
Allea tersenyum girang saat mobil Aslan bertengger di depan gerbang sekolah.
"Papi driver sendiri?."
"Jelas. 'Kan mau ngajak kencan pacar."
"Hahaha. Tapi maaf, Paman Albian tetap yang utama."
Aslan langsung cemberut. Putrinya ini sangat menyukai Bian. Padahal mereka jarang bertemu. Tapi Bian selalu menjadi pilihan utama.
"Mana laki-laki yang nganterin kamu kemarin?. Gara-gara mereka Bubu khawatir kalau kamu nglakuin aneh-aneh." Ucap Aslan.
"Ck. Bubu selalu begitu. Memangnya menurut Bubu, Allea mau ngapain mereka?." Dengus Allea bersedekap.
"Matahin kaki mereka kayak yang kamu lakuin ke Melvin. Ingatkan teman SDmu dulu."
Allea tidak menjawab. Ia hanya meringis. Teringat kenangan semasa SD. Yang sering membuat Arin maupun Aslan di panggil guru kelasnya. Lagi-lagi Allea berulah. Menendang tulang kering salah satu teman kelasnya. Alasan yang sering dilontarkan.
"Saya hanya membalasnya, Bu guru. Karena dia mengejek saya. Katanya saya jelek. Pendek. Galak."
Allea mengheleng, "Allea sudah tobat, Papi." Lirihnya menggaruk tengguknya yang tidak gatal.
"Tobat apaan? Bukannya kemarin abis mukulin orang." Goda Aslan dan menyalakan mesin mobil. Membelah padatnya jalanan.
Allea mengernyeti, "Kapan? Jangan ngada-ngada, Pi."
"Ehm. Itu kemarin sampai di kasih bunga sama orang yang dulu pernah dipatahin kakinya." Ledek Aslan melirik putrinya yang tersenyum malu-malu.
Pipi Allea bersemu merah. Mengingat kejadian tempo lalu. Saat Melvin menyambutnya dengan sebuket bunga tulip. Ia memalingkan wajahnya melihat pemandangan diluar jendela kaca.
"Menurut Papi, Melvin gimana anaknya?." Tanya Allea ragu-ragu.
Aslan menggut-manggut, "Emmm. Tampan, Sopan, Santun, Kalem. Bubumu saja sering muji-muji dia."
Allea mengulum senyum memalingkan muka. Melihat pemandangan di luar jendela mobil.
"Kenapa? Kamu menyukainya?."
__ADS_1
"Ha? enggak, ehm. Bukan gitu, Papi. Belum mikir ke sana. Toh Allea masih kelas satu SMA. Nanti Bubu mencak-mencak kalau aku dah cinta-cintaan." Kekeh Allea menggeleng. Membayangkan Arin berkacak pinggang memarahinya.
Aslan tertawa sembari mengusap kepala putrinya.
Meski bilang demikian. Tapi pikiran Allea berkelana mengenang saat bersama Melvin. Teman SDnya itu kini melanjutkan di Pondok Pesantren sejak SMP.
Setiap liburan Melvin selalu menyempatkan main ke rumah Allea. Ia tidak sendiri bila bertemu dengannya. Riko teman dekat rumah Melvin yang sering menemani. Begitu juga dengan Allea. Ia selalu mengajak Ghea.
Dan uniknya dari Melvin. Sebulan sebelum pulang dari pondok, Ia mengirimkan surat pada Arin dan Aslan hanya ingin minta izin bertemu Allea.
Mengajak bermain atau belajar bersama. Tukar pengalaman kehidupan di pondok dan sebaliknya. Membahas hal receh yang sedang trend di kalangan anak seumurannya.
...----------------...
"Melvin, nulis apa?. Memang ada PR?." Tanya Abbas teman satu kamarnya.
Melvin hanya menggeleng dan tersenyum.
"Ck. Memang antum menyebalkan." Ucap Abbas melempar bantal ke Melvin.
"Gantiin ya anak teladan. Aku."
Melvin memotong cepat sembari menyunggingkan sudut bibirnya, "Mau dipatahin kakimu?."
"Ya Gusti, Vin. Kejam banget sih."
