Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 37 Wedding


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Alesha Arin binti Pandu Pratama dengan maskawin tersebut dibayar tunai."


"Sah."


Seru para undangan di hall. Lantunan hamdalah sekaligus tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Sang mempelai pria tersenyum kiku digoda mereka.


Sang penghulu hanya tersenyum dan memulai doa. Arin pelan-pelan memalingkan wajah ke samping, menatap pria yang kini sah menjadi suaminya.


Ia tersenyum tipis diiringi hati yang berdesir tidak karuan.


Doa telah usai. Aslan langsung menyambar kening istrinya. Memberikan kecupan singkat.


"Sabar woi masih siang." Protes mereka. Kerabat dan keluarga kedua belah pihak.


Acaranya digelar secara tertutup. Hanya sanak-saudara dan kerabat dekat yang di undang. Sebab Arin tidak ingin di publikasikan. Takut tekanan bathin jika diliput awak media. Tentu saja penggemar garis keras Selin akan menyerangnya melalui kometar pedas.


Bahkan tiga bulan setelah kepergian Selin, ia masih menerima makian lewat Direct Message di instangram maupun twitter. Setia sekali penggemar Selin. Alhasil, Ia memutuskan menghapus semua akun sosial media, Demi kesehatan ginjal, hati, lambungnya.


"Kayak mimpi kita nikah." Celetuk Arin setelah sampai kamar. Merebahkan badannya di kasur.


Acaranya dilanjutkan setelah Isya. Jadi masih ada jeda kurang lebih tujuh jam untuk istirahat.


"Hmmm. Kurasa tidak begitu." Balas Aslan menelengkan kepala sembari membuka jas yang di kenakan. Lalu berbaring di sebelah istrinya.


"Kau tidak ganti baju? Acara 'kan masih lama."


Sunyi. Tidak ada sahutan dari sang istri. Aslan menghadap istrinya yang sudah tertidur. Ia tersenyum Mengusap pipi wanita yang sah menjadi miliknya. Lalu mencium kening Arin.


Satu bulan sebelum pernikahan.


"Hei. Sudah lama nungguinnya." Suara khas bariton yang Arin rindukan.


Ia langsung menghambur ke pelukan lelaki itu. Bian. Ia ke Indonesia dalam agenda, meninjau beberapa perusahaannya sekaligus temu-kangen sang sobat karib.


"Wah. Makin ganteng saja, Bi. Hatiku mulai oleng nih." Goda Arin mengedipkan sebelah matanya.


"Hahaha. Sial. Berani sekali menggodaku." Timpal Bian sembari mengacak-acak rambut Arin.


"Hei. Hei. Rambutku."


"Tenang saja, aku siap beliin seluruh salon untukmu." Kelakar Bian menyela ucapan Arin.


Arin hanya mengulum senyum.


"Ehm. Maaf pak. Saya sedikit terlambat. Ini data yang anda perlukan." Ucap pegawai Bian menyela obrolan mereka.

__ADS_1


Arin terjingkat, "Kak Ali?."


Lelaki yang di panggil Ali itu mengangguk, "Hei Arin apa kabar?."


Bian mengernyit, "Tunggu!. Kalian saling kenal?."


Ali mengangguk dan tersenyum. Sekilas ia menatap Arin. Wanita yang mampu menggetarkan dadanya dari semasa kuliah hingga kini.


"Dulu kita satu organisasi, Bian. aku sangat mengenal kak Ali." Sambung Arin menghela napas.


Sial. Bisa-bisanya masih ada gejolak aneh setelah sekian lama tidak bertemu.


"He? Kok aku enggak tahu?." Kaget Bian menautkan kedua alisnya.


Arin tersenyum kiku. Memang tidak cerita ke Bian. Soal dirinya yang gabung di himpunan mahasiswa jurusan.


"Sudah berapa lama kerja di sana?." Tandas Arin penasaran sekaligus mengalihkan pembicaran Bian.


Tapi anehnya, mata mereka tidak bisa bohong. Malu-malu saat bicara. Dan ada rasa canggung diantara mereka. Sesekali Arin merapikan rambutnya yang di terpa angin. Dan pura-pura berdehem.


Bian mengulum senyum melihat tingkah pegawai dan sahabatnya, "Ehm. Kau mau ngasih undangan pernikahanmu 'kan?." Sambung Bian sembari membuka berkas yang Ali bawakan.


"Kau harus say thank you padaku, Aslan." Bathin Bian menyunggingkan sudut bibirnya dan melirik raut wajah Ali.


Ali terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Arin.


