Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 28 Anniversary


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Bian. Arin seakan tidak bernyawa. Sedih sekali harus berpisah dengan seseorang yang selama ini selalu ada untuknya. Ditambah, tidak bisa mengantar kepergiannya.


Ia diharuskan lembur. Sebab Athan tidak banyak waktu. Tenggatnya hanya dua minggu mendampingi. Dan mulai hari ini, perlahan ia di lepas atau mulai menjalankan salah satu tugasnya sebagai GM Hotel.


Contohnya, di tugaskan untuk tanggung jawab atas berlangsungnya acara anniversary Alter Entertainmen.


Ia menghembuskan napas berat, setelah memeriksa ruangan hall yang beberapa saat lagi di penuhi undangan.


Mengangguk mantap sekiranya ruangan itu sudah siap. Tidak ada yang ganjil. Lalu mengambil ponselnya di saku blazer. Mengirim pesan ke Meli.


Arin: Meli. Maaf aku pulang telat. Tolong suapin Allea dan mandiin ya.


Meli: Nona di jemput tuan Aslan, mbak. Di ajak ke acara perusahaannya. Tuan tidak chat mbak Arin?.


Arin: Ok. thanks.


Lalu ibu jarinya menggulingkan layar lima inci itu. Membuka pesan terakhir yang ia kirim ke Aslan. Membatalkan makan siang bersama dan sampai sore Aslan tidak membalas. Hanya dibaca.


Saat menoleh ke sebelah kiri lobby, Ia terbelalak. Aslan yang sedang menggendong Allea berbincang dengan Selin.


Deg


Ada apa ini? kenapa hatinya bereaksi ganjil? sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Arin menyeder di tembok hotel sembari bersedekap, menyaksikan gambaran keluarga harmonis. Mengabaikan gejolak aneh dalam dadanya.


Ia tersenyum getir,"Aku kayak pengganggu diantara mereka." Lirihnya sembari putar balik. Mengurungkan niatnya ke belakang hotel mencari jajanan ringan. Ia tahu dari Lusi, bahwa belakang hotel adalah surga aneka makanan dengan kantong bersahabat.


Tapi keinginan itu digagalkan oleh putrinya.


"Bubu!."Seru Allea kencang.


Arin menghentikan langkahnya.


"Ya Gusti. Allea. Tolonglah kerjasamanya untuk kali ini saja," lirih Arin kesal dan bimbingan antara menoleh, menghampiri atau maju jalan abaikan mereka?.


Bian is calling..


"Nice timing Bian. Thanks," Soraknya lirih. Ia langsung menekan answer. Menempelkan benda lima inci ke indra pendengar.


"Hallo Arin. Informasi, aku sudah sampai di bandara dan beberapa saat lagi take off."


Arin tidak menjawab. Perasaannya campur aduk. Rasanya ingin berteriak menghentikan niat Bian. Tapi, itu tidak mungkin. Bian mempunyai kehidupan sendiri. Ia tidak egois. Cepat atau lambat, pasti akan ada perubahan dalam persahabatannya.


Entah ia sibuk dengan keluarganya. Hingga tidak ada waktu untuk berjumpa. Atau kesibukan lain yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


"Hallo Arin. Kau tidak menangis di pojok lobby, bukan?," gurau Bian dari seberang. Ia tahu sahabatnya itu sedang lembur.


"Itu tidak lucu, Bian." Suara Arin bergetar tangannya meraba kantong blazer mengambil susu kemasan yang dikasih Bian tadi siang.


"Baiklah. Sudah ya. Nanti aku kabari lagi kalau sudah sampai."


"Hati-hati, Bian. Salam untuk om dan tante. Jangan lupa, aku menunggu paketan susu kemasan sekarton dari Singapur," kelakar Arin mengantongi kaleng susu itu.


Bian terkekeh dan mengakhiri panggilan. Layar lima inci itu langsung meredup.

__ADS_1


Sampai jumpa Bian. Pasti aku akan merindukanmu. Gumam Arin dalam hati menantap layar yang sudah redup, sampai ia tidak menyadari derap langkah Aslan yang mendekatinya.


Tanpa permisi, Aslan melingkarkan tangan kirinya ke bahu Arin. Lalu merengkuh tubuh Arin ke dadanya. Selin mengepalkan tangan eret-erat melihat pemandangan di depan mata.


Aslan menyunggingkan senyum. Tatkala Arin tidak protes. Justru membalas pelukannya.


Terima kasih Aslan.


Bathin Arin sembari menghirup aroma wangi yang menyeruak dari baju Aslan dan mengeratkan pelukan mengabaikan orang yang lalu-lalang di sekitar lobby.


...----------------...


Tepat pukul 19.00.


Master of Ceremony membuka acara. Mengucapkan salam dan sedikit menyisipkan humor. Para undangan dan staf perusahaan mengembangkan tawa sembari tepuk tangan. Lalu si Master of Ceremony membacakan susunan acara malam ini dan mempersilakan sang pemilik hajat memberikan kata sambutan.


Aslan berjalan ke podium. Semua undangan berbisik penuh kagum. Wajah tampan dengan senyum ramahnya yang sering ia sajikan. Tubuh tegap dibalut tuxedo hitam menggambarkan kegagahannya.


