
Senja menyapa ibu kota. Menutup hari menuju cakrawala sang dewi malam. Melepaskan penat setelah kegiatan seharian. Bercengkrama bersama keluarga sebagai pelipur hati atas sesuatu yang terjadi.
Di tolak saat melamar kerja. Di marahin atasan sebab salah laporan. Dosen pembimbing rewel minta ganti judul skripsi. Tugas menumpuk dari berbagai guru mata pelajaran dan kisah pelik lain dalam ke seharian, seakan sirna bila di ceritakan pada keluarga.
Lampu-lampu kota satu persatu menyala menghiasai jalanan. Suara bising kendaraan terdengar riuh redam. Angin menghembus menyapu daun-daun kering mengiringi gerimis menyapa semesta. Tidak deras. Hanya rintik-rintik.
Tepat pukul 07.00 Malam. Hotel Shangri-la ramai akan tamu berdatangan. Menghadiri nikahan anak seorang rektor di Universitas S. Salah satu Universitas ternama di ibu kota.
Perempuan cantik mengenakan dress berwarna dusty. Melangkah anggun nan elegan ke Ballroom hotel. Matanya menyisir ruangan, mencari sosok yang selama ini berisik mengutarakan janji-janji manis. Bisik-bisik para tamu undangan ia abaikan. Matanya fokus menatap singgahsana pelaminan. Mengamati sang mempelai pria dengan tajam.
"Dasar pembohong sialan. Katanya kau hanya mencintai aku seorang. Tetapi kenyataannya, saat orang tuamu menyodorkan wanita. Tanpa mengelak kau embat". Dengus perempuan itu kesal saat mempelai pria mengembangkan senyum ke istrinya.
Perempuan itu adalah Aliza Jansen anak dari pemilik gedung Universitas S sekaligus teman, kekasih Arhan Bastian. Si anak rektor yang mampu meluluhkan hati Aliza Jansen yang terkenal sulit di taklukan. Entahlah, pesona apa yang membuat Liza jatuh hati dan sulit pindah ke lain hati.
Liza menunduk sembari tersenyum getir. Menertawakan kisah asmaranya yang tak berjalan sesuai keinginan.
"Hah. Dasar bodoh. kenapa aku sangat mencintainya". Sesal Liza merutuki kebodohannya. Ia menghela nafas. Menetralkan kondisinya. Perlahan melangkah menuju singgahsana sembari mengembangkan senyum kamuflase.
Wajah Arhan kebas. Predeksinya salah. Sengaja ia mengundang hanya lewat pesan singkat dengan dalih semoga tak datang. Sebab kehadiran Liza sangat mempengaruhi suasana hati Arhan. Risau. Khawatir bila Liza bertindak sesuka hati. Arhan menghela nafas berat.
Jantungnya memacu sangat cepat. Kilasan janji manis yang sering ia gaungkan menari-nari di kepala. Perasaan bersalah itu muncul tanpa permisi. Mengkoyak pikiran Arhan. Saat jarak Liza semakin dekat. Perlahan tautan jemari dengan istrinya ia lepas. Arhan sangat paham mimik Liza saat marah walau membingkainya dengan senyuman.
"Hallo bapak Tian. Apa kabar? Selamat atas pernikahan putra anda". Ucap Liza menjabat tangan Bastian sang mantan rektor sekaligus staf nya. Ia menyeringai sembari melirik Arhan.
"Terima kasih atas kedatangannya nona. Suatu kehormatan bagi kami". jawab Bastian sopan.
"Heee. Panggil saja Liza pak. gini-gini kan saya mantan murid anda". Selorok Liza sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Toh gedung megah nan menyilaukan itu milik Papa bukan milik saya. Sebenarnya, saya ini missqueen Pak". Bisik Liza sembari tersenyum.
"Hahaha Liza. Berapa tahun tak bertemu gaya bicaramu tetap sama". Timpal Bastian lupa dengan situasi.
"Loh tante Sinta kemana pak?". Liza mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin lama-lama di ruangan ini. Semakin lama di ruangan ini maka pertahanan Liza bisa jebol.
"Lagi ke toilet". Jawab Bastian.
"Hmmm baiklah. Salam buat tante". Ucap Liza sembari menggeser posisi ke sang raja dan ratu dalam semalam.
