
"Rudi, bagaimana persiapannya?," tanya Aslan sembari melihat notifikasi Handphonenya.
"100% aman, tuan. Saya sudah konfirmasi pihak hotel."
Aslan tidak mendengar. Ia bagaikan cacing kepanasan. Hatinya gelisah menunggu balasan pesan seseorang.
Arin, orangnya. Yang beberapa hari lalu ia lamar secara kilat terkesan maksa.
Ia mengulum senyum saat ingat kejadian di Villa.
"Sial. Bibirku ternodai. Jangan asal cium, Aslan. Kau kan belum sikat gigi," keluh Arin sembari menutup bibir. Itu hanya alibi untuk mencairkan suasana, ia tidak ingin ada kecanggungan menyapa mereka.
"Hehehe, iya. Sori. Aku sikat gigi dulu," balas Aslan salah tingkah.
"Ha? terus mau ngapain?."
Arin salah tanya. Ia langsung memukul pelan bibirnya.
Aslan menatap intens sembari tersenyum nakal.
"Bagaimana kalau kita reproduksi adik Allea?." balas Aslan mengedipkan sebelah mata.
"Gila. Lamaranmu yang barusan masih diujung tanduk, tuan Aslan. Aku belum ngasih jawaban, ingat itu!" seru Arin berdecak kesal.
"Dan perlu kau ingat! jangan bahas atau berpikir ke arah 'sana' sebelum ada ikrar suci di antara kita. Aku paling tidak suka." Lanjut Arin mengkal.
Entah, ia sensi sekali kalau bahas hal itu. Pikiranya memutar kejadian saat kali pertama menemukan Allea.
Hatinya masih sakit mengingat bayi tanpa dosa, yang seharusnya dipeluk penuh kasih saat hawa dingin mencekam. Ini justru ditaruh diluar dengan pakaian seadanya.
"Hei. Aku hanya bercanda. Jangan marah, hmm?."
Arin diam.
"Hei. Ayolah. Jangan begini. Oke, aku salah. Maaf."
Arin masih diam.
"Sayang."
"Gorengan jatuh juga di panggil sayang," potong Arin cepat.
Reflek Aslan tertawa.
Kembali ke Aslan yang belingsatan menunggu balasan Arin. Rajin sekali check notifikasi.
Rudi hanya geleng-geleng kepala. Laporannya tidak didengar. Ia mengulang beberapa kali pun masih sama. Diabaikan.
"Ya Tuhan. Aslan. Tolong lah jangan gila begini? jadwalmu hari ini sangat padat," Rudi memijat keningnya. Pening. Melihat si atasan terjangkit virus kasmaran.
"Rud, dia kemana? kenapa pesanku tidak dibalas?. Lihat! aku chat banyak, dia cuman balas satu biji," lesu Aslan sembari melihatkan ponselnya ke arah Rudi.
Rudi menghela napas panjang. Rasanya ingin jitak kepala si atasan supaya kembali normal.
__ADS_1
Ia mengingat saat si atasan menjalin kasih dengan Emma. Ia bersedekap sembari manggut-manggut.
"Kayaknya dulu tidak separah ini. Masih waras, bisa rapat sana-sani," lirih Rudi.
"Aku dengar, Rudi. Benar, untuk sekarang aku sedang tidak waras," akunya menghembuskan napas berat.
"Dia doang yang mengabaikan pesanku. Dari kemarin aku chat ini-itu. Dia hanya balas 'iya'. Aku kesal, Rudi. Kenapa dia menyiksaku?. Beda, Rud. Emma tidak begini. Dia gesit sekali balas chatku."Curhat Aslan menyugar rambutnya dengan jemari.
Arin is Calling....
Melihat nama kontak yang membuat hatinya tidak karuan. Ia langsung menekan answer.
"Hallo."
Arin langsung memotong.
"Sori, Aslan. Aku baru lihat handphone. Allea sedikit ngadat. Belum sempat baca chatmu. Ada apa?," jelas Arin dari seberang. Dari speaker telepon terdengar samar suara klason. Selintas ia bicara dengan seseorang.
Aslan mengulum senyum. Membayangkan sang tambatan hati, tersenyun ramah pada si lawan bicara.
"Hallo, Aslan. Kau tidak pingsan mendadak, bukan?," gurau Arin dari seberang.
"Hahaha. Aku kangen, Arin. Tidak bisakah kau datang ke kantorku?."
"Maaf Aslan. Tidak bisa."
"Hmmm baiklah. Atau bagaimana kalau kita makan siang di resto dekat hotel Wilson. Kebetulan aku ada urusan di sana."
"Bersama Allea?."
