
Braakkkk
"Gak usah sok kecentilan deket-deket Fauzan. Dia itu cowok gue." Bentak Aira Basimah pada Allea.
Si sekertaris Osis. Yang terkenal galak sekaligus pendiri Most Beauty itu tidak suka dengan Allea. Keinginan melabrak adik kelasnya ini sudah lama dinantikan.
Sebab, ia tidak suka ketenarannya di kalahkan, untuk menjadi sepopuler sekarang butuh waktu satu setengah tahun. Sedangkan Allea hanya waktu enam bulan namanya sudah terkenal seantero Kolios.
Allea, si korban yang dilabrak hanya menatap sekilas kakak kelas itu. Lalu melanjutkan menikmati menu ayam penyet yang ia pesan. Malas meladeni, kicauan tidak penting.
"Hei. Gue ngomong sama elu nyet." Geram Aira melihat tingkah si adik kelas.
"Bentar kak. Jujurly gue lapar sangat abis ulangan MTK. Terus abis rehat dilanjut mapel Fisika. Jadi please, gue makan dulu. Nanti saja ngomel-ngomelnya". Balas Allea menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Si gila. Mana ada ngomel-ngomel ditunda?." Komentar Ghea teman sebangku Allea.
Aira melongo. Tidak menyangka diperlakukan seperti ini oleh adik kelasnya. Kesan pertama dari Aira. Adik kelas kurang ajar.
Suasana kantin langsung ramai. Serentak kaget mendengar omongan Allea.
"Berani sekali sama kak Aira."
Begitulah bisik-bisik mereka. Dan mereka pun semakin penasaran kelanjutannya.
"HEI, Gue lagi ngomong sama elu." Aira naik pitam. Tangannya berkacak pingang setelah menarik piring Allea.
Allea bangkit. Sebuah kesalahan yang dibuat Aira. Mengganggunya makan. Itu larangan terbesar yang seharusnya dihindari.
"Gue denger ketua geng M.O.S.T B.E.A.U.T.Y. Ck. Mau muntah gue. Dapet wangsit dari mana sih?. Buat nama geng norak kayak gitu." Komentar Allea menatap jijik ke anggota itu. Lalu menaikkan sudut bibirnya.
Aira melotot. "Hei. Elu."
"Gue belum selesai ngomong. Bisa diem sebentar." Sanggah Allea.
Ketiga anggota geng itu mendelik mendengar sanggahan Allea.
"Elu harus ingat, kalau perlu di catat. Jangan asal nuduh. Itu perilaku enggak baik. Siapa juga yang deket buaya rawa itu?. Gue gak tertarik samsek. Oke!. Pertama, karena tuduhan elu gak valid. So, makanan gue. Elu yang bayarin." Ungkap Allea sembari menunjuk piringnya.
Murid lain yang menyaksikan berbisik melihat tingkah Allea. Ada yang tidak percaya. Padahal, Allea yang mereka kenal. Orangnya baik, terlihat pendiam. Terkesan mudah ditindas.
"Sial. Pingin jedotin jidatnya." Lirih Sera anggota geng itu. Geram melihat tingkah tidak sopan Allea pada Aira. Dua di antaranya. Amel dan Linda tidak komentar. Mereka lebih baik diam.
Mata Aira membulat. Bibirnya gatal ingin menyambar. Tapi tangan kanan Allea diangkat, seakan memberi isyarat gue belum selesai ngomong.
Aira mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya.
"Kedua. Jangan ganggu gue apalagi pakai acara norak kayak gini. Jangan buang-buang waktu berharga gue. Dan." Ia menjeda. Menyisir rambutnya dengan jemari. Mengalihkan pandangan ke pintu kantin.
Senyum jahat Allea terbit, tatkala melihat sosok tersangka yang membuatnya dilabrak si kunti.
"Oi Ojan. Sini lu!." Seru Allea mengagetkan Fauzan.
"Si bodoh. Ngapa main manggil Ojan sih?. Aih masa bodo." Makinya dalam hati.
"Ha? Dia punya panggilan kesayangan?."
"Gila. Diam-diam menghanyutkan."
"Gitu kok katanya gak tertarik."