"Aku tahu, Abbas. Kau tidak ingin setoran hafalan 'kan?." Potong Melvin menyudahin kegiatannya menulis sesuatu.
Abbas kelagapan. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia memalingkan wajahnya. Enggan melihat Melvin.
Melvin menepuk pundak Abbas dan berlalu ke kamar mandi. Mengambil air wudhu. Sebab sebentar lagi maghrib.
Melvin Kyle. Memang terkenal anak rajin nan sopan. Pintar, tampan pula. Tidak heran bila ia menjadi santri favorite di kalangan para guru. Bahkan para santriwati pun sangat mengaguminya.
Setiap selesai acara yang menggabungkan santriwan dan santriwati, seperti tablig akbar, maulid nabi dan lainnya. Mereka sering kirim surat untuk Melvin.
Tetapi Melvin tidak menanggapi surat-surat yang diterima. Sebatas dibaca lalu di bakar. Hatinya sudah tertulis satu nama gadis. Teman semasa SDnya.
__ADS_1
Ia menggeleng dan mengulum senyum tatkala mengingat teman SDnya itu. Jika orang tuanya mengizinkan. Dipastikan ia menikahi gadis itu. Sayang, orang tuanya tidak merestui mendekati gadis itu. Untuk bertemu saja ia harus beralasan yang rasional.
...----------------...
Hari pertama mengasuh adiknya. Aidan dan Ariella. Si kembar itu baru usia dua tahun. Tapi sangat dekat dengan Allea. Mereka tidak akan menangis di tinggal Bubu atau nanynya. Asal bersama Allea mereka akan diam. Meski kelakuan mereka terkadang membuat jengkel sang kakak.
"Ya Gusti bocah bayi. Itu tempat pensil kakak. Ya, ya, ya acak-acak saja. Aku tidak komentar." Dengus Allea melihat adik-adiknya yang sudah mengacau kamarnya.
Isi tempat pensinya berceceran. Bahkan beberapa bukunya ada yang robek.
Si empu pembuat onar hanya tersenyum girang melihat sang kakak mengacak-acak rambutnya.
"Nany kalian kemana sih? Ck. Pasti Bubu yang meliburkan mereka. Huwaaaa. Ampun, Bubu. Belum sehari aku sudah angkat tangan. Enggak sanggup ngurus mereka. Huwaaa." Ratap Allea melihat dua bocah yang asyik mencoret-coret bukunya.
"Nona, ada apa?." Bibi Nur melongok Allea takut jika terjadi apa-apa pada anak majikannya.
"Bibi. Nany mereka ke mana? Aku enggak bisa belajar." Ucapnya melas. Sedari tadi ia tidak bisa fokus belajar jika tempatnya tidak rapi dan ada suara gaduh.
Si kembar memang diam tidak menangis. Tapi mereka selalu berebut mainan atau pencil, buku dan lainnya yang ada di kamar Allea.
"Mereka hanya setengah hari, non. Kalau non Allea pulang. Mereka langsung pulang. Begitu kata Ibu kemarin." Jelas Bibi Nur.
Allea mendengus dan menyisir rambutnya dengan jemari, "Oke Bibi terima kasih. Allea paham."
"Maaf ya Non. Bibi enggak bisa bantu. Takut di marahi Ibu." Ungkap Bibi Nur ragu-ragu.
"Iya bi. Tidak apa. Bisa tolong ambilkan stroller mereka." Pintanya sopan.
"Siap non." Balas Bibi kilat dan berlalu ke kamar si kembar.
Allea mengangkat si kembar satu persatu ke tempat tidur. Ia membersihkan coretan di tengan mereka.
"Kalian itu lucu. Tapi kok ya amit-amit kelakuan. Pingin tak hih. Kalau liat kalian berulah gini. Tapi ya nanti Bubu sama Papi marahain aku tujuh purnama." Keluhnya sembari mengganti baju Aidan dan Ariella.
Bukannya nangis, si kembar justru mengembangkan kekehan nan imut. Allea langsung menghujani mereka ciuman, karena gemas dengan tingkah adiknya.
...----------------...
__ADS_1