
Setelah sampai mension. Aslan mengambil alih tubuh Allea dari pangkuan Arin. Pelan-pelan ia mengangkat tubuh gembul putrinya.
Jangan sampai kornea coklat itu terbuka. Selesai sudah urusan jika ia bangun.
"Tunggu saja di sini. Aku hanya sebentar" bisik Aslan.
Arin mengangguk sembari merenggangkan otot-otot tangannya. Kebas akibat menompang kepala Allea.
Tak lama Aslan kembali dengan terengah-engah.
"Ada apa?."
"Allea bangun."
"Terus? kau tinggal?."
Cengiran Aslan sebagai jawaban. Arin mendengus.
Memang bapak satu ini sangat kejam. Tega sekali meninggalkan anaknya yang meraung-raung minta ikut.
Jeritan Allea semakin menjadi. Ia menangis sembari menghentak-hentakkan kaki dan meronta berusaha melepas tangan Amran yang menahan tubuhnya. Sesekali ia memanggil nama Arin.
"Allea, Bubu hanya di pinjam sebentar. Percayalah, Papimu pasti membawanya pulang" Amran menghibur sang cucu sembari menghapus air mata Allea.
"Hiks. Benal, Opa?Becok Bubu pulang?" Allea seseguan memastikan omongan Amran.
Ia trauma dengan kepergian Arin. Takut jika ditinggal lama seperti tempo lalu. Amran mengangguk mantap.
"Aslan. Aku tidak tega. Biarkan dia ikut, ya?."
"Tidak untuk sekarang, Arin. Please sekali ini saja."
Arin terdiam. Tidak menyanggah permintaan Aslan. Ia hanya menatap Allea di balik kaca mobil.
Mobil sedan hitam itu perlahan raib dari halaman mension. Berbaur dengan kendaraan lain di tengah padatnya jalanan ibukota. Maklum akhir pekan.
Deru mesin mobil sebagai backsound diantara mereka. Keduanya enggan memulai obrolan. Sibuk dengan hati dan pikiran masing-masing.
Sesekali Aslan melirik wajah lelah Arin. Dadanya berdebar tidak karuan. Bagaikan mimpi bisa jalan berdua dengan perempuan yang mengobrak-abrik hatinya.
Kiloanmeter dari keberadaan mereka. Sang sekertaris cakap nan handal kelimpungan menjawab telepon dari media masa. Mereka ingin memastikan kebenaran dari vedio yang di unggah oleh akun anonim.
"Sialan. Ini bukan hari kerja. Tolonglah kerja samanya. Aku juga butuh istirahat" umpat Rudi pada layar teleponnya.
Dasar kuli tinta tidak tahu sopan santun. Cepat sekali mengusut berita terkait skandal percintaan.
"Ah masa bodo. Aku mau tidur." Monolog Rudi sembari merebahkan badannya di kasur. Ia mengatur teleponnya ke mode pesawat.
Baru saja memejamkan mata. Terdengar seseorang dengan tidak sabar menggedor pintu apartemennya.
Rudi mengerjap. Menggaruk kepalanya. Jengkel.
Braakkk.. Brakkk.. Braakkk...
Semakin keras. Si tamu sangat tidak sabaran sekaligus tidak sopan.
"Ya Gusti. Sabar lagi jalan" sungut Rudi sembari menyeret kakinya menuju pintu.
Ceklek.
Setelah pintu dibuka. Sungguh sambutan luar biasa dari sang tamu. Ia mencekik leher Rudi dengan amarah.
"Dimana mereka?."
"BIAAAN. Astaga. Sabar. Arin gak mungkin ilang" seru Liza ngos-ngosan. Panik sekaligus khawatir dengan si korban amarah sang adik.
Sengaja ia mengikuti adiknya. Takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
Bian melepas cekikan dengan kasar. Rudi terhuyung dan batuk-batuk.
"Katakan. Dimana mereka? sebelum aku ratakan apartemenmu" acam Bian mengeraskan rahangnya.
__ADS_1
"Ampun Tuhan. Punya adik kok liar begini. Bian, Kakak juga sangat emosi, Rasanya pingin lempar rudal ke orang yang bawa Arin. Tapi tahan Bian, sabar, jangan gegabah nodong orang sembarangan."
