Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 18 Kunjungan I


__ADS_3

Seorang lelaki mengenakan pakaian casual memasuki area hotel Wilson sembari menarik koper 20 inci. Wajahnya yang rupawan membuat pengunjung dan para staf hotel terpesona. Saling berbisik. Penasaran dengan identitasnya. Menebak sesuka hati.


"Ehm Direktur Room di sebelah mana?". Tanyanya pada resepsionis.


"Maaf. Apakah tuan sudah punya janji?". Ucap salah satu staf hotel dengan ragu.


Lelaki itu berkacak pinggang. Sedikit kesal. Namun aura kekesalan itu membuat pesonanya semakin bertambah. Begitulah kata para kaum hawa di area hotel yang menyaksikan.


"Bilang saja Athan William". Ucapnya datar. Resepsionis itu dengan cepat menghubungkan saluran telepon ke ruangan Direktur yang baru saja mengakuisis hotel itu.


"Mohon di tunggu tuan. Beliau akan turun".


"Hmm". Dengus Athan. Ia mengambil ponselnya di saku celana. Membuka sosial media. Lalu mengembangkan senyum saat melihat postingan akun yang selama ini ia follow. Senang setelah sekian lama si pemilik akun vakum sosial media kini dalam beberapa hari kembali hidup. Walau hanya postingan iklan.


"Akhirnya kau come back". Lirih Athan sembari meninggalkan jejak komentar di akun itu. Lalu atensinya beralih ke sumber suara dari belakang.


"Athan. Sampai jam berapa? Maaf, mama lupa kau datang hari ini". Ujarnya sembari mencium pipi putra kesayangannya.


"Lupa jam berapa. Pokoknya setelah Mama telpon nyuruh aku ke sini. Aku langsung berangkat". Jelas Athan sembari mengantongi ponselnya. Mama tersenyum mendengar penjelasan dari putranya.


Athan William adalah putra satu-satunya Dina dan sang suami Steve William. Mereka menetap di New York saat usia Athan delapan belas tahun. Tetapi Dina sering bolak-balik ke Indonesia untuk mengurus bisnisnya.


"Lusi. Tolong koper ini taroh di kamar VVIP ya". Pintanya pada salah satu resepsionis.


"Baik bu". Jawab Lusi sopan.


"Terima kasih". Ucapnya tersenyum ramah. Lalu mereka berjalan menuju lift.


"Mama sudah bertemu dengan anak itu?". Tanya Athan. Mama Dina menganguk sembari menekan tombol angka 10.


"Apa dia baik-baik saja?". Tanya Athan lagi.


"Entahlah. Mama harap dia baik-baik saja". Getir Mama Dina.


"Kenapa Mama gak menjenguknya?".


"Oh. Astaga. Kenapa gak kepikiran. Athan antar Mama ke kafenya ya. Mama dengar dia punya kafe dan juga mengadopsi anak". Binar Mama Dina bangga.


Athan hanya menghela nafas berat. Tak mungkin menolak keinginan kanjeng Mama. Walau dalam hatinya menggerutu. Berdecak kesal.


......................


Pukul 06.00 pagi.


Seorang perempuan cantik menekan bel apartemen Bian. Ia tak sabaran menunggu si empu apartemen membukakan pintu.


"Ck. Siapa sih pagi-pagi ngajak ribut?". Gerutu Bian sembari bangkit dari ranjang dan mengacak-acak rambutnya.


Ceklek.


Bian membuka pintu. Lalu tanpa permisi si tamu tak diundang masuk ke apartemen.


"Oi. Siapa yang nyuruh kau masuk?". Kesal Bian.


"Elah Bi. Galak amat. Gak kangen apa sama Kakak tercintamu ini? Kita lumayan lama gak ketemukan?". Sahut Aliza santai sembari meletakkan koper dan tasnya.

__ADS_1


"Tunggu-tunggu. Apaan ini? Jangan bilang kau mau tinggal di sini?". Tebak Bian setelah melihat barang-barang kakaknya.


"Hehehe. Iya sementara saja. Boleh ya adik aku tercinta?". Bujuk Liza sembari senyam-senyum.