__ADS_1
Masih banyak lagi bisik-bisik dari para murid yang menyaksikan drama menggelikan menurut Allea. Ia menggeleng. Harus segera di selesaikan. Sebelum kesabarannya mengikis. Bisa-bisa wajah mereka rata jika taraf amarahnya meledak.
"Ada apa?." Kernyit Fauzan. Lalu menghembuskan napas melihat wajah masam Allea.
Pasti ada sesuatu yang membuat Allea pasang wajah ketus. Lalu melirik Aira yang mengatupkan bibirnya. Salah tinggah dilihat Fauzan, pria yang ia sukai.
"Kakak Fauzan Killian, Wakatos yang terhomat. Tolong kasih tahu pacar anda. Jangan pernah ganggu gue dan nuduh sembarangan. Sekali lagi dia nunduh tanpa fakta. Gue lempar sampai ke monas." Pekik Allea menekan ucapannya.
Seolah bilang Dengar!. Gue sama sekali enggak tertarik dengannya. Puas kalian!.
"Brrt." Fauzan langsung menutup mulut. Takut kena tendangan yang sering ia terima saat Allea marah.
Bagi murid lain itu terdengar sebuah ancaman yang menakutkan. Tapi Bagi Fauzan dan Fauzi justru terdengar lucu.
"Sebenarnya dia mau marah apa ngelawak sih." Bathin Fauzi mengamati Allea.
"Elu harus tahu, Kak Aira yang tercantik sejagat Kolios. Gue gak kenal sama buaya rawa ini. Catat itu. Oke. Dan"
Seringai Allea tangannya menengadah ke arah Fauzan.
"Apa?." Fauzan mengernyit.
"Bayar denda. Waktu istirahat gue yang berharga di ganggu." Ucapnya menujuk Aira dengan dagu.
"Seratus ribu." Imbuh Allea.
"Ha? Yang benar saja." Kesal Fauzan sembari mengambil uang di saku celana.
"Gebrak meja gak bersalah, sepuluh ribu. Ngomel tanpa fakta, dua puluh ribu. Menjeda makan gue, lima belas ribu. Buat drama norak, dua puluh ribu. Nyuruh gue inget elu, sepuluh ribu. Sisanya, dia ngerusuh lima belas menit waktu belajar gue." Tandas Allea merinci perbuatan Aira.
Fauzan tidak bisa berkata-kata mendengar penjelasan Allea. Ia hanya mendengus kasar.
Allea melirik arlojinya yang hampir menunjukkan pukul satu siang. Tandanya bel istirahat kedua telah usai.
Aira kelagapan sekaligus malu mendengar ucapan Allea. Ia benar-benar tidak percaya dengan rumor bahwa si adik kelas ini lemah. Justru keadaannya terbalik. Siapa yang lebih dominan?.
Ragu-ragu Fauzan menyerahkan jatah uang jajan sepekannya. Itu hukuman dari Iin, karena nilai ulangan tengah semesternya dibawah rata-rata.
Fauzan mendengus, dengan berat hati menyerahkan lembaran warna merah pada Allea
"Thank you." Seringai Allea mengibaskan uang itu di wajah Fauzan.
"Kemon, Ghea." Menarik tangan teman sebangkunya itu.
Ghea mengangguk, sedikit menuduk pada Aira dan Fauzan. Teman sedari SD-nya ini, tidak ikut campur. Karena ia yakin Allea mampu menyelesaikan. Bahkan mampu membalikkan keadaan dan berbuat jauh lebih gila dari orang yang mengusiknya.
"Gila. Pasti kak Aira sangat malu." Bisik Ghea sedikit melirik ke belakang. Melihat Aira yang mematung.
"Dia yang mulai. Gue cuman bales." Sahut Allea mengangkat kedua bahunya.
"Edan. Bisa-bisanya Melvin cinta mati sama cewek gila ini." Sarkas Ghea geleng-geleng.
"Hahaha. Apaan dah?. Jangan ngomong cinta-cintaan, Ghe. Mari sekolah, belajar dulu yang bener. Nimbun pengalaman lalu nimbun berlian." Ungkap Allea merangkul bahu Ghea.
"Hampir saja gue muji elu. Ujungnya kok pahit." Celetuk Ghea.
Lalu mereka tertawa.
