Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
#Intermezo


__ADS_3

[Intermezo dulu permisa... no like skip saje lah 😁🤭]


Apa gak dugeun-dugeun tuh jantung kalau di tatap Pak Jaye kayak gini. 🤭



...♡♡♡...


Libur panjang semester 2 telah berlalu. Semua mahasiswa kembali ke habitatnya, Kuliah rutin bagi yang reguler.


Tugas menumpuk. Kuis dadakan. UTS. UAS. Mengikuti seminar sana -sini untuk meningkatkan wawasan. Serta ikut organisasi demi sebuah relasi.


"Cuy, kuatkan mental. Denger-denger Semester 3. Uhui mantap setengah gila, dosennya" celetuk Romi salah satu mahasiswa Akuntansi.


"Romiii. Mulutnya bisa diem sebentar. Gue mau menikmati soto bu uway dulu. Oke," dengus Jean kesal.


"Ah tau nih Romi. Bikin gak mood makan saja," Timpal Rusli.


Dari arah akademik Lelin tergompoh-gompoh menghampiri mereka. Napasnya tersedak-sedat. Memberikan informasi penting.


Dia yakin teman sekelasnya itu jarang sekali melihat papan pengumuman dosen-dosen yang akan mengajar disetiap mata kuliah.


"Gaes. Matkul Ake alias Akuntansi Keuangan, Didominasi Pak Jayendra."


"Uhuk. Uhuk. Maksudnya?," Jean melotot memastikan.


"Hampir seluruh kelas, beliau yang ngajar," Lelin menjelaskan.


"Edan. Getol sekali. Mau naik haji Pak," balas Jean menyesap jus mangganya.


"Si bodoh. Lu harusnya khawatir. Ck. Sial. Kemarin gue pilih dosen pengajar bukan beliau," lesu Romi tidak semangat.


"Bener. Gue paham kapasitas otak jadi lebih baik menghindari beliau," sambung Rusli lemas mendengar nama Dosen itu.


Jayendra Tarmizi. Dosen terkenal dikalangan mahasiswa Akuntansi. Pelit nilai. Displin absen. Mengusir mahasiswanya, jika telat datang ke kelas. Walau hanya 5 menit.


Yang menjadi momok bagi mahasiswa. Kuis dadakan sebelum mulai pelajaran. Dan anti remedial atau perbaikan nilai.


...----------------...


@Ruangan 36.


"Selamat pagi semuanya." Ucap Jayendra sembari tersenyum dan membenarkan kacamata minusnya.


"Pagi Pak."


Mereka menjawab kompak.


"Ini hari pertama kalian masuk setelah libur panjang. Baik. Mari kita kenalan terlebih dulu. Tak kenal maka tak sayang."


Lanjutnya sembari mengambil black marker .


Dia menulis nama dan alamat surelnya.


"Sengaja tidak memberikan nomor telepon. Saya tidak ingin ada yang meneror hasil UAS. Atau banding minta perbaikan nilai."


Jayendra menjeda sembari tersenyum.


"Ada 14 pertemuan, saya kasih jatah bolos 3x. Lebih dari itu akan mempengaruhi nilai kalian. Dan jika ada tugas, kalian masih ada kesempatan mengumpulkan sebelum saya duduk." Lanjut Jayendra menjelaskan kontrak perkuliahan.


"Oh iya. Perlu diingat. Tidak ada toleransi bagi mahasiswa yang telat masuk kelas saya. Meskipun hanya 1 menit. Silakan kalian putar balik, jika merasa telat." Tambahnya sembari senyum pepsoden.


Ya Gusti. Kalau rumahnya jauh gimana atuh, Bapak. kok nyebelin ya anda.


Bathin Jean protes. Entah kenapa dia tidak suka dengan Dosen ini.


Selanjutnya, Jayendra meraih absensi. Memulai menyebut satu-persatu nama mahasiswanya. Untuk pertemuan perdananya di kelas ini,


Dia hanya ingin mengulas sedikit pelajaran Akuntansi Keuangan di semester sebelumnya.


"Jenny?," sebutnya menatap ke arah mahasiswa. Mengedarkan pandangan.

__ADS_1


Hening. Tidak ada yang angkat tangan. Saling berbisik dan menoleh.


"Hmmm. Apa dia tidak masuk?."


"Mungkin ikut kelas siang Pak." Sahut salah satu mahasiswannya.


Jayendara menganguk dan memberi tanda di nama yang dia sebutkan. Lalu melanjutkan mengabsen lagi.


"Viola Lajuba?."


Nama terakhir di daftar absen.


"Hadir pak."


Jayendra menutup absen itu,"Apa ada yang belum saya panggil namanya?."


Jean mengangkat tangan, "Saya pak."


atensi mereka teralihkan ke suara itu. Menoleh ke bangku Jean yang berada di baris kedua dekat jendela.


"Siapa namamu?," Jayendra membuka absen kembali.


"Jean Manggala Pak."


"Tadi saya. Oh namamu bukan Jenny?." Retorik Jayendra menatap si empu nama yang mengernyit.


Jenny dari mananya sih pak?. Pikir Jean menggeleng.


Mereka ricuh dengan Jayendra yang salah sebut. Lalu ruangan berubah hening. Mecengkam tatkala Jayendra meleparkan pertanyaan terkait mata kuliah semester 2.


Semua mahasiswa hanya berbisik ragu ingin menjawab. Jayendra melangkah maju sembari senyum-senyum mengejek.


Sumpah demi apapun. Jean ingin menggapar wajah pongah Jayendra yang seolah meremehkan.


