Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 25 Kerisauan Bian


__ADS_3

"Sial. Siapa perempuan itu? bagaimana dia menggoda Aslan? Anak siapa itu? jangan bilang anak yang di buang pak Edi" geram Selin.


Hatinya nyeri melihat berita terkait Aslan. Ia paham tabiat mantan atasannya itu. Si manusia anti skandal. Tapi kenapa kali ini terang-terangan?.


Selin mengepalkan tangan. Kesal sekaligus cemburu dengan perempuan itu. Rasa panas menjalar keseluruh tubuh saat melihat tatapan Aslan pada perempuan itu, di potongan video yang beredar.


"Rudi tidak bisakah kau geser dikit?. Aku ingin lihat wajah perempuan itu. Ck. Tidak profesional sekali yang ambil gambar," decak kesal Selin melempar remot TV. Lalu menyeringai jahat.


"Selin. Kenapa kau marah-marah?," Pandu menghampiri putrinya di ruang keluarga. Ia menyipitkan mata membaca headline di layar tv.


'Aslan Alister CEO Alter Entertainmen sedang berkencan dengan perempuan non selebritis, siapakah perempuan ini?'


"Aku sakit hati, Papa. Kenapa harus perempuan itu? Apa kekurangan aku?" Selin menunduk.


Perlahan ia meneteskan air mata. Lebih tepatnya, Air mata buaya. Pandu memeluk tubuh Selin sembari mengusap-usap punggung putrinya.


"Kau yang lemah. Kalau cinta, ya kejar sampai dapat. Jangan nyerah. Perjuangankan. Sebelum janur kuning melekung, kau masih ada kesempatan. Pepet dia dengan segala cara" Intan menyahut setelah selesai Yoga.


"Bahkan meskipun dia sudah menikah, kau masih punya peluang merebutnya," lanjut Intan dengan ide gilanya.


Selin dan Pandu hanya mengernyit mendengar omongan Intan.


Apa maksud Mama? mendukungku jadi pelakor?. Kau tahu, Ma? Aku sudah melakukan berbagai cara untuk mendekatinya. Bahkan aku dihantui rasa bersalah saat ingat perbuatan kotorku padanya.Tapi dia tetap tidak menyukaiku.


Bathin Selin menatap Intan dan mendengus.


Mungkin kalian akan marah hebat saat tahu aku pernah hamil dan membuang anak itu.


Lanjut Selin berkata dalam hati sembari memperhatikan interaksi kedua orang tuanya. Ia mengernyit. Rasanya ada yang janggal.


...----------------...


@Al's Cafe.


Bian menatap jendela. Hatinya tidak tenang menunggu kedatangan seseorang. Ia rela menunda jadwal meeting pentingnya hanya ingin memarahi Arin.


Hari ini kafe tutup total. Semua pegawainya di liburkan.


"Apa mereka sudah datang?" tanya Liza sembari tangannya sibuk menyiapkan 10 cairan kimia.


Bian tidak menyahut. Rudi, sang tahanan hanya menelan ludah melihat kegilaan kedua suadara ini.


Semangat Aslan. Semoga kau bisa menaklukan para singa ini. Bathin Rudi mengkhawatirkan si bos.


Kricing...


Pintu kafe terbuka. Aslan dan Arin masuk sembari berbincang ria. Menautkan jari-jemari mereka.


Memang dunia serasa milik berdua bila sedang terserang racun cinta.


Keduanya disambut Bian dengan tatapan membunuh. Dan Liza berdiri di samping Bian sembari berkacak pinggang.


Glek


Tawa diantara mereka memudar. Perlahan Arin melepas genggaman tangan Aslan.


"Puas mainnya? Puas buat orang khawatir?," retorik Bian menekan perkataannya.


"Aku bisa."

__ADS_1


Bian memotong kalimat Aslan.


"Diam. Aku tidak bicara dengan anda."


"Anu Bian, handphoneku lowbet. Aku lupa bawa charger."


"Alasan. Bukankah counter pinggir jalan banyak?. Kau tinggal mampir sebentar pura-pura isi pulsa dan numpang charger."


"Duduk!."


Seru Bian pada dua orang.


Baik Aslan dan Arin menuruti perkataan Bian.


Mereka bagaikan terdakwa yang siap diadili atas kesalahannya.


"Aku paling benci lihat laki-laki di sekitar Arin. Kebanyakan hanya mengumbar janji tanpa ditepati. Silakan pilih, cairan ini," Ketus Liza sembari menaruh 10 cup putih di meja.


Arin menunduk. Benar yang dibilang Liza. Dulu saat di bangku SMA dan kuliah. Ia sering didekatin laki-laki.


Mereka menawarkan serangkai kata cinta tapi dibelakang Arin, jalan dengan perempuan lain.


Liza tahu. Sebab ia sering mengawasi gerak-gerik Arin dan orang sekitarnya.


Baik Bian atau Liza, mereka sama-sama memperhatikan Arin. Ada ruang tersendiri untuk Arin seorang.


"Maaf, apa ini?," Aslan ragu-ragu bertanya.


"Berbagai macam racun," timpal Bian santai.


Aslan melotot. Menelan ludahnya.


