Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 33 Tindakan Bukti Cinta


__ADS_3

Dua hari berlalu setelah Arin memberikan jawaban ke Aslan. Dua hari itu Arin masih tidak percaya dengan apa yang dilontarkan. Ia masih tidak percaya dengan keputusannya.


"Sial. Serius aku terima lamarannya?." Monolog Arin sembari meraba dadanya yang berdebar tidak karuan. Lalu ia menghela napas menatap beda lima inci di tangan. Ingin rasanya mengirim pesan ke pria yang sudah di label sebagai calon suami itu.


Namun tingkat gengsinya setinggi gunung himalaya. Seluas samudra. Jadi, hanya menatap kontak nama dan memasukkan benda lima inci ke saku blazer.


Debaran dadanya semakin hebat saat ia membayangkan Aslan. Perlahan hatinya menghangat. Lalu tanpa sadar ia mengembangkan senyuman.


"Ehm. Lagi mikirin aku 'kan?," retorik Aslan yang sedari tadi sudah bertengker di ambang pintu.


Saat Aslan tiba di hotel. Reflek para pegawai menunduk hormat. Bahkan tanpa di minta pun sang resepsionis langsung menunjukkan ruangan si General Manajer-Arin.


Kabar status sang GM itu sudah menyeruak ke penjuru penghuni hotel. Wajar saja mereka bersikap demikian pada Aslan.


Arin kelagapan,"Ha? mikirin siapa?. Sepertinya itu tidak mungkin." Elaknya salah tingkah. Tolong itu gengsi di turunin. Bilang saja iya apa susahnya. Untung saja pria ini lapang dada. Ia hanya tersenyum simpul mendengarnya.


Aslan melangkah ke meja Arin dan bersandar di tepi meja sembari tangannya dimasukan ke saku celana, memperhatikan inci demi inci wajah wanitanya.


Desiran hebat menyapa hatinya. Ia tersenyum dan menghela napas.


“Aku merasa tertolak,” keluhnya pura-pura cemberut.


Mata Arin membulat melihat wajah cemberut Aslan, mirip seperti Allea saat merajuk. Wajah mereka memang sama. Allea bagaikan versi perempuan Aslan.


Arin tanpa permisi memeluk Aslan. Ia menggeleng, seolah berkata. 'Bolehkan aku begini?'. Boleh Arin. Boleh. Silakan! bebas. Apalagi kalau sudah halal. Sangat di bolehkan. Lebih juga tidak masalah. Justru Aslan akan jingkrak-jingkrak. Bahagia.


“Kenapa kau kelayapan kemari? Bukankah ini jam-jam sibuk kerja, Hmm?.” Komentar Arin sembari mendongak melihat wajah Aslan. Pria yang menaburkan benih cinta, menjanjikan kebahagiaan itu hanya melotot dengan tindakan wanitanya.


Aslan belum merespon. Kaget sekaligus senang dengan inisiatif sang tambatan hati. Dadanya semakin berdebar tak karuan.


“Oh kau mau minum apa?,” lanjutnya merenggangkan pelukan. Tapi Aslan mengeratkan pelukan itu.


“Kau yang memulai, jadi jangan salahkan aku,” bisik Aslan menyeringai.


Reflek mencium leher sebelah kiri Arin. Si empu leher hanya meringis. Geli dan gelejar aneh menyapa dadanya.


Sial. Aku memprovokasinya. Umpat Arin dalam hati. Tapi ia tidak membencinya. Justru menikmati tangan ramah Aslan yang sudah mampir di dagunya. Medekatkan jarak.


Braakkkk


“Bubuuuuu,” teriak Allea girang.


Sial. Bocah setan. Kenapa harus muncul di waktu yang tidak tepat?.


Reflek Aslan dan Arin menjauh. Mereka berdehem. Salah tingkah. Seperti orang ketangkap basah mencuri benda berharga.


Aslan mendengus. Menyebalkan. Padahal sedikit lagi berhasil menyicip bibir ranum pujaan hati.


Mata Allea menyipit. Melihat gelagat aneh dua orang dewasa itu. Meli hanya mengulum senyum, pikiranya sudah berjalan-jalan liar.


“Papi ngapain di cini?.” Sambar Allea sembari bersedekap. Mode penyelidik aktif.


"Itu wajah Bubu kenapa melah? Papi apakan?." Selidik Allea menatap tajam ke Papinya.


Arin melotot. Aih, anak ini pandai sekali mengolok-oloknya. Apa bibir mungilnya itu tidak bisa di ajak kerjasama?. Kenapa selalu nyeletuk tanpa di filter?. Dasar bocah.


Rasanya Arin ingin menghilang, atau teleportasi ke belahan benua. Ia berdehem dan membayangkan wajahnya pasti merah padam.


Aslan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia tersenyum kiku. ternyata, saingan terberatnya bukan Rudi atau pria lain. Tetapi putrinya sendiri.


Tubuh Meli bergetar menahan tawa. Ya Gusti ini bahan berita yang harus di analisa bersama geng cuap-cuap Al's kafe. Mira dan Rio.