"Emmm. Tidak janji, Aslan. Tapi, aku kabari nanti. Ya sudah. Selamat bekerja."
Arin menutup teleponnya. Aslan tercengah. Tidak ada ciuman jarak jauh seperti yang di lakukan Emma. Atau hal romantis lainnya yang sering ia dengar dari Emma.
Ia menyunggingkan sudut bibirnya.
"Aku kira setiap wanita sama," lirih Aslan dan menoleh ke Rudi.
"Rudi, apa saja jadwalku hari ini?."
Rudi langsung menjelaskan jadwal si atasan. Ia juga mencatat yang baru saja sang atasan ucapkan. Break lunch dengan Arin. Gesit sekali staf satu ini. Aslan, tolong naikkan gajinya.
Apa lagi kejadian kemarin di luar jod desc -nya. Sebagai jaminan.
...----------------...
@Hotel Wislon.
Arin melangkah ke dalam hotel sembari mengernyit. Halaman hotel di penuhi karangan bunga. Berbagai ucapan dari kolega Alter Entertainmen atas hari jadinya atau awal berdiri Agensi itu.
Hati Arin bagaikan tertusuk jarum. Nyeri. Sebab Aslan tidak cerita terkait ini.
"Ck. Apaan sih, Rin. Gitu saja sedih. Mungkin dia tidak sempat kasih tahu." Monolognya melanjutkan langkah.
__ADS_1
Saat tiba di lobby. Matanya melotot. Sosok yang beberapa bulan mengganggu pikirannya. Tanpa permisi, berbagai pertanyaan menari-nari di kepalanya.
Pandu Pratama. Kenapa di hotel Wilson?. Apa yang dilakukan di sini?. Hampir saja ia menyapa. Lupa akan janji yang dibuat. Tidak mengusik kehidupan sang Ayah.
"Kau tidak ingin menyapanya?." Retorik seseorang dari samping kiri.
Bian. Sang sobat karib mendadak muncul sembari menyodorkan minuman kesukaannya. Susu kemasan rasa coklat.
Arin menerima sembari mengulum senyum. kekacauan hatinya sedikit mereda.
"Apa yang kau lakukan di sini?."
"Tidak ada. Hanya jalan secara acak." Bian menjawab sembari memalingkan muka.
Arin menggeleng dan bersedekap.
"Mecurigakan."
"Hehehe. Dasar curigaan. Bisa bicara sebentar, Arin?."
"Kayaknya serius nih. Perlu bawa tissue, tidak?."
"Hahaha. Tidak seserius yang kau bayangkan."
Arin mengangguk sembari mengirim pesan ke Athan. Izin sebentar berbincang dengan kerabat.
Pukul 10.00 tepat.
Bian masuk ke salah satu kafe dekat hotel. Lalu Arin mengikuti. Lumayan banyak pengunjung. Maklum jam-jam coffe break kantor setempat.
"Enak sekali, jam segini baru datang. Apa kau tidak di marahin atasanmu?," Bian membuka obrolan sembari menyerahkan menu pesanan ke Waiter.
"Aku sudah izin telat. Allea rewel tidak mau di tinggal. Tumben, manusia super sibuk jam segini klayapan."
Bian terdiam. Ia menyapu wajah sang sahabat yang sedang menunggu jawabannya. Lalu menghela napas. Menyugar rambutnya.
"Arin. Mulai besok aku tidak di sini. Aku akan menetap di Singapur. Jika butuh bantuan mendesak, kau bisa hubungi kak Liza."
Deg
Gejolak aneh menyapa hati. Ada rasa tidak rela mendengar rencana Bian.
"Jangan bercanda, Bian. Ini tidak lucu."
"Aku serius, Arin. Aku sudah resign tepat dua hari lalu. Aku sedang mengurus pindah tempat."
Bian menjeda.
"Tenang saja. Aku pasti datang saat kau menikah nanti." Lanjutnya sembari tersenyum dan mengangguk ke Waiter yang mengantar pesanan.
"Huwaaa. Bian. Kau serius akan pergi? Ninggalin aku?."
Arin menangis. Ia tidak bisa menahan rasa sesak dalam dadanya. Bodoh amat dengan pengunjung kafe. Bian terbelalak melihat sikap Arin. Heran dengan reaksi sahabatnya. Padahal, Jika ia pamit dinas keluar kota reaksinya tidak seperti ini.
__ADS_1
Beda Bian. Jika dinas keluar kota atau pergi ketempat lain. Saat kembali bisa bertemu lagi. Tapi saat memutuskan untuk menetap di kota lain. Sulit rasanya untuk bertemu. Sebab terkendala jarak dan waktu.
...----------------...