"Gak bisa. Apaan sih. Pergi sana ke mension atau enggak ke hotel". Ketus Bian sembari menuangkan air putih ke gelas.


"Hiks. Jahat banget sih Bi sama Kakak sendiri. Padahal kalau sama Arin boleh-boleh saja". Rajuk Aliza pura-pura menangis.


Bian medengus. Ia tak bisa mengelak. Memang benar apa yang dibilang kakaknya.


"Kakak ada urusan apa ke Indo?". Bian mengalihkan pembahasan.


"Rahasia". Celetuk Aliza.


"Ck. Tuh giliran aku nanya baik-baik. Kakak jawabnya ngeselin gitu". Kesal Bian.


"Ya ampun tayang. Soriii. Hahaha sudah lama ya aku gak godain adik tersayang. tercinta aku ini". Goda Aliza sembari menepuk-nepuk pundak Bian.


"Ih. Nyebelin banget sih. Enyah kau". Kesal Bian sembari lempar bantal sofa. Reflek Liza menghindar sembari terbahak-bahak dan lari menuju kamar tamu. Ia bahagia melihat Bian geram.


Menurutnya Bian imut dan lucu kalau marah. Hahaha. Kelakuan sang kakak memang doyan sekali membuat adiknya kesal. Jengkel. Mengkal.


Entahlah. Mungkin misinya selesai setelah sang adik merasa kesal. Hihihi author curcol nih. Ups.


"Bian. Kakak minjem mobilnya ya". Teriak Liza dari dalam kamar.


"Gak bisa. Aku ada meeting jam 9". Bian tak mau kalah. Ia juga teriak.


"Nanti aku anterin dah". Bujuk Liza sembari duduk di samping Bian dan meraih makanan ringan di meja.


"Gak mau. Ambil aja sih di mension. Sekalian nengokin Nenek" Saran Bian.


"Buwahahaha. Syukurin. Makanya jangan klayapan terus"


"Hei bocah itu bukan klayapan tapi treveling". Potong Liza cepat.


"Iya dah apalah itu. Tapi kakak mau sampai kapan seperti ini terus?. Papa pasti bahagia kalau kakak mau ngurus salah satu perusahaan. Dan coba sisipin jadwalmu yang padat itu untuk nengoin Mama-Papa. Mereka menunggumu. Merindukan putri satu-satunya" Tutur Bian ada nada sedih di setiap kata-katanya.


"Idih. Idih. Adik akuh sekarang sudah besar. Ya ampun. Astaga. Long time no see Kau kok makin keren Bi. Kakak makin jatuh cinta. Ya ampun. Coba kalau bukan adik sendiri. Udah aku embat jadi gebetan". Goda Liza bangga dengan sang adik sembari memiting kepala Bian.


"Najis. Lepasin!. Gila!". Teriak Bian kesal memukul bahu Liza. Lalu setelah Liza melepaskan pitingannya, Bian beranjak menuju kamar. Ia akan siap-siap dan pergi ke Rumah Sakit. Liza menatap punggung adik tersayangnya. Ia tersenyum getir.


"Maafin Kakak Bi". Lirih Liza sembari menunduk. Ia masih belum berdamai dengan masa lalunya.


......................


@Hotel Wilson


"Jadi. Hotel ini akan Mama berikan ke anak itu. Terus Mama nyuruh aku membimbing anak itu untuk ngelola. Mama bercandakan?". Lesu Athan setelah mendengar penjelasan sang Mama kenapa ia di suruh ke Indonesia.


"Memangnya wajah Mama seperti bercanda?". Retorik Mama Dina sembari tersenyum. Athan mengela nafas.


"Sial. Kenapa sih Mama curang. Mana mungkin aku menolak kalo ngomong dengan wajah seperti malaikat gitu". Keluh Athan dalam hati.


"Athan. Kau tahu. Dia anak yang baik. Cantik pula". Ucap Mama sembari tersenyum.

__ADS_1


"Ha. Terus? Maksdunya apa?". Kernyit Athan belum menangkap kode Mama. Ia mengernyit. Masih memahami ucapan sang Mama. Lalu ia menyeringai saat paham.