Rudi yang mendengar hanya melongo dan bergidik ngeri. Dosa apa yang dibuat. Tiba-tiba kedatangan tamu seperti ini.
Belum sempat Rudi buka mulut. Bian melanjutkan omongannya.
"Jangan bilang kau tidak tahu mereka di mana?" retorik Bian menyeringai.
"Berani sekali bawa anak gadis orang tanpa izin walinya. Sopankah begitu?" timpal Liza jengkel.
Rudi tersentak. Ia benar-benar lupa bekingan dibalik layar si cinta terpendam.
"Maaf aku segera hubungi tuan Aslan" gusar Rudi mengaktfikan teleponnya ke sambungan internet.
"Percuma. Tidak bisa dihubungi. Apa kau kira aku hanya diam saja setelah vedio itu beredar?. Sebagai walinya tentu tidak terima dengan tundingan seperti itu. Berani sekali warganet judge Arin."
"Kau tahu penyebab Arin di judge warganet? Aslan Alister. Berlaga sekali. Apakah dia mampu menjaga Arin? Apakah kau yakin dia tidak melakukan hal aneh? Dua orang dewesa berduaan." Tandas Bian menautkan jari-jemarinya.
Ucapan Bian membuat Rudi gelisah. Ia tidak bisa menjamin mereka baik-baik saja. Tidak hanya Rudi, Liza pun panik bukan main.
"Bian. Jangan menggiring opini ke arah situ. Aku yakin Arin bisa jaga diri."
"Baiklah. Aku percaya dengan Arin. Oke. Begini saja, kau harus ikut kami sebagai jaminan atas tindakan bosmu."
Rudi gelapan. Panik. Apa-apaan ini? Kenapa juga harus terseret? Ia ingin protes. Namun setelah mendengar perkataan Liza, ia mengurungkan niatnya.
"Setuju Bian. Awas saja kau tidak menurut. Aku bisa mengirimmu ke tahanan dengan dalih perencanaan pembunuhan. Kau ingin mengelak soal bukti? Tenang saja. Aku bisa merekayasa" Seringai Liza licik. Bian mengulum senyum mendengarnya.
Mendadak dua suadara ini akur saat keadaan genting.
Rudi mendengus pasrah. Tapi tidak dengan pikirannya. Sumpah serapah sudah ia panjatkan untuk si bos. Spesial umpatan untuk dua orang ini.
Semoga hari kalian selalu Senin.
Hahaha. Rudi sangat jengkel dengan mereka. Ia hanya ingin menikmati akhir pekannya dengan santai nan damai. Cukup si bos saja yang mengacaukan setiap akhir pekan.
...----------------...
Semilir angin menerpa dedaunan. Menyimbak tirai menukar udara setiap sudut ruangan. Mengusik pulasnya seorang lelaki berwajah tampan nan menawan.
Ia mengerjap. Mengedarkan pandangan. Lalu bangkit. Ingat dengan tujuan awal pergi ke villa.
Ceklek
"Kau sudah bangun," sapanya menoleh ke sumber suara sembari tersenyum bersahabat.
Aslan memantung. Jantungnya tidak baik-baik saja. Seakan ingin copot. Ia menatap perempuan itu lekat-lekat
"Kau mau teh manis?."
Tidak. Kau yang aku mau. Kacau pikiran Aslan. Hampir saja ia keceplosan bilang begitu.
Semakin ia melangkah mendekati Arin, semakin kencang degupan jantungnya.
"Ayo nikah, Alesha Arin."
Astaga Aslan. Ini serangan fajar yang sangat mendadak. Lihatlah! si korban serangan. Ia sangat shock. Matanya terbelalak.
"Tunggu Aslan. Maksud."
"Iya. Menikahlah denganku," potong Aslan tidak sabaran.
Arin menunduk. Mengatur suasana hatinya. Ini situasi gila yang tidak pernah terbayangkan.
"Apa kau sudah gila, Aslan? kau tidak kejedot marmer kamar mandi, bukan?." Timpal Arin setelah suasana hatinya terkendali.
"Aku baik-baik saja, Arin. Iya aku memang gila. Kau tahu? aku terganggu dengan pertemuan rutinmu dengan si Athan itu. Aku cemburu saat Rudi pamit ingin bertemu denganmu."
