Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 8 Siapa Dia?


__ADS_3

"Maaf Nira. Anakmu belum aku temukan". Lirihnya sendu. Ia menatap foto di meja kerjanya bersama sang sahabat. Selama ini ia menjalankan amanah sang sahabat. Mencari anak satu-satunya dan akan menceritakan kronologi yang terjadi pada mereka saat bertemu.


Perempuan paruh baya itu menghembuskan nafas berat. Frustasi akan sosok orang di belakang anak sahabatnya itu. Keberadaannya sangat sulit di lacak.


"Aku yakin dia bukan orang biasa. Pasti punya latar belakang sangat kuat. Tapi siapa orangnya?". Monolognya.


Kiloanmeter dari tempat itu, seorang pemuda tampan keluar dari ruang rapat dengan wajah muram. Ia geram dengan staf di perusahaan cabangnya. Laporan keuangan tak sesuai harapan. Progres pekerjaan molor dari waktu penjadwalan.


"Sial. Bisa-bisanya berantakan seperti ini". Gumamnya berlalu menuju ruangan. Lalu mengambil benda lima inci di sakunya.


"Bagaimana situasinya? Apakah orang itu masih mencarinya?"


"Masih tuan. Sekarang tidak hanya dia yang mencarinya. Tapi Tuan Pratama".


"Apa? Pratama pejabat tersohor itu?".


"Benar Tuan".


"Oke. Amati dulu pergerakan mereka. Lalu bagaimana keadaan dia? apa dia baik-baik saja?"

__ADS_1


"Baik tuan. Nona sejauh ini masih aman dan menjalankan kehidupan seperti biasa".


"Oke. Thanks infonya". Ucapnya memutuskan komunikasinya.


Ia menggeleng. Mengingat awal pertemuan dengan sahabat yang sangat di sayangi layaknya adik kandung.


Flash Back


Seperti biasa dalam keluarga Jansen. Setiap Tahun mereka selalu memberi santunan ke Panti Asuhan yang berbeda. Kali ini giliran Panti Asuhan Pelita Kasih. Dengan berat hati tuan muda Albian Jansen mengikuti setiap rangkaian acara.


"Membosankan". Keluh remaja lima belas tahun dengan mata menyisir area Panti. Ia mengernyit saat matanya melihat pintu gerbang. Gerak-gerik dua orang dewasa mengikuti anak berseragam Sekolah Menengah Pertama dan langkah mereka terhenti saat anak itu masuk ke area Panti. lalu ia berjalan mendekati anak itu.


"Baru pulang?". sapaanya berlagak akrab sembari merangkul pundak anak itu dan melirik ke belakang. Dua orang pura-pura merapikan topinya.


"Alesha Arin. Tapi panggil Arin saja". jawab anak itu dengan bingung.


"Good girl". Sahutnya sembari mengusap rambut Arin. Setelahnya ia mendekati dua orang di balik gerbang yang belum beranjak.


"Hmm maaf tuan kalian sedang cari siapa?". Selidik Bian.

__ADS_1


"Ehm. gak cari siapa-siapa. Jangan hiraukan kami". Dengus salah satu dari mereka.


Bian menyeringai. Jiwa penasarannya bergejolak. Mungkin ini akan menarik.


"Kalian sedang mengintai anak tadikan?". Tebak Bian dengan tatapan iseng. Dua orang itu terkejut.


"Binggo!!.. Aku kenal dia". Pancing Bian sembari menatap arah pintu Panti. Dua orang itu saling menatap. Ragu ingin bertanya.


"Bagus. Bertanyalah terkait anak itu supaya aku yakin. Bahwa dia anak yang berharga bagi orang di belakang kalian". Batin Bian menilai.


"Ehm. Apa kau teman... tidak lebih singkatnya apa dia memakai kalung huruf AnP?". Salah satu dari mereka memutuskan bertanya.


Bian menatap dua orang itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia menarik sudut bibirnya. Entah itu menyenangkan atau membuatnya penasaran akan latar belakang Alesa Arin. Nama yang baru ia dengar.


Flash Back end


Ia mengerjap. Berjalan mendekati jendela.


"Arin. Siapa kau sebenarnya? Jika benar kau dibuang Ibumu seperti yang kau ceritakan. Tidak mungkin ada yang mencarimu. Tapi kenyataannya, mereka secara diam-diam mencarimu." Monolog Bian. Semburat sendu menyapa wajah tampannya.

__ADS_1


......................


~Happy Readying everybody. Sorry jika ada typo dan lainnya. And sorry update sangat lama. I work sering lembur. Huhuhu. Curhat dikit bolehlah. Hehehe. Semangat kalian.. baik yang sedang skripsi, cari kerja sana-sini, kerja lembur bagai kuda, ngasuh baby 👶, ect. Semangat... nikmati setiap prosesnya. See you all ♡♡


__ADS_2