Mereka sungguh kompak sekali menganalisa tingkah manusia di sekitarnya. Bahkan pelanggan kafe pun menjadi korban analisa mereka. Tidak hanya pelanggan. Rudi dan para publik figur pun sudah khatam mereka pindai dari penampilan, kabar kencan, karir dan lainnya.


Setiap di tegur Arin. Kompak mereka jawab.


"Ya beginilah hidup. Harus balance. Mereka jalanin, Kita yang mengomentari. Supaya tahan banting 'tuh mental. Hahaha."


Berhubung Meli sang nany sekaligus pegawai setia Al's kafe yang sangat memahami situasi dan kondisi si majikan. Dengan sangat terpaksa ia pamit ke toilet. Sakit perut katanya. Sungguh, alasan yang tidak keren.


“Papi ada urusan sama Bubu.” Balas Aslan mendekati putrinya.

__ADS_1


"Ingin menculik cepelti waktu itu? Tidak boleh. Allea akan malah becal cama Papi." Tegasnya melengos seakan ia mengibarkan bendera perang.


"Siapa yang menculik Bubu? Papi cuman pinjam sebentar. Dasar pelit." Timpal Aslan mengulum senyum.


Arin sebagai pihak netral. Ia hanya cekikikan melihat peperangan sengit merebutkannya.


"Bubu cuman milik Allea." Balasnya berdecak kesal.


"Jangan klaim sendirian dong. Bubu juga milik Papi."Aslan tidak mau mengalah. Ia senang sekali menggoda putrinya.


"Bubu pilih Allea atau Papi?."


Arin terjingkat. Melotot. Lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sulit memilih diantara mereka.


Bagi Arin, mereka mempunyai peran masing-masing dalam menghiasi puzzle kehidupannya. Ia menghembuskan napas berat. Menatap dua orang yang penasaran atas jawabannya.


Namun suara interkom yang menggema mengalihkan atensi mereka.


"Halo."


"Bu Arin. Ini saya Lusi. Ada orang yang sedari tadi maksa ingin bertemu dengan anda. Apakah anda ingin menemuinya?." Informasi Lusi memotong kalimat Arin.


"Laki-laki?." Tebak Arin. Mengira yang mencarinya itu sang Papa.


"Bukan bu. Hmmm kalau tidak salah namanya Intan. Oh iya, Intan Pradipta. Katanya, beliau kenalan anda."


Arin mengernyit mendengar nama itu. Ia hanya tahu nama istri Papanya. Tidak minat menggali kehidupan orang itu.


"Apakah ada yang perlu di bicarakan?." lirih Arin.


"Ya?." Lusi memastikan desisan Arin.


"Oke. Antar ke room meeting lantai 1 ya. Segera aku ke sana. Terima kasih, Lusi."


Arin mematung. Tangannya gemetar. Ia menghembuskan napas berat.


Reflek ia meletakkan tanggannya ke dada dan menepuk-nepuk pelan, sembari berbisik dalam hati.


Sebuah mantra yang dulu sering dirapelkan sewaktu kuliah. Mantra yang ia dapatkan dari menonton film bollywood. Film yang sangat populer pada masanya. Entah kenapa ia ingat kalimat itu.


"Aslan. Aku turun sebentar. Ada tamu." pamit Arin setelah hatinya sedikit tenang.


Aslan beranjak. Hatinya berdenyut nyeri melihat perubahan raut Arin. Peka sekali, padahal Arin sudah membingkai dengan senyuman.


"Tunggu saja di sini. Aku cuman sebentar." Imbuhnya sembari tersenyum tipis dan berlalu.


Aslan menghela napas.


"Papi!" seru Allea sembari mengaduk-aduk tasnya mencari sesuatu.


Aslan menoleh, lalu tersenyum. Mereka sudah baikan. Lalu tangan mungil Allea menyodorkan amplop putih.


Aslan menyipitkan matanya.


"Undangan buat Papi cama Bubu." Ucapnya tersenyum cerah.


Aslan menerima amplop itu sembari mengusap kepala putrinya.


...----------------...


Ruang meeting itu lengang sedari Arin masuk. Intan menatap perempuan di seberang duduknya. Gejolak aneh menghampiri tanpa permisi. Gelisah. Akankah di ceritakan atau tidak kejadian beberapa tahun silam. Yang menimpa Mamanya.


Ia hanya ingin minta maaf. Tidak lebih. Tidak kurang. Intan tidak membenci anak suaminya ini. Justru menyukai wajah manis nan teduh anak ini.


Perlahan Intan menteskan air mata.


"Maafin tante nak," ucapnya menyeka air mata.


Arin hanya mengernyit. Bingung ingin merespon bagaimana.


"Tante merasa bersalah padamu." Intonasinya bergetar.

__ADS_1


"Kau. Cantik seperti ibumu. Pantas saja mas Pandu sangat mencintainya." Lanjut Intan menatap wajah Arin lekat-lekat.


