Mendadak Jadi Ibu

Mendadak Jadi Ibu
Episode 35 Breaking News


__ADS_3

"Hah. Serius ini lokasinya pak?." Dengus Selin, saat mobil yang di kendarai Pak Edi memasuki gapura atasnya tertulis jalan semanggi.


"Benar nona."


Pak Edi membelokkan kemudi memasuki jalan itu. Lalu memarkirkan mobil mantan majikannya di depan kostel.


"Dulu saya letakkan di sana." Ucap Pak Edik setelah turun, menghadap ke arah kontrakan seberang kostel.


Selin mengernyit. Mendekati kontrakan yang di tunjuk pak Edi. Ia mengetuk pintunya. Namun tidak ada sahutan dari dalam.


Ia berdecak kesal, hampir seharian tidak ada hasil yang memuaskan.


"Sial. Apa hanya itu yang pak Edi tahu?."


Pak Edi mengangguk.


"Sia-sia kalau begitu. Pak Edi tidak tahu pemilik kontrakannya?."


Gelengan pak Edi sebagai jawaban. Tidak tahu. Mana mungkin survei pemilik kontrakan, kalau niatnya untuk membuang bayi. Selin mendengus kasar sembari mengumpat. Menyisir rambutnya dengan jemari.


"Ini ongkos buat pak Edi. Aku kira akan membantu ternyata tidak sama sekali. Saya akan cari sendiri." Oceh Selin jengkel.


Ia berlalu. Pak Edi geleng-geleng melihat sikap mantan majikannya.


"Nona. Nona. Masih saja seperti dulu. Apa dia tidak bisa melihat betapa miripnya anak itu dengan tuan Aslan." Monolog Pak Edi sembari menatap mobil Selin yang sudah raib dari hadapannya.


Tatkala melihat berita di tv, Pak Edi meneteskan air mata melihat gadis kecil yang di gendong Aslan. Entah mengapa pak Edi sangat yakin, bahwa gadis kecil itu adalah bayi yang tiga tahun lalu ia letakkan di teras kontrakan secara acak.


"Terima kasih penyewa kontrakan yang baik hati, terima kasih telah mempertemukan nona kecil dengan ayahnya. Semoga kau selalu bahagia. Dan selalu dipermudah semua urusanmu." Ucap Pak Edi menatap pintu kontrakan yang dulu di tempatin Arin. Dan berlalu mencari bus ke arah kampungnya.


Kiloanmeter dari tempat Pak Edi, Selin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Mencekram kuat kemudi. Menekan klason kuat-kuat. Meluapkan kekesalan. Hingga pengemudi lain menurunkan kaca jendela, memakinya.


Situasi saat ini tidak sesuai prediksi. Mencari pak Edi untuk menyakinkan hati, bahwa Allea memang anak yang ia benci. Tetapi pikirannya berubah tatkala melihat Aslan sangat menyayangi anak itu.


Ia berencana mengajukan hak asuh Allea untuk mendekati Aslan. Namun, angan-angannya tidak berjalan lancar.


"Bodoh!. Kenapa tidak kepikiran deketin bocah itu lalu tes DNA?. Sial." Ia merutuki kebodohannya.


BRAAAK


Truk kontainer muatan barang menghantam pintu mobil sedan warna hitam. Kejadian spontan tidak terduga. Mobil sedan itu kedorong hingga ke tepi tol menabrak pagar besi.

__ADS_1


Pihak kepolisian segera melakukan penanganan. Memeriksa tempat kejadian. Menginterupsi untuk segera melarikan korban ke RSUD terdekat.


Kecelakan itu menyebabkan kemacetan sekaligus memakan korban. Diduga, rem truk itu bermasalah. Jumlah korban yang selamat belum diketahui. Tetapi pihak rumah sakit memastikan dua korban yang tidak bisa di selamatkan. Seorang artis inisial SA dan pengemudi truk YP.


Awak media berlomba-lomba mengulik kronologinya. Si kuli tinta menulis berita tanpa embel-embel inisial. Serentak mencantumkan nama sang artis Selin Anesa. Sebelum menulis berita, mereka gigih konfirmasi ke manajer sang artis yang berinisial SA.


Setelah memastikan mereka baik-baik saja. Kompak si kuli tinta menduga bahwa artis inisial SA, memanglah Selin Anesa. Berita hangat itu mencuat di sosial media. Menduduki peringkat pertama dalam pencarian internet.


Penggemar beratnya menyakal lewat kolom kometar di sosial media, bahwa inisial SA belum tentu Selin Anesa. Bisa jadi, Soraya Amelia, Sonia Ayesha, Syifa Amanda atau Susan Amerta.


Semua kalangan membicarakan berita hangat itu. Menunggu konferensi pers pihak kepolisian yang akan di gelar tepat jam 08.00 malam waktu setempat.


Arin menghela napas panjang dan menutup ponselnya. Ia bergerak ke lantai bawah setelah Allea tertidur.


terdengar bisik-bisik pengunjung kafe membahas kecelakan itu. Rasa penasaran menyapa mereka, ingin pergi kemana sang artis yang berinisial SA itu?.