Ia mengucapkan salam untuk mengawali sambutan. Suara bas mengalun indah ke penjuru ruangan. Sesekali riuh tepuk tangan dari para staf dan undangan, atas rangkaian kata-kata nan bijak.


Selin. Salah satu tamu undangan dari kalangan artis menatap Aslan penuh damba. Dadanya berdebar hebat. Bagaikan mimpi ia bisa bertemu dan berbincang dengan sang pujaan hati.


Sesekali ia mengulum senyum tatkala mengingat orang yang sedang menyampaikan pidato itu menjamahnya.


"Kau memang selalu keren, Aslan." Gumamnya sembari menatap penuh minat.


"Opa, Papi kelen. " Celetuk Allea mendonga ke wajah Amran, Ia hanya tersenyum dan mengusap kepala cucunya.


Amran menatap sang putra semata wayangnya penuh bangga.


"Dan sebagai penutupnya."


Aslan menjeda sembari berjalan ke arah Amran. merentangkan tanggan menggendong Allea.


"Ini putri kecil kami." Lanjutnya sembari menatap sosok perempuan di pojok belakang yang sedang sibuk kordinasi dengan timnya.


Memastikan menu makanan dan lainnya tersaji tanpa terlewatkan.


Undangan dan lainnya mengikuti arah pandang Aslan sembari berbisik penasaran.


Perlahan Aslan mendekati Perempuan itu. Merangkul bahunya. Si empu bahu berjingkat. Mengernyit. Seolah berkata 'ada apa? apa yang perlu di siapkan lagi? apa Micnya tidak berfungsi?'


"Alesha Arin. Istriku. Terima kasih sudah merawat buah hati kita penuh cinta dan kasih sayang. Maaf, aku merepotkanmu. Terima kasih telah hadir di hari-hariku, sayang." Lugas Aslan sembari mengecup kening Arin.


Para hadirin tepuk tangan sembari bersorak. Ada yang patah hati. Ada yang kesal setengah mati dengan perempuan itu. Ada pula yang masih tidak percaya.


Jangankan mereka. Si empu nama pun mematung mendengar kalimat itu. Menelan salivanya susah payah. Tidak percaya dengan serangan dahsyat dari lelaki yang sedang pamer pesona di depannya.


Untung ramai. Jika hanya berdua, pasti ia akan menyanggah atau berkomentar seperti tempo lalu. 'Gorengan jatuh juga di panggil sayang' atau rangkain kata lain yang belum pernah di dengar.


Yang merepotkan, jantungnya berdegup kencang. Seakan keluar dari tempatnya. Kakinya lemas. Hampir saja ia limbung, jika bahunya tidak di rangkul Aslan.


...----------------...


@Balkon lantai 2.

__ADS_1


"Sungguh kau luar biasa, Aslan."Komentar Arin menatap cahaya bintang di langit, menemanin bulan sabit. Tidak banyak, hanya satu-dua yang muncul.


"Apa kau terkesan?."


"Hampir mati berdiri, Aslan."


Arin menjeda mengatur dadanya yang berdegup kencang.


Aslan terkekeh menatap wanitanya. Lalu membayangkan tanggapan Emma sang kekasih hati yang telah lama pergi. Pasti ia akan berseru heboh. Dan membalas ucapannya dengan ciuman di pipi. Tidak akan kabur seperti ini.


"Kacang mahal." Decak kesal Arin setelah bicara panjang lembar, tetapi si lawan bicara justru asyik melamun.


Ia menompang dagunya menatap pepohonan yang melambai tertimpa angin.


Aslan menoleh. Mengernyit. Kenapa jadi kacang mahal?. Bathinnya tidak tahu maksud Arin.


"Kau tidak mendengar omonganku, Bukan?."


"Aku dengar, Arin."


"Apa?."


"Kau hampir mati berdiri."


"Terus?."


Aslan terdiam. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tuh diam. Berarti bener. Kau tidak dengar. Ck. Sial. Padahal aku jarang-jarang ngomong kayak tadi."


"Bisa di ulang? Maaf, kau ngomong apa?."


"Tidak ada reka ulang."


Arin jengkel sekaligus malu saat ingat perkataan yang beberapa detik diucapkan. Ia balik badan meninggalkan Aslan.


"Gila. Bisa-bisanya aku ngomong kayak tadi. Untung saja dia gak dengar." Gumamnya bergidik dengan apa yang ia lontarkan.


...----------------...


Aslan: Thor... bebebku ngomong apa? Aku penasaran.


Author: Tanyakan saja ke dia. Siapa suruh pikiranmu jelalatan ke wanita lain.


Aslan: 😭😭😭 Hei. Hei itu ulahmu thor!!!.


Author: 😈😈 Aku tidak salah, Aslan. Hatimu saja yang masih merindukan sosok si cantik bintang iklan itu. ㅋㅋㅋ


...^^^...


Yeorobun... terima kasih sudah mampir. Gomawo sudah setia membaca dan menanti setiap episodenya. Once again, thank you. 🙏


Mian, maaf, sori, punten. Kalau ada typo dan alur kisah asmara Aslan & Arin kurang seromantis yang di bayangkan. Saya menerima dengan lapang kritik dan saran kalian. 😉


...~Salam cinta sekebon toge, Sampai jumpa di next episode~...

__ADS_1


...🙂🙂🙂...


__ADS_2