Aslan menjeda sembari menyisir rambutnya dengan jemari.
"Dan para lelaki disekitarmu yang pingin aku hajar adalah Dokter Bian. Dia sungguh menyebalkan. Akrab sekali denganmu. Tangannya bebas menyetuh rambut, tangan dan merangkulmu." Dongkol Aslan tatkala ingat sikap Bian.
__ADS_1
Arin tidak bisa berkata-kata mendengar penjelasan Aslan. Ia mengusap wajahnya.
"Maaf, Aslan."
"Kau tidak menyukaiku?," Aslan menyahut tidak sabaran.
"Bukan begitu."
"Terus?."
Ya Tuhan. Sabar Aslan. Perempuan dihadapanmu itu hatinya sedang gamang.
"Aku belum tertarik denganmu."
"Tidak masalah. Masih ada peluang untuk tertarik denganku seiring berjalannya waktu."
Arin menghela napas, "Tidak, Aslan. Bukan begitu maksudku." Ia menunduk. Ragu dengan isi hatinya.
Aslan. Bagaimana dengan Selin? Bagaimana jika dia mengumumkan, bahwa kau mempunyai anak dengannya? Aku takut. Bathin Arin sembari menatap Aslan.
Hening. Ruangan itu lengah. Mereka menenangkan pikirannya.
"Soal Selin bagaimana?," cicit Arin mengagetkan Aslan.
"Ya Tuhan. Aku tidak ada hubungan spesial dengannya. Percayalah." Aslan menyakinkan.
"Tapi."
"Itu kecelakan. Oke aku bisa jelaskan."
Aslan menjelaskan kejadian reproduksi Allea.
Saat itu satu tahun peringantan kematian Emma. Kekasih sekaligus tunangannya yang akan segera di nikahi. Tetapi kecelakan lalu lintas merenggut nyawanya.
Hampa, kosong di tengah keramaian. Itu yang dirasakan Aslan. Ia merenung di ruangannnya. Mengenang kebersamaan dengan sang kekasih.
Tanpa permisi Selin menyelinap masuk membawa sebotol wine. Aslan tidak keberatan. Tetapi, kenyataanya Selin telah mencapurkan obat perangsang ke wine itu. Dan terjadilah sesutau yang tidak diinginkan Aslan.
"Waow. Menajubkan," celetuk Arin setelah mendengar penjelasan Aslan.
"Hei. Apanya yang menajubkan? Aku masih kesal kalau mengingat kejadian itu."
Arin menggeleng. Entah kenapa gelenjar aneh menyapa hatinya.
Selin sangat mencintaimu. Sungguh dia nekat melakukan itu hanya demi mendapatkan dirimu. Lalu kenapa kau mengabaikan orang yang mencintaimu?. Apa kekurangan dia? Cantik, kaya, terkenal. Bukankah dia wanita luar biasa?.
Bathin Arin menatap Aslan sembari manggut-manggut.
Aslan seolah tahu apa yang dipikirkan sang tambatan hati. Ia mendekat menangkupkan kedua tangannya ke pipi Arin. Mengabaikan guncangan hebat dari dalam dadanya.
"Hei. Arin, lihat mataku. Aku tidak mencintai wanita itu. Kau harus tahu, ibu Allea hanya kau seorang. Tidak ada yang lain."
"Tapi."
Dengan kecepatan 5G, Aslan mengecup bibir ranum Arin. Hanya sekilas. Tapi efeknya. Bukan main. Dan mereka tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kembali dari Villa.
...----------------...
Author: Omoooπ±π± Aslan, kenapa kau main sosor? Aduh anak perawanku ternodai.
Aslan: Hehehe. Khilaf thor.
Author: Khilaf your head!. Siap-siap pawangnya nguamok.
Aslan: Thor.. tolong kerjasamanya. Biarkan aku bahagia yak. π₯Ίπ₯Ί
Author: Hohoho. Tidak janji Aslan. π
...βͺοΈβͺοΈβͺοΈβͺοΈ...
...~Happy readying kawan. Selamat berakhir pekan with your big family, teman, kerabat, kekasih, gebetan atau lainnya. Yang jomblo. Silakan meditasi. Kali saja langsung ada yang ngajak nikah~ πππ...
__ADS_1
...πππ...