"Hallo Arhan Bastian. Aku kira kau sudah meninggoy". Celetuk Liza sembari menyeringai dan mengulurkan tangan. Istri Arhan melotot tak suka dengan nada bicara Liza. Instingnya mengatakan bahwa sang suami dan perempuan yang kali pertama ia temui ini ada sesuatu.
Arhan hanya berdehem dan menjabat tangan Liza.
"Terima kasih Arhan tercinta. Tersayang. ter.breng.sek. Atas seribu janji manisnya. So. Semoga kau ti.dak bahagia bersama wanita pilihan orang tuamu. Aku mendoakan setiap langkahmu, sayang". Bisik Liza ke telinga Arhan dengan menekan di setiap kata-katanya. Mengabaikan pelototan istri Arhan. Liza berusahan untuk tak meneteskan air mata. Haram hukumnya menangis di depan banyak orang.
Lalu ia melirik istri sang kekasih. Ah tidak, haruskah mantan kekasih?. Tapi hubungan mereka tak ada kepastian. Hanya berlalu begitu saja saat Arhan memberi tahu Liza atas rencana orang tuanya. Liza hanya diam dan langsung berkelana menjelajahi dunia. Seakan melampiaskan amarahnya. Sebab tak mungkin menentang kehendak orang tuan Arhan.
"Semoga kalian bahagia". Doa Liza tak singkron dengan hatinya. Memang istri Arhan tak salah. Tapi, entah kenapa? melihat wajahnya membuat hati Liza dongkol.
Ia langsung berbalik. Meninggalkan hiruk-pikuk tamu undangan dan pengisi acara. Mata Arhan enggan berpaling. Ia menatap punggung Liza yang semakin menjauh.
__ADS_1
"Maaafkan aku Liz. Semoga kau menemukan tambatan hati yang jauh lebih baik dari aku". Pekik Arhan dalam hati. Lalu melirik perempuan disampingnya dan tersenyum getir.
......................
@Al's Cafe
Mama Dina dan Arin cerita panjang lebar. Athan hanya menjadi pendengar setia sesekali menimpali dan diam-diam ia curi pandang ke Arin. Mama Dina mengulum senyum melihat gerak-gerik Putra tersayangnya yang diam-diam sering melirik Arin.
"Arin. Dari tadi tante gak melihat Allea. Kemana dia?". Tanya Mama Dian. Athan mengernyit. Penasaran. Namun ia tahan untuk bertanya ini itu.
"Oh. Dia ikut Papinya Tante. Kami buat kesepakatan 2 pekan di sini dan 2 pekan ikut Papinya". Jelas Arin. Athan melotot mendengar jawaban Arin.
Mama Dina hanya mengangguk dan melirik Athan.
"Apa maksudnya? katanya memgadopsi anak. Lah kok ikut Papinya. Apa menikah lalu bercerai?. Kurang ajar sekali pria itu". Batin Athan kesal. Ia mengepalkan tangannya.
Mama Dina menarik sudut bibirnya melihat ekpresi Athan. Ia menahan tawa.
"Oh iya. Hari senin bisa kan datang ke hotel?". Mama Dina memastikan.
"Aku usahain tante". Jelas Arin.
Obrolan mereka terjeda saat mendengar seseorang berteriak nama Arin.
"Hallo Ariiin. baby jelek akuh. Kau dimana? ibu peri merindukanmu sayang. Cinta. Lope you sekebon cabe. Sedalem lautan. Seluas Samudra. hik". Racau Liza berjalan sempoyongan ke arah meja bar.
Rio, Mira dan Waiter saling berbisik. Mereka sama-sama tak kenal. Pasalnya, perempuan ini kali pertama datang ke kafe.
"Sial. Kenapa aku bisa lupa kalau hari ini nikahan kak Arhan". Gerutu Arin sembari berlari menuruni anak tangga. Athan dan Mama Dina kompak mengerutkan keningnya.
Nafas Arin tersendat-sendat saat sampai bawa. Ia berjalan ke arah Liza.
"Ayo pindah ke atas kak". Ucap Arin setelah mengatur nafasnya. Ia ingin memapah Liza namun tangannya di tepis.
"Hei don't touch me. Akuh bukan cewek gampangan. You know. Oh ini Arinnya akuh. Huwaaaah. Ariiiin. Bayi ibu peri udah gede. Ututu. Tayang". Racau Liza sembari mencium pipi Arin. Si empu pipi malu. Sebab, para pengujung dan stafnya cekikian melihat adegan tanpa skenario itu.