"Iya ih. Dia dari mana dan mau ke mana ya?, kok lewat tol jor?." Rio bersuara setelah mengantar pesanan ke salah satu pengunjung. Ia curi-curi dengar obrolan pengunjung yang sedang membahas si artis itu.


"Hmmm kayaknya dari arah lebak bulus deh?," timpal Mira memiringkan kepala.


"Jangan asal nebak. Aku masih berharap kalau itu bukan Selin. Aku kan penggemar beratnya. Mana belum sempat foto bareng dan minta tanda tangan. Padahal seudara di Jakarta, sekota pula. Tapi kok ya sulit bertemu dengannya." Lesu Meli menompang dagunya. Ia tidak semangat menjalani sisa harinya setelah mendengar kabar kurang sedap itu.


Rio dan Mira reflek terjingkat. Mereka kira Arin tidak ke lantai bawah. Sebab, akhir-akhir ini ia selalu istirahat di jam-jam awal. Tugas kafe ia percayakan pada Mira dan Rio.


"Seharusnya kau bilang, Mel. Mungkin saja aku bisa mempertemukan kalian," lanjut Ari melengkungkan bibirnya.


"Serius mbak? Wah aku kira mbak Arin membencinya," tandas Meli tanpa basa-basi.


Rio dan Mira kompak mendelik mendengarnya. Mereka memang tahu gosip antara Aslan dan Selin. Bahkan menduga kalau Allea memang anak Selin dengan Aslan. Mereka lebih baik diam. Tidak ingin membahas perempuan itu di hadapan Arin. Sebisa mungkin menghindari topik terkait Selin.


"Ehm. Tumben jam segini Allea sudah tidur." Sahut Mira mengalihkan pembicaraan.


Arin tersenyum tipis,"Kecapean abis latihan koreo tarian."


"Oh mau pentas seni ya?." Sambung Rio sembari membuat minuman untuk pengunjung.


"Ya ampun, perasaan baru kemarin si bocil bisa merangkak, kok sudah mau kelar paud." Balas Mira mengenang masa-masa Allea baru tengkurap dan merangkak. Lalu mengulum senyum.


Begitu juga dengan Arin. Mendengar ucapan Mira, ia memutar kenangan yang di habiskan bersama Allea. Bocah gembul menggemaskan itu sebantar lagi ulang tahu.


...----------------...

__ADS_1


Tepat jam 08.00 malam pihak kepolisian mengadakan konferensi pers. Menyatakan bahwa korban kecelakaan tersebut, lima orang . Tiga orang terluka berat. Dan dua orang meninggal dunia. Sang artis terkenal, Selin Anesa. Dan seorang pengemudi truk, Yudi Permana.


Arin menghembuskan napas mendengar berita. Ia berjalan ke arah balkon. Mengedarkan pandangan.


Warna-warni lampu taman menghiasi jalanan kota. Raungan kendaraan terdengar di udara. Klason melengking sahut-menyahut. Semilir angin menerpa pepohonan. Menggugurkan daun-daun kering. Menyimbak tirai jendela.


Reflek Arin mengusap-usap lengannya. Mengusir rasa dingin yang menyapa.


"Apa yang kau pikirkan,hmm?" ucap Aslan melingkarkan tangannya di pinggang Arin.


Arin mendongak melihat wajah lelakinya. Lalu tersenyum tipis, "Kapan datang? kenapa enggak kirim pesan."


Aslan mengembangkan senyum dan mengecup kepala wanitanya. Bergeser posisi ke sebelah Arin. Menautkan jemarinya. Melihat pemandangan remang-remang di depannya.


"Entahlah, aku hanya ingin cepat-cepat melihatmu. Rasanya rindu enggak bertemu beberapa menit." Jawab Aslan tersenyum ke arah Arin.


Wajah Arin memerah mendengarnya. Reflek ia menakupkan tangannya ke pipi. Diiringi detak jantug berdekup kencang.


"Hei. Jangan senyum seperti itu!."


"Memangnya kenapa dengan senyumanku?."


"Itu membuat jantungku lemah, Eh." Arin langsung menutup mulutnya. Membuat muka.


"Hahaha. Jadi kau deg-degan gitu?." Retorik Aslan menyisir rambutnya dengan jemari.


"Menurutmu?." Sungut Arin cemberut.


Aslan mengangkat kedua bahunya dan menyirangai.


"Wah. Apa kau pikir aku baik-baik saja melihat senyuman aduhaimu itu? terus tiba-tiba kau memelukku seenaknya." Jengkel Arin. Menghela napas kasar. Kegamangan hati beberapa jam lalu menghilang diganti dengan rasa mengkal.


Aslan menahan tawa melihat tingkah lucu wanitanya bak cacing kepanasan.


" Ehm, ya aku pikir kau."


"Jantungku rasanya mau copot, Aslan. Aku enggak baik-baik saja. Kau tau itu kenapa? sebab aku mencintaimu." Arin memotong ucapan Aslan.


Ha? Aslan terbelalak mendengar pernyataan Arin. Ia kira, cintanya bertepuk sebelah tangan. Reflek Aslan memeluk wanitanya sembari berbisik, "Thank you. Honey."


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2