Tapi tidak dengan mahasiswi lain. Mereka justru terpesona dengan karisma Jayendra.


Lelin, si teman karibnya itu pun beringkar. Padahal kemarin baru saja berikrar tidak mungkin terpesona dengan Jayendra Tarmizi. Si Dosen Killer. Pelit Nilai.


"Jenny. Coba kau sebutkan 4 asumsi Dasar struktur Akuntansi Keuangan." Titah Jayendra menunjuk Jean dengan black marker.


Atensi mereka mengikuti arah tangan Jayendra. Lalu mereka protes.


"Jean Pak."


"Hehehe. Iya itu maksudnya. Maaf lidah saya belibet."


Bisik-bisik dari mahasiswi di belakang Jean. Mereka iri, ingin juga disebut namanya. Jean mendengus menahan kejengkelan.


Tangannya berkeringat. Jantungnya berdebar hebat. Mungkinkah jatuh cinta?.


Jatuh cinta your eyes!.


Dia lupa materi itu. Berusaha meingatpun tidak berhasil. Jika jawabannyan salah, pasti akan ditertawakan.


Sialan memang Dosen satu ini.


Bathin Jean merapelkan doa supaya jarum jam berputar lebih cepat.


Bismillah. Bismillah semoga cepat jam sebelas.


Matanya melirik jam di depan. Sembari pura-pura mikir.


"Oke. Cukup sampai di sini pertemuan kali ini. Sampai jumpa pekan depan." Lugas Jayendra sembari merapikan buku-bukunya.


Jean menghembuskan napas. Lega. Doanya terkabul. Dia mengulum senyum.


Jayendra menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah anak didiknya yang berkemas.


"Ehm, pekan depan break test mulai berlaku. Selamat belajar." Lanjutnya menyeringai.


Ruangan itu langsung ricuh membicarakan Jayendra. Mengeluh belum siap ikut kuis. Ada juga yang mengagumi Jayendra.

__ADS_1


"Enggak galak-galak amat kok orangnya."


"Iya. Kating sering melebih-lebihkan."


"Gue melting sis, lihat beliau senyum-senyum kayak tadi."


"Jantung gue meronta-ronta lihat pesona Pak Jayendra."


Masih banyak lagi obrolan mereka yang malas Jean dengar. Ia keluar ruangan itu dengan lunglai. Energinya terkuras. Kepalanya pening.


"Hei. Jenny. Hahaha. Sejak kapan lu jadi personil Black Pink?," goda Lelin melingkarkan tangannya ke pundak Jean.


"Baru debut beberapa jam lalu. Puas!," sungut Jean menepis tangan Lelin.


Lelin cekikian. Melihat mimik kesal Jean. Menurutnya itu menambah kecabian pipi sang sobat karib.


"Kayaknya nama lu sangat berkesan bagi pak Jaye. Awas Je nanti lu suka."


"Pale lu!. Gue tidak mungkin suka Pak Ginjer. Udah ah jangan bahas beliau. Bikin mules."


"Pak Ginjer?." Lelin mengernyit masih belum nyambung.


"Ck. Mulai dah. Ginjer. Bahasa Francisco nya, Jae pedas. Hahaha."


"Sialan. Sa ae lu buat julukan. Hahaha. Awas saja kalau sampai lu naksir berat."


"Hohoho. Tidak semudah itu sobat. You know? hati guwe hanya untuk kak Misbah seorang."


Seringai Jean berbisik di telinga kiri Lelin.


Lelin mendelik,"Wanjir!. Lu suka sama ketua Bespssddsfff."


Jean langsung membungkam mulut ember Lelin. Bisa gawat kalau seantero kampus tahu dia menyukai Ketua BEM.


...----------------...


@Kantin kampus.


"Sumpah. Gue masih gak percaya. Seriously lu suka."


"Iya. Kenapa sih? masalah?," Sahut Jean kilat.


Lelin hanya mengeleng. Ia tidak percaya dengan kriteria lelaki idaman sobatnya ini.


"huuft. Lu lihat dari sudut mana sih, Je? Pelit senyum. Raut menyeramkan gitu. Bisa-bisanya lu tertarik."


Jean tidak menyahut. Matanya berbinar melihat si objek pembahasan sedang berjalan ke kantin bersama anggota BEM.


Membahas afiliasi BEM SI yang akan menggelar aksi. Tolak reklamasi teluk Jakarta.


"Pas orasi, Lin. Wibawanya tumpah-tumpah. Gila. Keren banget."


Jean menompang kedua pipinya. Berbinar menatap si ketua BEM.


Lelin hanya geleng-geleng dan menghembuskan napas. Memalingkan muka.


"Je. Je. Lihat!," heboh Lelin saat melihat Jayendra berjalan ke arah kantin.


"Apaan sih?."


"Pak Jaye. Pak Jayendra makan ke kantin." Antusias Lelin.


"Heleh. Kirain apaan. Kemana saja lu? Gue sering kok lihat beliau order makanan di kantin."


Gantian Lelin yang belingsatan bak cacing kepanasan. Menyelipkan anak rambut ke telingan. Senyum-senyum supaya di lirik Jayendra.


Sayang sekali. Si mangsa justru melirik seorang gadis, yang dia sebut Jenny. Matanya enggan berpaling memperhatikan gerak-gerik si gadis itu.


Dia menyunggingkan sudut bibirnya, saat si gadis mengernyitkan dahi lalu mengulum senyum tatkala menatap benda lima inci di tangan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2