...----------------...
__ADS_1
"Hahaha. Bisa-bisanya dia ngasih label elu, buaya rawa." Ejek Fauzi yang sedari tadi cekikian mengingat tingkah Allea.
"Tapi Zan. Dia kok manggil elu Ojan sih. Kedengaran akrab banget. Hayo kalian!." Selidik Faisal mengernyit.
"Ck. Apaan sih kalian?. Bisa enggak rapatnya serius. Dari tadi ngomongin dia terus." Kesal Aira cemberut.
"Jangan muna lu, Aira. Sebenarnya elu penasaran 'kan hubungan Fauzan dan Allea." Sambung Dafa Si bagian humas.
"Gue juga penasaran. Dia doang yang anti sama anak-anak Osis. Inget enggak setiap osis ngadain acara." Timpal Meisya si bendara.
Serentak mereka mengangguk. Tapi Fauzan menggeleng. Mengingat sesuatu.
"Enggak juga kok. Buktinya dia ikut ekskul taekwondo." Sahut Fauzan.
"Oh iya. Dia memang keren sih. Apa lagi pas banting lawan. Beuhhh, auranya tumpah-tumpah."Balas Davin sembari membayangkan Allea saat tanding.
Fauzi mengibaskan kertas ke wajah Davin. Tidak suka pria lain memikirkan gadis yang ia sedang dekatin.
"Rapat di pending." Putusnya. Suasana hati tidak baik. Mereka langsung bubar. Menujuk kelas masing-masing.
Tapi, Fauzan masih di ruangan itu.
"Zan. Elu menyukainya?." Datar Fauzi tanpa basa-basi. Ia kepikiran omongan Faisal si bagian kerohanian.
"Mana mungkin. Si bocil itu cuman gue anggep adik." Elak Fauzan. Walau hatinya menjerti. Mengiyakan, bahwa ia sangat menyukai bocah lucu menggemaskan itu. Yang kini telah tumbuh menjadi sosok gadis cantik nan mendebarkan.
"Oke. Mulai sekarang gue akan mendekatinya." Deklarasi Fauzi menyeringai. Melirik arlojinya lalu bangkit. Di ikuti Fauzan.
Parkiran. Itu lokasi yang mereka tuju. Celingungan mencari plat nomor mobil yang sangat familiar bagi mereka.
"Di sini gak ada." Lapor Fauzan setelah menyisir bagian kanan dan kiri parkiran.
Fauzi menyisir rambut dengan jemarinya.
"Hari ini pak Romi enggak jemput." Ucap Allea bersedekap di tembok dekat lorong.
Niatnya ingin ke perpustakaan. Tapi diurungkan, saat melihat gestur tubuh pria yang sangat familiar di matanya itu sedang mengendap-endap. Ia mengernyit dan mengikuti diam-diam. Untung saja jam kosong.
"Wah. Wah. Jadi ini ulah kalian." Tandasnya menghampiri mereka.
Dua pria ini salah tingkah. Kompak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Diam berarti membenarkan. Oke. Gue aduin ke Pak Danu."
"Jangan." Kompak mereka.
Allea menyeringai. Pak Danu memang terkenal galak kalau memberi hukuman. Tidak pandang anak pejabat, pemilik gedung atau ketua Yayasan. Kalau menurutnya salah, ya harus di hukum.
"Hah. Gue yang nyuruh mereka." Aku Fauzi datar.
Allea hanya mendengus kasar. Percuma marah-marah, toh hukuman yang di berikan orang tuanya tetap berlaku. Ia balik kanan meninggalkan mereka.
Akibat ulah mereka, Sepekan Allea di tugaskan jaga adik kembarnya yang merepotkan. Orang tuanya ingin menikmati waktu berdua. Alias berlibur ke Bali.
"Awas saja pulang-pulang nambah anak." Dengusnya lirih.
...----------------...
Hallo semua. Apa kabar? semoga sehat² ya kalian. Sorry baru nyapa dan mungkin langsung off lagi. Setelah nernak pinguin, kondisi badan saya tidak baik-baik saja. 🤒🤒 😭😭
__ADS_1
Jadi saya off sebentar untuk tidak update Episode tambahannya. 🙏
Terima kasih.