"Ehm. Baiklah kalau sudah tidak ada lagi. Saya permisi." Ucap Ali setengah menunduk.


"Eh. Enggak makan dulu kak? sekalian reuni kecil-kecilan." Tawar Arin sembari tersenyum ramah.


"Enggak. Dia masih banyak kerjaan." Sanggah Bian. Ali pun mengantupkan bibirnya kembali. Mengurungkan niatnya menjawab tawaran Arin.


"Ih. Apaan sih, Bi?. Itu bukan."


"Benar yang dibilang pak Albi. Saya masih ada kerjaan. Mungkin lain kali saja, Arin." Ali memotong ucapan Arin.


"Baiklah. Nomorku masih sama yang dulu kak." Ungkap Arin mengangguk.


Ali hanya tersenyum setengah menunduk dan berlalu.


"Maksudmu apa? ngasih harapan ke dia? Ingat Arin, sebentar lagi kau nikah." Bian mengomel.


"Jangan asal nuduh, Bian. Aku hanya say hello sama kating. Apa salahnya?." Sanggah Arin tidak terima.


"Salah, Arin. Karena kau menyukainya." Tebak Bian tanpa basa-basi.

__ADS_1


Arin tidak segera menjawab. Ia menghela napas panjang. Ia membenarkan dalam hati.


"Itu dulu. Untuk apa sekarang di bahas. Toh aku akan menikah dengan Aslan."


"Kau masih bisa memilih, Arin. Sebelum janur kuning melengkung. Dan kau harus tahu, semakin mendekati pernikahan. Pasti akan ada godaan untuk menggoyahkan hatimu." Bian menjeda. Menghela napas. Matanya melihat sosok lelaki yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka.


Ya. Pria itu Aslan. Ia mendengar semua ucapan Bian dan Arin. Niat menghampiri pun ia urungkan. Sesuai arahan Bian lewat isyarat angguan dagu, untuk duduk tepat di belakang Arin.


"Salah satunya, Si Ali. Mungkin masih."


"Jangan asal nebak. Hanya dia HTSku." Ungkap Arin mendengus.


Bian terkekeh, "Astaga. Aku kemana saja? sampai enggak tahu kau punya HTS."


"Aku yakin kau masih ada rasa sama Ali." Imbuh Bian. Memperjelas perasaan Arin.


Arin menyisir rambutnya dengan jemari. Ia menyunggingkan sudut bibirnya. Menggeleng merasakan getaran dalam dadanya, saat nama itu di sebut.


Arin mengangguk. Percuma mengelak di hadapan Bian.


"Lalu, Apa pilihanmu? Melanjutkan nikah atau menghampiri Ali di kantorku?." Bian mengajukan pilihan seakan mewakili perasaan Aslan.


Aslan yang mendengar menahan napas. Cemas dengan jawaban Arin. Memang beberapa hari lalu ia mendengar perasaannya. Tapi, ini beda situasi.


"Aku memang sedikit goyah, Bian. Bahkan beberapa menit lalu, ada keinginan untuk menunda atau membatalkan. Tapi, sepertinya aku tidak bisa meninggalkan Aslan. Entahlah, Sejak kapan rasa ini tumbuh bersemi padanya." Jelas Arin tersenyum malu-malu.


"Lega dengarnya. Aku kira kau akan lari ke pria tadi. Ah siapa namanya? Ali." Sambar Aslan sembari mengelus kepala Arin.


"Aslan?. Bian?. Sialan. Kalian mengujiku." Dengusnya menutup muka. Malu.


Aslan dan Bian tertawa sembari tos. Mendadak kompak sekali dua lelaki ini.


...----------------...


"Mau honeymoon kemana, Sayang?." Tanya Aslan setelah mereka tiba di balkon.


Sengaja sang mempelai pengantin melarikan diri dari acara. Ingin menghirup udara segar. Telinganya tidak kuat mendengar alunan musik nan begitu keras.


"Hmmm. Aku ingin lihat rumah Nobita." Jawab Arin sembari menatap langit gelap yang ditemani satu,dua, tiga bintang bersinar.


Aslan mengernyit,"Ha? maksudnya?."


"Jepang, Aslan tercinta." Balas Arin menghela napas panjang.


Aslan tersipu malu sembari terkekeh. Lalu mencium bibir ranum istrinya.

__ADS_1


"Dan begitulah hidup terus berjalan. Terkadang tidak semua berjalan sesuai harapan. Tidak ada yang sempurna baik jalanku atau dirimu. Lantas dengan cara bagaimana kau menghadapi hari esok?."


...~•SELESAI•~...


__ADS_2