Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 9 Welcome Back


__ADS_3

Arin menompang dagunya. Memperhatikan kegiatan Allea yang sedang mengoceh dan berusaha tengkurap. Menunggu Aslan pulang untuk gantian jaga seperti yang dijanjikan. Tapi sayangnya, Sudah beberapa hari Aslan tak pulang tepat waktu atau sering pulang dini hari. Lalu atensinya beralih ke layar benda 32 inci di depannya. Acara infotainment sedang mengulik berita artis papan atas yang akan kembali ke dunia entertainment.


"Allea. Lihat Mamimu. Cantik bukan?". Lirih Arin menggendong tubuh gembul Allea ke pangkuan.


"Anak cantiknya Bubu. Jangan pernah membenci Mamimu. Mungkin dia punya alasan yang kita gak tau". Allea hanya melambaikan tangan mungilnya ke pipi Arin sembari bersuara khas bayi enam bulan.


"Ck. Brisik sekali". Ketus Aslan menyambar remot TV di meja dan menjatuhkan pantatnya ke shofa samping Arin.


"Oi. Aku sedang nonton. Kenapa main dimatiin?". Sungut Arin kesal.


"Diamlah. Jangan brisik. Aku sangat capek". Lirih Aslan sembari menekan pelipisnya.


Tiba-tiba Arin beranjak dan langsung menaruh Allea di pangkuan Aslan. Reflek Aslan mendekap tubuh Allea.


"Gila.Apa yang kau lakukan? Aku belum mandi atau cuci tangan". Dengus Aslan. Si empu tubuh bukannya menangis justru terkekeh.


Aslan mengernyit. Heran dengan sikap anaknya.


"Bayi aneh. Bukannya menangis malah girang. Hah". Lirih Aslan sembari mecium pipi gembul Allea.


"Hei. Tuan Alister Aslan anda..."


"Aslan Alister". Potong Aslan membenarkan.


"Iya. Iya itulah pokoknya. Anda gak lupa kan kesepakatan kita?. Terus kenapa hampir satu pekan Allea selalu bersamaku sampai 24 jam?". Tegur Arin tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Aku ingat. Tapi untuk sekarang bisakah jangan tanyakan apapun". Ucap Aslan lesu.


"Dih pedenya. Dikira aku kang tanya-tanya apa? I don't care about your activity Mister Aslan. Aku tuh kesel. Dari tadi Meli keluar belum balik-balik. Mana bentar lagi jemput si ngeselin Bian" . Gerutu Arin dalam hati sembari beranjak menuju dapur.


"Dasar gak peka. Malah ninggalin gitu saja". Gerutu Aslan. Beberapa menit kemudian ia mencium bau menyengat dan menggugah cacing di perutnya. Ia melangkah ke arah bau menyengat itu. Meja makan.


"Aku gak akan bagi-bagi". Celetuk Arin dengan nada tak peduli dan terus menikmati mie instan kesukaannya.


Aslan menyunggingkan senyum. Lelah yang ia rasakan mendadak hilang. Penat akan kabar kehadiran seseorang yang membuatnya risau pun sejenak mengikis.


"Sepertinya enak". Aslan menelan ludah. Arin hanya mengangguk.


"Maaf tuan. Saya tadi keluar sebentar. Kemarilah nona Allea". Ucap Meli membawa Allea ke atas.


"Kau mau?". Tawar Arin. Aslan mengangguk. Layaknya anak kecil yang ditawarin mainan.


"Aku gak bisa masaknya". Lirih Aslan.


"Gampang kok. Baca saja petunjuk di belakang kemasan". Acuh Arin masih asik dengan kegiatannya.


"Dasar cewek aneh. Masakin lah harusnya. Heran. Apa gak ada niatan ingin cari perhatianku?". Batin Aslan medengus.


Aslan mendekati lemari yang Arin tunjuk. Ia membuka dan mengernyitkan dahi. Bengong dengan pemandangan isi lemari.


"Sejak kapan ada mie instan sebanyak ini?". Komentar Aslan.

__ADS_1


"Baru kemarin kok. Airnya sudah aku panasin tinggal kau masukin mienya kalo sudah mendidih. Anyway, aku minjem mobilnya ya. Thank you". cerocos Arin sembari menyambar kunci mobil Aslan dan berlalu tanpa menunggu jawaban Aslan.


"Hei. Tunggu. Ck. itu bukan minjem tapi nyuri. Mau ke mana malem-malem gini. Katanya gak punya SIM". Gerutu Aslan.


......................


Setelah memarkirkan mobil milik Aslan. Arin buru-buru menuju ke area penjemputan kedatangan Internasional.


"Duh. Semoga gak telat. Kalo sampe telat Bisa-bisa tuh orang ngomel 7 hari 7 malam". Gumam Arin sembari sibuk cek notifikasi handphonenya.


Bruk...


"Maaf sa..." Mata Arin langsung melotot saat medongak melihat si empu yang tak sengaja ia tabrak.


"Sial kenapa cantik banget. Hei mulut.. ayo bicaralah". Batin Arin.


"Ehm. Tolong kerja samanya. Jangan kau hubungi teman-temanmu". Bisiknya sembari jongkok.


Arin mengernyit. Apa maksudnya? teman-teman katanya?. Sedetik ia paham yang di maksud. Lalu menyunggingkan bibirnya.


"Aku bukan wartawan. Kalo aku wartawan aibmu pasti sudah beredar di media sosial". Bisik Arin menepuk pundak Selin sembari beranjak dan melambaikan tangan ke arah Bian.


Selin berdiri sembari menggeleng. Memikirkan ucapan Arin.


"Memangnya kita pernah bertemu? Bukankah aku baru kembali?"

__ADS_1


......................


__ADS_2