Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 15 Mengikhlaskan


__ADS_3

ARIN POV


Sial. Kepalaku pusing sekali. Di mana ponselku?. Pasti Allea mencariku. Hah. Peduli setan. Saat ini aku ingin sendiri tak ingin bertemu siapa-siapa. Tapi kenapa cacing di perutku protes?. Dengan langkah lunglai aku turun. Mencari makan. Tidak. Tepatnya minta makan. Setelah dapat aku ingin kembali ke kamar.


Apa-apan ini?. Kenapa harapanku berbeda dengan kenyataan. Ck. Lagi-lagi harapan itu membuatku kecewa. Bian. Si setan menyebalkan datang. Oh iya lusa kemarin dia bilang ingin bertemu. Pasti dia panik aku tak bisa di hubungi.


Apa tadi? Aku dikatain demit. Sialan. Tapi aku sedang malas berdebat. Biarkan sajalah. Lalu dia ceramah panjang lebar. Hingga telingaku pengar. Aku hanya mengiyakan saja. Entahlah. Setiap omongannya aku selalu menuruti. Seperti halnya saat ini saat dia menyuruhku mandi.


Walau dengan berat hati. Pasti aku jalanin. Beberapa saat kemudian aku selesai mandi. Aku keluar kamar. Dia menungguku di balkon. Aku menyusulnya.


"Nah kalo gitukan enak di lihat". Komentarnya sembari tersenyum. Aku hanya tersenyum tipis dan menarik kursi.


"Kapan kau sampai?". Tanyaku.


"Hmmm. Shubuh. Aku di sini gak lama". Balasnya sembari menetapku tajam. Lalu dia menghembuskan nafas panjang.


"Berapa hari kau nangis? Sampai mana kau tahu". Tanyanya padaku. Aku mengernyitkan dahi. Seolah dia tahu apa yang terjadi padaku.


"Tunggu. Kau...". Aku menjeda sebab Rio membawakan teh manis hangat dan roti bakar. Aku tersenyum dan menatap Bian. Dia sangat paham makanan ke sukaanku.


"Aku masih ingat semua favoritemu". Seringainya menyebalkan.


"Bilang kalo kurang". Ucap Rio.


"Siap. thank you". Kompak Aku dan Bian. Aku tertawa. Biarkan sejenak aku menikmati suasana ini. Aku menyesap teh hangat lalu menyicipi roti bakar. Rasanya enak sekali. Sudah lama tak makan seperti ini. Tidak. lebih tepatnya, suasana saat bersama Bian. Ternyata hal ini yang aku rindukan. Dulu saat SMA dan kuliah sering sekali ada waktu berdua. Berbincang-bincang ringan. Membahas ini itu dan tertawa bersama.

__ADS_1


"Berapa hari kau tak makan?". Tanya Bian sembari menghembuskan nafas berat.


"Tiga hari". Sahut cepat.


"Apa Kau ingin mati?". Sarkasnya membuat dadaku nyeri.


"Hiks. Aku harus bagaimana? Saat aku tahu semuanya. Aku merasa dikhianati". Isakku. Bian reflek memelukku. Entahlah. Setiap aku di peluk dia. Aku merasa tenang. Seolah pelukan itu menenangkanku. Menguatkanku.


"Apa kau membenci kehidupanmu setelah mengetahuinya?". Bian bertanya dengan lembut sembari menghapus air mataku.


Aku terdiam. Mengernyit. Memahami pertanyaan Bian. Lalu aku menggeleng.


"Ku rasa enggak. Kenapa kau bertanya begitu?". Aku penasaran.


"Hanya bertanya. Jika tadi kau jawab iya. Maka aku sangat marah". Dia menjeda lalu menyesap tehnya.


Aku terdiam. Perkataannya memang benar.


"Sebenarnya kau tahu tentangku kan?". Tebakku. Pasti dia tahu. Entah kenapa hatiku mengatakan demikian. Hening. Dia tak menjawab hanya menghela nafas.


"Iya. Aku tahu siapa kau sejak tiga tahun yang lalu. Tapi saat aku ingin kasih tahu. Tiba-tiba Papa sakit. Aku pun mengurungkan niatnya itu". Pekiknya ada nada sesal. Aku terdiam. Aku ingin marah. Tapi kenapa aku marah?. Mungkin saja dia tak jadi mengatakan karena takut aku terluka.


