkala sudah lulus. Mari melukis kenangan indah semasa sekolah. Dan lupakan kejadian menyesakkan dada.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2