Arin mengernyit. Dadanya berdebar.


Tunggu. Hei apa ini? Apa mereka pernah bertemu?. Bathin Arin menerka.


"Apa tante pernah bertemu Mama?." Gusar Arin penasaran. Padahal ia sudah meredam tidak ingin berpikir macam-macam. Dan mengabaikan kepergian sang Mama.


Arin menggigit bibir bawahnya. Takut jika tamu tidak di undang ini, menyatakan kebenaran. Hatinya belum siap.


"Iya aku pernah bertemu. Sebelum dia meninggal."


Arin melotot. Ia menelan ludah. Tangannya gemetar.


"Nak. Apa kau akan membenciku? jika aku cerita yang sebenarnya. Dan apakah Mas Pandu akan menceraikanku kalau dia tahu? Sungguh. Aku tidak sengaja melakukannya." Intan menangis hebat medekat ke Arin dan bersimpuh.


"Tante. Jangn begini." Balasnya kiku. Ia berusaha menarik Intan supaya kembali ke tepat duduk.


Intan tidak bergeming. Arin pasrah. Ia duduk di lantai. Mengelus punggu Intan. Menenangkan. Mengabaikan rasa nyeri di hatinya.


Ia menebak dengan segala kemungkinan. Pasti sesuatu yang tidak diinginkan telah terjadi di antara mereka.


Arin menghela napas panjang.


"Tante, tidak usah cerita. Aku tidak marah. Apapun yang terjadi di masa lalu. Biarkan itu menjadi kenangan. Mari melangkah ke arah lebih baik untuk masa depan." Arin menjeda menetralkan kondisinya.


"Dan tante tidak perlu cerita ke Papa. Toh itu sudah berlalu sangat lama. Kalau pun cerita tidak akan mengubah keadaan." Lanjut Arin mengembangkan senyum kamuflasenya.


Benar. Lebih baik aku tidak tahu kebenarannya. Itu tidak akan mengubah Mama hidup kembali. Menutut keadilan? mustahil di proses. Masa perkara kadaluarsa, kurang bukti. Aku bisa apa selain melupakan?. Supaya pelaku di hukum?. Tidak. Bagi mereka yang berduit, hukum dunia bisa dibeli. Biarkan hukuman Tuhan yang berlaku, sesuai perbuatannya. Tuhan tidak tidur.


Gumam Arin dalam hati menghembuskan napas berat. Menatap tubuh Intan yang masih sesegukan.


"Terima kasih, Alesha. Tante mengizinkan kau memanggilku Ibu. Aku tidak keberatan." Ucapnya di sela-sela isak tangisan.


Mata Arin membola. Entah kenapa dadanya berdesir di panggil Alesha.


"Soal Selin. Kau jangan khawatir. Aku pastikan dia tidak mengganggumu." Lanjut Intan mengembangkan senyum sembari menyelipkan anak rambut Arin ke balik telinga.


Arin tersentak. Lalu mengerutkan kening menatap Intan.


"Pulanglah jika kau ingin bertemu Papamu, Putriku. Nanti Ibu kirim sopir kalau kau ingin pulang. Pintu rumah Ibu selalu terbuka lebar untukmu." Pungkas Intan lembut sembari memeluk Arin.


Ibu?. Desis Arin dalam hati menyeringai tipis.


"Ini kartu nama Ibu. Aku menunggu teleponmu minta di jemput atau cerita banyak hal. Ibu dengan senang hati akan menjadi pendengar terbaikmu. Sekali lagi, Ibu terima kasih. Dan maaf untuk segala hal. Ibu pamit dulu." Lanjut Intan mencium kening Arin dan berlalu.


Arin mematung. Sesak. Haru. Heran. Melebur jadi satu. Ia menatap punggu si penjahat berhati malaikat. Tiba-tiba air matanya mengalir deras diiringi tawa getir yang menggema.


Maafkan aku, Nak. Hanya itu yang bisa menebus keselahanku. Dan aku tidak ingin bercerai dengan mas Pandu. Tidak masalah, dia tidak mencintaiku. Asal dia di dekatku, itu sudah cukup. Sungguh, kau anak yang baik. Alesha. Aku berharap, kau mau mampir ke rumah atau tinggal bersama kami. Bathin Intan menatap pintu ruang meeting dan mengembangkan senyum.


...----------------...


Author: Aslan. Tanganmu kok nackal. Minta di rajam?.


Aslan: Dia yang mancing tor. Ya kalo di sodorin mah embat.


Author: Dasar buaya. Pantas saja di sodorin Selin, kau embat juga. Katanya gak cinta tapi icip-icip berhadiah. 😏


Aslan: Ck. Itu pengecualin tor. Murni khilaf.


Author: Heleh. Alasan. Potek hati nanenun. 🥺


Aslan: Sori tor. Maaf ya.


Author: 😶😶😶


...🍃🍃🍃...


Happy reading everybody. 사랑해 🙆


...°°°°...

__ADS_1


__ADS_2