"Astaga. Ini sangat memalukan.Tolong berhenti ngablunya kak". Dengus Arin dalam hati. Dongkol dengan kelakuan Liza saat setengah sadar.
"Hah. Malam ini akan terasa panjang". Keluh Arin memapah Liza ke lantai atas.
Sampai lantai atas Liza menepis tangan Arin. Ia sempoyongan berjalan menuju balkon.
"Kakak jangan ke situ. Langsung ke kamar saja". Terlambat. Omongan Arin tak di dengar. Liza duduk di samping Athan.
"Hehehe. Arin ada malaikat di sini. Apa kita di surga?". Coleteh Liza khas orang mabuk tangannya sembari mecolek pipi Athan dengan telunjuk. Athan langsung menepis.
"Kak Liza jangan gitu. Aduh maaf kak Athan". Ucap Arin tak enak hati dengan tamunya.
"Arhan? mana Arhan?". Oceh Liza celingungan sembari menangis merebahkan kepalanya di meja. Lalu mengangkat kepala.
__ADS_1
"Arhan sialan. Brengsek. Seesckpgk" Arin reflek membukam mulut Liza supaya tak melanjutkan umpatan mengerikan untuk Arhan.
"Maaf". Ucap Arin sembari tersenyum.
"Dia mabuk karena cowok?".
"Dia temanmu?".
Kompak Mama Dina dan Athan menatap Liza tak suka.
"AKU. A L I Z A. Hik". Teriak Liza lalu kembali bergumam tak jelas.
"Ck. Ck. Sepertinya temanmu mabuk parah. Kami pamit dulu. Jangan lupa hari senin ya". Pungkas Mama Dina beranjak dari kursi. Saat Athan berdiri. Liza langsung menggamit tangan Athan sembari merengek.
"Jangan pergi. Hiks. Temanin akuh main uno".
"Berisik. Tidur sana". Ketus Athan sembari menepis tangan Liza.
"Oo Biaaaan. Huuwaa. Adik akuh tercinta. tersayang. Lope you sekebon toge. Muach" Racau Liza sembari menangkupkan kedua telapak tangannyan ke pipi Athan lalu menghujani ciuman.
Athan Kaget sekaligus merinding. Ia syok. Belum sempat menata hatinya. Tiba-tiba Liza memiting leher Athan.
"Kenapa sih Bi jahat banget sama kakak sendiri?. You know Bi. Sikapmu itu bener-bener menyebalkan. Huwaaaa. Aku tuh kesal. Jengkel Bi sama sikapmu yang pilih kasih itu. Kenapa kau baiknya kebangetan kalau sama Arin. Ha? kenapa? huwaaa.". Ocehnya sembari tangan kirinya mejabak rambut Athan.
"Awww. Hei aku bukan Bian". Rintih Athan sembari berusaha melepas pitingan Liza. Arin melotot. Ia kaget dengan racauan Liza.
"Astaga". Kaget Mama Dina.
"KAK LIZA Jangan begini". Teriak Arin sembari menarik lengan Liza. Tapi nihil. pitingan itu sangat kuat.
"Gils. Ini pake tenaga dalam apa gimana sih? kuat banget". Keluh Arin.
Plaaang
Bian memukul kepala Liza dengan teplon. Liza pingsan.
Bian langsung berlari di tengah-tengah meeting. Ia mencari jejak kakaknya. Setelah manager Liza menghubungi menjelaskan apa yang terjadi. Saat pikirannya buntu harus mencari sang kakak kemana lagi. Ponselnya berdering. Rio menginfokan ada seorang perempuan membuat keributan. Bian putar arah menuju kafe. Ia menebak perempuan itu pasti kakaknya.
Athan dan Mama Dian kaget dengan tindakan Bian.
"Si gila bikin ulah" Celetuk Bian ngos-ngosan sembari menopang badan Liza.
"Maaf atas keributan kakak saya. Silakan lanjutkan orbrolan kalian". Lanjut Bian berbalik.
"Bian. Kak Liza biarkan menginap di sini. Memangnya kau mau menggantikan bajunya?". Celetuk Arin. Bian mematung. Lalu menggeleng dan berbalik.
"Bener. Nih urus si rusuh. Aku lapar. Mau makan". Ucap Bian menyodorkan tubuh Liza ke Arin.
Mama Dina tersenyum melihatnya. Tetapi beda dengan Athan. Ia menatap Bian dengan ekpresi tak suka.
__ADS_1
......................