"Berarti kau juga tahu siapa Papaku?".


Bian mengangguk.

__ADS_1


"Apakah kau tahu kenapa Mama meninggal?". Aku ragu menanyakan. Aku mengernyit saat Bian kaget. Aku yakin dia juga tahu. Aku menatap Bian lekat-lekat. Dia ragu-ragu ingin menjawab.


"Aku gak tahu". Putusnya. Entah kenapa aku kecewa. Seperti ada yang dia tutupi.


"Maaf Arin. Saat itu aku penasaran siapa kau sebenarnya. Dulu aku sering melihat orang-orang mencurigakan mencarimu. Berkeliaran di area Panti". Tiba-tiba Bian memberi tahuku. Aku kaget. Mungkinkah Tante Dina atau orang suruhan Papa.


"Terus siapa mereka?". Aku bertanya dengan menggigit bibir. Bian belum menjawab tiba-tiba terdengar teriakan Allea. Reflek Aku dan Bian menoleh. Dia menangis. Jujur aku kaget. Kenapa dia ke sini. Lalu dia membombardir pertanyaannya padaku. Astaga tiga hari tak bertemu kenapa dia semakin pintar. Aku terharu. Alleaku sayang.


Suara bas khas seseorang yang selama tiga hari ini tak ku dengar. Ada apa dengannya? kenapa raut wajahnya tak suka?. Mungkinkah Allea tak ingin di tinggal. Lalu Bian pamit dan memberi tahu kalau tante ingin aku berkunjung ke Singapur. Lagi. Aku melihat wajah Aslan muram.


Setelah Bian pergi. Dia bertanya kenapa aku tak pulang. Sengaja aku tak menjawab dan mengalihkan pembicaraan. Kenapa dia keliatan gelisah saat aku kasih saran menjelaskan siapa Allea pada publik. Bukankah selama ini media ingin kedua pihak klarifikasi. Tapi keduanya selalu enggan klarifikasi. Hmmm semenjak tak kerja aku jadi mengikuti gosip artis terkenal ibu kota.


Umumkan Aslan siapa ibu kandung Allea. Biar sekalian aku sedih. Aku benci sebuah harapan yang sering kali membuatku kecewa.


"Lain kali kita bahas. Pulanglah. Allea selalu tidur di kamarmu". Ucapnya sembari berlalu. Dia tak menjawab perkataanku.


"Kau tahu Aslan. Allea itu keponakanku. Aku takut jika nanti aku ada rasa padamu. Saat ini saja aku enggan kau berlalu. Aku ingin bercerita panjang lebar padamu dan aku penasaran histori kehidupanmu". Lirihku memandang punggung lebar Aslan.


Jujur. Aku takut terjebak dalam perasaan tak pasti padanya. Hanya perempuan bodoh yang tak tertarik padanya. Dia lelaki pekerja keras. Tanggung jawab. Good harta. Good looking pula. Mungkin bila aku tak tertarik padanya, bisa jadi termasuk perempuan bodoh itu. Hehehe.


Meskipun aku satu rumah dengannya, tapi kita tak begitu dekat. Hanya sesekali liburan kala dia ada waktu senggang, itu pun selalu membuatku kesal. Dia selalu gelisah. Celingungan mengamati sekitar saat kita mengajak Allea ke taman hiburan.


Aku menompang dagu mengamati keadaan sekitar. Perlahan suasana hatiku membaik. Tak seperti tempo lalu. Memang masih sedih. Tapi aku berusaha untuk melupakan. Meskipun menyesakkan tapi aku coba menerima kenyataan.


"Benar kata Bian. Masih banyak di sekitarku yang peduli dan menyayangiku. Hidup terus berjalan ke depan bukan ke belakang. Biarkan kejadian lampau berlalu. Papa. Mari kita jalanin kehidupan masing-masing. Hidupmu. Hidupku. Aku tak akan mengusikmu. Akan ku hapus rasa penasaranku atas kematian Mama. Jika Mama memang bunuh diri. Tak apa. Mungkin itu pilihannya. Papa. Jangan mencariku". Ucapku sembari berlalu ke lantai bawah.

__ADS_1


......................


__ADS_2