"Hee. Itu gak mungkin Ma". Sanggah Athan. Mama hanya mengangkat bahunya dan tersenyum. Athan medengus kesal melihat sikap Mama Dina.


"Ayo berkunjung ke kafenya. Sekalian Mama kenalin". Ajak Mama. Athan hanya menghela nafas dan mengekori Mama Dina.


Setelah perjalanan kurang lebih 30 menit. Mobil sedan hitam sampai di Al's Cafe. Mama Dina melotot saat melihat parkiran penuh akan kendaraan pengunjung. Mama Dina berjalan terlebih dulu Athan menggeleng seakan nuansa kafe itu tak asing di matanya.


Kricing


Suara pintu saat terbuka. Semua pengujung menoleh ke sumber suara. Pengujung perempuan langsung terpesona dengan wajah blasteran Athan.


"Widih ada mas bule. Minta photo boleh kali ya."


"Siapa ibu-ibu paruh baya itu? Ibunya kah?".


"Astaga Tuhan. Cakep sekali blasteran surga ini".


Begitulah bisik-bisik para pengunjung dan ada juga dua sejoli yang bertengkar gara-gara sang kekasih menatap Athan penuh damba.


Arin mengeleng melihat kelakuan pengunjungnya. Lalu matanya menangkap sosok ibu paruh baya. Ia meletakkan gitarnya dan beranjak menghampiri Mama Dina.


"Hallo tante. Apa kabar?". Sapa Arin sembari mencium tangan Mana Dina dan memamerkan gigi putihnya.


Deg


Athan kaget. Tak percaya dengan sosok yang berdiri di depannya. Tremor. Lidah kelu. Perasaan campur aduk. Bayangkan, jika kalian ketemu seseorang yang selama ini di kagumi. Tiba-tiba muncul di depan kalian. Apa gak mati berdiri? Saking senangnya. Begitulah kiranya perasaan Athan saat ini.


Athan adalah penggemar rahasia Arin sejak di acara perlombaan cerdas cermat tingkat nasional dan acara audisi waktu itu.


"Aku ingin say hello padamu. Tapi kenapa lidah ini kelu. Jantung pun seakan berhenti memompa. Dan mendadak aku lupa bernafas. Alesha Arin. Murid dari Sekolah Tetangga yang dulu sering aku kepoin. Berita kepintaraannya menggemparkan sekolahan aku. Dulu sering kali aku pura-pura menunggu busway di halte sekolahnya hanya demi melihat senyuman seperti ini dan mendengar pekikan suaranya saat dia ngobrol. Lucu memang. Padahal Mama kelimpungan mencarimu. Gak tahunya orang itu kau yang selalu aku perhatikan dari jauh". Gumam Athan dalam hati sembari menatap Arin. Lalu ia tersenyum malu-malu sembari menuduk.


"Alhamdulillah tante sehat nak. Oh iya kenalin anak tante". Ucap Mama Dina tersenyum senang.


Arin mengulurkan tangan sembari berkata, "Alesha Arin". Lalu tersenyum ramah.


Athan tercengah. Pikirnya kosong. Rangkaian kata yang ia siapkan di kepalanya mendadak hilang tanpa sisa.


1 detik


2 menit berlalu Athan masih terpana menatap wajah Arin hingga mengabaikan uluran tanggannya.


"Ehm. Athan ada apa denganmu?". Bisik Mama Dina. Athan kaget dan menoleh Mama Dina. Ia mengernyit.


"Aaa. Ehm aku Athan William". jawabnya sedikit bergetar dan menyambut tangan Arin.


"Athan William? kayak pernah denger". Gumam Arin lirih.


"Senang bertemu denganmu kak". jawab Arin sembari melepas jabatan tangan dan menarik ujung bibirnya.


"Tangannya keringatan". Komentar Arin dalam hati.


Lalu ia mempersilakan Mama Dina ke lantai atas untuk tempat berbincang.


......................

__ADS_1


Author; Aslan sainganmu datang.😈


Aslan; Teganya kau wahai author. Mana pawang menyebalkan itu belum jinak. Ini lagi datang saingan berat .😭😭


__ADS_2