Arin tidak kaget. Ia sangat paham. Sebab mereka pernah menggunakan ancaman seperti itu saat senior Arin mencoba mendekatinya.


"Nama anda siapa? Berani sekali belum say hello ke kita sudah ngajak pergi Arin. Tanpa pamit dan menginap. Hebat!," sarkas Liza menahan amarah.


Tangannya gatal, ingin menggapar wajah Aslan.


Aslan ragu ingin menjawab. Hatinya berdebar melihat wajah dua bersaudara ini. Auranya sangat mecengkam.


"Aku Aslan."


"Alister CEO Alter Entertainmen sedang berkencan dengan perempuan non selebritis," potong Bian ketus.


"Headline seluruh saluran TV sejak kemarin hingga pagi ini," lanjut Bian menatap tajam Aslan.


"Tunggu. Maksudnya?." Arin melotot. Kaget.


"Kalian tranding topik." Informasi Liza duduk di samping Bian.


"Lupakan itu kembali ke intinya," komando Bian.


"Anda menyukai Arin? Lalu bagaimana jika Selin menghalau hubungan kalian? Tapi aku tidak yakin, Benarkah anda menyukai Arin? Atau anda berpikir Arin mirip seseorang?" seringai Bian mengintimidasi.


Aslan sangat terkejut. Ia mengernyit. Ucapan Bian ada yang janggal.


Arin menggeleng. Ia terpengaruh dengan omongan Bian. Lalu menatap Aslan.


"Omong kosong macam apa itu? Aku murni menyukai Arin tanpa embel-embel mirip seseorang. Anda jangan asal bicara," sanggah Aslan tegas.

__ADS_1


"Soal Selin. Anda jangan khawatir. Aku tidak ada hubungan spesial dengannya. Bahkan aku tidak menyukainya," lanjut Aslan menggebu-gebu.


Arin bersemu merah mendengar ucapan Aslan. Memang kalau sedang terjangkit penyakit merah muda susah sekali berpikir rasional.


Bian melirik Arin yang bersikap malu-malu tidak seperti biasanya.


"Benarkah?," Bian meragu dan menatap Aslan lekat-lekat.


"Arin. Bisakah kau ke kamar? kami ingin bicara dengan Aslan," pinta Liza kemudian.


Sedikit menenangkan di tengah panasnya cuaca. Padahal mentari diluar sedang enggan menampakkan diri.


Rudi, sang saksi mata sudah pucat pasi dengan gempuran silat lidah dua bersaudara ini. Napasnya senin-kamis. Ruangan mendadak berubah sangat horor.


Aslan menatap Arin penuh harap. Seolah berkata jangan tinggalin aku sendirian. Aku pasti kewalahan meladeni dua bersaudara ini.


Arin enggan melangkah. Ia menatap lelaki yang duduk di sampingnya.


"Hmmm. Kau ingin pergi atau ingin dia minum cairan ini?," retorik Bian membuat Arin gelagapan.


"Oke. Aku pergi."


Arin beranjak dengan wajah kesal setengah mati. Sekilas ia melirik dua bersaudara ini dengan rahang mengeras.


Liza mengulum senyum. Paham jika Arin kesal dengannya.


Apa ini?. Kau beneran sudah takluk dengan lelaki ini, Arin?.


Bian menatap sobat karibnya itu lekat-lekat.


Aslan mengepalkan tangan. Menggertakan giginya saat melihat tatapan Bian.


Yohoo. Ada yang panas tapi bukan api. Sebentar lagi meledak tapi bukan bom.


Bathin Liza manggut-manggut menelisik gerak-gerik Aslan.


"Apa maksud Anda bicara seperti tadi?," tandas Aslan ketus setelah kepergian Arin.


Seakan ia bebas bicara tanpa harus memikirkan perasaan Arin.


Bian tertawa mendengarnya. Entah apa yang lucu. Tawa Bian membuat orang di ruangan itu heran.


"Rudi. Kau bisa join ke sini." Titah Bian kemudian mengabaikan ucapan Aslan.


Rudi yang duduk di pojok dekat jendala pelan-pelan mendekati mereka.


Aslan kaget. Sejak kapan ada Rudi? mungkin begitu tatapannya.


"Aslan. Apa Arin cerita siapa orang tuanya? siapa Allea sebenarnya?."


Bian menjeda. Menghela napas.


"Dan apa kau bisa menjamin. Kedepannya dia akan selalu baik-baik saja serta Bahagia?." Lanjut Bian bertanya hal yang tidak terduga.


Wajahnya berubah. Tidak ada kemarahan di wajah tampan itu. Yang ada hanya mimik kerisauan akan kehidupan sang sobat karib rasa adik kandung.


Bukan hanya Aslan dan Rudi yang menatapnya heran. Liza sang kakak pun mengernyit mencernah omongan adiknya.


Pikiran Bian memutar kenangan masa lalu yang tidak sengaja ia dengar. Entah siapa orang itu. Ia hanya mendengar.

__ADS_1


Emma Rajendra. Kekasih sekaligus calon istri Aslan Alister meninggal, penyebab sebenarnya bukan kecelakan lalu lintas.


...----------------...


__ADS_2