
Minggu pagi nan indah. Sang mentari malu-malu menampakkan diri. Burung-burung pipit berkicau mengiringi semilir angin menepa daun-daun kering. Membelai tirai jendela. Mengisi ventilasi di setiap sudut ruangan.
Para asisten rumah tangga sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Bagi mereka, tak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Mau akhir pekan . Tanggal merah. Semua sama. Tak ada kata libur selain minta jatah cuti. Semangat sekali merapikan, membersihkan rumah orang lain.
Salah satu asisten rumah tangga di kediaman kota elite Mendekati sang majikan yang tengah terpaku memperhatikan kolam ikan.
"Tuan. Apakah nona Arin tidak akan tinggal di sini lagi?". Tanya Bibi Ina. Kepala asisten di mension.
Hening. Aslan terpaku dengan ikan-ikan di kolam yang saling berkejaran. Namun, pikirannya jalan-jalan entah kemana.
Bibi Ina menggeleng. Menghela nafas. Ia sangat paham dengan majikannya ini. Gamang akan pilihan yang ingin di putuskan.
"Bibi tidak tahu apa masalahnya. Tapi harapan kami, semoga tuan bisa membawa nona Arin kembali. Mension ini terasa hampa tanpa hadirnya nona Arin". Tutur Bibi Ina sembari mengenang Arin. Selalu ada tawa dan celotehan Arin di setiap sudut. Bibi menunduk dan tersenyum.
Aslan narik nafas niat menjawab pertanyaan Bibi Ina terjeda akan keributan dari arah ruang tamu. Mereka berbalik mendekati sumber keributan.
"ASLAN. APA YANG KAU LALUKAN SELAMA INI. HA? JELASKAN INI SEMUA". Nyalang Amran Alister sembari melempar map coklat.
Ia adalah Papa Aslan. Kabar burung yang belum tervalidasi itu sangat mengejutkan telinga Amran. Tanpa pikir panjang ia terbang dari Hongkong di tengah-tengah rapat penting dengan klien.
Aslan membuka map coklat. Matanya melotot. Dua lembar photo saat ia mencium kening Allea dan Arin tempo lalu.
"Aku bisa jelaskan Pa". Gugup Aslan.
"Hah. Mau jelaskan bagaimana? Mau mengelak apa lagi Aslan?" Ketus Amran matanya menyisir sudut ruangan. Lalu mengernyit. Tak ada foto keluarga di ruang tamu. Hanya satu frame besar terpasang di sana. Photo kelulusan Aslan bersama kedua orang tuanya.
Aslan mengeleng. Seakan ingat perkataan Rudi.
__ADS_1
"Hmmm Papa masih ingat gak? waktu aku masih SMA dan ada acara the got talented this year's". Aslan ragu-ragu bertanya sembari melirik Papa Amran.
"Jangan alihkan pembahasan Aslan. Papa hanya ingin mendengar penjelasan darimu. Papa tidak akan melarang pilihanmu".
Aslan menghela nafas. Ia menjelaskan photo itu dengan rinci. Namun, Aslan melewatkan siapa ibu biologis Allea. Amran mengernyit. Seakan tak percaya dengan penjelasan Aslan. Instingnya mengatakan masih ada yang ditutupin.
"Di mana anak itu As? Papa masih merasa bersalah padanya. Apa dia masih berhubungan dengan keluarga Jansen?".
"Masih Pa. Bahkan keluarga itu investor kafenya. Pa. Aku ingin tahu kejadian waktu itu. Tolong jelaskan". Pinta Aslan melas.
Hening. Amran termangu. Memikirkan kejadian tak terduga waktu itu. Aslan menunggu jawaban dari sang Papa. Namun, bibir Amran masih terkunci. Enggan untuk bicara.
"Maaf Aslan. Papa gak bisa jelasin". Pembicaraan mereka terjeda tatkala mendengar jerita Allea.
Reflek Aslan berlari ke arah sumber suara. Amran pun demikian.
"Huwaaaah. Papi, Bubu kenapa gak ada di cini? Allea gak mau mandi cama mbak Meli". Aslan menghela nafas lalu mendekati Allea yang duduk di tempat tidur. Amran langsung jatuh hati saat melihat bocah imut menggemaskan itu.
"Kan Bubu memang gak di sini sayang. Bukannya Bubu kemarin bilang. Harus nurut sama Papi atau mbak Meli?". Retorik Aslan sembari mengangkat tubuh Allea ke pangkuannya.
Allea tak menjawab. Bocah itu masih sesegukan dan menempelkan kepalanya di dada Aslan. Amran terpana dengan pemandangan di depannya. Ia tak percaya dengan sikap Aslan yang begitu lembut pada anak kecil. Ini pemandangan kali pertama di lihat.
......................
"Kyaaaaa". Teriak Aliza tatkala kejadian semalam melintas di pikiran. Ia langsung berlari ke lantai bawah.
"Arin. semalem aku gak aneh-aneh kan?". Gusar Aliza memastikan.
__ADS_1
Arin dan Bian kompak menggeleng. Aliza langsung menunduk lesu. Pikirannya kacau.
"Siapa yang membuat kakak kaya gitu?". Tanya Bian sembari memasukkan roti bakar ke mulut.
Aliza menoleh. Menghembuskan nafas. Ragu untuk cerita ke adiknya.
"Anak rektor". Arin memberi klu. Aliza langsung mendelik.
"Arhan Bastian?". Tebak Bian
Glek
Aliza menelan ludah. Ia mengunci mulutnya. Takut jika Bian bertindak. sekejam-kejamnya Papa tindak lebih tak berperasahaan adalah adiknya.
"Kakak gak mau jawab? atau aku pecat saja ya Pa Bastian". Bian menggeleng.
Arin melipir keluar. Ia tak ingin terlibat berdebatan mereka. Menghela nafas menikmati udah segar di pagi hari.
Melangkah menuju taman. Ia melihat sekeliling. Taman ramai akan pengujung. Rata-rata pengujung bersama keluarga kecilnya. Maklum akhir pekan. Jadi menghabiskan waktu untuk keluarga.
Ia tersenyum. Lalu duduk di bangku taman. menyadarkan punggungnya di sandaran bangku panjang. Tiba-tiba ia kepikiran Allea. Kangen mengajaknya jalan-jalan. mengambil ponsel di saku celana. Menatap kontak Aslan dan Meli. Siapa orang yang akan ia hubungi?.
Jarinya bergerak ke nomor Meli. Tapi ia menggeleng. Meli pasti sunggan kalau Aslan belum bangun.
lalu bergerak ke nomor Aslan. Aih lebih baik tidak. Pasti ia akan membujuk kembali ke mension dan entah kenapa masih ada rasa canggung saat ingat kejadian waktu itu.
......................
__ADS_1